• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perspektif Masyarakat Penerima Bantuan Sosial Beras

BAB I PENDAHULUAN

6. Tepat administrasi adalah terpenuhinya persyaratan administrasi secara benar dan masyarakat penerima bansos beras tidak di persulit

5.3 Perspektif Masyarakat Penerima Bantuan Sosial Beras

Perspektif masyarakat adalah sudut pandang atau cara pandang masyarakat atau sekelompok orang tertentu dalam memberikan pendapat atau opininya tentang sesuatu hal yang dipercayai, yang ada dalam realitas sosial. Proses penganalisaan suatu peristiwa pada dasarnya dipengaruhi oleh apa yang kita sebut dengan persepsi atau pandangan, mereka mengeneralisasikan sesuatu yang mereka respon sesuai dengan opini yang didasarkan pada alasan alasan yang kuat.

Perspektif lahir dari proses yang didahului oleh penginderaan yang merupakan stimulus yang diperoleh seseorang individu melalui alat penerimaan

indra, kemudian stimulus itu diteruskan oleh syaraf ke otak kemudian akan memicu munculnya perspektif. Perspektif dapat dipengaruhi oleh faktor fungsional, faktor struktural, faktor eksternal dan faktor internal. Keempat faktor tersebut memiliki arti dan kejadian yang berbeda, dimana dari empat faktor tersebut menimbulkan banyak tindakan, mengenali dan menafsirkan informasi.

Bersumber dari pandangan hidup melahirkan nilai-nilai dasar dalam ekonomi yakni;

a. Keadilan

Keadilan dalam hal ini adalah menjunjung tinggi nilai kebenaran, kejujuran, keberanian dan konsisten pada kebenaran. Dalam implementasi program Bansos Beras di Kabupaten Mamuju termasuk masih kurang tepat sasaran dari pemberian manfaat beras, hal ini dibuktikan bahwa masih terdapat masyarakat atau rumah tangga yang masuk kategori KPM-PKH yang tidak mendapatkan manfaat beras. Jadi implementasi program Bansos Beras di Kabupaten Mamuju masih belum memenuhi keadilan.

b. Pertanggungjawaban

Setiap pelaku ekonomi memiliki tanggung jawab untuk berperilaku ekonomi yang benar, dan amanah. Juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum bukan kesejahteraan pribadi atau kelompok tertentu saja. Dalam implementasi program Bantuan Sosial Beras di Kabupaten Mamuju masih ada saja pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mewujudkan program ini dan dalam hal ini banyak pihak yang tidak amanah dalam tugasnya, karena masih ada saja yang memberikan manfaat beras kepada

orang yang tidak tepat, seperti keluarga pihak yang mengelola, kerabat, bahkan masyarakat yang dipandang atau disegani mendapatkan manfaat bantuan. Jadi, masih adanya bentuk tidak tanggung jawab dalam implementasi program Bantuan Sosial Beras di Kabupaten Mamuju, sehingga tidak dapat terealisasi dengan baik, hanya dipandang program pemerintah yang sia-sia bahkan cuma-cuma.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada Kasi Pemberdayaan Kecamatan Mamuju bahwa dalam pendistribusian beras di setiap kelurahan penerima bantuan beras tidak pernah ada pengawasan dari pihak kecamatan, sehingga program Bansos Beras lepas dari pertanggungjawaban pemerintah setempat, berdasarkan hal tersebut bahwa permasalahan program Bansos Beras yang terjadi di lapangan tidak dapat terselesaikan dengan jalan keluar yang baik, karena sudah lepas pertanggungjawaban aparat pemerintah dan tidak ada komunikasi yang baik antara pihak Kecamatan dan pihak Kelurahan.

c. Jaminan Sosial

Adanya jaminan sosial di masyarakat akan mendorong terciptanya hubungan yang baik antara individu dan masyarakat, karena tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal namun juga hubungan horizontal secara seimbang.

Program beras untuk masyarakat KPM-PKH merupakan bentuk jaminan sosial pemerintah untuk masyarakat dalam mendorong terciptanya hubungan yang baik diantara pemerintah dan masyarakat, karena tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal, namun juga menempatkan hubungan horizontal ini secara seimbang.

Berdasarkan kondisi di atas, bahwasannya efektivitas program Bansos Beras di Kabupaten Mamuju dilihat dari nilai-nilai dasar Ekonomi belum dapat dikatakan

adil dan tanggung jawab, karena belum adanya kesadaran pihak pengelola dan masyarakat dalam mewujudkan atau merealisasikan program tersebut dengan baik.

Namun hanya sebagai bentuk jaminan sosial yang diberikan pemerintah kepada masyarakat agar terciptanya suatu hubungan yang baik.

Berdasarkan hasil di lapangan dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program Bansos Beras di Kabupaten Mamuju masih belum memenuhi 6 (enam) indikator tercapainya program Bantuan Sosial Beras, karena hanya 3 (tiga) indikator saja yang sudah tercapai dengan baik yaitu indikator ketepatan jumlah, ketepatan harga (gratis) dan ketepatan administrasi program Bansos Beras. Untuk tercapainya kesuksesan suatu program Bansos Beras dibutuhkan seluruh indikator terpenuhi atau berjalan dengan baik. Pengawasan dan pelaksanaan program Bansos Beras di awasi oleh pengawas gabungan mulai dari pendataan KPM-PKH sampai penyaluran Bansos Beras ke KPM-PKH yang terdiri dari pelaksana setiap Kelurahan serta pelaksana Kabupaten Mamuju.

Namun masyarakat yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa mereka sangat terbantu dan sangat puas dengan bantuan sosial beras yang di adakan oleh pemerintah, di samping itu masyarakat yang pernah menerima bantuan raskin dan saat ini menerima bantuan sosial beras mengatakan bahwa bantuan sosial beras yang di berikan pemerintah saat ini kualitas berasnya sangat bagus.

Meskipun masih terdapat bantuan beras yang tidak tepat sasaran namun masyarakat penerima bansos beras merasa puas terhadap kualitas beras yang di berikan dan jumlah yang di berikan tepat. Masyarakat berharap agar Bantuan

Sosial Beras ini dapat berlanjut setiap bulannya karena sejak Pandemi Covid-19 menyerang dunia termasuk saat menyerang Indonesia mereka sangat merasakan kurangnya pemasukan yang mereka terima.

Ketepatan sasaran dalam hal ini menunjukan nilai yang sangat puas bagi masyarakat, meskipun ada juga masyarakat yang terbilang mampu dan telah mendapatkan Bantuan Sosial Sembako dan Bantuan Sosial Tunai tapi masih mendapatkan manfaat beras tersebut, padahal syarat utama penerima Bantuan Sosial Beras (BSB) adalah peserta PKH bukan penerima Bantuan Sosial Sembako (BSS) dan Bantuan Sosial Tunai (BST) yang merupakan program jaring pengaman sosial yang telah di laksanakan sebelumnya oleh Kementerian Sosial.

Sebagian kecil penerima bantuan di Kabupaten Mamuju ini masyarakat yang keadaan perekonomiannya cukup baik, dalam hal ini sebagian dari mereka memiliki lahan pertanian dan usaha. Masih banyak masyarakat miskin yang mempunyai anak, lanjut usia (Lansia), dan penyandang disabiltas yang ada di Kabupaten Mamuju tidak merasakan manfaat adanya program Bansos Beras ini, seperti para rumah tangga pendatang yang status ekonominya dikatakan tidak mampu namun belum terdata oleh pihak kelurahan dan kemensos atas hak mereka menerima bantuan beras. Ada juga masyarakat yang sudah dikatakan mampu namun masih menerima Bansos Beras karena tidak ada pendataan ulang dari pihak kelurahan atau kemensos sehingga masih diberikan beras sebesar 15 kg.

Dalam penetapan Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (KPM- PKH) seharusnya benar-benar dilakukan secara objektif tidak semata-mata memandang anggota keluarga aparat saja, yang keadaannya sudah mampu namun

ingin mendapat bantuan juga dengan dalih jika tidak diberikan tidak ikut serta dalam pembangunan desa. Padahal Bansos Beras yang mereka peroleh tidak begitu memberikan manfaat bagi keluarga yang mampu membeli beras, sehingga apabila Bansos Beras datang mereka menebus hanya untuk memberi makan ayam saja. Padahal masih banyak keluarga yang berhak merasakan manfaat beras tersebut.

Masyarakat mengatakan bahwa mereka sangat puas dengan kinerja Perum Bulog karena kualitas beras dan jumlah beras yang mereka terima, karena beberapa masyarakat yang pernah menerima bantuan raskin mengatakan bahwa bantuan beras saat ini kualitasnya sangat bagus di banding dengan kualitas bantuan raskin. Demikian juga dalam hal tepat jumlah, jumlah beras 15 Kg/Bulan yang di terima masyarakat telah sesuai dengan jumlah yang di tetapkan oleh pemerintah, karena saat penulis di lapangan melakukan wawancara, penulis mendapatkan beberapa responden mengatakan bahwa setelah mereka menerima bansos beras mereka pulang ke rumah dan menyempatkan menimbang beras dan beras tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah dan tulisan di karung bulog yaitu 15 Kg.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai perspektif masyarakat penerima bantuan sosial beras (BSB) terhadap kinerja Perum Bulog (Studi Kasus Dalam Ruang Lingkup Perum Bulog Subdivre Mamuju) dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Berdasarkan hasil di lapangan dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program Bansos Beras di Kabupaten Mamuju masih belum memenuhi 12 indikator tercapainya program Bantuan Sosial Beras, karena hanya 5 indikator saja yang sudah tercapai dengan baik. Untuk tercapainya kesuksesan suatu program Bansos Beras dibutuhkan seluruh indikator terpenuhi atau berjalan dengan baik. Perlunya pengawasan dan pelaksanaan program Bansos Beras diawasi oleh pengawas gabungan mulai dari pendataan KPM-PKH sampai penyaluran Bansos Beras ke KPM-PKH yang terdiri dari pelaksana setiap Kelurahan serta pelaksana Kabupaten Mamuju.

2. Penerima Bantuan Sosial Beras sangat puas dengan kinerja Perum Bulog karena kualitas beras yang mereka terima sangat baik (layak di konsumsi), jumlah beras yang tepat dan masyarakat tidak di persulit saat akan menerima/mengambil Beras.

Dokumen terkait