Pasal 1 Angka 6
3. Perkembangan Sosial Emosional
Secara konseptual, emosional merupakan suatu cara untuk menyatakan kata sifat “emosi,” yang diidentikkan dengan sifat marah (kemarahan). Emosi adalah luapan perasaan; keadaan dan
reaksi psikologis-fisiologis, seperti: kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, atau keberanian (kbbi.kemdikbud.go.id).
Terdapat 2 pendapat utama yang berbeda mengenai definisi emosi (Mashar 2011, 15-16), pendapat pertama memaknai emosi sebagai sebuah unsur yang terkandung dalam perasaan atau keadaan fisiologis seseorang. Pendapat kedua, mengidentikkan emosi dengan kondisi dan keadaan seseorang dalam merespon atau menanggapi suatu peristiwa tertentu.
Secara etimologis, istilah emosi berasal dari bahasa Latin movere yang berarti menggerakkan atau bergerak, maka dapat pula dimaknai bahwa emosi merupakan perasaan yang mampu memberikan dorongan seseorang untuk melakukan sesuatu (Mashar 2011, 16), baik menyampaikan perasaan melalui mimik wajah, nada suara saat berbicara, sorot mata yang tajam, gerakan dan bahasa tubuh, maupun tindakan-tindakan fisik lainnya yang dapat mengekspresikan perasaan emosional tersebut.
Tidak selamanya emosi dianggap sebagai sesuatu yang bersifat negatif. Menurut Soendjoyo (2002), emosi dapat dijadikan dasar atau pedoman untuk mengembangkan kepribadian dan sosial seseorang (Titayani 2014, 3):
1. Mempertahankan diri, misalnya: bayi yang menangis ketakutan karenanya ia membutuhkan pelukan Ibu untuk memenuhi rasa aman dan nyaman;
2. Membuat keputusan, misalnya: bayi yang menangis karena merasakan haus dan lapar, maka seketika tangisan itu terhenti setelah bayi mendapatkan ASI;
3. Menciptakan batasan, misalnya: anak yang merasa geram ketika terusik karena keusilan dan kejahilan yang dilakukan secara terus menerus oleh teman sebayanya;
4. Berkomunikasi, misalnya: mimik wajah yang ramah saat mendengarkan orang lain bercerita, sehingga menunjukkan rasa kepedulian, empati yang tinggi, dan kesan responsif dalam berinteraksi;
5. Menciptakan kesatuan, misalnya: bermacam-macam emosi yang berkolaborasi mampu membangun rasa kesatuan dan kebersamaan dalam lingkungan tertentu.
Bagaimana hubungan antara perkembangan emosional dan perkembangan sosial dapat terbentuk? Sebenarnya, perkembangan emosional anak tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan sosial semata. Bahkan lebih dari itu, variasi emosi setiap anak yang berbeda-beda dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah sebagai berikut (Mashar 2011, 26-27):
1. Faktor kondisi fisik anak;
2. Faktor reaksi sosial terhadap perilaku emosional;
3. Faktor kondisi lingkungan;
4. Faktor jumlah anggota keluarga;
5. Faktor cara mendidik anak;
6. Faktor status sosial-ekonomi keluarga.
Di sisi lain, perkembangan emosional juga mempengaruhi perkembangan sosial anak. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Ketika emosional terbentuk yang juga akibat dari faktor lingkungan dan sosial, maka baik-buruknya emosional tersebut akan mempengaruhi reaksi sosial bagi si anak. Perkembangan emosional yang buruk seperti sikap egosentris (mementingkan diri sendiri) dan labil (emosi yang meledak-ledak) pada diri si anak, nyatanya menyulitkan pola kerja sama, gotong royong, kebersamaan, atau menghilangkan rasa empati anak dalam lingkup kelompok belajarnya.
Hal ini justru menimbulkan buruknya hubungan sosial dan reaksi sosial yang diterima si anak, misalnya: teman kelompok belajar yang tidak menyukainya, enggan berteman dengannya, bahkan si anak tersebut merasa dikucilkan karena tidak memiliki teman atau sahabat di kelasnya. Disinilah terlihat bahwa perkembangan sosial anak menjadi terhambat, karena perkembangan emosional anak yang terbentuk cukup buruk.
Perkembangan sosial emosional jauh lebih terlihat pada anak di masa remaja, akibat dari tumbuh kembang fisik yang terjadi lebih cepat daripada masa-masa di kelompok usia lainnya, termasuk perubahan psikologi anak karena masa pubertas yang dialaminya. Masa remaja adalah masa puncak emosionalitas tertinggi selama masa perkembangan manusia, dimana masa ini dikatakan sebagai (Wiarto 2015, 85-86):
1. Masa yang penting, karena terjadi kompleksitas perkembangan pada remaja, baik perkembangan fisik (termasuk perubahan seksual primer dan sekunder), psikologis, maupun mental akibat masa pubertas yang dialaminya.
2. Masa peralihan, atau disebut juga masa transisi yang dilihat dari kriteria batasan usia anak, maka masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak (pertengahan atau akhir) menuju masa dewasa.
3. Masa perubahan dalam berbagai hal, sehingga mengakibatkan berubahnya pola perilaku yang terlihat begitu labil akibat faktor psikis.
4. Masa yang menjadi identitasnya, akibat perubahan di segala aspek maka remaja akan terus melakukan penyesuaian melalui pencarian jati diri, seperti halnya: meniru pola perilaku idolanya atau bereksplorasi mencari tantangan baru yang terlihat menyenangkan baginya.
5. Masa yang tidak realistik, misalnya dalam hal cita-cita: remaja hanya berambisi untuk mencapai cita-cita seperti yang ia inginkan tanpa melihat kenyataan yang ada, maka remaja juga terlihat labil dan terombang-ambing dalam menentukan cita- citanya.
6. Masa awal sebagai manusia dewasa, dimana remaja akan terjebak pada 2 kondisi yang bertolak-belakang. Semakin dekat dengan usia kematangannya, namun ia enggan meninggalkan pola perilaku yang melekat selama masa kanak-kanak. Di sisi lain, remaja dituntut untuk menjadi dewasa, maka tidak jarang para remaja seringkali menirukan pola perilaku yang dianggap sebagai kebiasaan orang dewasa tanpa mempertimbangkan baik-buruknya. Misalnya: merokok, minum-minuman keras, menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang, ataupun terlibat dalam perbuatan seks bebas, yang kesemuanya itu dianggap mampu memberikan citra seperti yang ia inginkan.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa tugas besar di masa remaja adalah mencapai kematangan emosional, yang dalam perkembangannya dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan faktor eksternal, utamanya adalah faktor kondisi sosial emosional
lingkungannya, yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan pertemanan yang paling dekat dengannya (Estuningtyas 2018, 10-11). Perkembangan sosial emosional yang buruk dan jauh dari pantauan orang tua, biasanya mengakibatkan kenakalan anak, terutama pada masa remaja yang lebih dikenal sebagai kenakalan remaja (juvenile delinquency).