• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Pengelolaan Sumber Daya Lokal

BAB II SUMBER DAYA LOKAL DI KABUPATEN BELU

C. Permasalahan Pengelolaan Sumber Daya Lokal

Pengelolaan sumber daya lokal di wilayah jauh dan terpencil, seperti di Kabupaten Belu, akan menghadapi berbagai permasalahan. Salah satu kendala adalah kondisi keterbelakangan wilayah, yaitu belum tersedia sarana dan prasa rana yang dibutuhkan, khususnya fasilitas umum. Kendala ini menyulitkan pengunjung dalam mendapatkan kemudahan, kenyamanan, dan keselamatan saat menikmati kekayaan alam di Kabupaten Belu. Selain itu, kondisi SDM yang masih minim pendidikan dapat menyulitkan pengelolaan sumber daya lokal dalam mendukung pemberdayaan mereka sendiri. Berikut ini akan dibahasa dua permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya lokal, yaitu pengelolaan sumber pangan jagung dan pengebangan desa wisata beserta konektivitasnya.

1. Permasalahan Pengelolaan Sumber Pangan Jagung

Potensi pengelolaan sumber daya tanaman pangan lokal (jagung) di Kabupaten Belu memang cukup besar, khususnya untuk tanaman ja- gung. Jika dilihat masih luasnya lahan tidur, pengembangan pertanian tanaman pangan Kabupaten Belu terlihat belum optimal. Diversifikasi

ini tidak diperjualbelikan.

produk tanaman pangan berbasis makanan pokok jagung juga terlihat masih sangat sedikit.

Berdasarkan observasi di lapangan, beberapa hal yang dapat menjadi kendala dalam pengelolaan sumber daya lokal adalah karena kurangnya pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi pertanian, mulai dari tidak memanfaatkan bibit unggul, minimnya penggunaan pupuk, dan minim penggunaan peralatan pengolahan lahan.Oleh karena itu, masih banyak lahan pertanian belum ter- manfaatkan, dan semuanya berakibat pada rendahnya produktivitas pertanian.

Sampai saat ini, produktivitas jagung masih rendah jika diban- dingkan produktivitas nasional, apalagi dibandingkan daerah lain.

BPS melaporkan produktivitas jagung nasional mencapai 54,74 ku/

ha (BPS, 2020b), sementara produktivitas jagung di Kabupaten Belu (hasil pengolahan tim peneliti) hanya sekitar 30 ku/ha atau 3 ton/ha (Sekretaris Daerah Kabupaten Belu, 2021).

Memang sistem budi daya jagung di Kabupaten Belu masih menggunakan varietas dan teknologi yang spesifik pada wilayah setempat. Hal ini karena lahan pertanian cenderung kering dan Belu beriklim kering dengan curah hujan tahunan < 600mm (Setiawan dkk., 2018). Budi daya jagung dan penentuan waktu tanam di Belu masih dilakukan secara konvensional berdasarkan jumlah curah hujan. Jika curah hujan sudah datang secara berturut-turut 3 sampai 4 kali, masyarakat sudah memutuskan untuk penanaman.

Hal lain yang menjadi permasalahan rendahnya produktivitas karena penggunaan benih jagung berkualitas di tingkat petani belum berkembang seperti harapan, di samping cara pemeliharaan yang juga belum intensif (Badan Litbang Pertanian, 2005). Selain itu, juga karena jaringan irigasi teknis dan nonteknis masih ada yang rusak, bahkan rusak berat (Sekretaris Daerah Kabupaten Belu, 2021).

Permasalahan dalam pemberian pupuk juga terjadi di tingkat petani. Hasil pengamatan di lapangan, petani di Kabupaten Belu (Gambar 2.25) cenderung menjadi petani subsisten dan semikomer- sial. Mereka tidak memupuk tanaman jagung atau pun jika melaku- kan pemupukan maka sangat minimal. Kebanyakan petani tidak

ini tidak diperjualbelikan.

melakukan pengolahan tanah saat penyiapan lahan. Penyiangan dilakukan secara manual (cangkul). Irigasi untuk tanaman jagung umumnya menggunakan air tanah di permukaan. Pengeringan hasil panen masih mengandalkan sinar matahari.

Foto: Rachmini Saparita (2019)

Gambar 2.25 Petani Jagung di Kabupaten Belu

Pengolahan jagung yang khas Kabupaten Belu adalah pembuat- an jagung bose dan menjadi olahan pangan/makanan khas. Sayang- nya pengolahan jagung bose memerlukan waktu yang lama. Proses pemasakan jagung bose bisa menghabiskan waktu sekitar 2–3 jam, tergantung dari tingkat kekeringan bahan (jagung dan kacang- kacangan) dan banyaknya bahan yang dimasak/diolah. Setelah diolah, jagung bose tidak memiliki daya simpan. Oleh karena itu, diperlukan metode pengolahan bahan pangan yang tepat agar pa- ngan lokal (berbasis jagung) memiliki daya simpan yang cukup lama sehingga keter sediaan produk pangan lokal (berbasis jagung) tetap ada. Produk dengan daya simpan yang lama memiliki potensi untuk ditawarkan ke masyarakat luas karena memiliki waktu pengiriman lebih lama atau dapat dibawa oleh para wisatawan. Dengan demiki- an, produk berdaya simpan lama dapat menjadi potensi usaha dan menambah lapangan pekerjaan, serta meningkatkan perekonomian daerah.

ini tidak diperjualbelikan.

2. Permasalahan Pengembangan Desa Wisata dan Konektivitasnya

Meskipun tingkat kemiskinan mulai menurun (Gambar 2.3), masih banyak penduduk miskin di Kabupaten Belu, terlebih di Kecamatan Tasifeto Timur (Gambar 2.4) dan termasuk Desa Wisata Tulakadi.

Hal ini menjadi permasalahan dalam pengembangan wisata. Ke- miskinan penduduk biasanya juga mencerminkan kekurangan sara- na prasarana umum di desa penunjang pengembangan wisata, se- perti fasilitas kamar mandi, hotel, dan restoran. Saat ini, penginapan, warung makan, dan fasilitas umum lainnya berada di Kota Atambua dan belum tersedia di Desa Tulakadi. Hal ini menjadi permasalahan utama dalam pengemba ngan pariwisata di desa, khususnya Desa Tulakadi.

Permasalahan lain adalah rendahnya kualitas SDM. Sebanyak 25% penduduk belum berpendidikan atau tingkat pendidikan di bawah SD (BPS Kabupaten Belu, 2021a). Rendahnya kualitas SDM dapat menghambat berbagai upaya pelaksanaan pembangunan desa itu sendiri.

Pengembangan wisata di Kabupaten Belu mempunyai prospek yang baik karena menjadi perhatian pemerintah pusat dengan ditunjuknya Desa Tulakadi menjadi Desa Wisata. Namun, apabila me nelusur infrastruktur pariwisata, sejauh ini belum ditemukan adanya jasa perjalanan wisata begitu juga transportasi wisata. Hal ini dapat menyulitkan pengembangan wisata yang sedang dirintis karena kemudahan trasportasi dapat mempermudah wisatawan mengunjungi tempat-tempat wisata.

Keterbatasan sumber pendanaan, baik dari desa maupun dari kabupaten yang tergolong tertinggal, seperti Kabupaten Belu, dapat menjadi kendala lambatnya proses pembangunan desa. Oleh karena itu, diperlukan pandangan, partisipasi, dan daya dukung berbagai pihak terhadap pengembangan desa. Dengan demikian, desa yang merupakan subjek pembangunan dan pengembangan ekonomi, pantas menjadi sasaran utama pembangunan.

Masih minimnya infrastruktur di desa, bahkan masih banyak yang masuk dalam kategori tertinggal menjadi permasalahan konek-

ini tidak diperjualbelikan.

tivitas antardesa. Hal ini tampak pada kondisi infrastruktur ekonomi yang ada saat ini, jalan desa, dan jalan kecamatan yang rusak (Gam- bar 2.5), irigasi yang rusak (Gambar 2.6), dan kondisi transportasi umum yang masih terbatas (Sekretaris Daerah Kabupaten Belu, 2020). Apabila transportasi belum tersedia infrastruktur belum ada, maka konektivitas atau aksesibilitas belum lancar, pastilah desa akan sulit untuk dikembangkan.

Permasalahan yang dihadapi masih banyak yang terkait dengan peman faatan potensi sumber daya lokal, baik dari sisi pembangunan pertanian maupun dari pengembangan sektor wisata. Hal ini menja- di tantangan tim peneliti untuk merumuskan solusi seperti apa agar masyarakat dapat mengatasi berbagai permasalahan yang diha dapi dan bisa bertransformasi ke kondisi yang lebih baik.

ini tidak diperjualbelikan.

Sumber daya lokal yang dominan dimiliki masyarakat dan daerah adalah sumber daya pertanian, khususnya tanaman pangan pokok.

Peranan sumber daya lokal sangat penting dalam pembangunan perekonomian, penyediaan bahan pangan, dan lapangan pekerjaan.

Tanaman pangan pokok yang paling penting untuk dikembangkan dan ditingkatkan nilai tambahnya adalah jagung. Tanaman ini juga me nyangkut pangan penduduk sehari-hari.

Pengelolaan sumber daya lokal merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat. Pengelolaan sumber daya, khususnya pangan lokal harus menjadi perhatian para mengambil kebijakan, baik di tingkat desa, maupun hingga tingkat pemerintah daerah agar manfaatnya dirasakan oleh masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan. Oleh karena itu, perlu pem- berdayaan masyarakat dengan membangkitkan partisipasi untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sumber daya lokal secara baik agar memberikan manfaat banyak kepada mereka (masyarakat). Salah satu upaya pengelolaan sumber daya lokal sektor pertanian tanaman pangan adalah dengan memanfaatkan teknologi yang sesuai dan dibutuhkan masyarakat.