• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persiapan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

A. Uraian Materi

3. Persiapan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Setelah tahap Perencanaan Pengadaan, selanjutnya dilakukan persiapan pengadaan. Persiapan Pengadaan Barang/Jasa dibedakan antara PBJP melalui swakelola dengan PBJP melalui penyedia.

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 57 a. Persiapan PBJP Secara Swakelola

PPK melakukan koordinasi persiapan Swakelola setelah penetapan DIPA/DPA dengan memperhatikan penetapan sasaran yang ditetapkan oleh PA/KPA.

Persiapan Pengadaan Barang/Jasa secara swakelola meliputi:

1) Penetapan penyelenggara Swakelola 2) Rencana kegiatan,

3) Jadwal pelaksanaan

4) Reviu spesifikasi teknis/KAK 5) Reviu RAB.

6) Finalisasi dan Penandatanganan Kontrak Swakelola (khusus Swakelola Tipe II/III/IV)

Penjelasan lebih rinci adalah sebagai berikut:

1) Penetapan Penyelenggara Swakelola

Penyelenggara Swakelola adalah tim yang menyelenggarakan kegiatan secara swakelola. Penyelenggara Swakelola terdiri atas:

a) Tim Persiapan memiliki tugas menyusun rencana kegiatan, jadwal pelaksanaan, dan rencana biaya.

b) Tim Pelaksana memiliki tugas melaksanakan, mencatat, mengevaluasi, dan melaporkan melalui berkala kemajuan pelaksanaan kegiatan dan penyerapan anggaran.

c) Tim Pengawas memiliki tugas mengawasi persiapan dan pelaksanaan fisik maupun administrasi Swakelola.

Persyaratan penyelenggara Swakelola:

1) Swakelola Tipe I

Penyelenggara Swakelola Tipe I memiliki sumber daya yang cukup dan kemampuan teknis untuk melaksanakan Swakelola. Pada prinsipnya, penyelenggara swakelola tipe I merupakan K/L atau Perangkat Daerah penanggung jawab anggaran.

Swakelola Tipe I juga dapat dilaksanakan oleh:

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 58 a) Badan Layanan Umum (BLU) yang merupakan bagian dari

Kementerian/Lembaga penanggung jawab anggaran sebagai instansi induk;

b) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang merupakan bagian dari Perangkat Daerah penanggung jawab anggaran sebagai instansi induk; atau

c) Perguruan Tinggi Negeri yang merupakan bagian dari Kementerian/Lembaga penanggung jawab anggaran.

2) Swakelola Tipe II.

Penyelenggara Swakelola Tipe II memiliki sumber daya yang cukup dan kemampuan teknis untuk menyediakan barang/jasa.

Swakelola tipe II dapat dilaksanakan oleh:

a) Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah yang mempunyai tugas dan fungsi yang sesuai dengan pekerjaan Swakelola yang akan dilaksanakan;

b) UKPBJ Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah yang ditunjuk sebagai Agen Pengadaan untuk pemilihan Penyedia Barang/Jasa;

c) Badan Layanan Umum (BLU)/Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah lain; atau d) Perguruan Tinggi Negeri Kementerian/Lembaga lain.

3) Swakelola Tipe III.

Swakelola tipe III dilaksanakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat/Organisasi kemasyarakatan Sipil. Swakelola tipe III juga dapat dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi Swasta;

atau Organisasi profesi.

Persyaratan Penyelenggara Swakelola tipe III yaitu:

a) Berbadan hukum yayasan atau berbadan hukum perkumpulan yang telah mendapatkan pengesahan badan hukum dari kementerian yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal perguruan tinggi swasta dapat berbentuk badan hukum

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 59 nirlaba lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan;

b) Mempunyai status valid keterangan wajib pajak berdasarkan hasil konfirmasi Status Wajib Pajak;

c) memiliki struktur organisasi/pengurus;

d) memiliki Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART);

e) Mempunyai bidang kegiatan yang berhubungan dengan Barang/Jasa yang diadakan, sesuai dengan AD/ART dan/atau dokumen pengesahan;

f) Mempunyai Personel tetap dengan keilmuan dan pengalaman teknis menyediakan atau mengerjakan barang/jasa sejenis yang diswakelolakan. Untuk personel yang ditugaskan sebagai calon Ketua Tim Pelaksana wajib memiliki kemampuan manajerial;

g) Mempunyai atau menguasai kantor dengan alamat yang benar, tetap dan jelas berupa milik sendiri atau sewa; dan

h) Dalam hal calon pelaksana Swakelola akan melakukan kemitraan, harus mempunyai perjanjian kerja sama kemitraan yang memuat tanggung jawab masing-masing yang mewakili kemitraan tersebut.

4) Swakelola Tipe IV

Persyaratan Penyelenggara Swakelola tipe IV yaitu: Surat Pengukuhan yang dikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang yang memuat keterangan :

a) memiliki sekretariat dengan alamat yang benar dan jelas di lokasi tempat pelaksanaan kegiatan; dan

b) memiliki kemampuan untuk menyediakan atau mengerjakan barang/jasa sejenis yang diswakelolakan.

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 60 Tabel 2. 9 Penetapan Penyelenggara Swakelola

Tipe Swakelola

Penetapan

Tim Persiapan Tim Pengawas Tim Pelaksana Tipe I PA/KPA Penanggung Jawab Anggaran

Tipe II PA/KPA

Penanggung Jawab Anggaran

Pimpinan K/L/PD lain Pelaksana Swakelola

Tipe III Pimpinan Calon Pelaksana

Swakelola Tipe IV Pimpinan Kelompok Masyarakat

5) Rencana Kegiatan

Rencana kegiatan Swakelola adalah daftar kegiatan yang harus dilakukan Tim Pelaksana Swakelola dalam rangka mencapai sasaran output (keluaran) yang telah ditetapkan. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan terdiri atas tahap persiapan, pelaksanaan, tahap pengawasan dan pelaporan.

6) Jadwal Pelaksanaan Swakelola

Jadwal kegiatan adalah rencana kegiatan dengan pembagian waktu pelaksanaan yang terperinci.

Dalam menyusun jadwal pelaksanaan dengan ketentuan:

a) menetapkan waktu dimulainya hingga berakhirnya pelaksanaan Swakelola; dan/atau

b) menetapkan jadwal pelaksanaan swakelola berdasarkan kebutuhan dalam KAK, termasuk jadwal Pengadaan Barang/Jasa yang diperlukan.

7) Reviu Spesifikasi Teknis/KAK

Pada Swakelola Tipe I, Tim Persiapan melakukan reviu atas spesifikasi teknis/KAK yaitu menyesuaikan target/sasaran KAK perencanaan Swakelola dengan anggaran yang tercantum dalam DIPA/DPA

Pada Swakelola Tipe II, III dan IV Tim Persiapan melakukan reviu atas proposal Tim Pelaksana yaitu menyesuaikan target/sasaran KAK perencanaan Swakelola dengan anggaran yang tercantum dalam DIPA/DPA.

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 61 8) Reviu rencana anggaran biaya (RAB)

RAB adalah perkiraan perhitungan atas banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan, alat dan upah serta biaya-biaya lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan suatu pekerjaan. Pada Swakelola Tipe I RAB dibuat oleh K/L/PD penggungjawab anggaran sedangkan pada Swakelola Tipe II, III dan IV RAB berdasarkan proposal dari calon pelaksana Swakelola baik Instansi lain/Ormas/Pokmas.

Tim persiapan dan PPK melakukan reviu terhadap RAB yang diajukan Tim pelaksana.

a) Reviu RAB pada Swakelola Tipe I

Tim persiapan mereviu RAB tahap perencanaan apakah masih sesuai dengan anggaran yang tersedia pada DIPA/DPA dan kemudian menyusun RAB yang lebih detail. Rencana anggaran biaya (RAB) terdiri atas:

(1) gaji tenaga ahli/teknis, upah tenaga kerja (mandor, kepala tukang, tukang), honor narasumber, dan honor Tim Penyelenggara Swakelola;

(2) biaya bahan/material termasuk peralatan/suku cadang (apabila diperlukan);

(3) biaya Jasa Lainnya (apabila diperlukan);

(4) biaya Jasa Konsultansi (apabila diperlukan); dan/atau (5) biaya lainnya yang dibutuhkan, contoh: perjalanan, rapat,

komunikasi, laporan.

Tim persiapan dan PPK dalam melakukan reviu RAB harus memperhitungkan pajak-pajak sesuai perundang-undangan.

b) Reviu RAB pada Swakelola Tipe II

Tim Pelaksana dalam menyusun RAB terkait data/informasi biaya personil dan biaya lainnya yang digunakan dalam penyelenggaraan Swakelola tipe II dapat menggunakan Standar biaya masukan yang dikeluarkan oleh kementerian bidang yang

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 62 mengatur keuangan atau instansi pemerintah daerah yang berwenang.

Dalam hal Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah Pelaksana Swakelola telah mempunyai Standar biaya yang telah ditetapkan sebagai PNBP maka penyusunan RAB berdasarkan tarif yang telah ditetapkan dalam PNBP tersebut. Apabila dalam pelaksanaan Swakelola Tipe II terdapat kebutuhan Pengadaan Barang/Jasa melalui Penyedia maka:

(1) Untuk Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah Pelaksana Swakelola yang menerapkan tarif berdasarkan PNBP, maka semua kebutuhan Pengadaan Barang/Jasa sudah dimasukan dalam Kontrak Swakelola; atau

(2) Untuk Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah Pelaksana Swakelola yang belum/tidak menerapkan tarif berdasarkan PNBP, maka kebutuhan Pengadaan Barang/Jasa dapat:

(a) dimasukkan ke dalam Kontrak Swakelola; atau

(b) dalam hal Pelaksana Swakelola tidak bersedia/tidak mampu untuk melaksanakan pengadaan bahan/material/jasa lainnya pendukung yang dibutuhkan dalam melaksanakan Swakelola, maka pengadaan bahan/material/jasa lainnya pendukung dilakukan melalui kontrak terpisah oleh PPK.

Tim persiapan dan PPK dalam melakukan reviu terhadap proposal dari tim pelaksana harus memperhitungan pajak-pajak sesuai perundang-undangan yang berlaku antara lain:

(1) Status calon pelaksana Swakelola (PNBP/ BLU/ BLUD/

PTNBH), jika berstatus PTNBH maka harus memperhatikan jenis pekerjaan yang dikenakan PPN dan tidak dikenakan PPN.

(2) Batasan nilai belanja barang/jasa yang dikenai PPN.

(3) Honor tenaga ahli/narasumber/ penyelenggara swakelola harus memperhatikan ketentuan PPh 21 (tarif progresif) dan

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 63 PPh final sesuai status pegawai tenaga ahli/narasumber/penyelenggara swakelola PNS atau Non PNS

(4) Belanja bahan/materiil harus memperhatikan ketentuan tentang PPN dan PPh barang, sama hal dengan belanja jasa lainnya dan jasa konsultan (jika diperlukan)

c) Reviu RAB pada Swakelola Tipe III

Tim Pelaksana menyusun RAB berdasarkan data/informasi yang dapat digunakan dalam menentukan besaran biaya personel antara lain:

(1) gaji personel dari kontrak yang pernah atau sedang dilaksanakan; atau

(2) informasi biaya/harga satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah.

Apabila dalam pelaksanaan Swakelola Tipe III terdapat kebutuhan Pengadaan Barang/Jasa melalui Penyedia maka kebutuhan Pengadaan Barang/Jasa dapat:

(1) dimasukkan ke dalam Kontrak Swakelola; atau

(2) dalam hal Pelaksana Swakelola tidak bersedia/tidak mampu untuk melaksanakan pengadaan bahan/material/jasa lainnya pendukung yang dibutuhkan dalam melaksanakan Swakelola, maka pengadaan bahan/material/jasa lainnya pendukung dilakukan melalui kontrak terpisah oleh PPK.

Tim persiapan dan PPK dalam melakukan reviu terhadap proposal dari Tim pelaksana swakelola harus memperhitungkan pajak- pajak sesuai perundang-undangan.

d) Reviu RAB pada Swakelola Tipe IV

Ketentuan mengenai Rencana Anggaran Biaya (RAB) sama dengan pada swakelola Tipe III.

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 64 e) Finalisasi dan Penandatanganan Kontrak Swakelola

Tim Persiapan dan Tim Pelaksana menyusun Rancangan Kontrak Swakelola dengan ketentuan sebagai berikut:

(1) Dalam hal terdapat perbedaan antara biaya yang diusulkan dengan anggaran yang disetujui dalam DIPA/DPA, PPK dibantu oleh Tim Persiapan melakukan negosiasi teknis dan harga dengan Tim Pelaksana Swakelola. PPK menetapkan spesifikasi teknis/KAK dan RAB setelah negosiasi dengan Tim Pelaksana mencapai kesepakatan. Hasil negosiasi dituangkan dalam berita acara hasil negosiasi dan menjadi dasar penyusunan Kontrak Swakelola.

(2) PPK menAndatangani Kontrak Swakelola dengan pimpinan pelaksana Swakelola. Kontrak Swakelola paling kurang berisi:

(a) para pihak;

(b) Barang/Jasa yang akan dihasilkan;

(c) nilai yang diswakelolakan sudah termasuk seluruh kebutuhan Barang/Jasa pendukung Swakelola;

(d) jangka waktu pelaksanaan; dan (e) hak dan kewajiban para pihak (f) Sanksi

(3) Khusus Swakelola Tipe II, penandatanganan kontrak dilakukan setelah adanya kesepakatan kerja sama antara PA/KPA penanggungjawab anggaran dengan pimpinan K/L/PD pelaksana swakelola. Kesepakatan kerja sama tersebut tidak terbatas pada kegiatan swakelola yang akan dilaksanakan.

Tahapan persiapan dari Swakelola Tipe I, II, III dan IV dapat di lihat pada Tabel di bawah ini.

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 65 Tabel 2. 10 Tahap Persiapan Swakelola Tipe I

No Kegiatan Para Pihak

Penyusun Penetapan 1 Penetapan Penyelenggara Swakelola PPK PA/KPA

2 Rencana Kegiatan Tim Persiapan PPK

3 Jadwal Pelaksanaan Tim Persiapan PPK

4 Reviu Spesifikasi teknis/KAK Tim Persiapan PPK

5 Reviu RAB Tim Persiapan PPK

Tabel 2. 11 Tahap Persiapan Swakelola Tipe II

No Kegiatan Para Pihak

Penyusun Penetapan

1 Penetapan Penyelenggara Swakelola

Tim Persiapan dan Tim Pengawas

PPK

Penanggungjawab Anggaran

PA/KPA

Penanggungjawab Anggaran

Tim Pelaksana K/L/PD lain Pelaksana Swakelola

Pimpinan K/L/PD lain Pelaksana Swakelola

2 Rencana Kegiatan Tim Persiapan PPK

3 Jadwal Pelaksanaan Tim Persiapan PPK

4 Reviu spesikasi teknis/KAK Tim Persiapan PPK

5 Reviu RAB Tim Persiapan PPK

6 Finalisasi dan

penandatanganan kontrak swakelola

PPK dan Ketua Tim pelaksana

Tabel 2. 12 Tahap Persiapan Swakelola Tipe III

No Kegiatan Para Pihak

Penyusun Penetapan

1 Penetapan Penyelenggara Swakelola

Tim Persiapan dan Tim Pengawas

PPK

Penanggungjawab Anggaran

PA/KPA Penanggungjawab Anggaran

Tim Pelaksana Ormas Pelaksana Swakelola

Pimpinan Pelaksana Swakelola

2 Rencana Kegiatan Tim Persiapan PPK 3 Jadwal Pelaksanaan Tim Persiapan PPK 4 Reviu spesifikasi

teknis/KAK

5 Reviu RAB Tim Persiapan PPK

6 Finalisasi dan penandatanganan kontrak swakelola

PPK dan Ketua Ormas

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 66 Tabel 2. 13 Tahap Persiapan Swakelola Tipe IV

No Kegiatan Para Pihak

Penyusun Penetapan

1 Penetapan Penyelenggara Swakelola Tim Persiapan Tim Pelaksana Tim Pengawas

Kelompok Masyarakat

Pelaksana Swakelola

Pimpinan Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola

2 Rencana Kegiatan Tim Persiapan PPK 3 Jadwal Pelaksanaan Tim Persiapan PPK 4 Reviu spesifikasi

teknis/KAK

Pegawai yang ditugaskan

PPK

5 Reviu RAB Tim Persiapan PPK

6 Finalisasi dan penandatanganan kontrak swakelola

PPK dan Pimpinan Pokmas

b. Persiapan PBJP Melalui Penyedia

Persiapan Pengadaan Barang/Jasa melalui penyedia dilakukan oleh PPK meliputi reviu terhadap dokumen perencanaan, penetapan spesifikasi teknis/KAK, penetapan HPS, penetapan uang muka dan berbagai jaminan, serta menyusun rancangan kontrak. Reviu terkait dokumen perencanaan terutama untuk memastikan bahwa anggaran tercukupi, baik untuk biaya paket pengadaan maupun biaya pendukung.

Selanjutnya, PPK mendetailkan dan menetapkan spesifikasi teknis/KAK sesuai kaidah/ketentuan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya pada bagian/tahap perencanaan.

Tabel 2. 14 Persiapan Pengadaan yang dilaksanakan oleh PPK Untuk Pengadaan Barang/Jasa

lainnya/jasa konsultansi non konstruksi

Untuk pengadaan pekerjaan konstruksi dan konsultansi konstruksi a. Reviu dan penetapan spesifikasi

teknis/Kerangka Acuan Kerja (KAK);

b. Penyusunan dan penetapan HPS;

c. Penyusunan dan penetapan rancangan kontrak;

d. Penetapan uang muka, jaminan uang muka, jaminan pelaksanaan, jaminan pemeliharaan, sertifikat garansi dan/atau penyesuaian harga.

a. Reviu dan penetapan Spesifikasi Teknis/Kerangka Acuan Kerja (KAK);

b. Penyusunan dan penetapan HPS;

c. Penyusunan dan penetapan rancangan kontrak;

d. Penetapan detailed engineering design untuk pemilihan Penyedia Pekerjaan Konstruksi; dan 


Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 67

e. Penetapan uang muka, jaminan uang muka, jaminan pelaksanaan, jaminan pemeliharaan, sertifikat garansi, dan/atau penyesuaian harga.

Setelah spesifikasi teknis/KAK ditetapkan, selanjutnya PPK menyusun/memutakhirkan dan menetapkan HPS,

1) Penyusunan dan Penetapan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) PPK dapat menetapkan tim atau tenaga ahli yang bertugas memberikan masukan dalam penyusunan HPS. Nilai HPS merupakan perkiraan harga Barang/Jasa yang telah memperhitungkan semua komponen biaya sampai dengan siap digunakan dan dimanfaatkan oleh pengguna ditambah biaya tak langsung/overhead dan keuntungan. Untuk menghindari risiko, penyusunan HPS harus didasarkan kepada metode yang dapat dipertanggungjawabkan serta berdasarkan data yang relevan, aktual dan dapat diAndalkan.

Kegunaan HPS adalah untuk menilai kewajaran harga penawaran dan/atau kewajaran harga satuan, dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang sah dalam pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya dan dasar untuk menetapkan besaran nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang nilainya lebih rendah 80% (delapan puluh persen) dari nilai HPS.

2) Ketentuan dalam Penyusunan dan Penetapan HPS

a) HPS dihitung secara keahlian dan menggunakan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

b) HPS telah memperhitungkan keuntungan dan biaya tidak langsung (overhead cost).

(1) Keuntungan (Laba).

(2) Management Fee (biaya manajemen/pengelolaan.

(3) Biaya tidak Langsung (overhead cost).

c) Nilai HPS tidak bersifat rahasia namun rincian nya rahasia d) HPS bukan sebagai dasar untuk menentukan besaran kerugian

negara.

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 68 e) Fungsi HPS digunakan sebagai:

(1) Alat untuk menilai kewajaran harga penawaran dan/atau kewajaran harga satuan;

(2) Dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya; dan (3) Dasar untuk menetapkan besaran nilai Jaminan

Pelaksanaan bagi penawaran yang nilainya lebih rendah 80% (delapan puluh persen) dari nilai HPS.

f) Penyusunan HPS dikecualikan untuk:

(1) Pengadaan Barang/Jasa dengan Pagu Anggaran paling banyak Rp10.000.000.

(2) E-Purchasing, dan

(3) Tender pekerjaan terintegrasi.

g) Penetapan HPS paling lama 28 (dua puluh delapan) hari kerja sebelum batas akhir untuk:

(1) Pemasukan penawaran untuk pemilihan dengan pasca kualifikasi; atau

(2) Pemasukan dokumen kualifikasi untuk pemilihan dengan prakualifikasi.

3) Proses Menyusun HPS

Penyusunan HPS mempertimbangkan:

a) Hasil perkiraan biaya/Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah disusun pada tahap perencanaan pengadaan;

b) Pagu Anggaran yang tercantum dalam DIPA/DPA atau untuk proses pemilihan yang dilakukan sebelum penetapan DIPA/DPA mengacu kepada Pagu Anggaran yang tercantum dalam RKA K/L atau RKA Perangkat Daerah; dan

c) Hasil reviu perkiraan biaya/Rencana Anggaran Biaya (RAB) termasuk komponen keuntungan, biaya administrasi, biaya pengiriman biaya tidak langsung (overhead cost), dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Melakukan penyesuaian harga yang

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 69 diperlukan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini diperlukan bila data yang diperoleh adalah harga pasar saat ini atau kontrak sejenis beberapa tahun yang lalu. Harga tersebut mungkin tidak mencerminkan harga saat pelaksanaan anggaran. Oleh karena itu, harga perlu disesuaikan berdasarkan indeks dari BPS atau berdasarkan inflasi yang telah terjadi.

4) Data/Informasi dalam Menyusun HPS

Data/informasi yang dapat digunakan untuk menyusun HPS antara lain:

a) Harga pasar setempat.

b) Informasi biaya/harga satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah;

c) Informasi biaya/harga satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh asosiasi profesi.

d) Daftar harga/biaya/tarif barang/jasa setelah dikurangi rabat/potongan harga (apabila ada).

e) Inflasi tahun sebelumnya, suku bunga pinjaman tahun berjalan dan/atau kurs tengah valuta asing terhadap rupiah di Bank Indonesia.

f) Hasil perbandingan biaya/harga satuan barang/jasa sejenis dengan Kontrak yang pernah atau sedang dilaksanakan;

g) Perkiraan perhitungan biaya/harga satuan yang dilakukan oleh konsultan perencana (engineer’s estimate);

h) Informasi harga yang diperoleh dari toko daring;

i) Informasi biaya/harga satuan barang/jasa di luar negeri untuk tender/seleksi internasional; dan/atau

j) Informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

HPS tidak boleh memperhitungkan biaya tak terduga, biaya lain- lain, dan Pajak Penghasilan (PPh).

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 70 5) Penyusunan HPS berdasar Jenis Pengadaan

Perhitungan HPS untuk masing-masing jenis barang/jasa sebagai berikut:

a) Barang

Perhitungan HPS untuk barang dapat memperhitungkan komponen biaya antara lain:

(1) Harga barang;

(2) Biaya pengiriman (3) Biaya instalasi;

(4) Suku cadang;

(5) Biaya operasional dan pemeliharaan;

(6) Biaya pelatihan;

(7) Biaya tidak langsung lainnya;

(8) Keuntungan; dan/atau (9) Pajak Pertambahan Nilai.

Perhitungan komponen biaya disesuaikan dengan survei yang dilakukan.

b) Jasa Konsultansi Non-konstruksi

Perhitungan HPS untuk Jasa Konsultansi Non-konstruksi dapat menggunakan:

(1) Metode Perhitungan berbasis Biaya (cost-based rates).

Perhitungan HPS yang menggunakan metode perhitungan tarif berbasis biaya terdiri atas:

(a) Biaya langsung personel (Remuneration); dan

(b) Biaya langsung non personel (Direct Reimbursable Cost).

Biaya Langsung Personel adalah biaya langsung yang diperlukan untuk membayar remunerasi tenaga ahli berdasarkan Kontrak. Biaya Langsung Personel telah memperhitungkan gaji dasar (basic salary), beban biaya sosial (social charge), beban biaya tidak langsung (overhead cost), dan keuntungan (profit/fee). Biaya Langsung Personel

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 71 dapat dihitung menurut jumlah satuan waktu tertentu (bulan (SBOB), minggu (SBOM), hari (SBOH), atau jam (SBOJ), dengan konversi menurut satuan waktu sebagai berikut:

(a) Satuan Biaya Orang Minggu (SBOM) = SBOB/4,1 (b) Satuan Biaya Orang Hari (SBOH) = (SBOB/22) x 1,1 (c) Satuan Biaya Orang Jam (SBOJ) = (SBOH/8) x 1,3 Biaya Langsung Non Personel adalah biaya langsung yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan Kontrak yang dibuat dengan mempertimbangkan dan berdasarkan harga pasar yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan serta sesuai dengan perkiraan kegiatan. Biaya Non Personel dapat dibayarkan secara Lumsum, Harga Satuan dan/atau penggantian biaya sesuai yang dikeluarkan (at cost).

Biaya Non Personel yang dapat dibayarkan secara Lumsum diantaranya pengumpulan data sekunder, seminar, workshop, sosialisasi, pelatihan, diseminasi, lokakarya, survei, biaya tes laboratorium, hak cipta dan lain-lain. Biaya Non Personel yang dapat dibayarkan secara Harga Satuan diantaranya sewa kendaraan, sewa kantor proyek, sewa peralatan kantor, biaya operasional kantor proyek, biaya ATK, biaya komputer dan pencetakan, biaya komunikasi dan tunjangan harian. Biaya Non Personel yang dapat dibayarkan melalui penggantian biaya sesuai yang dikeluarkan (at cost) diantaranya dokumen perjalanan, tiket transportasi, biaya perjalanan, biaya kebutuhan proyek dan biaya instalasi telepon/internet/situs web. Biaya Langsung Non-personel pada prinsipnya tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari total biaya, kecuali untuk jenis pekerjaan konsultansi Non-konstruksi yang bersifat khusus, seperti: pekerjaan penilaian aset, survei untuk memetakan cadangan minyak bumi, pemetaan udara, survei lapangan, penyelidikan tanah dan lain-lain.

Modul Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah| 72 (2) Metode Perhitungan Berbasis Pasar (market-based rates).

Perhitungan HPS yang menggunakan metode perhitungan berbasis pasar dilakukan dengan membandingkan biaya untuk menghasilkan keluaran pekerjaan/output dengan tarif/harga yang berlaku di pasar. Contoh: jasa konsultansi pembuatan website, jasa konsultansi pembuatan aplikasi open-source.

(3) Metode Perhitungan Berbasis Keahlian (value-based rates).

Perhitungan HPS yang menggunakan metode perhitungan berbasis keahlian dilakukan dengan menilai tarif berdasarkan ruang lingkup keahlian/reputasi/hak eksklusif yang disediakan/ dimiliki jasa konsultan tersebut. Contoh:

jasa konsultansi penilai integritas dengan menggunakan sistem informasi yang telah memiliki hak paten.

c) Jasa Lainnya

Perhitungan HPS untuk Jasa Lainnya harus memperhitung-kan komponen biaya sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan antara lain:

(1) Upah Tenaga Kerja/Imbalan Jasa Personil;

(2) Penggunaan Bahan/Material/Peralatan;

(3) Keuntungan dan biaya tidak langsung (overhead);

(4) Transportasi; dan/atau

(5) Biaya lain berdasarkan jenis jasa lainnya.

d) Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultan Konstruksi

Perhitungan HPS untuk Tender Pekerjaan Konstruksi dapat berdasarkan hasil perhitungan biaya yang dilakukan oleh konsultan perancang (engineer’s estimate) berdasarkan detailed engineering design. Perhitungan HPS telah memperhitungkan keuntungan dan biaya tidak langsung untuk Pekerjaan Konstruksi paling banyak 15% (lima belas persen).