• Tidak ada hasil yang ditemukan

Poligami Dalam Perspektif Tarjih Muhammadiyah

BAB IV HUKUM POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF FIKIH ISLAM DAN

B. Poligami Dalam Perspektif Tarjih Muhammadiyah

4) Adanya lelaki yang melakukan poligami, serta mampu memelihara anak yatim tetapi tidak bisa memberikan nafkah kepada isteri-isterinya. Maka mereka memberikan harta anak-anak yatim tersebut kepada isteri-isterinya.

Dan ketika seorang lelaki tidak mampu bersikap adil terhadap harta anak yatim karena ia memiliki banyak isteri maka haram baginya untuk berpoligami.

Berdasarkan penjelasan di atas, al-Razi dan al-Thabari mamahami ayat di atas (al-Nisa/4;3) masih erat kaitannya dengan adanya perintah untuk berbuat adil kepada anak-anak yatim, juga keharusan berbuat adil terhadap wanita-wanita yang dinikahi. Ath-thabari menyatakan bahwa: “apabila kamu takut (khawatir) tidak dapat berlaku adil terhadap anak yatim, begitupun dengan wanita-wanita lain yang kamu sukai, maka hendaklah kamu untuk tidak menikahi mereka walaupun itu satu orang saja. Tetapi, cukup bagi kamu untuk menikahi hamba sahaya (budak) yang kamu miliki. Karena dengan menikahi budak sendiri lebih memungkinkan untuk tidak berbuat kezaliman (semena-mena terhadap wanita).”

Istilah keluarga sakinah sendiri berasal dari penjelasan firman Allah swt dalam QS. al-Rum/30;21 yang menyatakan bahwa mewujudkan ketentraman dan ketenangan dengan dasar mawaddah dan warahmah merupakan salah satu tujuan dari berumah tangga.

َٚآ ٍِْي َٔ

ِّذ ا َْأ ٍِْي ْىُكن َكهَخ ٌَْأ

َٛت َمَعَظٔ آَٛنإ إُُكْغرن اًظا َٔ ْصأ ْىُكِغُف ًجَّد ََٕي ْىُك ُ

ْؼس َٔ

ِف ٌَّإ ًح ً َكنر ٙ

رَٚ و َْٕمن ٍد ٚلا َف

ٌَٔشَّك .

Terjemahnya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaann-Nya adalah Dia menciptakan isteri- isteri dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.79

Keluarga sakinah sendiri dapat diartikan sebagai sebuah keluarga yang dibentuk berdasarkan pernikahan yang sah dan tercatat di Kantor Urusan Agama yang dilandasi oleh rasa saling menyayangi dan menghargai oleh suami-isteri dengan penuh rasa tanggung jawab, sehingga hadir kedamaian, kebahagiaan, dan ketentraman hidup di dunia dan akhirat yang diridhai Allah swt.80 Kemudian untuk membentuk keluarga sakinah ini, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah prinsip monogami. Dalam buku Tanya Jawab Agama jilid 4 sendiri telah dijelaskan bahwa ada beberapa istilah yang berkaitan dengan pernikahan, di antaranya adalah poliandri, monogami, dan poligami.

79Kementerian Agama RI, Al-Qur‟an al-Karim, al-Qur‟an Hafalan, h.406.

80Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih 3 (Cet. I; Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018), h. 359.

Poliandri yaitu pernikahan seorang isteri dengan beberapa orang suami, monogami adalah pernikahan seorang isteri dengan seorang suami, dan poligami adalah pernikahan seorang suami dengan beberapa orang isteri.81

Mengenai poliandri, Allah swt telah melarang untuk melakukannya.

Seperti dalam QS. al-Nisa/4;23 yang berbunyi:

ْىُكَُاًَْٚا ْدَكَهَياَي َّلاِا ِءآَغُِّنا ٍَِي ُدَُصْؽًُنا َٔ

....

Terjemahnya:

Dan (diharamkan pula bagi kamu untuk menikahi) wanita-wanita yang telah bersuami, kecuali budak (hamba sahaya) perempuan atau tawanan perang yang kamu miliki….82

Sedangkan untuk poligami jika ditinjau dari segi sejarah, di mana tradisi Arab terdahulu sebelum datangnya Islam, yaitu pernikahan dengan banyak isteri tanpa adanya batasan jumlah, juga perlakuan suami terhadap isteri-isterinya yang condong ke arah yang kurang manusiawi dan penuh dengan kekerasan, baik itu kekerasan fisik, mental, sosial, dan ekonomi. Kemudian Islam hadir dengan membatasi jumlah isteri yang boleh dinikahi dalam poligami dengan syarat mampu berbuat baik dan adil terhadap para isteri. Walau demikian, al-Qur‟an memberikan petunjuk bahwa sesungguhnya seseorang tidak mampu berlaku adil,

81Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanya Jawab Agama 4 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2003), h. 207.

82Kementerian Agama RI, Al-Qur‟an al-Karim, al-Qur‟an Hafalan, h.82.

karena adil tidak hanya mencakup hal-hal yang berhubungan dengan materi saja, akan tetapi juga terkandung di dalamnya hal-hal yang bersifat abstrak.83

Berdasarkan ayat al-Qur‟an dan hadis dapat dipahami bahwa prinsip pernikahan dalam Islam adalah monogami. Beberapa hadis tersebut adalah:

جٕغَ ششع ّرؽذٔ حًهع ٍت ٌلَٛغ ىهعأ لال شًع ٍت ٍع حٛهْاعنا ٙف

ؤعتسأ ٍُّٓي سارخٚ ٌأ ىّهعٔ ّٛهع ّاللّ ّٗهص ٙثُّنا ِشيؤف ّعي ًٍهعأٔ

.

)ُٙطلساذنا ِأس(

84

Artinya:

Dari ibnu Umar ia berkata: telah masuk Islam Ghailan Ibnu Salamah dan bersama dengannya sepuluh orang isterinya yang ia nikahi pada masa jahiliyah. Kemudian Nabi shallahu „alaihi wa sallam memerintahkan ia (Ghailan) untuk memilih empat orang dari mereka. (H.R al-Dharuquthni)

هص ٙثُنا ٍع ُّع الله ٙضس جشٚشْ ٙتأ ٍع ٍي" : لال ىّهعٔ ّٛهع الله ٗ

ٌاك

ّمشٔ حياٛمنا وٕٚ ءاظ اًْاذؼا ٗنا لاًف ٌاذأشيا ّن

ّهئاي .

85

Artinya:

Barang siapa yang memiliki dua orang isteri lalu dia lebih condong kepada salah seorang diantara keduanya, maka dia akan datang pada hari kiamat kelak dengan sebelah badannya miring.

Beberapa hadis di atas menjelaskan bahwa masyarakat Arab sebelum datangnya Islam telah melakukan praktik poligami dengan jumlah isteri yang

83Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih 3, h. 388.

84Ibnu Majah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Al-Qazwani, Al-Sunan Ibnu Majah, Jilid I, Bab al-Rajul Yuslamu wa „Indahu Aktsar min Arba‟a Niswah, No. 1953, h. 628. Abu Abdi al-Rahman mengsahihkan hadis ini. Lihat al-Shahih al-Musnad mimma Laisa fi al- Shahihain (Cet. IV; Yaman: Daar al-Atsar, 2007), h. 593.

85Abu Daud Sulaeman bin al-Asy‟ats bin Ishak bin Basyir, Sunan Abi Daud, Jilid II, Bab al-Qasm Baina al-Nisa, No. 2133, h. 242.

tidak terbatas. Oleh sebab itu, berdasar pada kedua hadis tersebut dapat dipahami bahwa poligami tidak dianjurkan dalam Islam, 86 akan tetapi Islam hadir memberikan batasan dalam berpoligami, yaitu maksimal empat orang isteri saja.

Kemudian hadis di atas juga tidak diartikan sebagai anjuran untuk berpoligami, tapi peringatan terhadap suami yang melakukan poligami harus mampu berbuat adil. Rasulullah saw menyinggung suami yang tidak mampu berlaku adil dengan menyatakan bahwa kelak di hari akhir dia akan datang dalam keadaan bahu yang miring.

Poligami memang dimungkinkan apabila suatu saat menghadapi permasalahan atau kondisi-kondisi tertentu, dengan syarat mampu berlaku adil, memperoleh izin dari isteri dan mempertimbangkan kondisi dan pendapat anak- anak. Hal ini selaras dengan apa yang tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang Hukum Perkawinan pasal 58 Nomor 2 yang menyatakan bahwa:

“seorang suami yang hendak berpoligami harus mandapatkan izin dari isterinya, secara tertulis dan dibuktikan dengan pernyataan persetuhuan isteri secara lisan di hadapan siding Pengadilan Agama”.

Kemudian untuk kesanggupan dalam berlaku adil ditetapkan dengan keputusan Pengadilan Agama. Apabila dikhawatirkan tidak mampu berlaku adil, maka monogami lebih dianjurkan. Karena pada prinsipnya, berlaku adil dan

86Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih 3, h. 391.

menghindari bahaya bagi keluarga adalah lebih diutamakan agar ketakwaan tetap terjaga.87

Selain itu, penjelasan mengenai monogami dan poligami juga dijelaskan dalam ayat sebelumnya, yaitu QS al-Nisa/4;3. Dan dari ayat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Pernikahan yang baik ialah pernikahan yang di dalamnya semua pihak yang bersangkutan mendapatkan perlakuan yang baik dan adil, dalam memperoleh hak-hak yang semestinya, dan pernikahan ini akan mendapatkan keuntungan bag diri sendiri apabila pernikahan ini hanya terdiri dari seorang isteri dan seorang suami (monogami).

2. Pernikahan yang di dalamnya terdiri dari seorang suami dan beberapa isteri atau yang sering disebut dengan poligami, yang sebelumnya telah dijelaskan bahwa jumlah maksimal wanita yang boleh dinikahi dalam waktu yag bersamaan adalah 4 orang, dengan syarat sang suami dapat berlaku adil.

Kemudian, adil dalam hal ini adalah apabila seorang suami mampu memenuhi hak-hak isterinya dan mampu berbuat segala sesuatu yang menguntungkan isteri-isterinya, tanpa merugikan salah satu di antara mereka. Begitu pula terhadap anak dan orang tua mereka. Dengan kata lain, seorang suami yang berpoligami harus bisa (berkewajiban) untuk memenuhi hak-hak isterinya, anak-anaknya, dan orang tua mereka.88

87Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih 3, h.389.

88Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanya Jawab Agama 4, h. 209.

Sedangkan untuk hak isteri sendiri ada beberapa jenis, seperti mendapatkan nafkah yang layak dari suaminya, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Dan seorang suami juga diwajibkan untuk mencampuri isterinya dengan cara yang baik dan tidak boleh menelantarkan hidup isteri-isterinya. Hal ini telah diatur dalam firman Allah swt, yang berbunyi:

َرْغَذ ٍَْن َٔ

آ ُْٕع ٛ ِط ٌَْا ْىُرْص َشَؼ َْٕن َٔ ِءآَغُّنا ٍََْٛت ا ُْٕنِذْع ذ ِمًَْٛنا َّمُك إُهًَِْٛذ لََف

ُْٕؽِهْصُذ ٌِْإ َٔ .ِحَمَّهَعًُْناَك اَْ ْٔ ُسَزَرَف ذ َٔا

ًاًْٛ ِؼ َس ا ًس ُْٕفَغ ٌَاَك الله ٌَِّاَف ا ُْٕم ّر

. Terjemahnya:

Dan kamu tidak akan bisa berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walau kamu sangan ingin berbuat demikian, oleh karena itu janganlah kamu terlalu condong (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terlantar. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan pemeliharaan diri (dari kecurangan), maka sungguh Allah maha pengampun, maha penyayang.89

Hak anak juga ada beberapa jenis, di antaranya adalah hak nafkah dari ayahnya, hak mendapatkan pendidikan yang layak sehingga ia tidak termasuk ke dalam ahli neraka, sesuai dengan firman Allah swt dalam QS al-Tahrim/66;6:

ُطاَُّنا اَُْد ُْٕل َٔ ا ًساََ ْىُكِْٛهَْْا َٔ ْىُكَغُفََْا ا ُْٕل ا َُُْٕيا ٍَِْٚزَّنا آَُٚآٚ

....ُج َساَع ِؽنا َٔ

Terjemahnya:

Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….90

89Kementerian Agama RI, Al-Qur‟an al-Karim, al-Qur‟an Hafalan, h. 99.

90Kementerian Agama RI, Al-Qur‟an al-Karim, al-Qur‟an Hafalan, h. 560.

Begitu pula hak-hak anak-anak terhadap orang tua mereka, terlebih lagi jika orang tua tersebut telah berusia lanjut dan dalam keadaan lemah dan sakit.

Seperti dalam firman Allah swt QS Luqman/31;12-19, dan QS al-Israk/17;23-26.

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa isteri- isteri, anak-anak dan orang tua harus mendapatkan kasih sayang yang cukup dari suami, ayah, atau anak-anaknya. Dan juga hukum poligami menurut Tarjih Muhammadiyah adalah mubah (boleh), dengan syarat mampu berlaku adil.

Kendati demikian, walaupun poligami dibolehkan akan tetapi pada kenyataannya praktik poligami ini kadang kala membawa penderitaan untuk isteri, anak, dan orang tua. Walaupun telah ditetapkan bahwa salah satu syarat dibolehkannya poligami adalah mampu berlaku adi, namun sangat jarang ditemukan seorang suami yang bisa melaksanakan keadilan ini. Oleh karena itu, apabila seorang suami ingin memiliki isteri lebih dari satu, maka alangkah baiknya jika memikirkan hal tersebut secara matang, apakah ia mampu berlaku adil terhadap isteri-isterinya kelak atau tidak. Kendati demikian, Dra. Hj. Siti Aisyah, M.Ag., ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengemukakan pendapatnya bahwa poligami memang terdapat dalam al-Qur‟an, namun tidak serta merta poligami ini berhukum sunnah ataupun wajib. Ia mengatakan bahwa poligami merupakan jalan darurat atau keterpaksaan, sehingga poligami memang dibolehkan akan tetapi tidak danjurkan. Selain itu, pelaksanaan praktek poligami juga bukan berdasarkan darurat individual, akan tetapi darurat sosial. 91 Oleh karenanya, untuk

91Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Poligami Dalam Tinjauan Keluarga Sakinah”, Tarjih Muhammadiyah. http://tarjih.muhammadiyah.or.id/berita-852-detail-poligami-dalam-tinjauan- keluarga-sakinah.html (4 Maret 2022).

membangun dan mewujudkan sebuah keluarga yang sakinah, poligami tidak menjadi pertimbangan utama ketika menghadapi permasalahan-permasalahan dalam rumah tangga. Semua anggota keluarga diharapkan untuk senantiasa berusaha menghindari celah yang dapat mengantarkan pada kemungkinan poligami dan mempertahankan prinsip monogami di dalam pernikahan.92

92Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih 3, h. 392.

58 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Dalam perspektif fikih Islam poligami merupakan sesuatu hal yang dibolehkan. Akan tetapi, poligami yang dimaksud adalah yang sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh agama. Dimana seorang suami mampu berlaku adil terhadap isteri-isterinya, dan jumlah isteri yang menjadi tanggungannya tidak lebih dari empat orang.

2. Hukum poligami dalam perspektif tarjih Muhammadiyah adalah boleh (mubah). Suami yang hendak melakukan poligami ini disyaratkan mampu berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak- anaknya. Akan tetapi, pembolehan ini bukan berdasar pada kepentingan individual, melainkan untuk darurat sosial. Dan poligami ini juga tidak menjadi pertimbangan utama ketika menghadapi permasalahan-permasalahan dalam keluarga, alasannya adalah walaupun poligami ini dibolehkan atau diizinkan, akan tetapi pada kenyataannya poligami ini kerap kali menyisakan penderiataan bagi isteri, orang tua, dan anak. Dimana seorang suami tidak dapat berlaku adil terhadap mereka dan cenderung terhadap salah satunya. Oleh karenanya poligami dapat dicegah oleh semua pihak baik keluarga isteri maupun suami, manakala dikhawatirkan pernikahan itu dapat menyusahkan isteri pertama dan keluarganya.

B. Saran

Berdasarkan hasil kajian dari penelitian pustaka ini, maka penulis hendak memberikan saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat untuk penulis atau peneliti selanjutnya:

1. Peneliti atau penulis selanjutnya diharapkan mampu mengkaji dan menelaah lebih banyak sumber data dan referensi yang berhubungan dengan hukum poligami menurut fikih Islam dan Tarjih Muhammadiyah, sehingga hasil penelitiannya bisa lebih lengkap dan lebih baik.

2. Peneliti atau penulis selanjutnya diharapkan untuk lebih mempersiapkan diri dalam proses pencarian, pengambilan juga pengumpulan data dan segala sesuatunya, agar penelitian tersebut dapat berjalan dengan baik dan maksimal. diharapkan pula untuk peneliti selanjutnya agar penelitiannya ditunjang wawancara dengan sumber yang kompeten dan terpercaya dalam kajian hukum poligami dalam fikih Islam dan tarjih Muhammadiyah.

DAFTAR PUSTAKA

“Manhaj Tarjih dan Metode Penetapan Hukum Dalam Tarjih Muhammadiyah”

(Berita). Lembaga Pengembangan Studi Islam, (September 2021).

“Pengajian Tarjih 2: Cara Memahami Agama dan Muhammadiyah” (Laporan Utama). Muhammadiyah Solo, (Mei 2019).

”Manhaj Tarjih Muhammadiyah, Ternyata ini Tumpuannya” (laporan utama).

Kumparan, (Maret 2018).

Abdillah, Bakr bin Abdillah Abu Zaid bin Muhammad. Al-Madkhal al-Fashl li Mazhab al-Imam Ahmad wa Takhrijat al-Ashab. Cet. I; Mekah: Daar al- Ashimah, 1996.

Abror, Khoirul. Poligami dan Relevansinya Dengan Keharmonisan Rumah Tangga. Bandar Lampung: Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M, 2016.

Abror, Muhammad. “sirah Nabawiyah, Sejarah Perkembangan Ilmu Fikih”, nuonline.com, 29 Juni 2021. http://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/sejarah- perkembangan-ilmu-fiqh-imQs (25 Februari 2022).

Adam, Panji. Hukum Islam (Sejarah Perkembangan, dan Implementasinya di Indonesia). Jakarta: Sinar Grafika, 2020.

Adi, Rianto. Metode Penelitian Sisial dan Hukum. Jakarta: Granit, 2004.

Arikunto, Suharsini. Metode Penelitian dan Pendekatan Praktek. Jakarta:

Kencana Penada Madia, 1998.

Ath-Thabari. Jami‟ al-Bayan fi Ta‟wil al-Qur‟an. Jilid V. Cet. I; Mesir:

Muassasah al-Risalah, 2000.

Aulia, Ummu. Keistimewaan Wanita. Cet. II; Jakarta: AMP Press, 2016.

Aunur, Rahin dan Umar Haris. Hukum Perkawinan Islam. Yogyakarta: Gama Media.

Al-Bantani, Muiz. Fikih Wanita Sepanjang Masa. Cet. I; Bandung: Mulia, 2017.

Basyir, Abu Daud Sulaeman bin al-Asy‟ats bin Ishak. Sunan Abi Daud. Baerut:

Al-Maktabah al-Ashriyah.

Cahyani, Tinuk Dwi. HUkum Perkawinan. Cet. I; Malang: UMM Press, 2020.

Cahyani, Tinuk Dwi. Hukum Perkawinan. Cet. I; Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2020.

Darman, Ahmad Adaby. Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2010.

Doi, Abdurrahman I. Karakteristik Hukum Islam dan Perkawinan. Cet. I; Jakarta:

Pustaka Kencana, 1996.

Ghazali, Abdul Rahman. Fiqh Munakahat. Cet. VIII; Jakarta: Kencana, 2019.

Hafsah. Pembelajaran Fiqh Edisi Revisi. Bandung: Cipta Pustaka Media Perintis, 2014.

Hakim, Abdul Hamid. Mabadi al-Awwaliyah. Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang.

Hariyanti. “Konsep Poligami Dalam Islam (Polygamy Concept in Islam Law)”, Risalah Hukum, vol. 4 no. 2 (Desember 2018).

Hetto, Mohammed Hassan. Al-Khoulasah fi Osoulal-Fikh. Cet. I; Kuwait: Daar al-Diya‟a, 2005.

Al-Husain, Fahruddin Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir aw Mafatih al- Ghaib. Beirut: Dar al-Kutub, 2000.

Husein, Imanuddin. Satu Isteri Tidak Cukup. Jakarta: Khazanah, 2003.

Ilham. “Apa itu Manhaj Tarjih?”. https://muhammadiyah.or.id/apa-itu-manhaj- tarjih (19 Oktober 2021).

Ismail, Nurjannah. Perempuan Dalam Pasungan, Bias Laki-laki Dalam Penafsiran. Cet. I; Yogyakarta: LKisPelangi Aksara, 2003.

Judin. “Ciri-Ciri Muhammadiyah”. Catatan Judin.

http://www.judin.my.id/2021/01ciri-ciri-gerakan- muhammadiyah.html/m=1 (6 Februari 2022).

Al-Karim, abdu al-Karim bin Muhammad bin Abdi dan Abu al-Qasim al-Rafi‟ al- Quzwaini. Al-Aziz Syarh al-Wajiz al-Ma‟ruf bi al-Syarh al-Kabir. Cet. I;

Baerut: Dar al-Kitab al-„Alamiyah, 1997.

Kementerian Agama RI. Al-Qur‟an al-Karim Hafalan. Bandung: Cordoba Internasionl Indonesia, 2020.

Kementerian Agama RI. Al-Qur‟an Cordoba Special for Muslimah. Bandung:

Cordoba Internasional Indonesia, 2018.

Kharlie, Ahmad Tholabi. Hukum Keluarga Indonesia. Cet. I; Jakarta: Sinar Grafika, 2013.

Khosiyah, Nur, dkk. “Poligami Perspektif Muhammad Abduh dan Muhammad Syahrur”. Imtiyaz. Vol. 5 no. 2 (September 2021). https://Jurnal.staim- probolinggo.ac.id/index.php/imtiyaz/article/download/149/152 (10 Februari 2022).

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Himpunan Pimpinan Pusat Muhammadiyah 3. Cet. I; Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018.

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tanya Jawab Agama 4. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2003.

Al-Mukaffi, Abdurrahman. 55 Alasan Isteri Menolak Poligami. Cet. I; Jakarta:

Darul Falah, 2006.

Mursalim, Supardi. Menolak Poligami Studi Tentang Undang-Undang Perkawinan dan Hukum Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Musa, Muhammad Yusuf. Al-Madkhal li Dirasati al-Fikh al-Islami. terj.

Muhammad Misbah, Pengantar Studi Fikih Islam. Jakarta: Pustaka Al- Kausar, 2014.

Mutakabbir, Abdul. Reinterpretasi Poligami Menyingkap Makna, Syarat, Hingga Hikmah Poligami Dakam al-Qur‟an. Sleman: Penerbit Deepublish, 2019.

Al-Naysaburi, Muslim bin al-Hujaj Abu al-Hasan al-Qusyairi. Al-Musnad al- Shahih al-Muhtashar bi al-Adl „an al-Adl ila Rasulillah Shallahu „alaihi wa Sallam. Baerut: Daar al-Ahyai al-Turats, 1990.

Nurdiansyah, Firman. “Pendapat Muhammad Syahrur Tentang Poligami Serta Relevansinya Bagi Rencana Perubahan KHI”. The Indonesian of Islamic Family Law. No. 2 (2018).

Nurhadi dan Muhammad Gadapi, Hukum Pernikahan Islam (kajian Fikih).

Pekanbaru: Guepedia, 2020.

Nurhayati, Siti, dkk. Muhammadiyah Dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, dan Sistem Nilai. Cet. I; Yogyakarta: TrustMedia Publishing, 2018.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “Poligami Dalam Tinjauan Keluarga Sakinah”.

Tarjih Muhammadiyah. https://tarjih.Muhammadiyah.or.id/berita.852- detail-poligami-dalam-tinjauan-keluarga-sakinah.html (4 Maret 2022).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Profil Muhammadiyah 2000. Cet. I;

Yogyakarta: PT Surya Sarana Utama, 2000.

Populix. “Pengertian Data Primer dan Perbedaannya Dengan Data Sekunder”.

http://www.info.Populix.co/post/data-primer-adalah (12 Oktober 2021).

Al-Qazwaini, Ibnu Majah Abu AbdillahMuhammad bin Yazid. Al-Sunan Ibnu Majah. Baerut: Muassasah al-Risalah, 1954.

Qutbh, Sayyid. Tafsir fii Zhilalil Qur‟an. Jakarta: Gema Insani, 2002.

RedaksilB. “Jika Ada Yang Tanya, Kenapa Muhammadiyah Enggan Poligami?”.

http://Islamic.co (7 Oktober 2021).

Said, Arsyad. “Perkawinan Poligami Dalam Perspektif Hukum Islam”. Maleo Law Journal, vol. I no. 2 (2017). http://jurnal.unismuhpalu.ac.id (diakses 28 Januari 2022).

Said, Mohammad Umar. Poligami Dalam Pandangan Muhammad Abduh.

https://academia.edu/9844595/poligami-dalam-pandangan-Muhammad- Abduh.pdf (10 Februari 2022).

Salam Taqiyuddin abu al-„Abbas bin Abdi al-Halim bin Abdi, Manhaj al-Sunnah al-Nabawiyah. Cet. I; Dimaskus: Muassasah Cordoba, 1985.

Salim, Abu Malik Kamal bin al-Sayyid. Shahih Fiqh Sunnah. terj. Darwis dan Derysmono, Shahih Fikih Sunnah. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2017.

Sarwat, Ahmad. Ensiklopedia Fikih Indinesia 8: Pernikahan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2019.

Setianto, Danu Aris. “Poligami Dalam Perpektif Filsafat Hukum Islam (Kritik Terhadap Hukum Perkawinan di Indonesia)”. Al-Ahwal, vol. 10 no. 1 (Juni 2017). https://ejournal.uin-suka.ac.id (diakses 28 Januari 2022).

Sumitro, Warkum, dkk. Konfigurasi Fikih Poligini Kontemporer: Kritik Terhadap Paham Ortodoks Perkawinan Poligini di Indonesia. Cet. I; Malang:

Universitas Brawijaya Press, 2014.

Suprapto, Bibi. Liku-liku Poligami. Yogyakarta: Al Kausar, 1990.

Syariati, Ali. Women in the Eyes and Heart of Rasulallah. terj. Sofyan Abubakar, Wanita Dalam Pandangan Rasulallah. Jakarta: Misbah, 2004.

Syarifuddin Amir. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Media, 2008.

Syuqqah, Abdul Halim Absu. Pembebasan Wanita Jilid II. Jakarta: Gema Insani, 1997.

Wahid, Wawan Gunawan A. “Menimbang Kembali Poligami”. Jurnal Tarjih II, no. 1 (2013): h. 69-70.

Yanggo, Huzaimah T. Hukum Keluarga Dalam Islam. Cet. I; Jakarta: Yayasan Masyarakat Indonesia Baru, 1999.

Yulianti, Fitri, dkk. “Konflik marital Pada Perempuan Dalam Pernikahan Poligami yang Dilakukan Karena Alasan Agama”. Jurnal Psikolog, vol.

no. 2 (2008).

Zayadi, Achmad. Menuju Islam Moderat. Cet. I; Yogyakarta: Spasi book, 2018.

Zed, Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan. Cet. I; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004.

Zubaidan, Syarif. “Poligami dan Aplikasi Hukum Islam di Indonesia”.

http://master.islam.uii.ac.id (10 Oktober 2021).

Al-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh. Cet. III, Baerut: Dar al-Fikr, 1989.

Dokumen terkait