• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Tinjauan Konseptual

2. Perkawinan Usia Muda

Perkawinan merupakan Sunnatullah yang umum dan berlaku pada semua makkhluk-Nya, baik pada manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Ia adalah suatu cara yang dipilih oleh Allah swt., sebagai jalan bagi makhluk-Nya untuk berkembangbiak, dan melestarikan hidupnya. Perkawinan akan berperan setelah masing-masing pasangan siap melakukan perannya dalam mewujudkan tujuan perkawinan itu sendiri.23

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia nikah adalah ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama hidup sebagai suami istri tanpa merupakan pelanggaran terhadap agama.24

Kompilasi Hukum Islam di dalam buku satu tentang hukum perkawinan yang terdapat pada pasal 2 dinyatakan bahwa:

“Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miṡāqan galῑẓan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah”.25

Perkawinan dengan miṡāqan galῑẓan, janji yang sangat kuat. Ini mengisyaratkan bahwa perkawinan itu merupakan perjanjian serius antara mempelai pria (suami) dengan mempelai perempuan (istri). Karenanya perkawinan yang sudah dilakukan itu harus dipertahankan kelangsungannya. Talak (perceraian) itu dimungkinkan (dibolehkan) dalam Islam, tetapi Rasulullah saw., menjulukinya sebagai perbuatan halal yang dibenci Allah. Dan itu pulalah sebabnya mengapa dalam akad nikah harus ada saksi minimal dua orang disamping wali nikah meskipun

23Slamet Abidin, Fiqih Munakahat 1 (Cet.1; Bandung: Pustaka Setia), h.9.

24Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, h. 962.

25Inpres R.I, No.1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam, Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam,1997, h.14.

17

tentang status hukumnya apakah dia sebagai rukun atau hanya tergolong syarat sah nikah tetap diperdebatkan oleh para ulama. 26

Perkawinan bukan hanya menyatukan dua pasangan manusia, yakni laki-laki dan perempuan, melainkan mengikatkan tali perjanjian yang suci atas nama Allah, bahwa kedua mempelai berniat membangun rumah tangga yang sakinah, tentram, dan dipenuhi oleh rasa cinta dan kasih sayang. Untuk menegakkan cita-cita kehidupan tersebut, perkawinan tidak cukup hanya bersandar pada ajaran-ajaran Allah dalam Al- Qur‟an dan As-Sunnah yang bersifat global, terlebih lagi berkaitan dengan hukum suatu Negara. Perkawinan dinyatakan sah jika menurut hukum dan syarat-syaratnya

27.

Menurut Abdul Azis dalam Ensiklopedi Hukum Islam, perkawinan (mengimpun atau mengumpulkan) salah satu upaya untuk menyalurkan naluri seksual suami istri dalam sebuah rumah tangga sekaligus sarana untuk menghasilkan keturunan yang dapat menjamin kelangsungan eksistensi manusia di atas bumi.

Sedangkan menurut Mas‟adi perkawinan adalah sebuah aqad (perikatan) yang dikukuhkan dengan penerimaan mahar kepada pengantin perempuan dan dengan kesaksian atas kerelaan pengantin perempuan terhadap perkawinan tersebut.28

Jadi kesimpulan dari definisdiatas yaitu Perkawinan adalah akad yang disepakati oleh kedua belah pihak antara seorang pria dan seorang wanita untuk membentuk sebuah rumah tangga yang saling kasih mengasihi demi kebaikan keduanya dan anak-anak mereka.

26Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam (Cet.1; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004),h. 50.

27Boedi Abdullah dan Beni Ahmad Saebani, Perkawinan dan Perceraian Keluarga Muslim (Cet.1;Bandung: CV Pustaka Setia,2013 ), h. 19.

28Agus Riyadi, Bimbingan Konseling Perkawinan Dakwah dalam Membentuk Keluarga Sakina (Yogyakarta: Mizan, 2013), h. 56-57.

Usia muda (remaja) menurut bahasa adalah mulai dewasa, sudah mencapai umur untuk menikah.

Menurut para ahli :

a. Zakiah mengemukakan bahwa usia muda (remaja) adalah anak yang pada masa dewasa, dimana anak-anak mengalami perubahan-perubahan cepat disegala bidang. Mereka bukan lagi anak-anak baik untuk badan, sikap dan cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang, masa ini dimulai kira-kira umur 13 tahun dan berakhir kira-kira 21 tahun.

b. Hurlock mendefinisikan usia remaja dan membaginya dalam tiga tingkatan yaitu pra remaja 10-12 tahun, remaja awal 13-16 tahun, remaja akhir 17-21 tahun.

Menurut WHO batasan usia muda terbagi dalam dua bagian yaitu usia muda awal 10-14 tahun dan usia muda akhir 15-20 tahun.

Menurut Konopka, menjelaskan bahwa masa muda dimulai pada usia 12tahun dan diakhiri pada usia 15tahun sama halnya dengan teori yang diungkapkan oleh Monks batasan usia secara global berlangsung antara umur 12 dan 21 tahun dan pembagian 12-15 tahun masa muda awal, 15-18 tahun masa muda pertengahan, 18-21 tahun masa muda akhir.Menurut Diane E. Papalia dan Sally Wendkos mengemukakan bahwa usia terbaik untuk melakukan perkawinan bagi perempuan adalah 19-25 tahun, sedangkan untuk laki-laki usia 20-25 tahun diharapkan sudah menikah.29

Berdasarkan pendapat di atas, masa muda adalah seorang yang telah menginjak usia 12 tahun dan berakhir pada usia 21 tahun yang disebut juga masa badai dan tekanan berat sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar yang mana sangat

29http://digilib.unila.ac.id/11794/15/BAB%20II.pdf diakses pada tanggal 02 Februari 2020.

19

berpengaruh pada psikologi muda. Usia muda dapat didefinisikan sebagai masa transisi antara remaja menuju dewasa, bisa ditandai umur 13-21 tahun dan adanya perubahansecara fisik.

Tabel Batasan Usia Anak

No Undang-Undang Batas Usia Anak

1 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Janin dalam kandungan sampai usia 21 tahun atau pernah kawin (Pasal 330 KUHPerdata).

2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

Usia 21 tahun atau pernah kawin (Pasal 1 poin 2).

3 Kepuutusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi Hak Anak

18 tahun (pasal 1) 4 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999

tentang Hak Asasi Manusia

Usia 18 tahun atau pernah menikah (pasal 1 poin 5)

5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak

Minimal 12 tahun dan maksimal 18 tahun (Pasal 1 poin 3)

6 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak

Janin dalam kandungan sampai usia 18 tahun (Pasal 1 poin 1)30

Jadi perkawinan usia muda adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri di usia yang masih muda atau yang masih di bawah batasan minimum yang diatur dalam undang-undang.

a. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perkawinan Usia Muda

Selain itu, perkawinan usia muda disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : 1) Faktor Ekonomi

Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup digaris kemiskinan, untuk meringkan beban orang tuanya maka anak wanitanya dinikahkan dengan orang yang dianggap mampu.

30 Mayadina Rohmi Musfiroh, Perkawinan Dini dan Upaya Perlindungan Anak di Indonesia, Jurnal Hukum dan Syar‟ah, Vol. 8. No.2, 2016.

2) Pendidikan

Rendahnya tingkat pendidikan maupun penegetahuan orang tua, anak dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan menikahkan anaknya yang masih muda.

3) Faktor Orang Tua

Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki- laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.

4) Media Massa

Gencarnya expose seks dimedia massa menyebabkan remaja modern semakin pesimis terhadap seks.

5) Faktor Adat

Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan.

6) Keluarga Cerai (Broken Home)

Banyak anak-anak korban perceraian terpaksa menikah muda karena berbagai alasan, misalnya tekanan ekonomi, untuk meringankan beban orang tua tunggal, membantu orang tua, mendapatkan pekerjaan, meningkatkan taraf hidup.31

b. Tujuan Perkawinan 1) Menenteramkan Jiwa

Bila sudah terjadi aqad nikah, wanita merasa jiwanya tentram, karena merasa ada yang melindungi dan ada yang bertanggung jawab dalam rumah tangga. Suami pun merasa tentram karena ada pendampingnya untuk mengurus rumah tangga, tempat

31Hesti Agustina, Gambaran Kehidupan Pasangan Yang Menikah di Usia Muda di Kabupaten Dharmasraya, Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, Vol. 1, No.1, 2013.

21

menumpahkan perasaan suka dan duka, dan teman bermusyawarah dalam menghadapi berbagai persoalan.

2) Mewujudkan (Melestarikan) Turunan

Sepasang suami istri tidak ada yang tidak mendambakan anak turunan untuk meneruskan kelangsungan hidup. Anak turunan diharapkan dapat mengambil alih tugas, perjuangan dan ide-ide yang pernah tertanam di dalam jiwa suami atau istri.

3) Memenuhi Kebutuhan Biologis

Kecenderungan cinta lawan jenis dan hubungan seksual sudah tertanam dalam diri manusia atas kehendak Allah. Kalau tidak ada kecenderungan dan keinginan untuk itu, tentu manusia tidak akan berkembang biak.

4) Latihan Memikul Tanggung Jawab

Sesuai dengan maksud penciptaan manusia dengan segala keistimewaannya berkarya, maka manusia itu tidak pantas bebas dari tanggungjawab. Manusia bertanggungjawab dalam keluarga, masyarakat dan negara.32

Tujuan perkawinan menurut agama Islam ialah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia. Harmonis dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota keluarga, sejahtera artinya terciptanya ketenangan lahir dan batin disebabkan terpenuhinya keperluan hidup lahir dan batinnya, sehingga timbullah kebahagiaaan, yakni kasih sayang antar anggota keluarga.33

Perkawinan sesungguhnya menyatukan dua insan yang memiliki dua sisi perbedaan, seorang wanita yang lebih terkenal dengan kelembutannya dan seorang

32M. Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga dalam Islam (Cet. 2; Jakarta: Prenada Media Group, 2006), h.13-20.

33Abdul Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat, Edisi 1 (Jakarta: Prenadamedia Group, 2003), h.16.

laki-laki yang cenderung tegas dan kasar. Perpaduan kedua sisi ini tentu memiliki fungsi yang tidak sedikit, kehadiran perkawinan ditengah-tengah kehidupan akan mampu mendorong pada jati seseorang. Apa dan bagaimana sesungguhnya diri dan kehidupannya. Adapun tujuan perkawinan sebagaimana disebutkan pasal 3 Kompilasi Hukum Islam, adalah:

“Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.34

Maka dari itu tidak diragukan lagi bahwa tujuan pokok perkawinan ialah demi kelangsungan hidup umat manusia dan memelihara martabat serta kemurnian silsilahnya, membentuk keluarga abadi, bahagia sejahtera dan lahir keturunan- keturunan yang berkualitas baik secara agama maupun keahlian duniawi, dan memberikan ketenangan dan ketentraman dalam kehifdupan manusia.35

c. Hikmah Perkawinan

Melakukan perkawinan yang sah akan memperoleh hikmah yang sangat besar, yaitu :

1) Menghindari terjadinya perzinahan.

2) Menikah dapat merendahkan pandangan mata dari melihat perempuan yang diharamkan.

3) Menghindari terjadinya penyakit kelamin yang diakibatkan oleh perzinahan seperti AIDS.

4) Lebih menumbuh kembangkan kemantapan jiwa dan kedewasaan serta tanggungjawab kepada keluarga.

5) Nikah merupakan setengah dari agama.

34Inpres R.I, No.1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam, h.14.

35Dahlan, Fikih Munakahat, Edisi 1(Cet.1; Yogyakarta: Budi Utama, 2015), h. 35.

23

6) Menikah dapat menumbuhkan kesungguhan, keberanian, dan rasa tanggungjawab kepada keluarga, masyarakat dan Negara.

7) Perkawinan dapat menghubungkan silaturahmi, persaudaraan, dan kegembiraan dalam menghadapi perjuangan hidup dalam kehidupan masyarakat dan sosial.36

Dokumen terkait