• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENUTUP

4) Cara pemberian skor Poedji

2.4 Tinjauan Teori Nifas .1 Pengertian Nifas .1 Pengertian Nifas

2.4.2 Perubahan – perubahan yang terjadi pada masa nifas

e. Memberikan konseling tentang menjaga kehangatan bayi, pemberian ASI, perawatan tali pusat dan mengawasi tanda-tanda bahaya. (Rukiyah 2015).

f. Lakukan pemeriksaan fisik dengan prinsip berikut ini :

1) Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak menangis) 2) Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai pernapasan,

tarikan dinding dada bawah, denyut jantung serta perut.

g. Catat seluruh hasil pemeriksaan, bila terdapat kelainan lakukan rujukan sesuai pedoman MTBS

h. Memberikan ibu nasihat merawat tali pusat dengan benar yaitu dengan cara :

1) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan tali pusat.

2) Jangan membungkus puntung tali pusat atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat.

2.4 Tinjauan Teori Nifas

uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus (Kumalasari, 2015).

Segera setelah kelahiran,uterus harus berkontraksi secara baik dengan fundus sekitar 4 cm dibawah umbilikus atau 12 cm diatas simfisis pubis. Dalam 2 minggu, uterus tidak lagi dapat di palpasi diatas simfisis (Holmes, 2011).

Involusi uterus dari luar dapat diamati dengan memeriksa fundus uteridengancarasebagaiberikut :

1. Segera setelah persalinan, setinggi pusat atau tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat,12 jam kemudian kembali 1 cm diatas pusat dan menurun kira-kira 1 cm setiap hari.

2. Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1cm dibawah pusat. Pada hari ke-3-4 tinggi fundus uteri 2 cm di bawah pusat, Pada hari ke-5-7 tinggi fundus uteri setengah pusat simfisis. Pada hari ke-10 tinggi fundus uteri tidak teraba (Kumalasari, 2015).

b) Lochea

Menurut Kemenkes RI (2014), definisi lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Pemeriksaan lochea meliputi perubahan warna dan bau karena lochea memiliki ciri khas berbau amis atau khas darah dan adanya bau busuk menandakan adanya infeksi. Jumlah total pengeluaran seluruh periode lochear ata-rata 240–270 ml.

Tabel 2.6

Perbedaan Lochea Pada Masa Nifas

Lochea Waktu Warna Ciri-ciri

Rubra Hari ke 1-2 postpartum

Merah kehitaman

Terdiri dari darah segar bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa

verniks, lanugo dan meconium.

Sanguinulenta Hari ke 3-7 postpartum

Merah kekuningan

Darah bercampur lender

Serosa 1 minggu postpartum

Kekuningan/

kecoklatan

Lebih sedikit darah dan lebih banyak serum juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta

Alba 2 minggu

post partum

Putih Mengandung

leukosit, selaput lender serviks dan serabut mati

Purulenta Pengeluaran lochea

yang menandakan adanya infeksi, berupa cairan seperti nanah dan berbau busuk.

Lochiastasis Pengeluaran lochea

yang tidak lancar.

Sumber:(heryani,2013) c) Serviks

Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. Delapan belas jam pasca partum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula. (Sari dan Kurnia, 2014).

d) Vagina dan Perineum

Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregangkan kembali secara bertahap keukuran sebelum hamil,6-8 minggu setelah bayi lahir. Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan (Sari dan Kurnia, 2014).

2) Perubahan system perkemihan

Diuresis dapat terjadi setelah 2-3 hari postpartum. Diuresis terjadi karena saluran urinaria mengalami dilatasi. Kondisi ini akan kembali apabila terjadi distensi berlebih pada kandung kemih dalam

mengalami kerusakan lebih lanjut (atoni). Dengan mengosongkan kandung kemih secara adekuat, tonus kandung kemih biasanya akan pulih kembali dalam 5-7 hari setelah bayi lahir (Sari dan Kurnia, 2014).

3) Perubahan system musculoskeletal

Ligamen-ligamen,fasia dan diafragma pelvis yang meregang sewaktu kahamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali seperti sediakala.(Saleha,2013).

4) Perubahan tanda-tanda vital

Menurut (Saleha,2013) perubahan yang terjadi pada tanda-tanda vital adalah :

1) Suhu

Suhu badan pasca persalinan dapat naik lebih dari 0,5°C dari keadaan normal, namun tidak lebih dari 39°C setelah 2 jam pertama melahirkan, umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38°C waspadai ada infeksi.

2) Nadi dan pernapasan

Nadi berkisar antara 60-80 denyutan per menit setelah partus dan dapat terjadi bradikardia. Pada masa nifas umumnya denyut nadi stabil dibandingkan dengan suhu tubuh, sedangkan pernapasan akan sedikit meningkat setelah partus kemudian kembali seperti keadaan semula.

3) Tekanan darah

Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipetensi postpartum akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terdapat penyakit- penyakit lain yang menyertainya dalam ½ bulan tanpa pengobatan.

b. Perubahan Psikologis 1) Talking in

Terjadi pada hari ke 1-2 setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat bergantung pada orang lain, lebih fokus perhatian pada

tubuhnya, ibu cenderung mengingat pengalaman persalinan yang dialami, kebutuhan istirahat tidur dan nafsu makan meningkat.

2) Talking hold

Berlangsung 3-4 hari setelah post partum, lebih berkonsentrasi pada kemampuannya menerima tanggung jawab terhadap perawatan bayi. Ibu menjadi lebih sensitif, sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan nakes beserta keluarga.

3) Letting go

Perubahan psikologi dimana ibu sudah menerima tanggung jawab sebagai ibu dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat bergantung pada kesehatan sebagai ibu.

2.4.3 Kebutuhan masa nifas a. Nutrisi

Kebutuhan protein sangat diperlukan untuk membantu mempercepat penyebuhan luka perenium ibu (Indiyani, 2016). Beberapa asupan yang dibutuhkan ibu pada masa nifas menurut Prawirohardjo (2015) diantaranya:

1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari (3-4 porsi setiap hari).

2) Ibu dianjurkan minum sedikitnya 3 liter per hari untuk mencukupi kebutuhan cairan supaya tidak cepat dehidrasi.

3) Rutin mengkonsumsi pil zat besi setidaknya selama 40 hari pascapersalinan.

4) Minum kapsul vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali yaitu satu kali setelah melahirkan dan yang kedua diberikan setelah 24 jam selang pemberian kapsul vitamin A pertama.

b. Ambulasi

Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu untuk berjalan. Early ambulation tidak diperbolehkan pada ibu postpartum dengan penyulit misalnya anemia, penyakit jantung, paru-paru, demam, dan sebagainya (Kemenkes RI,

2014). Pada ibu dengan postpartum normal 6-12 jam postpartum (Saleha, 2019).

c. Eliminasi

1) Buang Air Kecil

Ibu diminta untuk buang air kecil (miksi) 6 jam postpartum. Jika dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan katetersasi. Apabila ternyata kandung kemih penuh tidak perlu menunggu 8 jam untuk kateterisasi (Saleha, 2019).

2) Buang Air Besar

Buang Air Besar (BAB) biasanya tertunda dalam 2 sampai 3 hari setelah melahirkan karena enema prapersalinan, diet cairan, obat- obatan analgesic selama persalinan dan perineum yang sakit.

Memberikan asupan cairan yang cukup, diet yang tinggi serat serta ambulasi secara teratur dapat membantu untuk mencapai regulasi BAB (Sari dan Rimandini, 2014).

d. Istirahat

Istirahat tidur yang dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari. Hal-hal yang dapat dilakukan ibu dalam memenuhi kebutuhan istirahatnya dengan tidur siang selagi bayi tidur.

Jika ibu kurang istirahat maka dampak yang terjadi seperti jumlah produksi ASI berkurang, memperlambat proses involusi uteri, serta meyebabkan depresi dan ketidakmampuan ibu dalam merawat bayinya (Saleha, 2019).

e. Personal Hygiene

Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman ibu. Beberapa langkah yang dapat dilakukan ibu postpartum dalam menjaga kebersihan dirinya menurut Sari dan Rimandini (2014) antara lain :

1) Pastikan kebersihan tubuh ibu tetap terjaga untuk mencegah infeksi dan alergi dan penyebarannya ke kulit bayi.

2) Membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, yaitu dari arah depan ke belakang, setelah itu anus. Mengganti pembalut minimal 2 kali sehari. Jika ibu mempunyai luka episiotomi, ibu dianjurkan untuk tidak menyentuh daerah luka agar terhindar dari infeksi sekunder.

3) Melakukan perawatan payudara secara teratur, yaitu dimulai 1-2 hari setelah bayidilahirkan dan rutin membersihkanya setiap 2 kali sehari.

4) Mengganti pakaian dan alas tempat tidur.

f. Seksual

Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri (Ai Yeyeh dkk, 2015).

g. Senam nifas

1) Pengertian senam nifas

Senam nifas merupakan suatu latihan yang dapat dilakukan 24 jam setelah melahirkan dengan gerakan yang telah disesuaikan dengan kondisi ibu-ibu setelah melahirkan (Ambarwati, 2014).

2.4.4 Tanda Bahaya Ibu Nifas 1) Perdarahan pervaginaan

Perdarahan yang banyak, segera atau dalam 1 jam setelah melahirkan, sangat berbahaya dan merupakan penyebab kematian ibu paling sering.

Keadaan ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu kurang dari 2 jam. Perdarahan pada masa nifas (dalam 42 hari setelah melahirkan) yang berlangsung terus menerus disertai bau tak sedap dan demam, juga merupakan tanda bahaya.

2) Keluar cairan berbau dari jalan lahir

Keluarnya cairan berbau dari jalan lahirmenunjukkan adanya infeksi. Hal ini bisa disebabkan karena infeksi luka perineum atau karena luka abdominal, adapun tandanya yaitu:

a) Dolor yaitu perubahan rasa (nyeri).

b) Kalor yaitu perubahan suhu (meningkat).

c) Rubor yaitu perubahan warna kulit (memerah).

d) Functiolaesa yaitu gangguan fungsi tubuh.

e) Tumor yaitu perubahan bentuk.

3) Bengkak

Bengkak pada wajah, tangan dan kaki bila disertai tekanan darah tinggidan sakit kepala (pusing) dan kejang-kejang serta disertai sakit kepala yang hebat.

4) Payudara bengkak

Pada payudara penuh, rasa berat pada payudara, payudara panasdan keras. Bila diperiksa ASI keluar dan tidak ada demam. Badan bisa demam setelah 24 jam. Hal ini terjadi karena antara lain produksi ASI yang meningkat, terlambat menyusukan dini, pelekatan kurang baik, mungkin kurang sering ASI dikeluarkan dan mungkin juga ada pembatasan waktu menyusui, adapun hal ini diperlukan untuk mengatasinya, yaitu :

a) Pelekatan baik, menyusui on demand, bayi sering disusui.

b) Apabila terlalu tegang, atau bayi tidak dapat menyusu sebaiknya ASI dikeluarkan dahulu, agar ketegangan menurun, dan untuk merangsang refleks oxytocin.

c) Kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit.

d) Ibu harus rileks, pijat leher dan punggung belakang (sejajar dengan daerah payudara) kemudian pijat ringan pada payudara yang bengkak (pijat pelan-pelan ke arah tengah).

e) Kompres dingin pasca menyusui, untuk mengurangi bengkak.

f) Pakailah BH yang sesuai, menyangga payudara. Bila terlalu sakit dapat diberikan analgetik. (Heni Puji Wahyuningsih, 2018).

g) Demam lebih dari 2 hari pada ibu nifas bisa disebabkan oleh infeksi.

Apabila demam disertai keluarnya cairan berbau dari jalan lahir, kemungkinan ibu mengalami infeksi jalan lahir. Akan tetapi apabila demam tanpa disertai keluarnya cairan berbau dari jalan lahir, perlu diperhatikan adanya penyakit infeksi lain seperti demam berdarah, demam tifoid, malaria, dsb.