• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyusunan Tipologi Lanskap pada Ekosistem

BAGIAN II EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR DAN

7. Arahan Strategi Restorasi Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar

7.2 Penyusunan Tipologi Lanskap pada Ekosistem

Pemilihan strategi dan teknik restorasi ekosistem hutan rawa air tawar harus disesuaikan dengan karakteristik spesifik, atau tipologi area yang akan direstorasi. Selain memudahkan proses perencanaan, identifikasi tipologi ekosistem hutan rawa air tawar di area yang akan direstorasi penting untuk menentukan strategi dan teknik restorasi yang tepat dan efisien sehingga mengurangi risiko kegagalan. Tidak semua restorasi harus dilakukan dengan penanaman, yang pada umumnya memerlukan biaya tinggi. Pada ekosistem hutan rawa air tawar yang masih memiliki cukup tegakan dan anakan, restorasi dapat dilakukan dengan cara suksesi alami. Mengingat proses suksesi alami hingga terbentuk keseimbangan ekosistem membutuhkan rentang waktu

EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR

STRATEGI DAN TEKNIK RESTORASI

Bagian III

Arahan Strategi dan Teknik Restorasi di Hutan Rawa Air Tawar

92

yang sangat lama, pada beberapa tipologi areal restorasi proses suksesi alami dapat dipercepat melalui intervensi penanaman, khususnya pohon-pohon besar yang mendekati klimaks dan toleran cahaya. Keberadaan pohon-pohon tersebut dapat memacu koloni vegetasi pada area restorasi. Identifikasi tipologi lanskap hutan rawa yang akan direstorasi penting sebagai dasar menentukan perlakuan restorasi yang dibutuhkan untuk mempercepat keberhasilan restorasi ekosistem.

Mengingat keberadaan ekosistem hutan rawa air tawar di area konsesi pemasok kayu APP Sinar Mas sangat terbatas dan tersebar dengan pada area yang tidak luas, maka selain mempertimbangkan kondisi ekosistem di area konsesi APP Sinar Mas, tipologi lanskap hutan rawa air tawar dalam buku ini juga mengacu pada kondisi hutan rawa air tawar yang berada di sekitar area- area tersebut. Kondisi hutan rawa air tawar di Taman Nasional Kerinci Seblat dan sekitarnya mewakili area Sumatra. Sementara itu, kondisi hutan rawa air tawar di Taman Nasional Gunung Palung, TN Danau Sentarum, Cagar Alam Muara Kendawangan dan sekitarnya mewakili area Kalimantan. Beberapa area hutan rawa air tawar mengalami kerusakan parah akibat aktivitas manusia.

Semantara area hutan rawa air tawar yang kondisinya masih baik juga tidak terlepas dari ancaman kerusakan. Ancaman terbesar di antaranya adalah illegal logging, pengambilan sumber daya perikanan yang berlebihan dengan teknik yang merusak lingkungan, penggembalaan dan penggunaan sungai sebagai sarana transportasi. Ancaman eksploitasi hutan rawa air tawar semakin meningkat mengingat kebutuhan kayu bangunan dan kebutuhan lahan untuk pertanian meningkat setiap saat.

Penyusunan tipologi lanskap hutan rawa air tawar didasarkan pada parameter yang memiliki pengaruh signifikan terhadap strategi dan teknik restorasi yang harus diterapkan sebagaimana disampaikan sebelumnya.

Tipologi lanskap hutan rawa air tawar di area Sumatra dan Kalimantan tersaji pada Tabel 5 berikut.

7. Arahan Strategi Restorasi Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar 93 Tabel 5 Tipologi lanskap ekosistem hutan rawa air tawar yang akan direstorasi

di wilayah Sumatra dan Kalimantan

Jenis rawa Tutupan lahan dan

komposisi jenis Rezim hidrologi Tingkat gangguan Tipologi I

Rawa danau (sekitar

danau air tawar) Belukar, ditumbuhi jenis paku-pakuan, rumput dan spesies rawa air tawar

Kedalaman air di atas 50 cm dengan periode genangan lama hingga sepanjang tahun

• Rendah sampai sedang karena pada umumnya berada di dataran tinggi dengan akses yang sulit.

• Pada umumnya gangguan berupa spesies invasif dan perburuan liar ikan atau burung Tipologi II

Rawa danau (sekitar

danau air tawar) Tutupan vegetasi di atas 30% dengan tegakan dan anakan yang cukup banyak, pada umumnya didominasi oleh famili Euphorbiaceae

Kedalaman air dibawah 50 cm dengan periode genangan pendek

Rendah sampai sedang karena pada umumnya berada di dataran tinggi dengan akses yang sulit

Tipologi III Rawa sungai (di hilir

sungai) Belukar tua, pada umumnya didominasi oleh famili

Euphorbiaceae, dan Dipterocarpaceae

Kedalaman air di bawah 50 cm dengan periode genangan pendek

Rendah sampai sedang

Tipologi IV Rawa sungai (di hilir

sungai) Lahan terbuka atau

belukar rumput Tanah mengering tetapi masih dipengaruhi pasang surut air sungai. Pada musim hujan dapat terjadi genangan

Sedang sampai tinggi akibat aktivitas manusia seperti perburuan rusa, kebakaran, illegal logging, perambahan untuk permukiman dan perkebunan

Terdapat empat tipologi lanskap ekosistem hutan rawa air tawar yang teridentifikasi pada area studi kasus di Rawa Bento Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi, dan di Rawa Cabang Panti Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Tipologi I merupakan hutan rawa danau yang pada

EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR

STRATEGI DAN TEKNIK RESTORASI

Bagian III

Arahan Strategi dan Teknik Restorasi di Hutan Rawa Air Tawar

94

umumnya di dataran tinggi dan masuk sebagai kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau taman nasional di bawah KLHK. Tipologi ini merupakan belukar yang cenderung terbuka dengan vegetasi dominan berupa paku-pakuan, rumput atau tanaman rawa. Karena berada di dataran tinggi biasanya akses menuju ke area tersebut relatif sulit. Hal ini menyebabkan tingkat gangguan antropogenik menjadi lebih kecil. Gangguan yang lazimnya terjadi adalah dominansi jenis invasif dan banyaknya perburuan liar khususnya sumber daya perikanan dan burung.

Pada beberapa kasus terjadi ancaman penggembalaan liar.

Meskipun tipologi ini memiliki tutupan hutan berupa belukar bahkan cenderung terbuka, tetapi bukan berarti area ini telah mengalami kerusakan tingkat tinggi. Kondisi tutupan tersebut khas pada ekosistem rawa danau bagian dalam yang dipengaruhi oleh rezim hidrologi di mana area tersebut sebagian besar digenangi air dalam periode cukup lama, bahkan dapat sepanjang tahun. Hal itu menyebakan jenis-jenis vegetasi yang dapat bertahan hidup merupakan jenis paku-pakuan, rumput atau tanaman air lainnya.

Hanya sedikit jenis pohon besar yang tumbuh pada kondisi tersebut. Tipologi tersebut menjadi habitat penting bagi berbagai jenis tumbuhan herba seperti Eriocaulon sollyanum, Oenanthe javanica, Cyperus flaccidus, Carex sp., dan Scirpus spp, dan jenis satwa seperti Leersia hexandra dan Viola sumatrana, burung air, raptor, Macaca fascicularis, Presbytis melalophos, bekantan dan jenis primate lainnya, serta berbagai jenis ikan.

Tipologi II merupakan rawa danau yang berada di daerah tengah hingga luar. Pada area tersebut tutupan vegetasi cukup rapat dengan potensi anakan yang cukup banyak. Tipologi ini juga merupakan bagian dari kawasan konservasi dengan tingkat gangguan yang cukup rendah hingga sedang. Rezim hidrologi tipologi ini ditandai dengan periode genangan yang relatif pendek dengan kedalaman genangan yang juga cukup rendah.

Tipologi III berada di dataran rendah, pinggiran sungai bagian hilir. Area restorasi hutan rawa air tawar tipologi ini banyak berada di dalam konsesi pemasok kayu APP Sinar Mas dengan kondisi tutupan vegetasi yang masih terjaga atau berupa belukar tua. Tipologi III ini juga dijumpai di area hutan rawa air tawar di sekitar TN Danau Sentarum. Area tersebut pada umumnya digenangi secara musiman dengan tinggi genangan tidak lebih dari 50 cm.

7. Arahan Strategi Restorasi Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar 95 Area pada tipologi ini relatif terjaga dari gangguan aktivitas manusia. Hal ini didukung oleh adanya kebijakan yang mengatur area sekitar sungai dan danau sebagai kawasan yang dilindungi.

Tipologi IV menggambarkan area hutan rawa air tawar yang telah mengalami kerusakan sehingga menjadi lahan terbuka, belukar rumput rawa atau vegetasi Melaleuca cajuputi. Kerusakan terjadi akibat penebangan liar, pembangunan permukiman dan perladangan masyarakat bahkan perkebunan sawit, kebakaran hutan, serta perburuan liar khususnya rusa. Tingkat konsumsi rusa yang tinggi menyebabkan perburuan yang disertai pembakaran untuk menjerat rusa semakin meningkat. Tingginya ketergantungan kehidupan masyarakat terhadap hutan rawa air tawar tersebut menyebabkan konflik sosial menjadi tinggi. Hal ini terjadi di area sekitar Cagar Alam Muara Kendawangan khususnya di sekitar atau pinggiran muara sungai. Tipologi ini juga ditemukan di sekitar sungai Lempuing, Sumatra Selatan (Giesen & Sukotjo, 1991).

Foto: Randi (2021), P3SEKPI (2020)

Gambar 18 Ilustrasi kondisi masing-masing tipologi. Dari atas kiri ke kanan: Tipologi I, Tipologi II, Tipologi III, dan Tipologi IV

EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR

STRATEGI DAN TEKNIK RESTORASI

Bagian III

Arahan Strategi dan Teknik Restorasi di Hutan Rawa Air Tawar

96