HUKUM DAN KEKUASAAN ALLAHBAB III
C. Hukum Islam: Antara Positivisme dan Idealisme
2. Positivisme dan Idealisme
dan didukung sepenuhnya oleh fakta empiris. Hukum lalu menjadi karya profesional para pemikir atau ahli hukum tekanan pada dimensi ilmiah hukum ini, sebagaimana dijelaskan oleh H.L.A. Hart, justru makin memprkuat makna istilah “hukum positif ” paling tidak sejak abad ke-14 digunakan terutama untuk menekankan watak hukum sebagai ciptaan manusia dan sekaligus mempertentangkannya dengan konsep hukum kodrat. Dengan demikian, istilah hukum positif yang lazim digunakan dalam konsep hukum untuk menekankan dua sifat dasar dari hukum: (1) hukum adalah karya atau ciptaan manusia; dan (2) hukum dibangun diatas basis ilmiah. Masuknya istilah positivisme hukum memberi nuansa fi losofi s dalam pemikiran tentang hukum.
Dalam konteks ini, positivisme lalu digunakan dengan berbagai makna di dalamnya. Secara umum istilah positivisme hukum memuat berbagai makna yang menunjukkan sifat dasar dari aliran pemikiran hukum. Bila kita menghadap bentuk-bentuk hukum yang aktual pada zaman modern ini, kita sampai pada keyakinan bahwa hukum yang mempunyai arti yuridis yang sungguh-sungguh adalah hukum yang ditentukan oleh pemerintah suatu negara, yakni undang-undang. Hal ini jelas dalam kenyataan bahwa peraturan-peraturan yang berlaku dalam lembaga yang non-negara, membutuhkan peneguhan dari pihak negara supaya berlaku sungguh-sungguh secara yuridis. Juga hukum adat dipandang sebagai hukum yang berlaku secara effektif, bila disahkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan.38
bukan berdasarkan pengalaman, seperti empirisme. Tokoh aliran positivisme, antara lain: Auguste Comte (1798-1857).
Comte meyakini bahwa kebenaran hanya bisa diungkap melalui penggunaan metode ilmiah (Scientifi c method). Keyakinan Comte ini kemudian menjadi sebuah manifesto yang dianut kaum positivis pada generasi selanjutnya. Comte berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu melewati sebuah tahapan-tatanan yang dapat dibagi menjadi tiga. Tahap-tahap itu adalah adalah teologi, metafi sik dan ilmiah. Pada tahap teologis, manusia menjelaskan fenomena alamiah sebagai aktivitas tuhan. Pada tahap metafi sik, orangmengenali perubahan alamian sebagai kekuatan abstrak, namun ketika orang telah mencapai tahap sains (positivis), orang menjelaskan fenomena alam dalam pengertian hukum-hukum alam yang tetap. Conte yakin bahwa setiap wilayah pengetahuan manusia akan melewati tahapan ini. Sementara di beberapa bidang (contohnya studi alam),telah mencapai tahapan positivis, bidang lain seperti sejarah dan sosial telah tertinggal. Comte merasa bahwa dia dapat menerapkan (cara berpikir positivis) untuk ilmu sosial, seperti yang telah dilakukan Galileo, Kepler dan Newton dalam ilmu alam. Sepeninggal Comte, pencarian akan hukum alamiah seragam yang mengatur kejadian dalam sejarah mendominasi karakter pendekatan positivis dalam sejarah.39
Idealisme adalah aliran fi lsafat yang menganggap bahwa realitas ini terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme mengatakan bahwa akal itulah yang riil dan materi hanyalah produk sampingan. Dengan demikian, idealisme mengandung pengingkaran bahwa dunia ini pada dasarnya sebagai sebuah mesin besar yang harus ditafsirkan sebagai materi, mekanisme atau kekuatan saja. Alam, bagi idealis mempunyai arti dan maksud dalam perkembangan manusia. Oleh karena itulah, manusia merasa ada dalam rumahnya dalam alam.Tokoh-tokoh aliran idealisme, antara lain: Plato (477 -347 Sb.M), B. Spinoza (1632 -1677),
39 Ronald H Nash, (eds)., Ideas of History. Cri cal Philosophy of History (New York: EP Du on & Co Inc, 1969), h. 3-4.
Liebniz (1685 -1753), Berkeley (1685 -1753), J. Fichte (1762 -1814), F.
Schelling (1755 -1854) dan G. Hegel (1770 -1831).
Jika kaum positivis beranggapan bahwa penjelasan harus memiliki struktur logis yang sama untuk semua bidang pengetahuan manusia, maka kaum idealis menentang pendapat tersebut.
Kaum idealis mengatakan bahwa eksplanasi dalam sejarah sangat berbeda dengan eksplanasi dalam ilmu alam. Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan Heinrich Rickert (1863-1936) – dipengaruhi oleh pembagian fenomena-noumena Kant dan Alam dan Jiwa dari Hegel berkeyakinan bahwa ada dua jenis ilmu jenis ilmu alam dan manusia.
Ilmu alam melakukan pendkatan pada subjek permasalahan “dari luar”; mereka menggambarkan keteraturan melalui pengamatan fenomena alam. Di dalam ilmu humaniora, subjek permasalahan dapat diakses ilmuwan sosial melalui cara yang tidak mungkin bagi seorang ilmuan alam. Sebagai contoh: oleh karena sejarawan adalah seorang manusia yang mempelajari tindakan manusia dan orang- orang lain, dia dapat mengetahui tindakan mereka dari “dalam”, sebagaimana adanya. Oleh sebab pengetahuan masa lalu yang lengkap membutuhkan pengetahuan tentang apa yang telah terjadi dan mengapa terjadi, sejarawan sering dituntut untuk menghidupkan kembali atau memikirkan kembali tindakan yang telah dilakukan di masa lalu melalui proses empati intelektual (verstehen : memahami).
Mengapa Sultan Salahuddin memilih jalur gencatan senjata dari pada perang total melawan raja Richard dan Philippe Aguste dalam perang Salib di Yerusalem pada tahun 1184?
Masih ada lagi perbedaan antara ilmu alam dan humaniora. Se- mentara ahli ilmu alam mencari regularitas (keajegan) dan generalisasi yang dapat dia buat tentang regularitas itu, sejarawan meneliti sesua- tu yang unik, individual dan tidak dapat terulang, Kejadian sejarah hanya terjadi sekali. Menurut Diltey, dalam rangka mengkaji masa lalu, dia berargumen, ilmu humaniora harus memunculkan subjekti- fi tas dan individualitas dan menggapai tingkat universalitas tertentu.
Namun bagaimana sejarah memberikan kita pengetahuan universal
tanpa komit kepada positivis? Dilthey merespon dilema ini dengan merumuskan apa yang disebut dengan “Objectife Mind”. Menurut pandangannya spirit manusia (jiwa manusia) adalah objektif dan tereskpresi dalam fenomena-fenomena lahiriah tertentu seperti baha- sa, literatur, hukum, arsitektur, agama, musik, seni, kota dan sebagai- nya. Objectife Mind ini mencakup semua hal yang menunjukkan aspek- aspek jiwa sebuah peradaban atau budaya. Sejarawan dapat mengkaji ekspresi pemikiran manusia di masa lalu dan melalui itu, sejarawan dapat dia dapat masuk ke dalam dan menghidupkan pengalaman manusia di masa lalu.
Bendetto Croce (1866-1952), seorang fi losof Itali abad XX memperlihatkan pendekatan idealis dalam sejarah. Croce mence- mooh usaha untuk mendapatkan pandangan objektiv masa lalu. Dia berpendapat, kutipan kejadian masa lalu utuh bukanlah sejarah sama sekali namun hanya sekedar kronik. Sementara kronik hanyalah se- suatu, sejarah adalah sebuah “act of spirit” (pernyataan jiwa). “sebuah kronik adalah mati dalam pengertian bahwa kronik ini tidak hidup di pikiran atau pengalaman sejarawan, sejarah yang benar hidup karena sejarawan menghidupkan (kejadian) di otaknya sendiri”.
Tokoh kelompok idealis yang paling penting ada abad XX adalah RG Collingwood (1889-1943). Dia menekankan ada statemen bahwa sejarawan tidak menjelaskan fenomena alamiah, dia lebih menjelaskan tindakan orang bebas yang memerintahkan sebuah tindakan sesuai dengan akal. Dalam mengkaji masa lalu, sejarawan harus membuat pembedaan antara inside dan outside dari sebuah kejadian. Outside (untuk kemudian diterjemahkan dengan unsur luar) dari sebuah kejadian mencakup segala sesuatu yang apat dideskripsikan dalam pengertian kejadian fi sik. Unsur dalam kejadian (inside) mencakup segala sesuatu yang hanya dapat digambarkan dalam pengertian pikiran (di otak).
Sejarawan seharusnya tidak mengabaikan baik unsur luar maupun dalam sebuah kejadian. Sejarawan seharusnya mengamati peristiwa sejarah, dia mengamati melalui peristiwa itu dan mendeteksi, mengenal pemikiran yang berada dibalik peristiwa. Collingwood menunjukkan
kemiripan antara kerja seorang arkeolog dan seorang palaeontolog.
Keduanya menghabiskan waktunya menggali; namun keduanya menggali untuk tujuan yang berbeda. Arkeolog lebih berkepentingan ada relik-relik (artefact) sebagai petunjuk bagaimana manusia di masa lalu hidup dan berpikir.40
Dalam tori hukum, positivisme dan idealisme digambarkan saling bertentangan. Tiori-tiori idealistik didasarkan pada pernsip- prinsik keadilan dan amat berkaitan dengan “hukum yang seharusnya”. Filsafat hukum idealis menggunakan metode deduksi dalam menarik hukum dari azaz-azaz yang didasarkan manusia sebagai makhluk etis sosial. Sementara itu tiori positivistik diilhami oleh pandangan-pandangan tentang hukum yang bertentangan.
Paham positivisme analitik tidak mempermasalahkan dasar kaidah- kaidah hukum tetapi mengkonsintrasikan diri pada analisis konsep- konsep dalam hubungan-hubungan hukum dengan pemisahan ketat antara kenyataan (das sein) dengan hal yang diharapkan (das sollen) karenanya ia dipisahkan dari keadilandan etika. Namun demikian, hukum alam hadir sebagai hukum yangb idealdan lebih tinggi untuk digunakan sebagai standar keadilan. Akan tetapi karena didasarkan pada akal yang selalu berubah, ia tidak bisa bertopang pada dirinya sendiri dan akhirnya hancur.
Positivisme pragmatis memandang fakta sosial sebagai unsur yang menentukan konsep hukum, karena ia mementingkan hukum yang seharusnya. Ia menganggap bahwa hukum tunduk kepada masyarakat, yang karenanya konsep hukum terus mengalami perubahan sesuai dengan perubahan dalam masyarakat yang lebih cepat berubah daripada hukum. Positivisme merupakan korban ketegangan konfl ik, positivisme analitik dan pragmatik merupakan kubu-kubu yng terpisah dalam konsep hukum mereka. Perbedaan ini disamping yang lain, membuat positivisme tiori yang kontradiksi dalam dirinya sendiri.41
40 Ronald H Nash, (eds)., Of. Cit. h. 5-8.
41 Fathurrahman Djamil, Of., Cit.,h. 62-63.