BAB II PAPARAN DAN TEMUAN
B. Perkembangan Pariwisata Desa Senggigi
Jadi bisa disimpulkan bahwa hampir 90% masyarakat Desa Senggigi menggantungkan hidupnya pada Industri Pariwisata.
international exhibitions Tsukuba di Japan (1985), Vancouver di Canada (1986), Brisbane di Australia (1988), Travel Mart in Adelaide (1988), Konichiwa ASEAN Travel Fair di Tokyo (1988), dan the World Travel Market in London (1988). Pada tahun 1989 pemerintah juga mempromosikan pariwisatanya pada ASEAN Tourism Forum di Singapore, Hong Kong Inter-tour di Milan, Italy, dan ITB Berlin di Jerman Barat. langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah tersebut berdampak terhadap perkembangan pariwisata di NTB. Hal ini dibuktikan dengan kunjungan wisatawan yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Tabel 1.1
Kunjungan Wisatawan Ke NTB
No Tahun Wisatawan Asing Wisatawan Lokal Total
1 1990 107,210 76,817 184,027
2 1991 117,988 99,011 216,999
3 1992 129,997 102,040 232,037
4 1993 140,442 106,907 247,349
5 1994 158,813 120,279 279,092
6 1995 167,267 140,940 308,207
7 1996 227,453 164,907 392,360
8 1997 245,049 158,894 403,943
9 1998 211,812 168,727 380,539
Ketika dikaji lebih dalam kebijakan dan langkah langkah yang diambil oleh pemerintah pusat juga berdapampak terhadap perkembangan pariwisata di Desa Senggigi. Pariwisata di Desa Senggigi mulai berkembang sejak tahun 1986 setelah PT Aero Wisata membangun hotel Senggigi Beach.41 Selain itu, nama Desa Senggigi juga mulai dikenal dibeberapa negara yang ada di Eropa dan Asia, akan tetapi masyarakat sekitar masih belum siap dengan perkembangan pariwisata tersebut menjadi salah satu kendala dari perkembangan wisata pada saat itu.
Pada periode ini, pengembangan pariwisata yang tidak merata dan sosialisasi mengenai pariwisata yang sangat minim masyarakat bingung dalam mengeposisikan diri mereka. Masyarakat lokal masih merasa asing dengan keberadaan hotel sebagai fasilitas pariwisata, masyarakat menganggap bahwa hotel akan memberikan pengaruh buruk terhadap masyarakat lokal. Karena masyarakat berasumsi bahwa hotel merupakan tempat yang lebih banyak membawa mudharat dan memberikan hal buruk terhadap lingkungan.
Walaupun demikian para investor terus berdatangan, hal ini dibuktikan dengan berdirinya beberapa hotel di tahun berikutnya, salah satunya hotel Intan Laguna Senggigi dan Panorama yang kemudian di bangun pada tahun 1989, hotel Sheraton yang di bangun pada tahun 1991, hotel Pondok Senggigi yang di bangun pada tahun 1996.
41 Departemen pendidikan dan kebudayaan.1993.parawisata dan pengaruhnya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat Lombok barat. (jakarta:1993),
Perkembangan pariwisata di Desa Senggigi dengan begitu cepat berkembang, akan tetapi di tengah perjalanan kemajuannya pada tahun 1998 pariwisata Desa Senggigi mendapatkan dua tantangan yang berjalan beriringan pada tahun 1998 yang pertama, terjadinya perubahan tata kelola urusan wilayah, yang di tandai dengan dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah yakni, undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, undang-undang nomor 25 tahun 1999 tentang Peimbangan Keungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Beberapa tahun berikutnya, tepatnya tahun 2004 pemerintah melakukan revisi terhadap undang-undang sebelumnya, sehingga pada tahun 2004 dikeluarkan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 31 tentang Peimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Kebijakan ini menimbulkan masalah dalam dinas pariwisata. Ibu Hatati sebagai kepala bagian promosi Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat menuturkan bahwa pasca otonomi daerah, pemerintah NTB mengalami kesulitan dalam mengembangkan pariwisatanya.
Karena otonomi daerah menimbulkan perubahan pada kelembagaan yang membuat Dinas Pariwisata tidak lagi mendapatkan bantuan berupa promosi, penelitian dan bantuan lainnya dari Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Depparpostel). Karena Dinas Pariwisata harus bergabung dengan Dinas Kebudayaan dan menjadi Dinas Budaya dan Pariwisata
(Disbudpar). Perubahan ini dilakukan agar pemerintah lebih mandiri dalam mengembangkan pariwisatanya. Otonomi Daerah juga mengakibatkan Disbudpar NTB kurang mampu bekerja sama dengan Disbudpar Kota dan Kabupaten, mengakibatkan Disbudpar Kota dan Kabupaten ini sangat sulit untuk membuat program kerja, baik itu dalam bentuk infrastruktur, pengembangan objek wisata dan lain sebagainnya. Sehingga beberapa program tidak bisa di dapatkan dan dijalankan diakomodir sementara oleh Disbudpar NTB. Pada periode ini masih bisa dikatakan bahwa perkembangan pariwisata masih bertumpu pada Disbudpar NTB, yang kemudian membuat pengembangan pariwisata di NTB kurang maksimal.
Disamping harus membenahi masalah kelembagaan, Dinas Pariwisata juga harus mampu bertahan dengan terjadinya konflik suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), konflik ini merupakan perpanjangan tangan dari Ambon. Konflik ini berawal dari tabligh akbar yang diselenggarakan di kota Mataram sebagai bentuk solidaritas konflik yang berada di Ambon. Dengan terjadinya konflik ini membuat kerukunan umat beragama dalam keadaan tidak baik, masyarakat telah merusak 20 gereja, 740 rumah, 62 toko, 24 rumah makan, 5 bar, 36 mobil dan motor, 23 villa, 41 hotel dan bungalows, 20 gedung pemerintahan.42 Konflik ini terjadi di Kota Mataram tetapi sangat berdampak ke pariwisata Desa Senggigi dikarenakan para wisatawan takut
42 Kingsley, J. J., 2010. Tuan Guru, Community and Conflict in Lombok, Indonesia. [Online].
https://minerva-access.unimelb.edu.au. Di Akses Pada Tanggal 3 Januari 2021, Jam 11.00.
untuk datang lagi ke kawasan pariwisata Desa Senggigi. Wisatawan yang masih di kawasan wisata Desa Senggigi tersebut di evakuasi ke tempat lain, kepergian para wisatawan diikuti dengan perekonomian pariwisata yang berantakan. Tidak hanya para wisatawan yang pergi meninggalkan Lombok, hampir 80% para pengusaha juga pergi meninggalkan Lombok. Selain itu, kerusuhan juga mengakibatkan menurunnya minat masyarakat lokal untuk bekerja di dunia pariwisata, karena merasa ketakutan akan keselamatan mereka. Permasalahan ini membuat pariwisata Lombok berada di titik terendah.
Pariwisata Indonesia khususnya Lombok kembali di hadapkan dengan permasalahan yang ketiga yakni bom Bali 1 yang terjadi pada tanggal 12 Oktober 2002. Bom Bali banyak mendapatkan perhatian dari dunia Internasional dikarenakan pada saat kejadian tersebut tidak hanya warga masyarakal lokal saja yang menjadi korban tetapi juga warga negara asing (WNA). Selain itu, pada bom Bali 1 juga mengingatkan kembali akan ketakutan masyarakat Internasional akan peristiwa 9/11, hal ini yang kemudian membuat kunjungan wisatawan ke negara-negara mayoritas Islam menurun dibandingkan dengan negara-negara non muslim yang relatif stabil.
Setelah konflik SARA yang terjadi pada tahun 2000 mulai mereda, pemerintah mulai berbenah untuk meningkatkan dan menata kembali pariwisatanya. Hal ini tidak bisa berjalan lama karena pada tahun 2002
pariwisata kembali diuji dengan peristiwa bom Bali 1 yang terjadi pada tanggal 12 Oktober 2002. Pada peristiwa mendapatkan banyak perhatian dari dunia Internasional, mengingat korban tidak hanya masyarakat lokal tetapi juga warga negara asing (WNA). Selain itu bom Bali 1 mengingatkan kembali ketakutan masyarakat Internasional dengan peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi, hal ini yang kemudian membuat kunjungan wisatawan menurun dikarenakan negara Indonesia mayoritas Islam yang menandakan bahwa latar belakang pelaku pengeboman beragama Islam, bukan hanya negara Indonesia yang terdampak tetapi negara-negara lain yang mayoritas Islam juga mendapatkan efek dari peristiwa bom Bali 1 ini.43
C. Peranan Pantai Senggigi Dalam Membangun Perekonomian Masyarakat Pantai Senggigi mempunyai peranan yang sangat penting yakni sebagai tempat kegiatan usaha masyarakat Desa Senggigi dan masyarakat luar Desa Senggigi. Masyarakat Senggigi menggantungkan perekonomiannya di pantai Senggigi sejak tahun 1970, sebelum indutri pariwisata berkembang masyarakat Senggigi untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mereka mencari terumbu karang di pantai Senggigi di olah dijadikan apuh, nelayan dan mencari ikan hias.
Hal senada juga diutarakan oleh salah satu tokoh masyarakat Desa Senggigi yakni H. Mardan mengatakan bahwa salah satu kegiatan yang masyarakat bisa lakukan pada saat itu mengumpulkan terumbu karang, selain mencari terumbu karang
43 M. Syarifudin, 2017, Perubahan Masyarakat Wetu Telu di Tengah-tengah Perkembangan Pariwisata Bayan. Hal. 39
masyarakat pada waktu itu juga menangkap ikan hias dan kemudian di perjual belikan ke luar daerah.44 Masyarakat menyadari kegiatan yang dilakukan tersebut tidak baik dan akan merusak pantai tetapi masyarakat hanya bisa melakukan kegiatan-kegiatan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kegiatan seperti ini terus dilakukan sampai pada akhirnya industri pariwisata masuk di pantai Senggigi.
Setelah industri pariwisata menyentuh kawasan Desa Senggigi profesi masyarakat mulai beraneka ragam seperti, rent car and bike, berdagang, jasa penyebrangan ke Gili, jasa pijat dan yang lainnya. Semua jenis-jenis profesi ini tidak lepas dari peranan pantai Senggigi, Keindahan pantai Senggigi sering dikatakan sebagai inti dari pariwisata di kecamatan Batulayar karena pantai Senggigi merupakan wilayah yang paling berkembang di mana hotel bintang 4 dan 5 berdiri sepanjang pantai Senggigi. Dan hal inilah kemudian menjadi pangsa pasar dari seluruh profesi tersebut.
Salah satu narasumber yang peneliti wawancarai yakni Ridwan yang berprofesi sebagai pedagang di pantai Senggigi, menuturkan bahwa setelah industri pariwisata berkembang di kawasan pantai Senggigi, perekonomian masyarakat mulai meningkat, banyak pedagang yang semulanya berjualan di pinggir jalan ataupun di dalam kampung mulai keluar ke pantai untuk menjajakan dagangannya karena wisatawan manca negara maupun domestik ketika
44 H. Mardan, Wawancara, Senggigi, 4 Desember 2020.
berkunjung ke kawasan Senggigi lebih banyak menghabiskan waktunya di pantai baik itu berenang, berjemur, menikmati sunset, bermain pasir pantai, bermain kano, berselancar.45 Hal senada juga di ungkapkan oleh narasumber lain yakni Wardah yang berprofesi sebagai tukang pijat, sebelum industri pariwisata berkembang Wardah hanya sebagai tukang pijat panggilan di lingkungan sekitarnya, kemudian ketika pariwisata berkembang dia mulai menawarkan jasanya ke wisatawan-wisatawan yang berada di pantai.46 Praktik di lapangan menunjukkan bahwa jasa ini sangat diminati oleh wisatawan yang kemudian membuat beberapa wanita Senggigi mulai mengasah keahlian memijat mereka dan setelah mereka merasa cukup kemudian mereka mulai ikut menawarkan jasa mereka ke wisatawan yang berada di pantai.
Melihat peluang yang semakin menjanjikan membuat wanita-wanita Senggigi mulai mengasah keterampilan yang lain, salah satunya adalah kemampuan mengepang rambut, wisatawan mulai tertarik dengan jasa-jasa yang ada di pantai Senggigi yang di tekuni oleh wanita-wanita Senggigi untuk dijadikan usaha agar bisa lebih mandiri. Beberapa tukang pijat juga salah satunya Wardah berinisiatif menawarkan buah-buahan tropical kepada wisatawan, buah- buahan tropical ini seperti nanas, rambutan, manggis, pisang dan jenis buah tropical yang lainnya.47
45 Ridwan, Wawancara, Senggigi, 12 Desember 2020.
46 Wardah, Wawancara, Senggigi, 13 Desember 2020.
47 Ibid.
Seiring berjalannya waktu pariwisata Senggigi semakin di kenal banyak wisatawan, wisatawan-wisatawan ini datang dengan tujuan yang berbeda ada yang ingin menikmati buah-buahan, jasa pijat dan yang lainnya. Sampai akhirnya masyarakat Senggigi mulai membuka usaha yang lain yakni membuka jasa penyebrangan ke Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno yang berada tidak jauh dari kawasan Senggigi dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dengan memakai perahu. Pada profesi ini didominasi oleh laki-laki, minat dan antusias wisatawan sangat tinggi terhadap jasa ini karena untuk menikmati tempat wisata lainnya yakni Gili, wisatawan tidak perlu keluar dari kawasan pantai Senggigi untuk mencari jasa penyebrangan. Selain jasa penyebrangan masyarakat Senggigi juga menyediakan jasa penyewaan mobil dan motor, karena wisatawan yang datang juga ingin mengeksplor lebih dalam objek wisata yang ada di Lombok dan hal inilah kemudian membuat wisatawan membutuhkan transportasi lainnya seperti mobil dan motor. Dari sini kita bisa melihat bahwa pantai Senggigi memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan usaha, sehingga ketika masyarakat dibatasi untuk beraktifitas di pantai Senggigi, secara tidak langsung hal tersebut mempengaruhi hak akses masyarakat dalam usaha dan membuat perekonomian masyarakat menurun.