BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Prevalensi dan Intensitas Ektoparasit pada Ikan Mujair
Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa nilai prevalensi, intensitas, dominansi parasit pada ikan mujair dan kualitas air di Situ Malangnengah. Nilai prevalensi berfungsi untuk mengetahui seberapa banyak sampel ikan yang terinfeksi ektoparasit. Intensitas adalah nilai yang diperoleh dari jumlah individu ektoparasit yang ditemukan pada satu ekor ikan. Nilai tersebut berfungsi untuk mengetahui tinggi rendahnya infeksi ektoparasit. Nilai prevalensi dan intensitas pada ikan mujair disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Prevalensi dan intensitas ektoparasit yang ditemukan pada organ ikan mujair
Keramba Filum Genus
ektoparasit
P (%)
Kategori I (Ind/
ekor)
Kategori
Protozoa Apiosoma sp. 3 Kadang 2 Rendah
Trichodina sp. 87 Sedang 39 Sedang 1. Vorticella sp. 13 Sering 1 Rendah Platyhelminthes
Dactylogyrus sp. 13 Sering 1 Rendah Gyrocadtylus sp. 7 Kadang 1 Rendah
Protozoa Apiosoma sp. 7 Kadang 2 Rendah
Epistylis sp. 3 Kadang 4 Rendah
2. Trichodina sp. 97 Parah 16 Sedang
Vorticella sp. 40 Biasa 5 Rendah Platyhelminthes Dactylogyrus sp. 7 Kadang 1 Rendah Protozoa Epistylis sp. 10 Sering 3 Rendah Trichodina sp. 93 Parah 11 Sedang 3. Vorticella sp. 3 Kadang 2 Rendah Platyhelminthes
Dactylogyrus sp. 17 Sering 2 Rendah Gyrodactylus sp. 3 Kadang 1 Rendah Keterangan : P = Prevalensi (%) I = Intensitas (Individu/ekor)
Ind = Individu
Berdasarkan hasil yang didapat pada tabel 4. menunjukan bahwa ektoparasit yang memiliki nilai prevalensi dan intensitas tertinggi pada ketiga keramba adalah genus Trichodina sp. Genus ektoparasit Trichodina sp. yang ditemukan pada keramba pertama (87%), keramba kedua (97%) dan keramba
ketiga (93%). Berdasarkan tingkat kriteria prevalensi menurut William (1996) bahwa Trichodina sp. yang ditemukan pada ikan mujair keramba pertama termasuk ke dalam kategori infeksi sedang. Keramba kedua dan ketiga termasuk dalam kategori hampir selalu yaitu yang memiliki nilai prevalensi kisaran 90 – 98%.
Nilai intensitas tertinggi dari genus Trichodina sp sebesar 39 individu/ekor, keramba kedua sebesar 16 indvidu/ekor dan keramba ketiga 11 individu/ekor.
Keramba pertama memiliki nilai intensitas tertinggi sebesar 39 individu/ekor masuk ke dalam kategori sedang. Hal ini sesuai dengan kriteria intensitas ektoparasit menurut William (1996) bahwa nilai intensitas sebesar 6 -55 individu/
ekor dikategorikan sedang.
Tingginya nilai prevalensi dan intensitas ektoparasit Trichodina sp. dapat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan ektoparasit tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan pada ketiga keramba, lingkungan disekitar keramba jaring apung berdekatan dengan saluran limbah rumah tangga dan buangan sampah masyarakat. Menurut Pramono dan Hamdan (2008) kualitas air yang buruk dapat menyebabkan ikan menjadi stres dan mengakibatkan ektoparasit Trichodina sp. dapat berkembang dengan cepat.
Suhu air pada ketiga keramba merupakan suhu yang optimal bagi kehidupan Trichodina sp. yaitu berkisar 25-29°C. Pernyataan tersebut didukung oleh Fisheries and Aquaculture of FAO (1985) dalam (Lestari, 2011) bahwa parasit Trichodina sp. dapat berkembang biak dengan baik pada suhu 20-29°C. Penelitian Lestari (2011) memeriksa ektoparasit Protozoa Trichodina sp. pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) di Desa Ngabetan Kabupaten Gersik memperoleh nilai prevalensi sebesar 56,7%. Nilai tersebut termasuk ke dalam kategori infeksi sangat sering. Hal ini dapat disebabkan karena sumber air yang berasal dari kali Lamongan yang bersamaan dengan limbah rumah tangga dan terjadi pencemaran.
Ektoparasit yang memiliki nilai prevalensi terendah pada keramba pertama adalah Apiosoma sp. yaitu 3%. Rendahnya nilai prevalensi tersebut dapat
26
disebabkan karena ektoparasit Apiosoma sp. tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Penelitian Riko (2012) memeriksa ektoparasit pada ikan bandeng dan menemukan ektoparasit Apiosoma sp. dengan presentase 0,01% dan diduga ektoparasit tersebut tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan sehingga tidak dapat berkembang dengan baik. Menurut Nurhalimah (2017) selain hidup pada inang seperti ikan, genus ektoparasit Apiosoma sp. umumnya juga hidup pada tanaman air. Berdasarkan kondisi keramba pertama, tidak ditemukan tanaman air yang dimanfaatkan oleh Apiosoma sp. yang diduga rendahnya jumlah ektoparasit Apiosoma sp.
Ektoparasit yang memiliki nilai prevalensi terendah pada keramba kedua adalah genus Epistylis sp. (3%). Rendahnya kehadiran ektoparasit Epistylis sp.
pada keramba pertama didukung oleh parameter kualitas air seperti suhu yang berbeda dengan suhu optimum pada pertumbuhan Epistylis sp. Suhu pada keramba pertama adalah dengan rata-rata 26,3°C. Menurut Ma dan Overstreet (2006) pertumbuhan Epistylis sp. dapat bereproduksi dengan optimum pada suhu air 10-25°C.
Ektoparasit Epistylis sp. dan Vorticella sp. pada umumnya ditemukan pada kepiting dan udang. Hal ini didukung oleh penelitian Muttaqin (2018) yang menemukan Epistylis sp. (955) individu dan Vorticella sp. (98) individu pada kepiting bakau (Scylla spp.) di ekosistem mangrove Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali. Penelitian lain dari Susilo (2018) menemukan Epistylis sp. pada udang windu (Panaeus monodon) sebanyak 159 individu dari 10 ekor udang yang diperiksa. Keberadaan lobster diluar keramba jaring tancap di Situ Malangnengah merupakan salah satu faktor munculnya ektoparasit Epistylis sp. dan Vorticella sp.
pada ikan mujair.
Nilai prevalensi terendah pada keramba ketiga adalah genus Vorticella sp.
dan Gyrodactylus sp. yaitu 3%. Nilai intensitas terendah ditemukan pada ketiga keramba adalah genus Vorticella sp., Dactylogyrus sp. dan Gyrodactylus sp. yaitu sebanyak 1 indvidu/ekor. Nilai tersebut termasuk kedalam kategori rendah. Hal ini sesuai dengan kategori menurut William (1996) bahwa nilai intensitas yang berkisar 1-5 individu/ekor meupakan kategori rendah. Salah satu penyebab
rendahnya nilai prevalensi dan intensitas adalah parameter kualitas air seperti suhu. Suhu air di keramba Situ Malangnengah berkisar 25-26°C. Menurut Hassan (2008) parasit dari kelompok Monogenea pada suhu air 30-32°C merupakan suhu yang dimanfaatkan untuk memproduksi telur lebih banyak. penelitian lain dari Muttaqin (2018) yaitu menemukan ektoparasit Vorticella sp. pada kepiting bakau dengan jumlah 98 individu dengan suhu air 30-32°C. Perbedaan suhu pada keramba di Situ Malangnengah dengan suhu optimum untuk pertumbuhan ektoparasit tersebut diduga menjadi salah satu faktor rendahnya nilai prevalensi dan intensitas.
Ketiga keramba di Situ Malangnegah terdiri dari 100-300 ekor ikan mujair.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingginya nilai prevalensi dan intensitas adalah padatnya ikan dalam setiap keramba. Menurut Hardi (2015) Ikan yang memiliki aktivitas tinggi cenderung lebih sering berinteraksi dengan cara kontak langsung dengan ikan lain sehingga menyebabkan ikan lebih mudah terinfeksi penyakit seperti munculnya ektoparasit.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi kehadiran parasit adalah ukuran dan umur ikan. Ikan yang diamati memiliki ukuran tubuh berkisar 10 -15 cm dengan umur 2-3 bulan. Ukuran ikan yang besar dapat dimanfaatkan parasit untuk berkembangbiak dari waktu ke waktu (Putri, 2016). Ikan yang berumur muda atau benih lebih rentan terkena parasit dibandingkan ikan yang sudah dewasa.
Peryataan ini didukung oleh penelitian Putri (2016) yang menemukan nilai prevalensi tertinggi pada ikan mas karena ikan yang digunakan sebagai sampel adalah ukuran benih.