• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Diplomat dan Konsulat Jenderal

Dalam dokumen Sejarah, Teori, dan Studi Kasus (Halaman 65-70)

Selain diplomat, perwakilan suatu negara kepada negara lain dapat pula dilakukan oleh konsulat jendral sebagai perwakilan konsuler. Sesuai pasal 5 Konvensi Wina mengenai hubungan konsuler dan optimalisasi protokol tahun 1963, fungsi dari perwakilan konsuler antara lain;

a. Melindungi kepentingan negara pengirim dan warga negaranya dalam negara penerima didalam batas-batas yang diizinkan oleh hukum internasional

b. Memajukan hubungan dagang, ekonomi, ilmiah dan kebudayaan diantara dua negara,

c. Mengeluarkan paspor dan dokumen yang pantas untuk orang yang ingin berpergian ke negara pengirim

d. Bertindak sbg notaris dan pencatat sipil serta melakukan peraturan perundang-undangan negara penerima.

Tabel 3.1 Perbedaan Diplomat dan Konsulat Jenderal Diplomat Konsulat Jenderal Tugasnya dalam bidang

politik

Tugasnya dalam bidang non politik

Hanya 1 perwakilan dan ditempatkan di ibu kota

negara

Lebih dari 1 perwakilan, tergantung kebutuhan Surat tugas ditandatangani

oleh kepala negara

Surat tugas ditandatangani oleh menteri luar negeri Dapat mempengaruhi Harus tunduk kepada

53

Konsulat Jenderal diplomat

Memiliki daerah ekstrateritorial

Tidak memiliki daerah ekstrateritorial Dapat berhubungan langsung

dengan pemerintah pusat negara penerima

Hanya dapat berhubungan dengan pemerintah setempat

(daerah), jika ingin berhubungan dengan pemerintah pusat negara penerima maka harus melalui

diplomat

Hak imunitasnya penuh Hak imunitasnya sebagian

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa diplomat dan konsulat jenderal memiliki sejumlah perbedaan, dimulai dari ranah tugas yang diemban, antara lain adalah:

a. Diplomat memiliki tugas dalam bidang politik sementara konsulat jenderal memiliki tugas dalam bidang non politik.

b. Diplomat hanya memiliki 1 perwakilan yang disebut sebagai Kedutaan Besar dan bertempat di ibu kota negara penerima sementara konsulat jenderal bisa memiliki lebih dari 1 perwakilan dan tidak harus ditempatkan di ibu kota negara penerima.

c. Surat tugas diplomat ditandatangani oleh kepala negara sementara konsulat jenderal oleh menteri luar negeri.

d. Diplomat memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan konsulat jenderal, hal ini terlihat dari hak imunitas yang dimilikinya, daerah ekstrateritorial

54 atau daerah yang memiliki kekebalan diplomatik serta pengaruh terkait hubungan dengan pemerintah negara penerima.

e. Beberapa perbedaan lainnya antara diplomat dan juga konsulat jenderal yakni terkait dimulainya masa tugas dan berakhirnya masa tugas perwakilan diplomatik dan perwakilan konsuler.

Para diplomat akan mulai menjalankan tugasnya setelah negara penerima mendapatkan surat kepercayaan dari negara pengirim yang diberikan secara langsung oleh sang diplomat, hal ini sesuai dengan aturan Konvensi Wina 1961. Adapun proses pembukaan perwakilan diplomatik sesuai dengan Konvensi Wina 1961 adalah kedua belah pihak/negara melakukan pertukaran informasi. Masing-masing pihak kemudian mengajukan permohonan persetujuan untuk menempatkan perwakilan diplomatik.

Setelah ada persetujuan, maka diplomat akan menerima Surat Kepercayaan (Letter of Credence). Para diplomat kemudian harus menemui Direktur Protokol Departemen Luar Negeri. Surat kepercayaan tersebut kemudian diserahkan langsung oleh diplomat kepada kepala negara penerima. Adapun, surat kepercayaan kuasa usaha, diberikan kepada menteri luar negeri negara penerima. Sementara konsulat jenderal mulai menjalankan tugasnya setelah negara penerima mendapatkan pemberitahuan yang layak dari negara pengirim, hal ini sesuai dengan aturan dalam Konvensi Wina 1963.

Kemudian, berakhirnya masa tugas diplomat dan konsulat jenderal pun berbeda. Diplomat dapat berakhir

55 masa tugasnya apabila sang diplomat tidak disenangi negara penerima. Sebagai perwakilan dari suatu negara, para diplomat harus mendapatkan persetujuan dari negara penerima sebelum bisa mulai melakukan tugasnya. Salah satu tugas dari para diplomat tersebut adalah menjaga hubungan persahabatan antara negara pengirim dan negara penerima sehingga penting kiranya bagi seorang diplomat untuk bersikap baik kepada pemerintah negara penerima.

Apabila pemerintah negara penerima merasa tidak suka dengan sang diplomat, mereka memiliki hak untuk menolak keberadaan sang diplomat dan mengakhiri masa tugasnya.

Selanjutnya, masa tugas diplomat dapat berakhir apabila negara penerima dan pengirim berperang serta sudah habis masa jabatannya dan ditarik oleh pemerintah negaranya.

Masa tugas konsulat jenderal sendiri dapat berakhir apabila ia mendapatkan pemberitahuan bahwa ia bukan lagi sebagai staf konsuler, pemberitahuan ini biasanya datang dari negara pengirim. Kemudian penarikan dari negara pengirim serta fungsi pejabat konsuler telah berakhir. Namun perlu diketahui bahwa pemutusan hubungan diplomatik antara negara pengirim dan penerima, baik yang dikarenakan konflik ataupun perang tidak secara otomatis berdampak pada pemutusan hubungan konsuler.

Dengan kata lain, meskipun suatu negara menarik diplomatnya dikarenakan adanya ketegangan dengan negara penerima, konsulat jenderal negara pengirim yang berada dinegara penerima tetap dapat bekerja menjalankan tugasnya seperti biasa.

56 Pembukaan hubungan diplomatik melalui penerimaan dan pengiriman perwakilan diplomatik oleh negara, awalnya diatur dalam Hukum Internasional, yang disebut sebagai hak legasi. Terdapat dua jenis hak legasi yakni hak legasi aktif dan hak legasi pasif. Hak legasi aktif adalah hak suatu negara untuk mengakreditasikan wakilnya kenegara lain. Sementara hak legasi pasif adalah kewajiban suatu negara untuk menerima wakil-wakil dari negara asing.

Hak legasi ini diterima oleh Konvensi Havana tahun 1928 seperti yang tercantum dalam pasal 1 dalam konvensi tersebut. Namun dalam perkembangannya hak legasi ini berangsur-angsur sudah ditinggalkan, dikarenakan hak legasi ini tidak boleh dipaksakan kepada semua negara. Seperti disebutkan oleh Prof. Fhauchille, bahwa tidak suatu negara pun yang diharuskan menerima duta besar negara lain, itu adalah persoalan hubungan baik dan bukan masalah hukum murni.

Pembukaan hubungan diplomatik harus dilaksanakan apabila telah terdapat kesepakatan bersama antara kedua negara. Hal ini seperti ditegaskan dalam Konvensi Wina tahun 1961, bahwasanya pembukaan hubungan diplomatik antara negara-negara dan pengadaan misi diplomatik, terjadi dengan persetujuan timbal balik. Dengan terjadinya kesepakatan bersama yang selanjutnya dituangkan dalam persetujuan bersama atau perjanjian bilateral, maka kedua negara tersebut harus dapat menerima segala konsekuensinya. Kedua negara tersebut harus menyadari bahwa mereka telah melakukan suatu perjanjian tanpa ada tekanan ataupun paksaan dari manapun juga.

57

Dalam dokumen Sejarah, Teori, dan Studi Kasus (Halaman 65-70)

Dokumen terkait