• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik Penjualan Desain Kerajinan Ketak Oleh

Dalam dokumen tinjauan hukum ekonomi syariah terhadap (Halaman 106-117)

BAB I PENDAHULUAN

B. Praktik Pembuatan dan Penjualan Desain Kerajinan Ketak

2. Praktik Penjualan Desain Kerajinan Ketak Oleh

semuanya. Tapi pas liat barangnya cuma talinya aja sih yang beda. Ya udah tidak apa-apa sih.”120

2. Praktik Penjualan Desain Kerajinan Ketak Oleh Masyarakat

menjual hasil kerajinannya kepada bosnya saja yang dari sekitar Desa Beleka tersebut.121

Hal demikian dapat diketahui berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan responden peneliti yang bernama Bapak Burhanuddin selaku pemilik artshop Sasa Craft dengan mengatakan “iya, saya menjualnya dengan cara eceran sama grosir. Biasanya grosiran itu yang pengirimannya ke Bali atau luar Lombok lah dia jumlahnya banyak”122

Selanjutnya sama dengan yang diungkapkan oleh bapak Gigi selaku pemilik artshop UD. Dewinlaji, ia mengatakan

“iya saya menjualnya dengan ecer dan grosiran”123

Serupa dengan yang diungkapkan oleh Ibu Sujiati sebagai pengepul sekaligus pemilik atrshop H. Mulia Jati Store yang mengatakan“iye, ecer kance grosir, tie sak bekarungan yakn te atong jok bos, nie baeh kirimn jok Bali.

Terus mun sak ecer jak biasen arakn sekek dua te beli sik dengan-dengan”124Pernyaatn ibu Sujiati tersebut maksudnya bahwa dia sebagai pengepul menjual produk kerajinan ketak itu berdasarkan sistem ecer dan grosir, dimana pembelian dengan grosir oleh pemesan atau itu jumlahnya lebih banyak dan yang pembelian dengan ecer jumlahnya sekitar 1 dan 2.

121ibu Suk (pengrajin), WawancaraDesa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 21 April 2022

122Bapak Burhanuddin (Pemilik artshop Sasak Craft), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 10 Maret 2022

123Bapak Gigi (Pemilik artshop UD. Dewilanji), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 11 Mei 2022

124Ibu Sujiati (Pengepul), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 20 April 2022

Adapun penjualan barang hasil kerajinan yang dihasilkan oleh pengrajin itu hanya hanya dengan menjualnya kepada bosnya yaitu Sebagaimana dengan yang diungkapkan oleh pengepul Ibu Onki yang mengatakan bahwa :

“Kan ite miak olek pesenan bos, berarti ite jualn jok nie.

Nie kan bayahn bareh pire-pire kluekn. Terus bos te nu ye malik jual jok luah mbe jage atau toh bos enie sak olek luahnegeri”125

Pernyataan ibu Onki diatas menjelaskan bahwa dia melakkan penjualn kerajinan yang dihasilkan itu kepada bosnya, sebab bosnya tersebut yang memesan kerajinan itu kepadanya. karena untuk penjualan ke luar negeri itu dilakukan oleh bosnya.

Serupa dengan yang diungkapan oleh Ibu Suk selaku pengrajin yang mengatakan:

“ite mbe te faham kenen jual jok luah tie, ndk te bedue sak te kenal endah. Pokok ite piak brembe pesanan bos, terus lalon te nok jual jok nie. Mun e mesen berartin e meli”126

Pernyataan ibu Suk di atas maksudnya adalah bahwa dia sebagai pengrajin tidak memahami bagaimana cara penjualan ke pembeli yang berasal dari luar daerah tersebut, sebab ia juga tidak memiliki seseorang yang ia kenal. Sehingga ia membuat kerajinan tersebut berdasarkan pesanan bosnya kemudian ia akan menjualnya kepada bosnya tersebut. Ia

125Ibu Ongki (Pengepul), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 11 Mei 2022

126 Ibu Suk (pengrajin), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 21 April 2022

menegaskan bahwa jika bos memesan berarti itu artinya dia akan membelinya.

Berdasarkan pernyataan dari responden di atas, maka untuk penjualan produk desain kerajinan ketak tersebut dilakukan melalui tahap dari pengrajin menjual kepada pengepul, selanjutnya dari pengepul menjual kepada pemilik artshop, dan terakhir dari pemilik artshop menjual atau memasarkannya secara lebih luas yaitu kepada pembeli baik berasal dari lokal maupun luar daerah dan secara ecer maupun grosir

b. Bentuk Penetapan HargaDesain KerajinanaKetak

Harga adalah jumlah nilai yang harus dibayar oleh konsumen kepada penjual dalam mendapatkan barang atau produk yang diinginkannya. Mengetahui bahwa desain kerajinan ketak yang dijual oleh masyarakat desa Beleka itu memiliki jenis dan desain yang beragam, dijual ada yang dalam bentuk mentah atau setengah jadi dan ada yang sudah jadi untuk siap dipakai, serta penjualan kerajinan tersebut dilakukan dengan ecer dan grosiran. Dengan begitu terdapat perbedaan harga dari kerajina-kerajinan tersebut.

Berikut tabel daftar harga produk kerajinan ketak yang dijual oleh masyarakat Desa Beleka, dimana hal ini peneliti rangkum jadi satu dalam hasil wawancara dengan pemilik- pemilik artshop.

Tabel 2.7 Daftar Harga produk Kerajinan Ketak

N Jenis Model Barang Harga

o Barang Ment

ah Jadi Ecer Grosir

1 Tas

Bulat  45.000 40.000

 85.000 75.000 Persegi

 60.000 50.000

 100.00

0 95.000

Oval  45..000 40.000

 85.000 75.000 2 Tempat

Tisu Balok  70.000 65.000

3 Tempat

Buah Bulat  60.000 50.000

4 Tempat

air gelas Bulat  150.00

0

145.00 0 5 Tatakan

gelas Persegi  5.000 3.000

6 Nampan Persegi

panjang  60.000 50.000

Sumber: Data primer wawancara diolah pada tanggal 12 Mei 2022

Selanjutnya penetapan harga produk kerajinan ketak tersebut dilihat dari dua aspek yaitu cara memperoleh kesepakatan, dan aspek sistem jual beli produk

Pertama, praktik penetapan harga dari segi cara memperoleh kesepakatan maksudnya adalah tentang bagaimana harga pada suatu barang atau produk desain kerajinan ketakitu dapat ditetapkan harganya antara penjual dan pembeli. Hal ini tergambar dari ungkapan ibu Suk selaku pengrajin yang mengatakan:

“Kecupu ni semenjak sak corona ye olekn turun harga, semula harga petang dase nani harga tetepn jari dua likur. Terus bos pira jage sikn jual nie aturn dengan.

Murakn ndrk batin te. pokok nani jak te upak lelah lonto. Laguk ndekn ten nok gawekn bai begak-begak.

Nani mun te ngendneg harga lebih ndekn ne nok mele bos te pokok wah te gtok ajin ne dengan semeno wah ndkn te ketaok yak te unin.”127

Pernyataan yang diungkapan oleh Ibu Suk di atas menjelaskan bahwa harga pada kerajinanketakkhusunya yang bentuk kecupu untuk sekarang inisudah mulai menurun semenjak Corona yang pada awalnya sekitaran Rp. 40.000 (empat puluh ribu) menjadi Rp. 22.000 (dua puluh du ribu).

Itu harga yang sudah ditetapkan oleh bos yang membelinya, dan dia sebagai pengrajin tinggal menerima saja dari pada tidak dibeli.

Berbeda dengan yang diungkapkan oleh responden peneliti yang bernama mbak Hersa sebagai pembeli mengatakan:

“Iya sebelumnya memang saya menawarkan harga beli dibawah yang ditawarkan, kemaren saya cuma membeli satu saja, saya membeli tas yang belum dipasang talinya, akhirnya saya memesan untuk dibuatkan talinya dengar warna putih dan ukuran tali yang lebih pendek. Saya ditawarkan harga 85.000 saya tawar harga 50.000, tapi ibu nya tidak mau sampe berkali-kali tawar akhirnya kesepakatan harganya 75.000.”128

Kedua, praktik penetapan harga dari aspek sistem jual beli produk desain kerajinan ketakyaitu pada sistem jual beli ecer dan sistem jual beli grosir. Pada praktiknya penetapan harga jual beli produk desain kerajinan ketak secara ecer dan grosir itu berbeda,dimana harga grosir lebih murah dari pada

127 Ibu Suk (Pengrajin), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 21 April 2022

128Mbak Hersa, Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah,

harga ecer. Misalnya bila sebuah tas yang harga jual ecernya Rp. 85.000 per satuan maka dijual grosiran dengan harga Rp.60.000- Rp 70.000 atau bisa jadi lebih murah dan lebih mahal tergantung jumlahnya.129

Hal demikian, juga sebagaimana yang diungkapkan oleh bapak Burhanuddin selaku pemilik artshop Sasak Craftyang mengatakan:

“saya menjual barang-barang jualan saya ini secara ecer dan grosiran. Biasanya kalau pembeli yang dari luar Lombok itu kan memesannya sekaligus sampai ratusan unit, seperti Bali gitu. Itu perhitungannya memang per unit tapi kita hitungnya lebih murah daripada kita jual 1-2 secara ecer ”130

Hal ini juga dibenarkan oleh pernyataan yang diungkapkan oleh Ibu Sujiati selaku pengepul yang mengatakan:

“Uli, beda nok hargen ecer kance sak grosiran.

Dengan beli barang sak grosiran tie penokn pastilah te bengn korting potongan harga. Misal bos k nani beli sak mentie 100 keluekn muk k beng hargen pituk pulu misaln, terus kamu belin arakn sekek, muk k mbengm harga baluk pulu atau baluk pulu lima menu. Tergantung brembe kmelekm model. Mun sak mentie jek wah biasen dengan gawekn sik penjual- penjual sak lain.”131

Pernyataan dari Ibu Sujiati di atas menegaskan bahwa harga ecer dan grosiran terhadap suatu produk atau barang

129 Ibu Leni (Pemilik Anngun Artshop), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 22 April 2022

130Bapak Burhanuddin (Pemilik Artshop Sasak Craft), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 10 Maret 2022

131Ibu Sujiati (Pengepul), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 20 April 2022

apapun sejenisnya sudah barang tentu dijual dengan harga yang berbeda. Karena menurutnya orang yang membeli secara grosiran tentu itu dengan jumlah yang lebih banyak, sehingga pasti dia akan mendapat potongan harga pada setiap unitnya. Dan baginya ini sudah biasa dilakukan oleh setiap penjual atau pedangang.

c. SistemPembayaran

Pembayaran dalam jual beli kerajinan ketak di Desa Beleka ini peneliti bagi dalam 2 (dua) bentuk, yaitu pembayaran dengan uang muka dan pembayaran tunai setelah barang seleseai dikerjakan. Pertama, Pembayaran dengan uang muka ini biasanya dilakukan oleh pembeli dengan pemilik artshop, dimana pembeli memberikan setengah harga dari sejumlah harga barang yang dipesan tersebut sebagai bentuk jaminan. Kedua, Pembayaran setelah barang selesai dikerjakan ini biasa dilakukan antara pemilik artshop dengan pengepul dan pengepul dengan pengrajin.

Kondisi ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Susan sebagai pemilik Canggih artshop, ia mengatakan:

“Kalau pembeli dari luar daerah itu bayarnya dengan uang muka dulu, nanti kalau sudah selesai dikerjakan pesanannya baru dikirimkan sisa bayarnya itu. Tapi kalau ke pengepul ya nanti setelah barangnya itu sudah selesai dikerjakan baru kita bayar berapa jumlah yang dibuat”

Serupa dengan yang di ungkapkan oleh bapak Gigi, ia mengatakan “Ia kita dikasih uang muka, setengah atau sepertiga dari harga semuanya. Kalau ke pengepul kadang saya bayar setelah jadi semuanya kadang juga saya beri uang

muka dulu”132Pernyataan bapak Gigi dibenarkan oleh Ibu Sri sebagai pengepul, ia mangatakan “Kadang te bayahk bejulu sik bos laguk ndkn harga selapukn, separo meno.”133

Pernyataan serupa dengan yang diungkapkan oleh Ibu Sujiati selaku Pengepul, ia mengatakan “mun olek bos k jak te bayah k lemak sak wah jari pesenan e, pade nok endahaku jok pengrajin. Piran e buek gawen pesanank ampok ke beng e”.134 Pernyataan ibu Sujiati ini menjelaskan bahwa pembayaran yang dilakukan bosnya selaku pemilik artshop dan pembayaran dia kepada pengrajinnya itu dilakukan setelah pesanan atau barang itu selesai dikerjakan.

serupa dengan diungkapkan oleh Ibu Cerinaye Selaku pengrajin dari Ibu Sujiati bahwa ia mengatakan“pokok piran jak taok k serahang barang ni ampok k tebeng bayahn si bos ke. Timakn sak ndk man k gawek selapukn”135Pernyataan Ibu Cerinaye ini menjelaskan bahwa setiap dia menyerahkan barang pesanan bosnya akan diberikan bayarnya berapa jumlahnya meskipun belum seleseai dengan jumlah keseluruhannya.

Pernyataan juga yang diungkapan oleh mbak Hersa selaku pembeli yang mengatakan “iya, saya memesan jenis tas yang modelnya oval terus itu saya bayarnya langsung pas

132Bapak Gigi (Pemilik Artshop UD. Dewilanji), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 11 Mei 2022

133Ibu Sri (Pengepul), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 11 Mei 2022

134Ibu Sujiati (Pengepul), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 20 April 2022

135 Ibu Cerinaye (Pengrajin), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 20 April 2022

mesen itu. Besok pas udah jadi baru saya ambil. Biasanya nanti saya dihubungi lewat WA”136

Berbeda dengan yang diungkapkan oleh Ibu Son sebagai pengrajin, ia mengatakan:

“Pengrajin berembe ntan yak mauk untung, bahan- bahan te beli doang mahel maheln hargan nani, seleke taek. Separo bareh mun te bayah langsung.

Lemak pas laku barangn separo seminggu. Lemak lamun ndk man laku ndkn nok te bayah. Pokok piran jak sak laku taok e bayahn. Timak sak nani penok dengan beli laguk ndrk mauk te sak jari pengrajin, nani ite lalo atongang e muk te bayah ongkir doang seribu per barang tie, jarikn taekn seribu.”137

Pernyataan dari Ibu Son di atas menjelaskan bahwa pembayaran barang yang dibeli bosnya apabila sudah barang tersebut laku, dan jika belum maka barang tersebut tidak bisa diberikan bayarnya. Diberikan upah Rp.1000 per unit barang apabila pengantaran barang dilakukan oleh pengrajin sendiri.

136Mbak Hersa (Pembeli), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 22 April 2022

137 Ibu Son (Pengrajin), Wawancara, Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah, 21 April 2022

BAB III

TINJAUAAN HUKUM EKONOMI SYARIAH TERHADAP PRAKTIK PEMBUATAN DAN PENJUALAN DESAIN KERAJINAN KETAK OLEH MASYARAKAT DESA BELEKA

KABUPATEN LOMBOK TENGAH

Hak Kekayaan Intelektual termasuk bidang desain industri dalam sudut pandang fikihkontemporerdikelompokan sebagai harta kekayaan.

HKI merupakan suatu aset yang bernilai ekonomiyang diperlukan perlindungan hukum baik dalam undang-undang atau peraturanlainnya.

Menemukan sebuah ide untuk mengkreasikan suatu yang dapat memberikanmanfaatdan memiliki nilai ekonomis bukan merupakan hal yang mudah,tidak semua orang mampu untuk melakukannya. Sebab membutuhkan kemampuanberpikir, kreatifitas, ide, dan keterampilan.

Keterampilan dalam bidang kesenian dapat diwujudkan dalam melakukan aktivitas membuat suatu desain kerajinan tangan sebagai kegiatan ekonomi yang dapat mendatangkan manfaat di dalamnya, karena diketahui bahwa produk yang dihasilkan dari keterampilan ide atau pengetahuan dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan ekonomi termasuk melalui jalur perniagaan. Perniagaan adalah kegiatan bermuamalah yang memiliki sifat dasarrabbani dan ilahiah, artinya bahwa ia dilandasi dengan nilai-nilai tauhid yaitu segala sesuatu atas kehendakAllah swt., serta di dalamnya juga mengandung makna bahwa kegiatan tersebutbertujuan untuk memakmurkan umat manusia dan bukan untuk kemakmuranataupun sebagai kekayaan pribadi semata.

Aktivitas tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakkat Desa Beleka Kabupaten Lombok Tengah dalam melakukan kegiatan ngulat untuk membuat produk desain kerajinan tangan ketak. Dimana hal

itu sudah lama dipraktikan oleh leluhur masyarakat Desa Beleka, sehingga praktik kerajinan seperti itu adalah suatu warisan pengetahuan yang dipertahankan dan dikembangkan hingga saat ini.

Berkaitan dengan itu, peneliti akan menganalisis mengenai temuan data yang dipaparkan pada bab sebelumnya, antara lain sebagai berikut:

A. Analisis Terhadap Praktik Pembuatan Desain Kerajinan Ketak

Dalam dokumen tinjauan hukum ekonomi syariah terhadap (Halaman 106-117)