ILMU KOMUNIKASI
Markus Kristian Retu, S.Ikom., M.A.P Universitas Nusa Nipa Indonesia
Perkembangan Komunikasi
Periode perkembangan komunikasi merujuk pada sejarah dan bagaimana perkembangan komunikasi di dunia.
Secara garis besar, periode perkembangan komunikasi dapat dibagi menjadi empat periode, yakni periode tradisi retorika, periode pertumbuhan ilmu komunikasi, periode konsolidasi, serta periode teknologi komunikasi. Periode tradisi retorika Menurut Yasir dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi: Sebuah Pendekatan Kritis dan Komprehensif (2020), perkembangan komunikasi bisa ditelusuri sejak peradaban Yunani Kuno, tepatnya beberapa ratus tahun sebelum masehi. Saat itu, istilah komunikasi belum dikenal masyarakat Yunani Kuno, karena istilah retorika masih digunakan. Pada periode ini, Aristoteles sangat berperan besar dalam menciptakan upaya pengkajian yang sistematis terhadap retorika. Pokok pikiran Aristoteles ini kemudian dikembangkan oleh Cicero dan Quintilian. Kedua tokoh ini menyusun aturan retorika yang meliputi lima unsur, yakni urutan argumentasi, pengaturan ide, gaya bahasa, ingatan, dan cara
22
penyampaian pesan. Pada akhir abad ke-18, prinsip retorika yang disusun oleh Aristoteles, Cicero, dan Quintilian menjadi dasar bagi bidang kajian speech communication dan rhetoric (upaya persuasi). Setidaknya ada tiga perkembangan penting dalam periode ini, yaitu:
Penemuan teknologi komunikasi, seperti telepon, telegraf, radio, televisi, dan lain-lain. Proses industrialisasi dan modernisasi yang terjadi di negara Eropa Barat dan Amerika. Pecahnya Perang Dunia I dan II. Secara umum, bidang studi komunikasi yang berkembang di periode ini adalah hubungan komunikasi dengan institusi dan masalah politis kenegaraan, peranan komunikasi dalam kehidupan sosial, analisis psikologi sosial komunikasi, komunikasi dan pendidikan, propaganda, serta penelitian komunikasi komersial. Sejumlah tokoh yang sangat berperan penting dalam pengembangan ilmu komunikasi di era ini adalah Max Weber, Auguste Comte, Emile Durkheim, dan Sir Herbert Spencer. Periode konsolidasi Periode konsolidasi adalah periode setelah Perang Dunia II hingga tahun 1960-an. Disebut konsolidasi karena pendekatan ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner (mencakup berbagai ilmu) mulai terjadi. Baca juga: Proses dan Fungsi Komunikasi Menurut Para Ahli Ilmu komunikasi mulai dikenal luas di era konsolidasi yang ditandai oleh tiga hal, yakni: Adanya adopsi perbendaharaan istilah yang dipakai secara seragam. Munculnya buku-buku dasar yang membahas soal pengertian dan proses komunikasi.
Adanya konsep baku mengenai dasar-dasar proses komunikasi. Beberapa tokoh yang punya andil besar dalam pengembangan ilmu komunikasi di era ini adalah Harold D. Lasswell, Kurt Lewin, Carl I. Hovland, Paul F.
Lazarsfeld, Claude E. Shannon, dan Wilbur Schramm.
Periode teknologi komunikasi Sejak 1960-an, perkembangan ilmu komunikasi semakin kompleks dan mulai mengarah ke spesialisasi. Pesatnya perkembangan
23
ilmu komunikasi tercermin dalam beberapa indikator, yaitu: Jumlah universitas yang menyediakan program studi komunikasi semakin banyak, dan tersebar di berbagai negara, seperti Amerika Latin dan Afrika. Jumlah asosiasi profesional di bidang ekonomi juga semakin banyak, baik regional maupun internasional. Jumlah pusat penelitian dan pengembangan komunikasi juga semakin banyak.
Berikut ini adalah fase perkembangan ilmu komunikasi di dunia, yaitu:
A. Ilmu Pernyataan Manusia di Yunani dan Romawi Kuno
Jejak sejarah perkembangan ilmu komunikasi dimulai pada abad ke lima sebelum masehi yang ditandai dengan berkembangnya istilah Rhetorike di masa Yunani Kuno sebagai sebutan untuk ilmu yang mengkaji proses pernyataan antar manusia. Georgias adalah tokoh pertama yang mempelajari dan menelaah proses pernyataan antar manusia. Tokoh-tokoh lainnya yang juga mengkaji ilmu pernyataan manusia adalah Protagoras, Socrates, Plato, Demosthenes, dan Aristoteles.
Selain di Yunani, ilmu pernyataan manusia juga berkembang di Romawi yang dikenal dengan Rhetorika. Adapun tokoh yang mengembangkan retorika di Romawi adalah Cicero.
Ketika Romawi dipimpin oleh kaisar yang bernama Gaius Julius Caesar, berkembang ilmu pernyataan manusia melalui media. Pada masa kepemimpinannya, semua kegiatan yang dilakukan oleh senat harus diumumkan setiap hari kepada masyarakat melalui Acta Diurna atau semacam papan pengumuman. Ilmu pernyataan manusia kemudian mengalami perkembangan seiring dengan
24
perkembangan teknologi seperti ditemukannya kertas pada tahun 105 M dan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada abad 15.
Kemudian, pada tahun 1609 surat kabar pertama yaitu Avisa Relation Oder Zitung terbit di Jerman.
Beberapa tahun kemudian, yaitu sekitar tahun 1622 di Inggris terbitlah surat kabar Weekly News.
Berdasarkan catatan sejarah, pada masa ini telah lahir dan berkembang berbagai macam surat kabar yang memiliki berbagai pengaruh terhadap khalayaknya. Hal inilah yang membuat para ahli tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan persuratkabaran. (weekly news 1609, surat kabar pertama, Avisa Relation Oder Zitung) B. Munculnya Ilmu Persuratkabaran
Di abad 19, ilmu persuratkabaran lahir. Di Inggris, ilmu persuratkabaran disebut dengan Science of the Press, di Jerman disebut dengan Zeitungswissenschaft, di Belanda disebut dengan Dagblad wetenschap, dan di Perancis disebut dengan Science de la Presse. Adapun tokoh-tokoh yang menaruh minat dalam mengkaji ilmu persuratkabaran diantaranya adalah Prof. Dr. Emil Dovivat, Dr. H.J. Prakke, Wilhelm Bauer, dan lain- lain. Ilmu persuratkabaran inilah yang kemudian
menjadi dasar bagi tumbuh
kembangnya Communication Science di Amerika Serikat dan Publizistikwissenschaft di Jerman.
Munculnya berbagai media massa seperti radio dan film membuat ilmu persuratkabaran tidak lagi dianggap memadai. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Prof. Dr. K. Baschwitz dan diamini oleh Prof.
Dr. Walter Hagemann. Pada International Congress of University Teachers of the Science of the Press yang
25
dihelat pada tahun 1933, Baschwitz menyatakan bahwa ilmu persuratkabaran sudah usang dan sempit cakupannya karena seharusnya ilmu persuratkabaran juga mencakup media massa lainnya. Media masa baru mencakup seperti televisi, radio, dan film serta seluruh bidang pembinan opini beserta pengaruh-pengaruh yang dilancarkan. Karena itulah, ilmu persuratkabaran kemudian berganti menjadi ilmu publisistik.
C. Ilmu Publisistik di Eropa
Sebelum berkecamuknya Perang Dunia II, berkembang ilmu publisistik di Eropa terutama di Jerman dan Belanda. Istilah Publisistik adalah terjemahan dari Publizistik (Bahasa Jerman) dan Publicistiek (Bahasa Belanda) dan merupakan perkembangan dari ilmu persuratkabaran yang terjadi pada abad 19. Istilah ini mulai digunakan di Eropa pada dekade 1930an untuk menggantikan istilah ilmu persuratkabaran yang dianggap tidak lagi dapat digunakan akibat terlalu sempit cakupannya.
Di Belanda, seorang ahli yang bernama Prof. Dr. Pater N. De Volder mengenalkan istilah pengganti bagi ilmu persuratkabaran dengan nama communicatie wetenschap atau ilmu komunikasi. Istilah ini muncul setelah De Volder mengadakan studi di Amerika Serikat guna mempelajari jurnalistik. Dampak lanjutan dari hasil studinya ke Amerika Serikat adalah De Volder mengajarkan ilmu komunikasi di Leuven.
D. Ilmu Komunikasi di Amerika
Selama dan pasca Perang Dunia II, ilmu komunikasi lebih berorientasi ke Amerika Serikat. Studi tentang komunikasi di Amerika Serikat dapat dilacak melalui
26
beberapa tokoh sentral yang sangat berpengaruh seperti :
Paul F. Lazarfeld, Harold D. Lasswell, Kurt Lewin, dan tentunya Carl I. Hovland.
Paul F. Lazarsfeld
Paul F. Lazarsfeld adalah tokoh yang telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu komunikasi melalui sebuah model komunikasi yang terkenal yaitu two- steps flow of model communication. Model ini dikembangkan Lazaesfeld untuk menggambarkan efek media serta pesan-pesan propaganda terhadap pemirsa.
Harold D. Lasswell
Apa yang telah dikembangkan oleh Lazarsfeld kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Harold D.
Lasswell. Ketertarikannya pada dunia politik, Lasswell menggunakan berbagai macam pendekatan untuk memahami efek pesan-pesan serta media propaganda.
Lasswell dipengaruhi oleh pragmatism dan pemikiran Freudian. Lasswell memberikan kontribusinya terhadap ilmu komunikasi dengan menciptakan sebuah model komunikasi yang terkenal yaitu model komunikasi Lasswell guna menjelaskan apa itu komunikasi.
Kurt Lewin
Tokoh lain yang tercatat memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu komunikasi adalah Kurt Lewin. Sebagai seorang psikolog, ia dikenal sebagai salah satu pelopor dalam psikologi sosial, psikologi organisasi, serta psikologi terapan di Amerika Serikat. Kontribusinya terhadap ilmu komunikasi adalah analisisnya terkait dengan
27
komunikasi kelompok khususnya dinamika kelompok.