• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari

Dalam dokumen peran baitul maal wa tamwil (bmt) dalam (Halaman 79-107)

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

C. Pembahasan Temuan

1. Peran BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis terhadap BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember, peran dari BMT

tersebut adalah memberikan pembiayaan sebagai tambahan modal kepada para usaha mikro, kecil yang membutuhkannya untuk diproduksi.

Mengenai hal ini diungkapkan oleh Khoirul Anam selaku kepala dari BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember, yaitu sebagai berikut:

“ Dalam hal peran, BMT disini memberikan pembiayaan berupa modal kepada masyarakat yang mengalami kekurangan dana untuk memulai atau mengembangkan usaha yang akan dijalani. Tentunya dengan beberapa proses yang harus dilengkapi berupa syarat-syarat yang ada di brosur produk-produk pembiayaan itu”.

Hal lain juga diungkapkan oleh Abdul Hamid selaku customer service BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember yaitu :

“Peran BMT disini yaitu memberikan pembiayaan kepada masyarakat agar bebas dari rentenir, dan dana it tidak boleh dimakan sendiri harus dibuat usaha, kalau tidak dibuat usaha maka kami tidak akan memberikannya”

Mengenai peran juga diungkapkan olehZainal arifin selaku teller BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember yaitu :

“Peran BMT disini mebantu memberikan modal kepada peminjam berupa pembiayaan agar membantu usaha kecil yang ingin menjalankan usaha”.

Dari wawancara diatas menunjukan bahwa sanya BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember berperan membantu dalam memberikan modal prduktif berupa pembiayaan kepada UMKM yang ingin mengembangkan usahnya. Para nasabah diuntungkan dengan adanya peran BMT sangat penting tersebut seperti yang diungkapkan oleh ibu Sofi selaku nasabah BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari yaitu :

“Saya mengajukan pinjaman dana di BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember sebagai tambahan modal untuk dibuat usah berdagang camilan, setelah menerima modal dari sana usaha

saya tambah berkembang dan pendapatan saya bertambah. Ini memberikan peran penting terhadap usaha saya”.

Selain itu juga diungkapkan oleh ibu Tumi selaku nasabah BMT- UGT Sidogiri KCP Bangsalsariyaitu :

“Saya membuka usaha baru lalu saya meminjam dana di BMT- UGT Sidogiri KCP Bangsalsarikebetulan ini usaha pertama kali saya yaitu usaha berdagang daging sapi di Pasar Kreongan. Dengan bantuan modal dari sana, alhamdulillah usaha saya masih berjalan sampai sekarang”.

Dari kedua wawancara diatas adanya pembiayaan yang dilakukan oleh BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember memiliki peran yang sangat membantu terhadap usaha mereka sehingga menjadi berkembang dan penghasilannya bertambah.

Peran BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember tidak hanya penyediaan modal saja tapi juga melakukan pembinaan demi kelancaran untuk mengembangankan produktifitas UMKM. Mengenai hal ini diungkapkan oleh seorang kepala dari BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember sebagai berikut :

“Selain memberikan pembiayaan BMT disini juga mengadakan pembinaan kepada nasabah yang hendak menjalankan usaha biasanya hanya sebatas individu berupa cara mengatur keuangan etika dalam berdagang, dan peluangnya”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Abdul Hamid selaku Customer service BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari yaitu :

“BMT disini juga melakukan pembinaan kepada nasabah yang mengajukan pembiayaan agar mereka tahu bagaimana berusaha yang baik agar tidak mengalami kerugian dalam usahanya sehingga meminimalisir terjadinya keterlambatan dalam hal penyetoran”.

Hal ini juga diungkapkan oleh Zainal Arifin selaku teller BMT- UGT Sidogiri Kab Jember yaitu:

“Pada awal menjalankan usaha bagi nasabah yang mengajukan pembiayaan pihak BMT meakukan pembinaan dalam berusaha.

Karena nasabah disini Masih belum berpengalama menjalankan usaha terutama yangmasih mau menjalankan usaha”.

Hal ini juga diungkapkan oleh ibu Iis selaku nasabah BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari yaitu :

“Saya meminjam uang disana sebaga modal untuk mengembangkan usaha saya, diawal meminjam saya diberi arahan untuk pembinaan seperti bagaimana mengatur keuangan, buat saya itu bagus karena menambah ilmu untuk menjalankan usaha”.

Jadi, BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsaritidak hanya sebagai intermediasi, bukan hanya menyediakan modal kepada pengusaha mikro dan kecil bahkan juga melakukan pembinaan karena kebanyakan dari calon debitur masih belum pengalaman atau mengetahui cara bagaimana berusaha terutama dan yang menjalankan usaha, kemungkinan besar itu akan mengakibatkan kerugian karena masih belum ada kesiapan diri untuk menjadi penguasa. Jadi, dengan adanya pembinaan atau bimbingan setidaknya ada ilmu yang akan dijadikan bekal untuk menjalankan usaha.

Keberadaan BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember ini sangat disambut baik oleh masyarakat karena sangat membantu terhadap para pengusaha mikro dan kecil, buktinya sampai saat ini BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari masih beroprasi, dan nasabahnya semakin bertambah. Adapun jumlah keseluruhan nasabahnya sekitar 4529 nasabah.

BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari ini melakukan prosedur dan operasional pembiayaan sama seperti BMT pada umumnya dan persyaratannya tidak menyulitkan, bahkan jika pinjaman tidak tidak mempunyai jaminan juga bisa mengajukan pembiayaan di BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari akan tetapi pinjaman harus dibawah Rp 950.000 jika diatas itu harus menggunakan jaminan.

Seperti yang diungkapkan oleg seorang customer service dariBMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari, yaitu sebagai berikut : “Syarat pembiayaan untuk yang tidak mempunyai atau menyertai jaminan itu masih bisa mengajukan pinjaman akan tetapi maksimal pinjaman Rp 950.000, sedangkan untuk pinjaman diatas Rp 1.000.000 harus menggunakan jaminan”.

Selain itu juga diungkapkan oleh nasabah BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember yaitu, ibu Holipa

“Saya meminjam uang di BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember sebagai tambahan modal dagang beras dipasar, saya pinjam tidak terlalu besar skitar Rp 900.000 jadi tidak usah pakai jaminan dan tidak merepotkan saya dengan adanya bantuan modal dari sana usaha saya tambah meningkat.”

Dari pernyataan diatas tidk perlu khawatir untuk masyarakat yang tidak mempunyai jaminan untuk mengajukan pembiayaan karena keberadaan BMT disini memberikan alternative kepada para pengusaha kecil sebagai tambahan modal. Inilah yang menarik perhatian para pengusaha kecil untuk menjadi nasabah, sehingga mendukung akan peran BMT itu sendiri yang memberikan pembiayaan dan pembinaan kepad nasabah untuk meningkatkan produktivitas usahanya.

Kendala BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari untuk mengembangkan produktivitas para UMKM adalah:

a. Pihak BMT (internal)

Yaitu kendala ini disebabkan oleh faktor dalam artian pihak BMT seperti para karyawan dimana kurangnya pengetahuan seperti saat melayani nasabah dalam menerangkan produk-produk yang ada disana, namun kurangnya pengetahuan mereka sehingga masih harus melihat brosur tersebut . Selain itu BMT juga memiliki modal yang relative kecil dan sulit untuk menambah modal karena BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab jember mengandalkan dari tabungan nasabah.

Hal ini diungkapkan oleh Khoirul anam selaku Kepala BMT- UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember yaitu:

“Kalau berbicara kendala pasti ada dek, dari pihak kami yaitu minimnya pengetahuan karena dari karyawan sendiri pendidikannya terbilang rendah, selain itu kendala dipihak kami juga kurangnya modal karena kami hanya mengandalkan dari tabungan saja

Selain itu juga diungkapkan oleh Zainal Arifin selaku Teller BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember, yaitu:

“Yang menjadi kendala dari kami sendiri yaitu kurangnya pengetahuan, ya maklum karena minimnya pendidikan kami, dan modal yang kami punya masih minim jadi dalam pemenuhan modal masih kurang.”

Hal ini juga diungkapkan oleh Abdul Hamid selaku Customer Service BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember, yaitu :

“kendala bagi kami sendiri yaitu pemahaman tentang BMT masih kurang, jadi semisal ada yang Tanya tentang produk- produk pembiayaa kami masih liat brosur belum diluar kepala, selain itu juga kurangnya modal jadi nasabah masih tergantung pada rentenir karena kami tidak bisa memberikan pinjaman dalam jumlah yang besar karena minimnya modal.”

Dari wawancara diatas masalah yang dihadapi BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember yaitu, kurangnya pengetahuan para karyawan terhadap BMT karena tingkat pendidikan yang rendah tanpa ada pelatihan sehingga menyebabkan pengelola BMT kurang professional dalam bekerja sehingga SDM nya masih terbilang lemah.

Selain itu kurangnya modal yang dimiliki BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsarikarena hanya mengandalkan tabungan nasabah padahal pendanaan merupakan fondasi dalam operasional suatu lembaga keuangan, jadi masyarakat juga masih banyak yang tergantung kepada rentenir karena modal yang disajikan cukup besar walaupun bunganya tinggi.

b. Pihak Nasabah (Eksternal)

Yaitu factor yang disebabkan oleh nasabah sendiri yaitu seperti nasabah kurang maksimal dalam hal pengelolaan usahanya, persaingan yang kuat, dan keterlambatan dalam setoran. Semua itu diungkapkan oleh Khoirul Anam selaku Kepala BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari, yaitu:

“Kalau kendala dari nasbah sendiri biasanya kurang pemahaman dalam mengelola usahanya, walaupun sudah diadakan pembinaan masih ada yang belum maksimal dalam menjalankan usahanya, juga persaingan banyak apa lagi di pasar jadi harus benar-benar pintar dalam mencari konsumen agar tidak kalah saing , selain itu juga keterlambatan dalam hal setoran masih sering terjadi.”

Hal ini juga diungkapkan oleh Abdul Hamid selaku Customer Service BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember yaitu :

“Kendala yang dihadapi dari luar atau nasabah biasanya persaingannya banyak apalagi yang di daerah pasar-pasar harus benar-benar memasarkan barang-barang dengannya supaya laku, selain itu dalam mengelola usahnya masih kurang maksimal dan yang sering terjadi keterlambatan dalam penyetoran.”

Hal lain diungkapkan oleh ibu Iis selaku nasabah BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari, yaitu :

“Kendala yang dihadapi saya ketika berdagang yaitu persaingan yang banyak, ya maklum la dek soalnya saya jual dilingkungan pasar jadi harus pinter-pinter berdagang menarik minat pembeli agar bnyak yang membeli dagangan saya, kalau masalah penyetoran ya tepat waktu terkadang telat, ya pokoknya liat penghasilan tiap harinya.”

Juga diungkapkan masalah kendala oleh ibu Holipa selaku nasabahBMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari, yaitu:

“kendala yang saya alami ketika mebuka usaha yaitu pastinya kalau di daerah pasar sendiri saingannya banyak, tapi pastinya saya harus berusaha menarik hati pembeli agar membeli dagangan saya supaya penghasilan tetap ada, dan ada yang bisa dibuat setoran ke BMT biyar gak telat bayarnya ya meskipun kadang-kadang telat digandakan ke setoran selanjutnya.”

Dari berapa wawancara diatas kendala yang disebabkan oleh nasabah sendiri yaitu nasabah masih kurang maksimal dalam hal pengelolaan usahanya masih canggung sehingga menyebabkan kurang maksimal dalam hal usaha sehingga akan menyebabkan kerugian, kalau sudah mengalami hal kerugian otomatis penghasilan berkurang dan akan menyebabkan keterlambatan dalam penyetoran, ini salah satu yang mengakibatkan kredit macet, oleh karena itu jadi diperlukan pembinaan dan pelatihan secara khusus kepada nasabah.

itu pihak BMT juga memberikan jasa berupa pendampingan atas proses usha, baik dari hal manajemen keuangan, administrasi, produksi produk, distribusi (pemasaran), dan pengembangan usaha itu sendiri.

Sedangkan terkait peran BMT menurut kajian teori keilmuan yang ada adalah sebagai berikut:

a. Menjauhakan masyarakat dari praktik ekonomi non Syariah. Aktif dalam melakukan sosialisasi ditengah masyarakat tentang arti pentingnya sistem ekonomi Islami. Hal ini bisa dilakukan dengan pelatihan-pelatihan mengenai cara-cara bertransaksi yang Islami.

Mislanya supaya ada bukti dalam transaksi, dilarang curang dalam menimbang barang, jujur terhadap konsumen, dan sebagainya.

b. Melakukan pembianaan dan pendanaan usaha kecil. BMT harus bersikap aktif menjalankan fungsi sebagai lembaga keuangan mikro, misalnya dengan jalan pendampingan, pembinaan, penyuluhan dan pengawasan terhadap usaha-usaha nasabah atau masyrakat umum.

c. Melepaskan ketergantungan pada rentenir, masyarakat yang masih tergantung rentenir yang disebabkan rentenir mampu memenuhi keinginan masyarakat dalam memenuhi dana dengan segera. Maka BMT harus melayani masyarakat lebih baik, misalnya selalu tersedia adana setiap saat, birokrasi yang sederhana dan sebagainya.

d. Menjaga ekonomi masyarakat dengan distribusi yang merata.

Dari kajian teori keilmuan tersebut peneliti dapat mengetahui dan menginterpretasikan bahwa peran BMT-UGT Sidogiri KCP

Bangsalsari Kab Jember dalam mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Bangsalsari sudah sesuai dengan teori yang ada, dimana BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember berperan sebagai pemberi dana (modal) melalui pembiayaan dan sebagai pendamping usaha, hal tersebut sesuai dengan poin ketiga pada teori diatas yang mengatakan bahwa peran BMT adalah melakukan pembinaan dan pendanaan usaha kecil.

Lebih detail Neni Sri Imaniyati mengungkapkan bahwa BMT dapat melkukan pemberdayaan kepada UMKM khususnya pedagang mikro dan kecil dengan melakukan beberapa peran atau kegiatan sebagai berikut:

a. Pembiayaan

Pedagang kecil atau masyarakat menengah ke bawah dalam memperoleh dana pembiayaan untuk memperluas usahanya ataupun membangun usaha baru bagi masyarakat menengah ke bawah relatif sangat sulit, maka BMT mampu menangkaunya untuk memperoleh pembiayaan dan diberikan oleh BMT tanpa menghilangkan usur kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.

b. Pembianaan

Pedagang kecil dan masyarakat menengah ke bawah dalam melakukan usahanya dan agar untuk mempertanggung jawabkan pembiayaannya, maka BMT seringkali pemberikan pembinaan kewirausahaan mampu mengelola keuangan. Adapun bentuk

pembinaan dapat dilakukan dengan cara mengadakan seminar atau pelatihan. Hal ini diharapkan meningkatkan keterampilan yang dimilki oleh penerima pembiayaan.

c. Pemasaran produk /jasa

Untuk membantu kelancaran usaha penerima pembiayaan, maka BMT dapat melakukan bantuan pemasaran kepada masyarakat luas terhadap hasil usahanya.

Dari ketiga peran BMT menurut teori keilm uan diatas dan hasil dilapangan tentang peran BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember dalam mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah telah dapat disimpulkan bahwa terdapat kesesuaian. Kesesuaiannya adalah peran BMT dalam mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yaitu sebagai pemberi dana (pembiayaan) usaha, pembinaan usaha, dan ikut serta membantu dalam hal pemasaran produk usaha.

Kesimpulannya peran BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember dalam mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Bangsalsari adalah berperan sebagai pemberi semua dana hingga produksi usaha, dan ikut serta membantu dalam pemasaran produk usaha.

2. kendala yang dihadapi BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari Kab Jember Dalam Menegmbangkan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah di Bangsalsari

Dari penyajian dan data penelitian yang telah diuraikan diatas tentang kendala yang dihadapi BMT-UGT Sidogiri dalam mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah di Bangsalsari tersebut, peneliti akan menginterpretasikannya secara mendetaiol dengan mengaitkannya pada teori keiolmuan yang ada tentang kendala yang dihadapi oleh BMT.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi BMT Sidogiri dalam menembangkan usaha mikro kecil dan menengah di Bangsalsari adalah terdapat dua faktor, yaitu faktor internal (kurangnya pemahaman petugas BMT tentang BMT itu sendiri karena minimnya pendidikan dari merekan dan kurangnya ketersediaan modal) dan faktor eksternal (kurang maksimalnya kemampuan menegelola akibat dari kurangnya latihan dan pengembangan, persaingan pasar yang kuat, dan keterlambatan dalam pembayaran pinjaman)

Sedangkan Nur Rianto mengatakn bahwa kendala yang dihadapi BMT adalah:

a. Akumulasi kebutuhan dana masyarakat belum bisa dipenuhi oleh BMT. Hal ini menjadikan nilai pembiayaan dan jangka waktu pembayaran kewajiban dari nasabah cukup cepat. Dan pembiayaan

yang diberikan oleh BMT belum tentu memadai untuk modal usaha masyarakat.

b. Meskipun BMT sudah banyak dikenal dimasyarakat, tetapi masyrakat masih berhubungan dengan rentenir. Arena masyarakat menginginkan pelayanan yang cepat, meskipun mereka harus membayar bunga yang cukup tinggi. Hak ini disebabkan masih banyak BMT yang seperti rentenir, yang artinya BMT belum mampu memberikan pelayanan yang memadai dalam jumlah dana dan waktu.

c. Beberapa BMT cenderung menghadapi masalah yang sama, misalnya nasabah yang bermasalah. Kadang ada satu nasabah yang tidak hanya bermasalah disatu tempat, tetapi ditempat lain juga bermasalah. Oleh karena itu, perlu upaya dari masing-masing BMT untuk melakukan koordinasi dalam rangka mempersempit gerak nasabah yang bermasalah.

d. BMT cenderung menghadap BMT lain sebagai pesaing yang harus dikalahkan, bukian sebagai mitra atau patner dalam upaya untuk mengeluarkan masyarakaat dari permasalahan ekeonomi yang dihadapi. Sehingga menyebabkan tingkat persaingan yang tidak islami bahkan akan mempengaruhi pola pengelolaan BMT.

e. BMT lebih mementingkan menjadi Baitul Tamwil dari pada Baitul Maal. Diman BMT lebih banyak menghimpun dana yang digunakan untuk bisnis dari pada untuk mengelola zaka, infak, dan sadaqah.

Dari pendapat Nur Rianto dapat diketahui bahwa kendala yang dihadapi oleh BMT-UGT Sidogiri KCP bngsalsai Kab Jmeber dalam mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah di Bangsalsari memang menjadi kendala yang dihadapi oleh kebanyakan BMT, yaitu kendala internal meliputi kurangnya modal pada BMT untuk pembiayaan nasabah dan faktor eksternal meliputi persaingan pasar yang kuat dan keterlambatan dalam penyetor pinjaman oleh nasabah.

Kemudian faktor-faktor penghambat produktivitas satu usaha Tjuju Yunarsih mengungkapkan dalam bukunya Manajemen SDM yaitu 1) Kurangnya pengarahan

Pengarahan oleh pimpinan kepada bawahan akan mengakibatkan pekerjaan yang tidak efektif dan efisien sehingga akan menghambat tujuan dari perusahaan.

2) Struktur organisasi yang rendah

Struktur organisasi yang rendah akan mengakibatkan tidak efektifnya kinerja para kariyawan terhadap tugas yang telah di berikan oleh perusahaan atau organisasi,, Sehingga akan sulit mencapai tujuan bersama

3) Kinerja karyawan yang rendah

Kenirja karyawan yang rendah akan membuat suatu perusahaan tidak dapat melaksakan tujuan yang telah di laksanakan

4) Sumber Daya Manusia yang rendah

Dalam suatu perusahaan sangat membutuhkan sumber daya manusia untuk mencpai tujuan.

Kajian teori keilmuan tersebut membenarkan adanya beberapa hambatan atau kendala yang di hadapi pelaku usaha dalam meningkatkan produktifitas usahanya, Termasuk kendala yang terjadi pada BMT-UGT Sidogiri dalam mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah di Bangsalsari, Yaitu terkait kendala kurangnya kemampuan SDM itu sendiri dalam tugas dan fungsinya sebangai karyawan BMT dan pengelolah usaha.

Kesimpulannya, Kendala yang di hadapi BMT-UGT Sidogiri dalam mengembangkan usaha mikro kecil kdan menengah di Bangsalsari adalah terdapat dua faktor, yaitu faktor internal ( kurangnya pemahaman petugas BMT tentang BMT itu sendiri dan karena minimnya pendidikan dari mereka dan kurangnya ketersediaan modal ) dan fakto eksternal ( kurang maksimalnya kemampuan mengelola akibat dari kurangnya latihan dan pengembangan persainagan pasar yang kuat, dan keterlambatan dalam penyetoran pinjaman )

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan dianalisis tentang peran Baitu Maal wa Tamwil (BMT) dalam mengembangkan produktifitas usaha mikro, kecil, dan menengah (studi kasus BMT-UGT Sidogiri cabang Bangsalsari) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Keberadaan BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsaridi tengah-tengah msayarakat berpern aktif dalaam mengembangkan produktifitas usaha mikro, kecil, dan menengah. Adapun peran BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsaridalam mengembangkan UMKM meliputi dua hal yaitu, Pertama, memberikan pembiayaan atau membantu ketersediaan modal kepada pedagang kecil ataupun masyarakat menengah ke bawah untuk memperoleh dana untuk memperluas usahanya ataupun membangun usaha baru bagi masyarakat menengah ke bawah di daerah Bangsalsari. Kedua, melakukan pembinaan kepada pedagang kecil dan masyarkat menengah ke bawah agar mampu mempertanggung jawabkan modal yang telah diberikan kepada para pelaku usaha.

2. Kendala yang dihadapi BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari dalam mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah di Bangsalsari adalah terdapat dua permasalahan yaitu, Pertama, faktor internal yaitu dari pihak BMT karena faktor pendidikan yang rendah dan kurangnya modal. Kedua, faktor eksternal atau dari nasabah seperti kurang maksimal kemampuan

mengelola usahanya, persaingan yang kuat dan keterlambatan dalam penyetoran.

B. Saran

Kapada Nsabah BMT-UGT Sidogiri KCP Bangsalsari

Mengingat keberadaan BMT memiliki peran dalam membantu mengembangkan produktivitas usahanya, maka hendaknya para nasabah dapat menjalin kerjasama yang baik, yaitu dengan melakukan penyetoran tepat pada waktu yang telah disepakati sehingga tidak menyebabkan kredit macet yang akan merugikan pihak BMT.

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Pandji. 2002. Koperasi, Kewiru Usahaan dan Usaha Kecil. Jakarta: PT.

Rineka Citra.

Antonio, Muhammad Syafi’i. 2014. Bank Syariah dari Teori ke Praktek. Jakarta:

Gema Inani.

Departemen Agama Repoblik Indonesia. 2004. Al-quran dan Terjemahnya Al- Jumanatul ‘Ali. Bandung: CV Penerbit J-ART

Djauli, A. 2002. Lembaga-lembaga Perekonomian Umat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Fauroni, Luqman. 2006. Arah dan Strategi Ekonomi Islam. Yogyakarta: Magistra Insani Press.

Hadi, Sutrisno. 1993. Metode Research. Yogyakarta: Andi Offset.

Ikatan Bankir Indonesia. 2005. Mengolah Kredit Secara Sehat. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama.

Imaniati, Neni Sri. 2010. Aspek-aspek Hukum BMT. Bandung: Citra Aditia Bakti.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1998. Jakarta: Balai Pustaka.

Meleong, Lexi J. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Roska Karya Muhajir, Noeng 1996, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake saraswati.

Muttqien, Dedan 2008. Aspek Legal Lembaga Keuangan Syariah, yogyakarta:

Safiria Insania Press.

Mulyana, deddy, 2006, Metode Penelitian kualitatif paradigma Baru Ilmu Komunikatif dan Ilmu Sosial lainnya, bandung: Rosdakarya.

Pedoman Penulisan karya Ilmiyah (Jember: STAIN Jember Press, 2014).

Ridwan, Muhammad, 2004, manajemen Baitul Maal Wa Tamwil (BMT), Yogyakarta: UII Press.

Rifa’i Moch 1996, 300 Hadis Bekal Dakwah dan Pembinasa Pribadi Muslim (Edisi revisi), Jakarta.

Setianingrum, Nurul, 2013 lembaga Keuangan Syariah, ember: STAIN Jember Press.

Dalam dokumen peran baitul maal wa tamwil (bmt) dalam (Halaman 79-107)

Dokumen terkait