• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL SANITASI SAAT INI

10. Kawasan Khusus, yakni Kawasan Sekitar Bandar Udara, Kawasan Militer, Sekitar Gudang Amunisi

2.3. Profil Sanitasi Saat Ini 1. Air Limbah Domestik

• Tidak terjadi banjir di 98% wilayah. mengalami banjir beberapa kali dalam setahun.

Sumber: SSK tahun 2012, EHRA 2016 dan Analisa Pokja Sanitasi Kab. Malang 2016.

Catatan:

*) Berdasarkan Buku Putih periode sebelumnya

**) Perbedaan dari target yang telah ditetapkan (menggunakan data dasar sebagai dasar perhitungannya)

Dari tabel 2.8. terlihat bahwa layanan sektor drainase yang dilakukan mengalami peningkatan. Jika sebelumnya keberadaan saluran drainase di sekitar rumah mencapai 74% dan 26% tidak terlihat adanya saluran drainase disekitar rumah,saluran terbuka mencapai 73% dan saluran tertutup tidak terlihat mencapai 27% serta banjir terjadi banjir di 98% wilayah, pada saat ini

94.1% warga menyatakan tidak pernah terkena banjir. Warga yang menyatakan pernah mengalami banjir sekali dalam setahun sebanyak 2.4% dan 3.3% menyatakan mengalami banjir beberapa kali dalam setahun. Dari hasil analisa pokja diketahui bahwa banjir yang terjadi disebabkan oleh faktor alam (Rob).

2.3. Profil Sanitasi Saat Ini

2.3.1. Air Limbah Domestik

Prasarana pengolahan limbah di Kabupaten Malang perlu perhatian yang lebih. Hal ini karena terkait langsung dengan

Kelompok Kerja Sanitasi dan Air Minum 60

derajat kesehatan masyarakat. Sistem pembuangan limbah yang terdapat di Kabupaten Malang, hampir semuanya menggunakan sistem setempat. System setempat yang lazim dan banyak digunakan masyarakat adalah septik tank skala rumah tangga. Selain itu, ada juga MCK komunal, baik yang biasa maupun yang Plus untuk pemanfaat sekitar 10-20 rumah. System yang lain yang juga banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan adalah WC cubluk. Di wilayah perkotaan, beberapa kecamatan yang padat sudah mengimplementasikan IPAL Komunal dengan pemanfaat maksimal 100 KK. Sedangkan untuk buangan limbah cucian (grey water) rumah tangga biasanya langsung dibuang atau dialirkan ke sungai atau saluran pematusan.

Kegiatan yang berpotensi menimbulkan pencemaran di Kabupaten Malang adalah kegiatan yang berasal dari rumah tangga inilah yang berkonstribusi membuang limbah paling banyak yaitu berkisar ± 70 % jika dibanding kegiatan-kegiatan lain yang hanya sekitar 15-20 % saja. Untuk mengolah limbah cair rumah tangga, Pemerintah Kabupaten Malang telah mengupayakan bantuan dan fasilitas berupa pembangunan IPAL komunal bagi industri skala kecil dan rumah tangga. Pada saat ini telah diadakan wacana mengenai kemungkinan dibangunnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal skala lingkungan. Dimana pilot project akan diuji cobakan pada daerah-daerah yang kepadatan penduduknya sangat tinggi pada tahun 2014 sampai 2020

2.3.1.1. Sistem dan Infrastruktur

Air limbah yang dimaksud adalah air limbah permukiman (municipial wastewater) yang terdiri dari atas yang pertama black water yaitu air limbah domestik (rumah tangga) yang berasal dari tinja manusia, urine, air pembersih, air pengelontor dan kertas

Kelompok Kerja Sanitasi dan Air Minum 61

pembersih dan yang kedua grey water yaitu air limbah domestik yang berasal dari air cucian dapur dan cucian pakaian. Pengolahan air limbah domestik dengan On-site System banyak dijumpai di Perkotaan Kabupaten Malang. Adapun teknologi atau pengolahan yang dipakai pada On-site system ini adalah jamban yang biasanya dibangun di masing-masing rumah atau di tempat-tempat tertentu dan dipakai secara bersama atau kolektif untuk beberapa rumah tangga. Penyediaan jamban ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor ekonomi dan ketersediaan lahan.

Tingkat ekonomi penduduk sedang dan tinggi mampu untuk membuat toilet yang memenuhi syarat di rumah masing-masing, sedangkan untuk masyarakat dengan penghasilan sedikit/rendah biasanya tidak bisa membuat jamban sendiri tetapi mereka mendapatkan fasilitas berupa jamban secara kolektif. Pada kenyataannya sampai saat ini masih sering dijumpai masyarakat yang memanfaatkan sungai sebagai tempat mandi dan buang air besar atau pekarangan belakang rumah. Hal ini yang masih dijumpai pada masyarakat di pedesaan Kabupaten Malang.

Untuk melihat secara terinci system pengelolaan air limbah domestic di Kabupaten Malang, dapat dicermati dari diagram system sanitasi pada gambar 2. Dalam gambar tersebut terlihat bahwa system pengelolaan air limbah domestic yang paripurna harus melewati lima tahap, yakni:

- User Interface berupa jamban leher angsa penerima blackwater (tahap satu),

- Tinja disalurkan melalui septik tank yang standar (tahap kedua), - Septik tank secara berkala disedot menggunakan truk tinja

Kelompok Kerja Sanitasi dan Air Minum 62

- Truk tinja membuang lumpur tinja hasil penyedotan dari rumah tangga ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) (tahap keempat).

- Tahap terakhir adalah pengolahan lumpur tinja dalam dua fase, yakni fase padat diolah menjadi pupuk dan fase cair, yaki effluent nya bisa dibuang ke badan air penerima atau sungai. Namun sayangnya, hanya sedikit rumah tangga yang membuang lumpur tinja ke IPLT. Hal ini dikarenakan IPLT baru dioperasikan pada tahun 2015 dengan dibarengi pembentukan Satgas Penyedotan Lumpur Tinja. Satgas ini melakukan penyedotan lumpur tinja pada fasilitas umum dan permintaan KSM pengelola IPAL Komunal.

Gambar 2.5 Diagram Sistem Air Limbah Domestik

Sumber : Pokja Sanitasi (diolah) 2016

Berdasarkan hasil study EHRA 2016 dapat diketahui persentase pembuangan air kotor/ limbah tinja manusia dan lumpur tinja di Kabupaten Gresik sesuai dengan grafik 2.1

Kelompok Kerja Sanitasi dan Air Minum 63

Grafik 2.1. Tempat Buang Air Besar

Sumber : Studi EHRA 2016

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa 96.3% masyarakat Kabupaten Malang telah melakukan praktek buangan air besar di jamban karena telah memiliki jamban pribadi. Bahkan tidak ada yang melakukan praktek BABS langsung ke lubang galian. Namun hasil berbeda ditunjukkan terkait penyaluran buangan akhir tinja. Dimana 57% responden saja yang tempat penyaluran akhir tinjanya di septik tank. Sebanyak 33,7% responden melakukan pembuangan tinja dengan model cubluk/lobang tanah. Sisanya, dibuang ke saluran drainase, sungai, kebun dan tanah lapang.

Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan buang air besar di jamban tidak diikuti dengan pemahaman minimal terkait pengelolaan air imbah domestic yang aman untuk lingkungan, yakni menyalurkan air limbah tinja dan mengolahnya ke dalam septik tank yang standar. Hasil studi EHRA lebih jauh dapat dilihat pada grafik berikut :

A. Jamba n pribadi B. MCK/ WC Umum C. Ke WC heliko pter D. Ke sungai /pantai /laut E. Ke kebun/ pekara ngan F. Ke seloka n/parit /got G. Ke lubang galian H. Lainny a I. Tidak tahu Ya 96.3 0.4 0.2 7.6 0.1 0.1 0 0.6 0.1 Tidak 3.7 99.6 99.8 92.4 99.9 99.9 100 99.4 99.9 0% 20% 40% 60% 80% 100%

D. 1 Dimana anggota keluarga yang sudah

Dokumen terkait