III. BAHAN PENYUSUN TANAH
3.8. Perilaku Rheologi
Perilaku rheologi tanah terjadi terutama pada tanah yang mengandung mineral liat cukup tinggi, selalu berubah dengan perubahan kandungan air. Pada kandungan air tinggi, tanah berupa suspensi dan mempunyai sifat seperti benda cair. Jika kandungan air tanah berangsur-angsur turun, tanah berubah menjadi bahan semacam pasta. Pengurangan kandungan air selanjutnya menyebabkan tanah menjadi lengket/plastis (sticky) sehingga dapat dibentuk. Lebih lanjut jika kandungan air turun, tanah menjadi keras, tidak plastis, sukar dibentuk dan mempunyai sifat benda padat.
Sifat fisik tanah pada kandungan air tertentu disebut “konsistensi”. Jadi konsistensi dapat dianggap sebagai ketahanan terhadap flow dari suatu tanah.
Konsistensi dipengaruhi oleh gaya tarik menarik diantara partikel atau agregat. Pada keadaan kering konsistensi diukur dari kekerasannya (hardness) dan dalam keadaan lembab konsistensi diukur dari plastisitas dan kegemburannya.
Plastisitas dapat diberi batasan sebagai kemampuan suatu benda untuk berubah bentuk secara terus menerus (karena tekanan) dan mempertahankan bentuk yang baru tersebut jika tekanannya ditiadakan lagi. Berbeda dengan suatu benda yang mempunyai sifat elastis, jika tekanan ditiadakan benda tersebut akan berubah ke bentuk semula. Partikel liat dan mungkin debu halus yang bersifat plastis dan akan terjadi pada kisaran kandungan air tertentu. Kandungan air terendah dimana tanah masih bersifat plastis (plastic limit) dan kandungan air tertinggi disebut batas cair (liquid limit). Pada kandungan air di bawah batas plastis, jika dikerjakan tanah menjadi bergumpal dan pecah dan di atas batas cair, tanah bersifat seperti benda cair.
Selisih kandungan air antara batas cair dan batas plastis disebut “indek plastisitas”
(plasticity index). Nisbah indek plastis/persen liat disebut aktivitas (activity).
27 Pada kandungan air tanah di atas batas cair, kebanyakan tanah mempunyai sifat “Rheotrophy” yaitu tanah berubah menjadi lebih cair jika diaduk (stiring), dan akan kembali menjadi agak padat jika dibiarkan istirahat. Sifat ini sering disebut “ thrixotrophy”.
Untuk mendapatkan pengertian tentang thrixotrophy diberikan contoh madu lebah sebagai Gel-Sol-Gel. Madu dalam keadaan biasa berupa Gel dan jika dikenai gaya (diaduk) madu berupa Sol, dan selanjutnya jika gaya tersebut dihentikan dan madu dibiarkan istirahat, madu tersebut akan kembali berupa Gel. Untuk tanah, adanya thrixotrophy dapat dilihat dari perubahan viskositas (jika tanahnya cair), perubahan kekuatan tanahnya, kekuatan geser atau ketahanan penetrasi (jika tanahnya lembab).
Utomo dan Dexter (1981) menunjukkan bahwa peremasan (remoulded) menurunkan kekuatan tanah. Jika peremasan dihentikan dan tanah dibiarkan beristirahat (dalam keadaan konstan, baik kandungan air maupun temperature) secara berangsur-angsur kekuatan tanahnya bertambah lagi. Untuk gejala ini Mitchell (1960) menjelaskan bahwa karena adanya gaya dari luar (peremasan), maka terjadilah perusakan ikatan (termasuk sedimentasi) dan partikel tersusun agak random. Susunan random ini akan tetap dapat dipertahankan selama ada gaya dari luar (peremasan), tetapi begitu peremasan dihentikan maka system tersebut terdapat kelebihan energi dan secara berangsur-angsur kelebihan energi ini akan diturunkan untuk mendapatkan keseimbangan baru. Bersamaan dengan perubahan energi di dalam system, susunan partikel akan menjadi lebih random dan kekuatan tanah akan naik (Gambar 3.7.).
28
Gambar 3.7. Skhema proses thixotrophy yang terjadi karena peremasan (kekuatan tanah turun) dan kemudian diistirahatkan (kekuatan tanah naik menuju kekuatan semula)
29
Bahan Diskusi Kelompok
1. Apa perbedaan dan persamaan ukuran fraksi dari ketiga lembaga yang membuatnya
2. Diskusikan tipe liat illit dan monmorillonit mempunyai sifat yang berbeda, padahal sama-sama merupakan tipe lita 2 : 1
Latihan Terstruktur
1. Pada analisis mekanik tanah mengapa menggunakan partikel tanah paling besar 2 mm
2. Pada analisis mekanik tanah digunakan zat-zat seperti H2O2, HCl, Calgon. Apa fungsi masing-masing zat tersebut
3. Kenapa dalam analisis mekanik tanah menggunakan asumsi-asumsi
4. Bagaimana cara menentukan kelas tekstur tanah, apabila kita telah mendapatkan persentase fraksi tanah.
Tugas Mandiri
1. Kumpulkan kelas tekstur tanah yang ada di beberapa Kabupaten di Bali 2. Kumpulkan jenis mineral yang ada di beberapa jenis tanah di Bali
Contoh Soal
Jika illit dengan k = 0,4 (1/mole) ditempatkan kelarutan yang mengandung 0,02 M CaCl dan 0,02 M NaCl. Hitung nisbah Na dapat ditukar terhadap Ca . jika illit KTK 40 me/100 g liat, berapa Ca dan Na yang ada pada permukaan jerapan
Jawaban :
Na t 0,4 x 0,02 0,008
= = 0,057 = 0,057 x 100% = 5,7%
Ca t √ 0,02 0,14
Na = 5,7%, Ca = 9,43%, Na = 5,7% x 40 me/100 g = 2 me/100 g
30
Daftar Pustaka
1. Kohnke, H. 1968. Soil Physics. McGrawHill, New York
2. Sutedjo, M.M. dan A.G. Kartasapoetra, 2002. Pengantar Ilmu Tanah. PT.
Rineka Cipta. Jakarta.
3. Utomo, W.H. 1985. Fisika Tanah. Fakultas Pertanian Brawijaya, Malang 4. Herodjito, 1975. Fisika Tanah. Institut Pertanian, Bogor
31
IV. STRUKTUT TANAH
Kompetensi Dasar
Mahasiswa mampu memahami (menjelaskan ) pengertian struktur, pembentukan struktur, faktor yang mempengaruhi struktur tanah, kemudian menerapkan (menggunakan) penentuan macam-macam struktur tanah dan sekaligus mengevaluasi struktur tanah
Sasaran Belajar
Setelah mengikuti dan mendiskusikan pokok bahasan ini, mahasiswa dapat : 1. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri mengenai pengertian struktur tanah 2. Hubungan struktur tanah dengan tanaman
3. Proses pembentukan struktur tanah
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan struktur tanah 5. Macam-macam struktur tanah
6. Evaluasi struktur tanah
4.1. Pengertian Struktur Tanah
Struktur tanah adalah :
1) penyusunan butiran primer dan butiran sekunder dalam suatu bentuk susunan tertentu dengan rung pori diantaranya.
2) menurut Soil Survey Staff, struktur tanah agregasi butir tunggal menjadi butir majemuk yang satu sama lain dibatasi oleh suatu bidang belah alami
struktur tanah tanah yang baik akan membantu berfungsinya faktor-faktor pertumbuhan tanaman secara optimal, sedangkan struktur tanah yang buruk akan menghambatnya pertumbuhan tanaman.
4.2. Hubungan Struktur Tanah dengan Tanaman
Tanah merupakan media untuk pertumbuhan suatu tanaman dimana akarnya berjankar, berkembang, mengisap unsur hara dan air. Untuk mendapatkan hasil tanaman yang cukup tinggi maka harus diciptakan kondisi fisik (Struktur) tanah yang cocok bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi fisik (struktur) tanah mempengaruhi
32 daya penetrasi akar, retensi air, drainase dan aerasi. Oleh karena itu sifat fisik tanah sangat penting diperhatikan untuk pertumbuhan tanaman.
4.3. Pembentukan Struktur Tanah
Struktur terbentuk karena adanya penyayatan agregat mikro ke dalam agregat makro. Adapun gaya dalam penyayatan adalah :
- Gaya intermolekuler (Vanderwaals)
-
Gaya kapiler yang timbul oleh adanya miniskus-
Gaya kimia termasuk pengaruh kation teradsorpsi .Agregasi terbentuk dari penyayatan butiran tanah yang dilalui flokulasi dan dari terjadinya retakan.
Butiran tanah dari satu sama lain disatukan karena gaya elektrostatis dan adanya peningkatan baik oleh liat maupun bahan organik.
Pada flokulasi dan koagulasi yang berkerja adalah gaya intermolekuler, kemudian agar tanahnya mantap diperlukan adanya bahan semen. Pembentukan agregat tanah karena : 1) Koagulasi koloid tanah (karena pengaruh Ca2+ ) kedalam agregat makro, 2) Sementasi (pengikatan) agregat mikro ke dalam agregat makro.
4.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Struktur Tanah
1. Bahan penyusun tanah ( liat, bahan organik,oksida besi dan alumunium).
Agregat terbentuk karena adanya penyatuan butiran tanah yang dimulai dari flukosi atau terjadi retakan yang dipengaruhi gaya elektrostatis dari Vandewaals, agar tanah menjadi mantap perlu pengikat (liat, bahan organik, oksida besi dan alumunium). Dengan demikian variasi bahan penyusun tanah tersebut akan sangat mempengaruhi pembentukan agregat-agregat tanah serta kemantapan agregat yang dibentuk.
Ada 4 cara penyelidikan yang digunakan untuk menyelidiki peranan bahan penyusun tanah :
33 a. Cara analisis empiris
b. Cara penambahan bahan semen c. Cara ekstrasi
d. Cara microscope
2. Jasad Mikro Tanah (jamur dan bakteri)
Perlu diketahui bahwa organic tanah baru berfungsi sebagai pengikat tanah setelah mengalami penguraian. Penguraian bahan organik dipercepat jika di dalam tanah terdapat kehidupan yakni jasad mikro tanah. Dengan demikian walaupun didalam tanah tersedia bahan organik, tetapi tidak ada jasad mikro, maka bahan organik tersebut tidak banyak bermanfaat untuk agregasi. Demikian pula, tanpa bahan organik, jasad mikro tidak efektif dalam mengikat agregasi tanah.
Jasad mikro tanah dapat mengikat butir-butir tanah menjadi agregasi secara : a. Langsung yakni dengan ikatan mekanis oleh cell dan filament jasad makro.
b. Tidak langsung yakni dengan ikatan yang dilakukan dengan hasil penguraian bahan organik.
Efektivitas jasad mikro membantu agregasi dipengaruhi oleh :
a. Sifat bahan organik yang tersedia atau mudah/tidaknya terkomposisi b. Jasad mikro yang ada
c. Lingkungan jasad mikro yang ada ( air tanah, temperatur, aerasi dan pH ).
3. Tanaman
Telah lama telah diketahui bahwa adanya tanaman pada suatu lahan dapat membantu agregasi tanah. Pada dasarnya peranan tanaman terhadap pembentukan agregat tanah dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu : a) secara fisik mekanis, b) secara biologis.
Secara mekanis agregasi terjadi karena akar tanaman yang menembus massa tanah membentuk bidang-bidang belah, dan juga dengan adanya tekanan akar tersebut butir-butir tanah menjadi lebih padat dan lebih dekat satu sama lainnya, sehingga
34 kohesinya semakin besar. Bidang belah dapat terbentuk karena adanya pengkerutan tanah sebagai akibat terpisahnya air oleh akar tanaman. Bidang belah baik terbentuk karena adanya akar maupun dehidrasi air aleh akar adalah tingkat pertana agregasi.
Bahan-bahan yang dikeluaran oleh akar tanaman, dan akar tanaman yang telah mati selanjutnya oleh jasad mikro dirombak menjadi bahan-bahan yang mampu mengikat butiran-butiran tanah menjadi agregat disebut secara biologis mekanis kimia.
4. Hewan Tanah (cacing tanah, serangga)
Bagaimana macam hewan tanah antara lain cacing tanah dan serangga tanah diketahui sangat membantu pembentukan agregat tanah. Secara langsung membuat lubang didalam massa tanah dan menggemburkan tanah, secara tidak langsung dengan merombak sisa-sisa tanaman yang setelah digunakan untuk pertumbuhannya dikeluarkan dan dapat berfungsi sebagai bahan pengikat tanah.
5. Iklim
Bersama-sama dengan pH, perubahan iklim (dalam hal ini pembahasan dan pengeringan serta pencairan dan pembekuan) merupakan faktor fisik yang sangat mempengaruhi pembentukan dan kemantapan agregat. Pembasahan dan pengeringan dominant pada tanah vertisol, sehingga tanah ini sering disebut sebagai self mulching.
4.5. Macam Struktur Tanah
Berdasarkan bentuknya, struktur tanah dapat dibedakan menjadi : a. Struktur sederhana : Bidang alami tidak ada atau tidak nampak jelas.
1. struktur butir tunggal : terdapat pada tanah-tanah pasir, pasir berlempung dan pasir berdebu.
2. struktur pejal/massif : terdapat pada gumpalan tanah pejal hasil pembajakan.
b. Struktur gabungan atau pautan : merupakan bidang belah alami yang dapat dilihat dengan jelas, dapat digambarkan menurut panjang relatif sumbu-sumbu horizontal dan vetikalnya dan oleh bentuk sisanya, seperti :
35 1. Kubus (Blocky) : jika sumbu horizontal sama dengan sumbu vertical. Jika
sudutnya tajam disebut angular blocky (kubus) sedangkan jika sudutnya membulat disebut kubus membulat (sub angular blocky).
2. Lempeng (Platy) : sumbu horizontal lebih panjang daripada sumbu vertical dan merupakan agregat yang tipis. Bentuk ini biasanya terdapat pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi.
3. Prisma : sumbu vertikal lebih panjang daripada sumbu horizontal. Bentuk ini pada umumnya terdapat pada horizon B. Bila sudut puncak tajam disebut prismatic, dan bila sudut puncak membulat disebut columnar.
4. Granuler : Agregat yang membulat biasanya diameternya tidak lebih dari 2 cm. terdapat pada horizontal A, struktur ini dalam keadaan lepas disebut Crumbs atau Spherical.
4.6. Tingkat Perkembangan Struktur Tanah dibagi kedalam : 1. Tidak beragregat (0) : tidak ada ikatan partikel tanah
2. Derajat lemah (1) : Terbentuk struktur tetapi mudah pecah jika terkena gaya
3. Derajat sedang (2) : Agregat tanah telah terbentuk dengan jelas, dan agak mudah dipecahkan
4. Derajat kokoh (3) : Agregat telah mantap terbentuk dan sukar untuk dipecahkan
4.6. Evaluasi Struktur Tanah
Untuk kepentingan pertumbuhan tanaman, yang perlu diperhatikan pada tanah tempat tanaman tersebut tumbuh adalah ruang pori baik mengenai jumlah, ukuran, penyusunan dan stabilitas pori. Disamping hal tersebut di bidang pertanian selalu berhubungan dengan pengolahan tanah dan usaha mempertahankan dan melestarikan sumber daya tanah. Oleh karena itu perlu dikembangkan metode yang digunakan untuk mengevaluasi kemantapan agregat akibat dari pengolahan tanah atau gaya lain yang merusak tanah.
36 Untuk mengetahui jumlah pori dapat dihitung seperti bab II yaitu dengan persamaan :
Vr
η = x 100%
Vt
Ruang pori ini merupakan salah satu pertanda adanya agregasi pada tanah.
Tanah yang berstruktur mempunyai ruang pori yang lebih banyak dari pada tanah yang strukturnya kurang baik.
Pengetahuan tentang porositas total belum banyak memberikan informasi tentang struktur tanah, sehingga perlu diketahui tambahan informasi yang lain yaitu distribusi ukuran pori dan cara penyusunan pori. Distribusi ukuran pori pada umumnya dihitung dari kurva karakteristik air tanah. Perhitungan ini berdasarkan pada prinsip kapilaritas yang menyatakan bahwa pada suatu nilai potensial matrik air tanah tertentu, hanya ukuran pori-pori sama dengan atau lebih kecil diameter tertentu yang terisi air. Jika ditulis dengan persamaan adalah :
- 4T cos α ψm =
d
dimana : ψm = potensial matrik
T = tegangan permukaan cairan
Α = sudut kontak antara air dengan padatan tanah d = diameter
jika cairan yang digunakan air dengan nialai T = 72,7 dyne/cm dan α = 0 maka : - 0,28
ψm = d
dimana ψm dan d dalam satuan cm. jadi diameter pori pada satuan matrik – 100 cm adalah :
- 0,28
d = cm = 28 um 100
Bagian pori yang mempunyai diameter d, dihitung dari kandungan air volume.
37 Contoh :
Buat gambar distribusi pohon tanah yang mempunyai kurva karakteristik air tanah seperti berikut :
Gambar 4.1. Kurva karakteristik air tanah mediteran
Dari kurva tersebut dapat dihitung ukuran pori dan % volume masing-masing ukuran.
Ψm (cm) Ukuran pori d (um) Log d % volume
1 2800 3,44 55
10 280 2,44 52
30 93,3 1,96 49
100 28 1,44 40
300 9,3 0,96 28
1000 2,8 0,44 20
3000 0,28 -0,55 18
15000 0,018 -1,74 15
10 0
SS 1,5
SS 1
S S 0
S S 4
S S 3,5
SS
2,5
SS 3
S S
2
S S
30
SS 20
SS
40
SS 50
SS
38
Selanjutnya distribusi ukuran pori dapat digambarkan sebagai berikut
Gambar 4.2. distribusi ukuran pori tanah mediteran.
Bahan Diskusi Kelompok
1. Hubungan anatar struktur tanah dengan pertumbuhan tanaman
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan tingkat perkembangan struktur tanah
3. Cara menentukan macam ikatan dan struktur tanah.
Latihan Terstruktur
Kumpulkan bentuk-bentuk struktur yang ada di Pulau Bali dengan cara meneliti hasil penelitian mahasiswa atau dosen yang telah ada, kemudian bahas mengapa bias berbeda
.
Tugas Mandiri
Buat ringkasan tentang struktur tanah yaitu dari pengertian struktur tanah, hubungan dengan tanaman, bentuk-bentuk dan tingkat perkembangan struktur, genesis struktur, cara-cara menentukan struktur tanah.
39
Contoh Soal
1. Sebutkan dan jelaskan 7 mekanisme pembentukan agregat tanah.
2. Sebutkan dan jelaskan 4 faktor penyebab kemantapan agregat tanah.
Daftar Pustaka
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB. Bogor
Baver, L.D. W.H. Gardner; W.R. Gardner. 1972. Soil Physics. Fourth Edition. John Wiley & Sons, Inc. New York.
Herudjito, Dasun. 1980. Fisika Tanah. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian IPB, Bogor
Saifuddin Sarief, 1989. Fisika- Kimia Tanah. Pertanian Pustaka Buana, Bandung Sarwono Hardjowigeno. 1987. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta
40
V. UDARA TANAH
Kompetensi Dasar
Mahasiswa mampu memahami (menjelaskan) pengertian, komposisi, factor yang mempengaruhi, pertukaran udara dalam tanah. Kemudian mahasiswa dapat menganalaisis (menggunakan) hubungan aerasi tanah dan pertumbuhan tanaman
Sasaran Belajar
Mahasiswa setelah mengikuti dan mendiskusikan topik bahasan ini, mahasiswa dapat menjelaskan dengan kata sendiri pengertian udara tanah, Komposisi udara tanah, Faktor-faktor yang mempengerahui udara tanah, Pertukaran udara dalam tanah dan Areasi tanah dan pertumbuhan tanaman.
5.1. Pendahuluan
Seperti telah diketahui bahwa tanah terdiri atas 3 fase yaitu padatan, cairan dan gas/udara. Unsur udara dalam tanah ini dalam beberapa hal memegang peranan penting dalam sifat-sifat tanah. Sebagai alat produksi udara tanah mempunyai peranan yang tidak kurang pentingnya baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi hasil atau produkvitas suatu lahan. Contoh pada tanah yang selalu tergenang air tidak akan dapat diusahakan secara wajar dan efisien karena kekurangan udara. Jika udara dalam tanah terbatas akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut : 1. Menghambat pertumbuhan dan perkembangan akar
2. Menghambat pernafasan akar
3. Menghambat penyerapan air dan unsure hara dari dalam tanah
4. Menekan aktivitas jasad-jasad hidup dalam tanah, sehingga proses-proses biologi yang berhubungan dengan pembangunan kesuburantanah terhambat.
5.2. Komposisi Udara Tanah
Komposisi udara tanah menyatakan kandungan (dalam %) gas-gas seperti N2, O2, CO2 dalam udara tanah. Komposisi masing-masing gas senantiasa berubah tergantung keadaan luar dan keadaan dalam tanah itu sendiri. Keadaan luar yang
41 paling berpengaruh adalah adanya perubahan iklim. Konsentrasi CO2 di dalam tanah lebih besar daripada konsentrasi gas CO2 udara luar, karena adanya penimbunan gas CO2 yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan akar-akar tanaman di dalam tanah.
Contoh komposisi udara di dalam tanah dan di luar disajikan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Komposisi udara dibeberapa tempat
Tempat % Volume
O2 CO2 N2
Udara tanah - Inggris - Iowa - New York
20,65 20,40 15,10
0,25 0,20 4,50
79,20 79,40 31,40
Udara luar 20,97 0,03 79,00
5.2. Faktor-Faktoryang Mempengaruhi Udara Tanah
Dalam alam ini banyak terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi komposisi udara tanah, antara lain :
a. Sifat tanah
b. Cara bercocok tanam
c. Bahan organik dan kegiatan mikrooragisme d. Perubahan musim
a. Sifat Tanah
Sifat tanah yang mempengaruhi susunan udara tanah adalah tekstur, kedalaman tanah, struktur tanah, kadar air dan kadar bahan organik tanah. Dilihat dari tekstur tanah maka didapatkan bahwa makin halus tekstur tanah maka makin tinggi kadar CO2 . Demikian juga makin dalam kita masuk suatu horizon tanah, maka makin bertambah kadar CO2. Makin tinggi kadar air maka makin tinggi kadar
42 CO2. Hubungan antara tekstur, kedalaman tanah dan CO2 dan O2 disajikan pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2. Hubungan antara tekstur, kedalaman tanah dan komposisi udara tanah ( % )
Dalam (feet)
Tekstur
Lempung berpasir Lempung liat berdebu Liat berdebu
CO2 O2 CO2 O2 CO2 O2
1 0,8 19,9 1,0 19,8 1,7 18,2
2 1,3 19,4 3,2 17,9 2,8 16,7
3 1,5 19,1 4,6 16,8 3,7 15,6
4 2,1 18,3 6,2 16,0 7,9 12,3
5 2,7 17,9 7,1 15,3 10,6 8,8
6 3,0 17,5 7,9 14,8 10,3 4,6
> < > < > <
b. Cara bercocok tanam
Tanah yang ditanami lebih banyak mengandung CO2 daripada tanah bero, karena tanah yang ditanami akan menggunakan O2 dan melepaskan CO2. Lebih-lebih lagi bila tanah yang ditanami ditambah dengan bahan organik akan meningkatkan kadar CO2.
c. Bahan Organik dan Kegiatan Mikrooragnisme
Tanah yang banyak mengandung bahan organik akan mengandung kadar CO2
lebih tinggi, karena kegiatan mikrooragnisme sangat aktif menghasilkan CO2. Biasanya jumlah dipakai untuk menilai kegiatan mikroorganisme di dalam tanah.
d. Perubahan Musim
Perubahan musim/iklim luar juga akan mempengaruhi susunan udara tanah, khususnya kadar CO2 dan O2 . Pada musim dingin, kadar CO2 sangat rendah karena kegiatan mikroorganisme terbatas. Sebaliknya pada musim spring dan gugur kandungan CO2 sangat tinggi.