PERDAGANGAN DAN KERJASAMA EKONOMI DALAM EKONOMI SIRKULAR
A. Perdagangan dan Kerjasama Ekonomi Sirkular Prospek Perdagangan Hasil Olahan
Dalam percaturan perdagangan internasional, remanufaktur merupakan salah satu unsur penting yang dapat menentukan efisiensi sumberdaya ekonomi dalam ekonomi sirkular terutama untuk negara- negara di kawasan Asia Tenggara (Matsumoto et al., 2021) termasuk Indonesia. Dimana Indonesia sendiri telah menetapkan lima prioritas utama dalam penerapan prinsip ekonomi sirkular, yaitu daur ulang pengolahan (remanufaktur). Hal ini sesuai dengan tiga siklus ekosistem, yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial (lihat Gambar 2a,b, dan c).
Sumber: Velenturf & Purnell (2021)
Gambar 2: Hubungan Tiga Dimensi Unsur Ekonomi Sirkula Ketiga unsur utama tersebut, yaitu lingkungan, sosial dan ekonomi di era ekonomi sirkular sangat menjanjikan. Hal ini yang dilakukan oleh negara Cina. Menurut Qu et al. (2019) baru-baru ini Cina mengembangkan tiga kebijakan ekonomi strategis meman- faatkan ekonomi sirkular global melalui daur ulang, penggunaan kembali, dan pembuangan limbah padat sebagai kebijakan strategis sehingga produksi dalam negeri dari kegiatan tersebut mampu diimpor ke negara-negara lain. Demikian pula kata Waudby & Zein (2021), Malaysia dengan mendaur ulang limbah cair pabrik kelapa
BOOK CHAPTER | Ekonomi Sirkular & Pembangunan Berkelanjutan
sawit (POME) menjadi nilai tambah produksi yang dapat dipedaga- ngkan. Begitu pula Thailand dengan memanfaatkan bahan bakar biodiesel yang ramah lingkungan dan murah untuk akses langsung transportasi laut. Indonesia yang potensinya lebih besar dalam mendaur ulang sumber daya alam menjadi sumber daya ekonomi, seperti daur ulang olah limbah pabrik kelapa sawit diproduksi biodiesel melalui pemanasan Microwave.
Menurut Susanty et al. (2020) selain olah limbah industri kelapa sawit yang dimiliki Indonesia, juga olahan industri furnitur kayu tradisional sangat terbuka. Industri mebel kayu tradisional yang dimiliki Indonesia sangat banyak, hampir dipenjuru tanah air industri manufatur ini ada. Xue et al. (2019 dalam Kurniawan et al., 2021) menegaskan bahwa seringkali kurangnya dukungan dan kebijakan dari pemerintah, bahkan tidak ada menyebabkan program masal secara nasional daur ulang tidak ada (lihat Gambar 3). Kita harus belajar kepada Cina sebagai negara yang berhasil mendaur ulang, Jerman mampu menerapkan ekonomi sirkulasi pada limbah rumah tangga dan pabrik patut dicontoh (Gambar 3).
BOOK CHAPTER |
Ekonomi Sirkular & Pembangunan Berkelanjutan
Pada gambar 3 tersebut political will dan legislasi dari pemerintah sangat efektif dalam menggabungkan tiga unsur yaitu lingkungan, ekonomi (industri) dan sosial (masyarakat profit &
non-profit) menuju ekonomi sirkular.
Sumber: Kurniawan et al., (2021)
Gambar 4: Ekonomi Hijau ala Jerman
Jerman mampu memitigasi perubahan iklim global di tingkat lokal dengan cara penghijauan ekonomi melalui memanfaatkan keluaran lingkungan dan ekonomi. Sebab mereka sadar bahwa bumi tidak selamanya memapu mengelola limbah yang dihasilkan secara cepat. Low Carbon Development Indonesia (LCDI) men- catat apa yang dilakukan oleh Uni Eropa, termasuk Jerman, Cina, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, dan lainnya termasuk Indonesia penerapakan ekonomi sirkular ini dalam rangka untuk berkelan- jutan siklus kehidupan, terutama pada produk, bahan baku, dan sumber daya. Menurut Faria et al., (2020) bahwa dengan diman- jakannya platform web, maka perdagangan global bisa dipasarkan
BOOK CHAPTER | Ekonomi Sirkular & Pembangunan Berkelanjutan
dengan marketing online terutama produk-produk ramah lingkung- an, seperti hasil-hasil pertanian, aksesoris, remanufaktoring dan sejenisnya. Produk-produk limbah industri manufaktur maupun jenis lainnya yang ramah lingkungan, seperti halnya produksi Cina dapat diperdagangkan di pasar dunia (lihat Gambar 5). Di Jerman, produk-produk olahan limbah menjadi packaging products yang ramah lingkungan dengan dukungan regulasi di (Simones &
Leipold, 2021).
Sumber: Simoens & Leipold (2021)
Gambar 5: Peran Pemerintah dalam Sistem Ekonomi Sirkular Menurut Liaros (2021) menegaskan bahwa di era persaingan perdagangan global yang menuntut sistem perdagangan yang efektif dan efisien dalam produksi dan pemasarannya, terutama terkait dengan hasil olahan hasil industri pertanian. Menurutnya, bumi sudah tidak mampu lagi mengolah secara cepat karena itu perlu sinergitas ekonomi, lingkungan dan sosial, ditambah dengan
BOOK CHAPTER |
Ekonomi Sirkular & Pembangunan Berkelanjutan
limbah perumahan, yang penggunaan makanan-air-energi semakin boros sehingga perlu adanya relokasi dan remanufkaturing dengan sekaligus membentuk jaringan perdagangannya akan sangat efektif.
Massaro e al. (2021) sependapat bahwa peluang bisnis di era industri 4.0 yang dikolaborasikan dengan paradigma prinsip ekonomi sirkular (CE) sangat menjanjikan apalagi kalau ada dukungan pemangku kebijakan (pemerintah). Era Industri 4.0 yang menghasilkan teknologi canggih perlu dipadukan dengan prinsip efisiensi dan regenerasi lingkungan berkelanjutan dapat mening- katkan model perdagangan (lihat Gambar 6). Perubahan paradigma ini memberikan dampak positif dalam pergeseran besar investasi swasta dan publik terutama pada penyediaan pengembangan sumber daya untuk investasi pengolahan. Efisiensi energi dan pemanfaatannya menjadikan peluang investasi besar.
Menurut Dewick et al. (2020) adanya perubahan aktivitas dari ekonomi linear ke ekonomi sirkular, maka kesempatan industri keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya menunjukkan
BOOK CHAPTER | Ekonomi Sirkular & Pembangunan Berkelanjutan
komitmen dan kemajuan dalam menyediakan sumber daya untuk memfasilitasi proses ini. Para pelaku industri besar perlu menerap- kan standar investasi internasional, dan meluncurkan kendaraan pembiayaan inovatif, serta meningkatkan investasi, sehingga sebaiknya pemerintah perlu pengawasan yang lebih efektif untuk mencegah ekonomi sirkular menjadi konsep keberlanjutan yang dikompromikan dan pada akhirnya tidak efektif.
Flynn et al. (2019) memperjelas bahwa China telah lama menjadi mitra dagang utama untuk bahan limbah Barat. Namun, pemikiran ulang tentang kualitas bahan daur ulang yang diper- dagangkan telah memicu krisis dalam tata kelola aliran limbah global, seperti, produksi global Cangkang kalsium karbonat (CaCO3) dari budidaya bivalvia bisa mencapai kisaran 13,6 juta metrik ton per tahun. Misalnya, kata Dewick et al. (2020), Kerang yang pada umumnya dianggap sebagai limbah dari kegiatan akua- kultur banyak diminati di dunia internasional ternyata cangkangnya mampu menyerap CO2 sehingga permintaan global, dan regional akan CaCO3 meningkat.
A. Prospek Kerjasama Ekonomi di Era Ekonomi Sirkular