• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelesaian Sengketa dalam Islam

Dalam dokumen SKRIPSI (Halaman 33-39)

Dalam hal jual beli tidak tunai, sebaiknya pedagang menuliskan terjadinya akad, banyak utang/piutang dan waktu pembayarannya. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari adanya kelalaian dan perselisihan dikemudian hari. Dalam perjanjian jual beli apabila salah satu pihak, baik penjual maupun pembeli tidak melaksanakan perjanjian yang disepakati bersama, berarti pihak tersebut telah melakukan wanprestasi. Masalah wanprestasi timbul karena kelalaian dari pihak pembeli maupun penjual yang tidak melakukan prestasi atau tidak menepati janji. Wanprestasi tersebut berupa:

1. Tidak melakukan apa yang disanggupi dilakukannya.

2. Melaksanakan apa yang diperjanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan.

3. Melakukan apa yang di perjanjiakn tetapi terlambat.

4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.37

Jika ada sesuatu kelalaian berupa tidak berprestasi sama sekali, berprestasi tetapi tidak sempurna, berperestasi tidak tepat waktu atau melakukan sesuatu yang dilarang dalam perjanjian, maka terdapat resiko yang disebabkan oleh adanya keadaan tersebut. Sehingga dalam

37 Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia Dalam Perpektif Perbandingan (Bagian Pertama), (Yogyakarta: FH UII Press, 2014), 280.

34

keadaan tersebut terdapat pihak- pihak yang dirugikan dan akan menimbulkan permaslahan baru. Adapun cara penyelesaian apabila terjadi wanprestasi tersebut antra lain:

1. Al- Sulh(perdamaian)

Secara bahasa, “sulh” berarti meredam pertikaian, sedangkan menurut istilah “sulh” berarti suatu jenis akad atau perjanjian untuk mengakhiri perselisihan/pertengkaran antara dua pihak yang bersengketa secara damai. Menyelesaikan sengketa berdasarkan perdamian untuk mengakhiri suatu perkara.

Sulh (perdamaian) berarti suatu jenis akad atau perjanjian untuk mengakhiri perselisihan atau pertengkaran antara dua pihak yang bersengketa secara damai. Dalam hal ini para pihak harus menjelaskan dan memusyawarahkan tentang perselisihan yang timbul diantara mereka.38

Ada tiga rukun yang harus dipenuhi dalam perjanjian perdamaian yang harus dilakukan oleh orang yang melakukan perdamaian yakni ijab, qabul dan lafazd dari perjanjian damai tersebut. Jika ketiga hal ini sudah terpenuhi, maka perjanjian itu telah berlangsing sebagaimana yang diharapkan. Dari perjanjian damai itu lahir suatu ikatan hukum, yang masing- masiing pihak

38Salim, Perkembangan Hukum Kontrak Innominat,(Jakarta: Sinar Grafika, 2003), 49.

35

berkewajiban untuk melaksanakannya. Perlu diketahui bahwa perjanjian yang sudah disepakati itu tidak bisa dibatalkan secara sepihak. Jika ada yang tidak menyetujui isi perjanjian itu, maka pembatan perjanjian itu harus atas persetujuan kedua belah pihak.

Syarat- syarat sahnya suatu perjanjian dapat diklasifikasi kepada beberapa hal sebagai berikut:

a. Hal yang menyangkut subyek .

Tentang subyek atau orang yang melakukan perdamaian harus orang cakap bertindak menurut Islam.

Selaian dari itu orang yang melaksanakan perdamian harus orang yang mempunyai wewenang untuk melepaskan haknya atau hal- hal yang dimaksudkan dalam perdamaian tersebut.

Belum tentu orang yang cakap bertindak menurut hukum tetapi tidak mempunyai kekuasaan atau wewenanag. Orang yang cakap bertindak menurut hukum tetapi tidak mempunyai wewenang untuk memiliki seperti, pertama: wali atas harta benda orang yang berada dibawah perwaliannya, kedua:

pengampu atas harta benda orang yang berada di bawah pengampuannya, ketiga: Nazir(pengawas) wakaf atas hak milik wakaf yang berada dibawah pengawasannya.

b. Hal yang menyangkut obyek

36

Tentang obyek dari perdamaian harus memenuhi ketentuan yakni pertama: berbentuk harta, baik berwujud maupun yang tidak berwujud sepertyi hak milik intelektual, yang dapat dinilai atau dihargai, dapat diserah terimakan dan bermanfaat, kedua: dapat diketahui secara jelas sehingga tidak melahirkan kesamaran dan ketidakjelasan, yang pada akhirnya dapat pula melahirkan pertikaian baru terhadap obyek yang sama.

c. Persoalan yang boleh didamaikan

Para ahli hukum Islam sepakat bahwa hal- hal yang dapat dan boleh didamaikan hanya dalam bentuk pertikaian harta benda yang dapat dinilai dan sebatas hanya kepada hak- hak manusia yang dapat diganti. Dengan kata lain, persoalan perdamaian itu hanya diperbolehkan dalam bidang Muamalah saja, sedangkan hal- hal yang menyangkal hak- hak Allah dapat didamaikan.

d. Pelaksanaan perdamaian

Pelaksana perjanjian damai bisa dilaksanakan dengan dua cara, yakni diluar sidang pengadilan atau melalui sidang pengadilan. Diluar siding pengadilan, penyelesaian sengketa dapat dilaksanakan baik oleh mereka sendiri (yang melakukan perdamaian) tanpa melibatkan pihak lain, atau meminta bantu

37

orang lain untuk menjadi penengah(wasit), itulah yang kemudian disebut dengan arbitrase, atau dalam syariat Islam disebut dengan hakam.

Pelaksanaan perjanjian damai melalui sidang pengadilan dilangsungkan pada saat perkara sedang proses dalam sidang pengadilan. Di dalam ketentuan perundang- undangan ditentukan bahwa sebelum perkara diproses, atau dapat juga selama diproses bahkan sudah diputus oleh pengadilan tetapi belum mempunyai kekuatan hukum tetap, hakim harus menganjurkan agar para pihak yang bersengketa supaya berdamai. Seandainya hakim berhasil mendamaikan pihak- pihak yang bersengketa, maka dibuatlah putusan perdamaian, kedua belah pihak melakukan perdamaian itu dihukum unuk mematuhi perdamaian yang telah mereka sepakat.39,

2. Tahkim (Arbitrase)

Menurut subekti, arbitrase adalah pemutusan suatu persengketaan oleh seseorang atau beberapa orang yang ditunjuk oleh pihak- pihak yang bersengketa diluar hakim dan pengadilan. Dalam perspektif Islam, arbitrase dapat di sepadankan dengan istilah tahkim berasal dari kata kerja hakkama. Secara etimologi berarti menjadikan

39Nurul Hak,Ekonomi Islam Bisnis Syariah, Cet. Ke 1(Yoyakarta: Teras, 2011), 134-136

38

seseorang sebagai pencegah suatu sengketa. Secara umum, tahkim memiliki pengertian yang sama dengan arbitrase yang dikenal dewasa ini, yaitu pengangkatan sesorang atau lebih sebagai wasit oleh kedua belah pihak yang berselisih atau lebih guna menyelesaikan perselisian mereka secara damai. Orang yang menyelesaiakannya di sebut hakam.40

40 Hasbi Hasan, Pemikiran Dan Perkembangan Ekonomi Syariah, (Jakarta:

Gramata Publishing, 2011), 127.

39

BAB III

PRAKTEK PESANAN DI BENGKEL LAS ERLANGGA

Dalam dokumen SKRIPSI (Halaman 33-39)

Dokumen terkait