BAB III PELAKSANAAN JUAL BELI ANAKAN BURUNG KENARI
C. Praktik Penanggungan Risiko Kerugian dalam Transaksi
44
harapan agar sesuai pilihannya. Seperti penjelasan dari saudara Reza, salah satu pembeli mengatakan bahwa:
“Jadi gini mas, mayoritas anakan burung itu rentan akan penyakit yang bisa menyebabkan anakan burung tersebut mati, jadi harus pandai dalam memilih anakan burung yang mau saya beli sehat atau tidak.”6
Selain itu, ada juga saudara Fuad yang menuturkan yang berkaitan dalam memilih anakan burung kenari. Beliau mengatakan bahwa:
“Dalam memilih anakan burung kenari biasanya saya memilih yang lebih aktif, otomatis yang aktif biasanya lebih sehat dan tidak rentan sakit mas.”7
Dari penjelasan diatas, dapat diketahui untuk mendapatkan anakan burung kenari yang berkualitas, harus pandai memilih saat membeli anakan burung tersebut. Yang mana kondisi anakan burung sehat dan tidak ada kecacatan.
C. Praktik Penanggungan Risiko Kerugian dalam Transaksi Jual Beli
45
Begitu juga dalam jual beli anakan burung kenari yang ada di Desa Ketawang, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun.
Aktivitas transaksi yang dilakukan oleh pembeli dan penjual anakan burung kenari di dasarkan pada sistem kepercayaan. Sesuai dengan pembahasan diatas, bahwa pada kasus pembelian anakan burung kenari di Desa Ketawang belum diketahui jenis kelaminnya. Jika pembeli sudah profesional dalam meneliti ciri-ciri dan jenis burung disuruh melihat ke sangkarnya dan disuruh memilih sendiri. Sedangkan kepada pembeli yang belum mengetahui ciri-ciri burung atau dalam kata lain masih pemula, maka penjual yang akan memilihkan.
Seperti yang diungkapkan oleh penjual atau pemilik Kios pak Parno, dalam wawancara ia berkata :.
“biasanya kalau ada orang yang beli dan sudah paham ciri-ciri anakan burung kenari yang jantan atau betina saya suruh milih sendiri mas ke sangkarnya. Tetapi kalau pembeli itu masih bertanya-tanya kepada saya dan saya rasa masih belum begitu paham tentang burung kenari, maka saya yang memilihkan.
Biasanya saya tanyai dulu mau membeli jenis anakan burung kenari yang jantan atau betina, atau sepasang”.8
Berdasarkan uraian tersebut, dalam memilih kriteria anakan burung kenari yang belum bisa dipahami secara pasti, si penjual memiliki peran dalam menentukan burung yang diinginkan oleh pembeli. Sesuai dengan kriteria anakan burung kenari yang masih sulit dipastikan jenis kelaminnya, tidak selalu apa yang dipilihkan oleh si penjual tadi sesuai dengan prediksi atau keinginan pembeli. Seperti yang diungkapkan oleh Bayu salah satu pembeli, ia menyatakan dalam wawancara:
8 Parno, Hasil Wawancara, Madiun, 25 Februari 2023.
46
“saya pernah membeli anakan burung kenari di kiosnya pak Parno mas, saya ingin membeli anakan kenari berjenis kelamin jantan yang akan saya jadikan kicauan burung di rumah. Pada saat itu saya belum begitu paham ciri-ciri anakan kenari yang berjenis kelamin jantan atau betina. Waktu itu pak Parno (penjual) mengarahkan saya ke sangkar burungnya dan beliau yang memilihkan. Kemudian saya membelinya dengan harga Rp. 130.000 mas. Setelah beberapa minggu di rumah saya ternyata burung tersebut betina”9
Anakan burung kenari yang belum bisa dipastikan jenis kelaminnya tetapi dalam praktiknya transaksi jual beli tetap dilakukan. Untuk menuruti keinginan pembeli yang menginginkan anakan burung kenari betina atau jantan, pada proses ini menggunakan cara memprediksi atau mengira- ngira. Ini dilakukan oleh pembeli sendiri yang lebih banyak pengalaman dan dilakukan oleh penjual apabila si pembeli belum memahami kriteria burung. Walaupun cara yang dilakukan tersebut kadang bisa salah, kadang bisa benar sesuai dengan keinginan pembeli.
Praktik transaksi jual beli pada anakan burung kenari tersebut setelah menemui ketidaksesuaian dengan apa yang diinginkan oleh pembeli, yaitu menginginkan akhirnya menimbulkan penanggungan resiko. Biasanya pembeli mengembalikan ke kios penjual anakan burung tersebut. Kemudian si pembeli mengadu untuk dikembalikan uangnya.
Dalam hal ini antara penjual dan pembeli melakukan dialog untuk menentukan penanggungan risiko.
Pernyataan yang diungkapkan oleh pak Parno sebagai penjual dalam menangani penanggungan resiko yang tidak sesuai dengan
9 Bayu, Hasil Wawancara, Madiun, 27 Februari 2023.
47
keinginan pembeli atau salah pilihan dalam memilih anakan kenari, beliau memaparkan.
“jadi gini mas, saat burung yang sudah dibeli misalkan si pembeli menginginkan anakan tersebut nanti berkelamin jantan tetapi setelah dipelihara di rumahnya (pembeli) ternyata anakan burung tersebut berjenis kelamin betina. Saya mau menerima mas barang itu kembali tetapi dengan harga tidak sama dengan saat pembelian.
Misalkan si pembeli membeli harganya kemarin Rp. 130.000, saya kembalikan sebesar Rp. 90.000 sampai Rp. 100.000. Kenapa saya turunkan harganya, sebab saya (penjual) tidak mau rugi mas, barang yang seharusnya terjual malah kembali. Dan burung yang kembali berarti saya juga merawatnya memberi makan dan lain sebagainya. Itu juga membutuhkan biaya mas.”10
Sesuai dengan pernyataan dari penjual, praktik penanggungan resiko yang dialami oleh penjual ialah suatu kerugian. Barang yang seharusnya sudah laku tetapi dikembalikan. Maka si penjual mau menerimanya tetapi dengan syarat yaitu harga yang diberi kepada burung yang dikembalikan tidak sama dengan pada saat awal pembelian, dan diberi potongan harga. Sebab sulitnya menentukan kriteria anakan burung kenari akhirnya si penjual menanggung resiko barang kembali, dan mengembalikan uang pembelian dengan potongan harga.
Sedangkan dalam pihak si pembeli, hal ini dapat informasinya dari Bayu yang pernah membeli anakan burung kenari. Ia menceritakannya :
“Seperti yang saya ceritakan tadi mas, bahwa saya pernah membeli anakan burung di kios tersebut dan tidak sesuai dengan keinginan saya. Saya menginginkan anakan kenari jantan tetapi malah salah pilih dan burung tersebut setelah beberapa hari di rumah saya ternyata betina. Kemudian saat saya mengetahui jenis kelaminnya betina kemudian saya bawa burung tersebut ke pak Parno untuk saya kembalikan. Pak Parno mau menerima tetapi dengan harga yang tidak sama dengan awal saya membeli. Malah saya dikembalikan dengan harga murah. Ya mau gimana lagi, saya
10 Parno, Hasil Wawancara, Madiun, 25 Februari 2023.
48
terima uang kembalian burung tersebut walaupun dengan terpaksa”.11
Berdasarkan cerita dari narasumber di atas, bahwa praktik penanggungan resiko disepakati oleh kedua belah pihak antara penjual dan pembeli. Penjual secara prinsip tidak mau dirugikan dengan barang dagangannya kembali, tetapi si pembeli menanggung resiko kerugian, yaitu harga yang dikembalikan tidak sama dengan di awal dan ia sudah mengeluarkan biaya perawatan saat burung itu di rumahnya. Kemudian si pembeli secara terpaksa menerima uang kembalian tersebut. Praktik penanggungan risiko yang terjadi dalam transaksi jual beli anakan burung kenari memberi titik keberatan di kedua belah pihak. Dan pada akhirnya jika di kalkulasi pihak yang menanggung kerugian secara langsung yaitu si pembeli.
Adapun ungkapan dari penjual atau pemilik kios yang lain yaitu Pak Rudi, dalam wawancara ia berkata:
“Kalau di kios saya para pembeli saya biarkan milih sendiri anakan burung kenari yang mau dibeli dan saya tidak bisa menerima apabila dagangan saya yang sudah laku dikembalikan mas, akan tetapi di awal saya memberi harga lebih murah dari kios yang lain mas, misal di kios lain rata-rata harga anakan burung kenari Rp.
130.000 katakanlah sampai Rp. 150.000, maka di kios saya harganya dibawahnya Rp. 10.000 sampai Rp. 20.000. Karena tujuan saya menurunkan harga seperti itu dikarenakan saya tidak menerima barang kembali mas.”12
Berdasarkan cerita dari penjual diatas, dari pihak pemilik kios (penjual) memberikan harga yang lebih murah dari kios-kios yang lain dikarenakan penjual tidak menerima barang kembali apabila ada pembeli
11 Bayu, Hasil Wawancara, Madiun, 27 Februari 2023.
12 Rudi, Hasil Wawancara, Madiun, 11 Oktober 2023.
49
yang berkeinginan mengembalikan anakan burung yang sudah dibeli sebelumnya.
Adapun dari pihak pembeli, dapat informasi dari Aris yang pernah membeli anakan burung kenari, ia bercerita:
“Saya pernah membeli anakan burung kenari di kios Pak Rudi, memang benar kondisi anakannya cukup bagus dan sehat-sehat mas, waktu itu saya membeli dua anakan burung kenari dengan warna idaman para pecinta burung yaitu starblue sama panda mas, waktu saya rawat dirumah selang beberapa hari ternyata salah satu anakan burung kenari yang saya beli ternyata berkelamin betina, awalnya pembelian saya membeli yang menurut saya jantan semua.
Akan tetapi anakan burung tersebut tidak saya kembalikan, dikarenakan warnanya bagus dan prospek untuk dikembangbiakkan, maka dari itu saya berniatan kedepannya mau saya ternak mas.”13
Berdasarkan cerita dari pembeli diatas, secara tidak langsung yang menanggung kerugian yaitu si pembeli. Akan tetapi pihak pembeli tidak berkeinginan untuk mengembalikan anakan burung kenari yang sudah dibelinya, dengan alasan warna kedua anakan burung kenari bagus, maka akan dikembangbiakkan kedepannya.
Adapun pernyataan yang diungkapkan oleh Pak Bambang sebagai pemilik kios, ia berkata:
“kalau saya orangnya enakan mas, misalkan ada pembeli yang sudah membeli anakan burung kenari dan berniat ingin mengembalikan, saya bisa menerima pengembalian anakan burung kenari asalkan tidak melebihi waktu yang sudah saya tentukan, biasanya saya memberi waktu 3 hari setelah pembelian tanpa ada potongan harga. Apabila sudah melebihi waktu yang sudah saya tentukan maka akan saya berikan potongan harga mas, biasanya saya memberi potongan harga sekitar Rp. 20.000 an mas.”14
13 Aris, Hasil Wawancara, Madiun, 11 Oktober 2023.
14 Bambang, Hasil Wawancara, Madiun, 13 Oktober 2023.
50
Dari paparan diatas, pihak penjual memberikan keringanan kepada pembeli apabila berniat ingin mengembalikan anakan burung kenari yang sudah dibeli, akan tetapi penjual juga tidak mau rugi, pihak pemilik kios memberi waktu 3 hari dan setelah lebih dari waktu yang ditentukan maka akan diberi potongan harga yang sudah ditentukan oleh pemilik kios.
Adapun hasil wawancara dari Ali yaitu pembeli di kios Pak Bambang, ia berkata:
“saya pernah membeli anakan burung kenari di kios Pak Bambang, orangnya enakan mas. Waktu itu saya membeli anakan burung kenari, dan disuruh memilih sendiri, sebenarnya burungnya bagus tetapi waktu sudah saya rawat dirumah kok agak ragu dan ternyata anakan burung kenari yang saya beli berkelamin betina. Saya mengetahui kalau ternyata anakan burung tersebut betina setelah 1 mingguan dirumah, waktu saya berniatan untuk mengembalikan, pemilik kios menerima akan tetapi dikenai potongan harga karena sudah melebihi waktu yang sudah ditentukan oleh pemilik kios tersebut.”15
Berdasarkan wawancara diatas, pihak pembeli berniatan untuk mengembalikan anakan burung kenari yang sudah dibelinya, akan tetapi ia sudah merawatnya lebih dari 1 minggu. Dan ketika dikembalikan pemilik kios mau menerima akan tetapi dipotong harganya, dikarenakan sudah melebihi waktu yang sudah ditentukan oleh pemilik kios tersebut.
15 Ali, Hasil Wawancara Madiun, 13 Oktober 2023.
51 BAB IV
ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI ANAKAN BURUNG KENARI DI KIOS PAKAN BURUNG DESA KETAWANG KECAMATAN
DOLOPO KABUPATEN MADIUN
A. Analisis Hukum Islam Terhadap Objek Jual Beli Anakan Burung Kenari di Kios Pakan Burung Desa Ketawang, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun
Memang perkembangan zaman itu dinamis, begitu pula pada semua praktik kehidupan manusia semua yang ada di muka bumi.
Dinamika zaman tidak dialami sendiri oleh salah satu orang atau salah satu kelompok atau golongan masyarakat saja, tetapi semuanya. Dalam perubahan tersebut dapat ditinjau dari dinamika zaman seperti pada politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan agama. Dalam kasus ini lebih pada kasus ekonomi dan agama.
Pada kasus era kini seperti pada praktik transaksi jual beli anakan burung kenari di desa Ketawang, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun.
Transaksi di Desa tersebut dari hasil wawancara pihak-pihak yang terkait antara penjual dan pembeli menunjukkan bagaimana proses yang terjadi pada transaksi jual beli anakan burung kenari.
Terdapat suatu kasus bahwa transaksi jual beli pada anakan burung kenari yang secara fisik belum diketahui jenis kelaminnya. Kebanyakan dari pembeli menginginkan anakan burung kenari yang berjenis kelamin jantan untuk dijadikan burung kicauan. Fenomena ini sudah berjalan sedemikian rupa, bahwa praktik-praktik lapangan yang dilakukan
52
masyarakat tetap melakukan transaksi tanpa peduli akibat yang ditimbulkan. Mereka hanya berdasarkan atas “ada uang ada barang” tanpa melihat seluk beluk aturan yang menjamin di dalamnya.
Setelah peneliti telusuri dari hasil wawancara menghasilkan informasi bahwa praktik transaksi jual beli anakan burung kenari tersebut dalam penentuan kelamin burung tidak selalu benar atau belum dapat dipastikan seratus persen. Artinya di sini dalam menentukan jenis kelamin anakan burung kenari tersebut belum bisa dipastikan sejak awal pembelian. Kedua pihak antara penjual dan pembeli belum bisa menjamin sejak awal transaksi.
Kemudian sesudah saat pembelian anakan burung tersebut, banyak yang tidak sesuai dengan keinginan pembeli. Anakan burung yang diinginkan ialah berkelamin jantan, tetapi setelah beberapa hari dipelihara di rumah pembeli mulai tampak jenis kelaminnya dan yang terdapati berkelamin betina. Akhirnya kesepakatan pada awal pembelian yaitu pembeli menginginkan anakan burung jantan yang terjadi malah apa yang didapat tidak sesuai dengan di awal pembelian.
Ditinjau dari sisi benda yang dijadikan obyek jual beli ada tiga macam, yaitu:
1. Jual beli benda yang kelihatan, yakni pada waktu mengerjakan akad jual beli benda atau barang yang diperjualbelikan ada di depan penjual dan pembeli. Hal ini lazim dilakukan oleh masyarakat umum.
53
2. Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian, yakni jual beli sālam (pesanan). Sālam merupakan jual beli yang tidak tunai (kontan), pada awalnya meminjamkan barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu. Maksudnya ialah perjanjian sesuatu yang penyerahan barangnya ditangguhkan hingga masa-masa tertentu, sebagai imbalan harga yang telah diputuskan ketika akad.
3. Jual beli benda yang tidak ada serta tidak bisa dilihat, yakni jual beli yang dilarang dalam Islam, sebab barangnya tidak pasti atau masih gelap, sehingga dikhawatirkan barang tersebut didapatkan dari hasil curian atau barang titipan yang akibatnya dapat memunculkan kerugian diantara pihak.
Pada dasarnya dapat dilihat pada pengertian di awal yaitu tentang jual beli dan dasar-dasar hukum Islam. Ada beberapa syarat yang diungkapkan oleh aturan Islam mengenai jual beli yaitu terdapat akad dan barang, penjual dan pembeli. Dalam kasus di atas sudah memenuhi dari syarat-syarat tersebut. Tetapi dilihat dari objeknya, yaitu barang yang dijual ialah anakan burung kenari yang masih belum bisa dipastikan kelaminnya. Hal tersebut bisa disamakan dengan praktik jual beli yang belum bisa dilihat objeknya, atau masih gelap. Hal ini akan menyebabkan atau menimbulkan suatu keraguan atau kecurigaan dan bisa kerugian antara penjual maupun pembeli.
Dengan memperhatikan pemaparan di atas, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa mengenai transaksi jual beli anakan burung kenari di
54
Desa Ketawang Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun sudah adanya akad dan barang, kedua pihak yaitu penjual pembeli, dan syarat-syarat jual beli.
Akan tetapi, dilihat dari objeknya yaitu barang yang dijual adalah anakan burung kenari yang masih belum bisa dipastikan kelaminnya, seperti halnya praktik jual beli tersebut belum bisa dilihat objeknya. Hal ini bisa saja menimbulkan ketidaknyamanan antara kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli.
B. Analisis Hukum Islam Terhadap Penanggung Kerugian Dalam Jual Beli Anakan Burung Kenari di Kios Pakan Burung Di Desa Ketawang, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun
Jual beli dalam Islam memang tidak selalu seperti yang di harapkan, misalkan suatu usaha atau perusahaan yang berkonsentrasi pada bisnis kadang kalanya mengalami suatu kendala dan bahkan kerugian.
Berbagai bentuk rintangan dan halangan dalam menjalani muamalah memang berbagai macam bentuknya.
Secara objek jual beli barang mungkin mengalami kerusakan atau cacat sehingga banyak barang kembali atau mendapat komplain dari pembeli. Hal ini memunculkan perselisihan dan bahkan akan mempengaruhi pada usaha seseorang sebab para pembeli merasa tidak cocok sehingga bisa saja memutuskan untuk berganti langganan atau mitra bisnis. Semacam ini jika tidak segera disikapi dengan kebijaksanaan akan membawa pengaruh kepada pemilik usaha. Salah satunya dengan jalan membuat penanggungan risiko tetapi dengan asas-asas saling diuntungkan satu sama lain antara pembeli dan penjual.
55
Berdasarkan uraian tersebut terdapat juga transaksi jual beli yang bagaimana penjual mendapatkan barang kembali atau komplain dari pembeli. Salah satunya pada penelitian ini dalam praktik transaksi jual beli anakan burung kenari di Desa Ketawang, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Hasil dari wawancara menyebutkan bahwa transaksi jual beli anakan burung kenari bermula pada seorang pembeli ingin memelihara burung kenari untuk dijadikan kicauan di rumahnya. Lalu ia datang ke kios penjual burung untuk membeli anakan burung kenari.
Sesuai dengan karakter burung kenari bahwa yang memiliki kicauan ialah burung berjenis kelamin jantan, maka si pembeli menginginkan anakan burung kenari yang berkelamin jantan. Kemudian dalam anakan burung kenari tersebut dilihat dengan umurnya belum bisa dipastikan secara jelas mana anakan burung yang berjenis kelamin jantan atau betina. Sehingga dalam praktik transaksi menggunakan cara dengan mengira-ngira atau memprediksi kelamin burung tersebut.
Hasil penelitian fakta lapangan menyebutkan bahwa dari pembelian anakan burung kenari yang ada di Desa Ketawang belum tentu sesuai dengan prediksi. Anakan burung yang dibeli pada saat pembelian diprediksi berjenis kelamin jantan berbeda setelah dibawa pulang dan beberapa hari di rumah pembeli ternyata burung tersebut berjenis kelamin betina. Hal ini memberikan ketidaknyamanan antara penjual dan pembeli.
Akhirnya si pembeli burung tersebut mengembalikan anakan burung yang dibelinya kepada si penjual burung.
56
Dalam hal pengembalian anakan burung tersebut terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli. Pembeli protes dan penjual juga tidak mau dirugikan. Kemudian penjual mau menerima kembali burung tersebut dan mengembalikan uang si pembeli tetapi tidak sesuai pada awal pembelian yaitu adanya pemotongan harga. Akhirnya pembeli mau menerima uangnya kembali dengan lebih murah dan merasa dirugikan.
Kasus ini dapat dilihat risiko yang diakibatkan, diantaranya :
1. Barang tidak sesuai dengan pembelian atau pesanan. Resiko ini seringkali terjadi sebab anakan burung kenari yang masih sulit ditentukan jenis kelaminnya.
2. Peluang penipuan. Sama-sama tidak mengetahui jenis kelamin bisa saja saling menipu satu sama lain antara penjual dan pembeli.
3. Terjadinya perselisihan atau tuduh-menuduh antara penjual dan pembeli
4. Bila terjadi perselisihan, dalam pembelian sama-sama dirugikan yaitu pembeli sudah memelihara perawatan dengan biaya, si penjual juga merasa dirugikan seharusnya barang dagangan sudah laku malah kembali lagi dan mengendap.
Berdasarkan risiko tersebut pada praktik jual beli anakan burung kenari belum diketahui kejelasannya yaitu pada kelamin. Kemudian hasil lapangan menunjukkan antara penjual dan pembeli sama-sama tidak mau rugi dalam transaksi. Tetapi jika dilihat yang mendapatkan risiko kerugian
57
secara langsung yaitu pembeli. Sehingga pembeli mendapatkan pertanggungan risiko atas jual beli anakan burung kenari. Sebab ia sudah membeli dan mengeluarkan biaya perawatan saat burung di rumahnya.
Dalam jual beli Islam, adanya risiko atau ketidakpastian. Pada jual beli anakan burung di Desa Ketawang, selain tidak sesuai dengan asas kebenaran sebab barang belum dapat dipastikan kejelasannya. Kemudian juga dalam asas keseimbangan, Pada fakta praktiknya penanggungan resiko memberatkan kepada pembeli. Pemotongan harga dirasakan secara langsung kepada pembeli.
Seperti pada jual beli anakan burung kenari di Desa Ketawang, secara praktik terlihat timpang antara penjual dan pembeli. Seharusnya penjual menyuguhkan barang yang jelas keadaannya yang dapat dipastikan apabila pembeli datang ingin membeli barang dagangannya. Begitu juga kepada pembeli, terlalu berani mengambil risiko dan membeli barang yang belum jelas kepastiannya.
Melihat penanggungan risiko di atas, seharusnya ada semacam perjanjian yang jelas di awal, jadi pada awal pembelian sudah bisa dilihat suatu kesepakatan tersebut sama-sama menguntungkan atau merugikan pihak sebelah. Sehingga apabila kesepakatan di awal sudah di ketahui dan diterima oleh kedua belah pihak terkait, maka antara pihak yang terkait tidak merasa keberatan atau merasa dirugikan dengan transaksi yang dilakukan.
58 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti yaitu tentang praktik jual beli anakan burung di Desa Ketawang Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Objek yang dijadikan transaksi jual beli yaitu anakan burung kenari, secara praktik belum diketahui kejelasan kelaminnya jantan atau betina yang itu sebagai dasar dari pembelian. Dengan adanya kejelasan yang belum pasti tersebut dapat menimbulkan perselisihan, bahkan penipuan yang dapat merugikan diantara pihak terkait. Dalam hukum Islam, transaksi tersebut belum memenuhi objek-objek dalam jual beli.
2. Penanggungan risiko yang terjadi dalam praktik jual beli anakan burung kenari secara hukum Islam belum sesuai dengan prinsip-prinsip keseimbangan. Penanggung resiko kerugian dilimpahkan kepada salah satu pihak yaitu pembeli.
B. Saran
Sesuai dengan kesimpulan hasil penelitian yang dilakukan, sebagai saran penulis berikan sebagai berikut:
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi penelitian yang memiliki fokus yang sama yaitu tentang etika bisnis Islam dalam transaksi jual beli. Kemudian hasil penelitian ini dapat dijadikan cermin peneliti selanjutnya.