BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Proses Pelembagaan
Roucek dan Warren (1984), menyebut lembaga sebagai pola organisasi untuk memenuhi berbagai keperluan manusia, yang lahir dengan adanya berbagai budaya sebagai satu ketetapan untuk menggunakannya yang tetap, memperoleh konsep kesejahteraan masyarakat, dan melahirkan suatu struktur.
(Pdfsearchengine.com/ fisip- strategi kebudayaan2)
Lembaga pada mulanya terbentuk atas dorongan kesamaan pandangan, hasrat dan keinginan bersama manusia untuk hidup secara teratur. Cita-cita tentang keteraturan hidup ini berpusat pada tatanan normatif hubungan antar angota masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Penataan,
pemeliharaan dan pengekalan keteraturan hubungan antar anggota masyarakat itu sangat tergantung pada intensitas kesadaran bersama terhadap fungsi norma- norma sosial yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Apabila kemudian secara sadar norma-norma sosial itu diakui, dihormati dan dipatuhi bersama sebagai satu-satunya alternatif yang dapat berfungsi memelihara stabilitas hubungan sosial dan dapat mendorong kemudahan dalam usaha memenuhi kepentingan-kepentingan kelompoknya, maka kehidupan kelompok ini akan semakin mapan dan terpola dalam bentuk lembaga sosial.
2.5.1. Modal Sosial Dan Jaringan-Jaringan Sosial
Tesis sentralnya adalah pentingnya hubungan dengan membangun hubungan satu sama lain, dan memeliharanya agar terjalin terus, orang dapat bekerjasama untuk memperoleh hal yang sebelumnya tidak dapat mereka capai seorang diri, atau jika seorang diri hanya dapat di capai dengan kesulitan besar.
Manusia dapat berhubungan dalam seri jaringan dan mereka cenderung berbagi nilai-nilai umum bersama angota-anggota lain dalam jaringan tersebut ; sampai pada tingkat bahwa jaringan-jaringan itu membentuk suatu sumber daya, yaitu dapat di lihat sebagai pembentukan jenis modal. Selain sangat bermanfaat dalam konteks-konteks yang yang dekat, cadangan modal ini sering dapat di tarik pada bidang-bidang lainya. Kemudian, semakin banyak orang yang anda kenal dan semakin banyak anda berbagi pandangan umum dengan mereka, semakin kayalah modal social anda ( Field, 2005, 1). Dari defenisi di atas dapat di katakan bahwa
modal social bukan hanya berupa sesuatu yang bersifat materi, namun modal social dapat juga merupakan hal yang di akibatkan pola interaksi yang di bangun antar satu individu dengan individu lainnya.
2.5.2. Hubungan-Hubungan Dalam Ekonomi
Menurut Putnam (1993), Ada banyak literature umum mengenai peranan jaringan-jaringan sosial dalam tingkah laku ekonomi. Telah lama diketahui bahwa kontak-kontak personal membantu para pencari kerja dengan cara yang sangat efektif untuk menemukan kedudukan-kedudukan baru dan promosi-promosi yang berdaya guna, karena sejak tahun 1990-an membludak jaringan perusahaan- perusahaan, para peneliti dan pembuat kebijakan dianggap sebagai factor yang menentukan dalam mendorong inovasi dan menyempurnakan pelaksanaan persaingan. Selanjutnya, Putnam mengklaim bahwa masyarakat yang berhubungan dengan baik dapat melaksanakan ekonomi secara menyeluruh daripada masyarakat yag tidak saling berhubungan (Field 2005: 45).
Suatu studi di Kanada tentang orang-orang yang mendapat kesejahteraan jangka panjang selama pertengahan tahun 1990-an menunjukkan bahwa pengaruh modal sosial pada kemungkinan menemukan jalan kesejahteraan lebih besar daripada setiap factor lain, termasuk modal manusia dan karakteristik demografis (Levesque dan White 2001).
Jaringan- jaringan telah lama dilihat sangat penting bagi keberhasilan
dengan luas sebagai suatu sumber informasi penting, yang sangat menentukan dalam mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang bisnis (Hendry et al. 1991: 16; Mullholland 1997 703-6). Jaringan-jaringan itu dapat juga meyediakan akses financial (Bates 1994: 674). Modal sosial juga telah dianggap sebagai suatu asset berkenaan dengan pasar dan tenaga kerja; bahkan ketika direkrut melalui pranata, baik konsumen maupun para pekerja dikatakan menunjukkan suatu kosetiaan dan komitmen yang lebih besar daripada yang mungkin menjadi persoalaan bagi orang-orang asing secara total (Bates 1994;674). Jaringan-jaringan juga dianggap member kontribusi yang pada model manajemen yang konsisten dan stabil yang pada gilirannya sungguh vital perusahaan-perusahaan sanggup bertahan pada tantangan-tantangan eksternal (Hendry et al. 1991: 17). Ada beberapa petunjuk mengapa sebuah asosiasi bisa menjadi lebih kuat, hal ini di dukung oleh karya yang lebih rinci dari Narayan dan Pritchitt, dalam studi mereka di pedalaman Tanzania yang menfsirkan, bahwa variasi modal sosial pada tingkat pedesaan mempunyai pengaruh yang lebih besar pada tingkat penghasilan daripada perubahan-perubahan ekuivalen baik dalam modal manusia maupun asset-aset fisik (Narayan dan Pritchitt 1999: 274).
2.5.3. Manfaat-Manfaat untuk Kesehatan dan Kesejahteraan
Ide menghubungkan kohesi sosial dan kesejahteraan sudah ada selama satu abad. Pada akhir abad kesembilan belas, Durkheim menunjukkan bahwa
tingkat bunuh diri lebih tinggi di kalangan orang-orang yang mempunyai tingkat integrasi sosial yang rendah, dan lebih rendah dalam komunitas-komunitas yang terikat kuat. Pembuktian atas asosiasi umum di antara tingkat-tingkat kesehatan dan ikatan-ikatan sosial telah diterima umum sejak tahun 1970-an, ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mempunyai jaringan-jaringan sosial yang kuat mempunyai tingkat kematian setengah atau sepertiga dari tingkat kematian orang-orang yang mempunyai ikatan-ikatan sosial yag lemah (Whithead dan Didrichsen 2001). Pembuktian lebih jauh tentang hubungan ini terus bertambah.
Suatu perbandingandi Finlandia di antara kesehatan-kesehatan kaum minoritas berbahasa Swedia dengan sisa penduduk lainnya, mengungkapkan bahwa tingkat kematian yang lebih rendah dan kehidupan yang lebih lama dari kaum yang minorotas- yang makanan dan cara hidupnya tidak berbeda- diasosiasikan dengan
‘ketidaksamaan dalam integrasi sosial’ (Hyppa an Maki 2001). Suatu studi komparatif pada komunitas-komunitas local di kalangan usia lanjut di daerah tambang batubara Yorksire Selatan menunjukkan bahwa tingkat-tingkat resiproksitas yang lebih tinggi adalah di asosiasi secara dekat dengan skor-skor kesehatan yang lebih tinggi (Green et al. 2002).