• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Proses Revitalisasi Pasar Tradisional Pekalongan

Revitalisasi adalah salah satu program yang dilakukan oleh pemerintah untuk memvitalkan kembali suatu daerah yang dulu pernah hidup namun mengalami kemunduran atau degradasi.4Sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun anggaran 2015- 2019 di era kepemimpinan presiden Jokowi pemerintah pusat melalui kementrian perdagangan telah mencanangkan program revitalisasi pasar rakyat sebagaiupaya menjaga dan melestarikan pasar rakyat agar tidak punah.5 Dengan adanya peraturan kementrian tersebut maka Pemerintah Daerah Lampung Timur melakukan program revitalisasi berdasarkan dengan hukum dasar Undang-undang nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan, yang dijelaskan pada pasal 13 yang mengamanatkan bahwa pemerintah bekerja sama dengan pemerintah daerah melakukan pembangunan, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas pengelolaan pasar rakyat dalam rangka peningkatan daya saing yang dilakukan dalam bentuk Revitaisasi pasar rakyat. Revitalisasi ini dilakukan karena kondisi pasar tradisional yang sangat memprihatinkan karena bangunan yang sudah tua dan rapuh, fasilitas yang kurang memadai, area parkir yang sempit, sering banjir dan becek ketika musim penghujan, sampah yang berserakan akibat dari kurangnya bak penampungan sampah sehingga menyebabkan bau yang menyengat, dan rusaknya fasilitas-fasilitas yang sudah ada. Faktor-faktor tersebutlah yang menimbulkan ketidak

4Mufna Mubdiatun Nida, Jurnal Pembangunan wilayah dan kotaEvaluasi Kebijakan Revitalisasi Pasar Tradisional Di Kota Surakarta, vol 10 (2): 166-174, juni 2014, 170

5Endi Sarwoko, Jurnal Ekonomi Modernisasi Dampak Keberadaan Pasar Modern Terhadap Kinerja Pedagang Pasar Tradisional di wilayah Kabupaten Malang (Universitas Kanjuruhan Malang), Vol 4, Nomer 2/Juni 2008,101.

38

nyamanan penjual dan pembeli saat berada di pasar.Dengan landasan hukum tersebut maka pemerintah setempat dan petugas pasar bekerjasama untuk melaksanakan program revitalisasi pasar tradisional. Tujuan revitalisasi itu sendiri adalah untuk :

1. Menghilangkan citra negatif pasar (bau, kumuh,becek dsb).

2. Memberikan fasilitas-fasiltas yang memadaisehingga mampu memberikan rasa aman dan nyaman untuk pedagang maupun pembeli.

3. Serta dapat meningkatkan kembali eksistensi pasar tradisional sehingga tidak mengalami degradasi akibat dari persaingan pasar modern yang semakin banyak peminatnya.

4. Dapat menjadi roda penggerak perekonomian masyarakat maupun pemerintahan setempat.

Pasar Tradisional Pekalongan di revitalisasi pada tahun 2015 dan mulai beroprasi pada tahun 2017. Pengelola pasar juga bekerjasama dengan para pedagang dengan mengalihkan sementara para pedagang ke Tempat Perdagangan Sementara/TPS di lapangan merdeka. Ada sebagian pedagang yang memilih untuk tidak berdagang selama pasar di renovasi dan ada juga pedagang yang tetap berdagang di Lapangan Merdeka hingga proses renovasi pasar selesai. Pedagang mendirikan toko sementara di TPS dengan menggunakan papan tujuannya adalah jika pasar sudah selesai di bangun dan dapat di tempati kembali maka para pedagang dapat dengan mudah membongkar toko papan yang sudah ia dirikan. Sementara aktivitas perdagangan sudah dialihkan, perombakan pasar mulai dilakukan yaitu

dengan meratakan bangunan secara keseluruhan dengan menggunakan alat berat. Area proyek pun dibatasi dengan pagar seng tujuannya agar para pekerja tidak terganggu dengan lingkungan yang berada di luar.

Pembangunan pasar dilakukan secara bertahap mulai dari pembangunan kios ukuran 3x3 M2, dan ukuran 2,5 x 2,5 M2, pembangunan dua gedung untuk los dengan ukuran meja keramik 2x1,5 M2serta pembangunan infrastruktur lainnya. Tujuan dari pembangunan tersebut selain untuk menata ulang pasar adalah untuk menertibkan para pedagang berjualan. Berikut adalah data kios dan los pasar Pekalongan yang diperoleh dari petugas pasar tradisional Pekalongan :6

Tabel 1

Data Kios dan Los Pasar Pekalongan No Rincian /

Objek Ukuran Jumlah Objek

1 Kios 3 x 3 180

2 Kios 2,5 x 2,5 144

3 Los 2 x 1,5 201

JUMLAH 525

Berdasarkan tabel diatas merupakan data jumlah kios dan los beserta ukurannya yang ada di pasar tradisional Pekalongan. Masing-masing bangunan mempunya ukuran sendiri supaya pedagang bisa memilih sendiri tempat berdagang sesuai dengan kapasitas barang komoditasnya.

Setelah pasar selesai di renovasi nantinya petugas akan mendata pedagang untuk penempatan bangunan baru setelah pedagang mendaftarkan diri ke kantor pengelola pasar. Tentunya pedagang juga harus menyetorkan

6Wawancara bapak Candra salah satu staf tata usaha pasar tradisional Pekalongan, tanggal 23 November 2021

40

berkas atau syarat-syarat yang akan digunakan untuk pendataan dan berkas tersebut akan di kirimkan ke pemerintah daerah pusat. Semua berkas yang masuk akan di periksa dan diseleksi, bagi pedagang yang lengkap dan lulus berkasnya maka akan mendapatkan surat izin penempatan usaha/bangunan.

Pedagang nantinya akan ditertibkan dan akan di golongkan sesuai dengan jenis barangdagangannya. Berikut ini adalah data bangunan berdasarkan komoditasnya antaralain:

Tabel 2

Komoditas Barang Dagangan

Berdasarkan tabel diatas terdapat pengelompokan barang komoditas sesuai dengan bangunannya. Kios digunakan untuk berjualan kebutuhan sandang dan papan sedangkan los digunakan untuk berjualan kebutuhan pangan. Hal ini dilakukan adalah untuk mempermudah pembeli untuk memilih dan mendapatkan barang sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan menciptakan suasana pasar yang rapih, bersih dan nyaman.

Pak Candra, menuturkan bahwa setelah adanya program revitalisasi pasar menjadi ramai kembali. Tidak hanya pembeli saja yang meramaikan pasar untuk sekedar membeli barang kebutuhan tetapi pedagang juga ikut meramaikan pasar dengan berjualan aneka barang kebutuhan. Setelah

Lantai Dasar Jenis Dagangan

Kios Pakaian, kosmetik, perabotan, sandal, sepatu, tas, obat-obatan, jasa jaitan, peralatan sekolah, perhiasan, mainan anak-anak.dsb

Los Sayur-sayuran,buah-buahan, sembako, ikan, daging, ayam, makanan ringan, bumbu-bumbu dapur, tahu tempe, telur, Dsb.

pendataan ulang terdapat perbedaan jumlah pedagang di pasar tradisional, berikut ini adalah data yang di peroleh dari petugas setempat:7

Tabel 3

Jumlah pedagang Sebelum dan Sesudah Revitalisasi No Jenis

Bangunan

Pedagang Sebelum Revitalisasi

Pedagang Sesudah Revitalisasi

1 Kios 140 orang 313 orang

2 Los 97 orang 192 orang

3 Emperan 50 orang 20 orang

Jumlah 287 0rang 525

Pada tabel diatas diketahui bahwa jumlah pedagang mengalami peningkatan dimana sebelum revitalisasi jumlah pedagang sebanyak 287 orang sedangkan sesudah di revitalisasi berjumlah 525 orang. Berikut ini merupakan data kios dan los yang beroprasi sebelum dan sesudah revitalisasi :

Tabel 4

Data Kios dan Los Sebelum di Revitalisasi No Rincian /

Objek Ukuran Jumlah

Objek Buka Tutup

1 Kios 2,5 x 2,5 M2 150 140 10

2 Los 2x1,5 M2 100 97 3

3 Emperan 50 50 -

JUMLAH 300 287 13

Tabel 5

Data Kios dan Los Sesudah Revitalisasi No Rincian /Objek Ukuran Jumlah

Objek Buka Tutup

1 Kios 3 x 3 180 177 3

2 Kios 2,5 x 2,5 144 136 8

3 Los 2 x 1,5 201 192 9

4 Emperan 20 20 -

JUMLAH 545 525 20

7Wawancara bapak Candra salah satu staf tata usaha pasar tradisional Pekalongan, tanggal 23 November 2021

42

Berdasarkan dari dua tabel di atas merupakan perbandingan antara jumlah kios dan los yang beroprasi sebelum dan sesudah revitalisasi. Dari tabel keduanya dapat kita simpulkan bahwa terdapat kenaikan penggunaan setelah revitalisasi dimana terdapat penambahan objek bangunan yang sebelumnya objek bangunan hanya 300 dan yang terpakai 287. Sedangkan setelah penambahan objek bangunanberjumlah 545 dan yang terpakai 525.

Pak Candra juga menjelaskan bahwa kebanyakan pedagang lama masih berdagang kembali di pasar setelah revitalisasi ada sebagian juga pedagang yang baru. Jika ada pergantian pedagang itu biasanya terjadi karena pedagang yang sebelumnya sepi atau kehabisan modal ataupun ingin mengganti peruntungan yanglain dengan membuka usaha yang baru. Adapun kios dan los yang tutup itu dikarenakan tidak ada penjual yang menepati biasanya karena sewa tempat yang mahal atau kurang strategis letaknya. Status kepemilikan lahan dan bangunan adalah milik pemerintah. Penempatan kios maupun los itu gratis pihak kantor hanya jadi perantara saja. Jika ada yang menjual/disewakan kios itu haknya pemilik surat bangunan. Untuk harga sewa kami tidak tahu menau karena itu urusan si pemilik surat bangunan dengan orang yang menyewa tersebut.Hanya saja dari pihak kantormeminta pemungutan uang salar kepada para pedagang terhadap pelayanan kebersihan dan keamanan, untuk perawatan fasilitas seperti WC umum sudah ada petugasnya dan setiap ada yang menggunakannya maka akan di kenai biaya sebesar Rp 1.000 untuk BAK, sedangkan BAB dikenakan tarif Rp 2.000 nantinya uang tersebut akan di kumpulkan dan akan dipergunakan untuk

perawatan Wc umum. Jika ada pedagang maupun pembeli yang merusak fasilitas-fasilitas pasar maka akan dikenakan sanksi untuk mengganti barang yang sudah dirusakan, tetapi jika ada pedagang yang melanggar peraturan atau merubah bangunan pasar maka akan dikenakan sanksi pidana penjara paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000. Untuk pemungutan salar dasar hukum atas pemungutan retribusi pasar tradisional tercantum dalam Perda Kabupaten Lampung Timur Nomor 20 Tahun 2011 tentang retribusi pasar.Perda tersebut mengatur besaran tarif retribusi yang harus dibayarkan pedagang pasar. Sementara retribusi Pasar grosir dan toko dibayarkan setiap bulan oleh pedagang.8

Besaran tarif retribusi pasar berdasarkan luas bangunan yang ditempati pedagang. Hal serupa juga menjadi penentu untuk pelayanan persampahan/kebersihan berdasarkan volume sampah yang dibuang pedagang setiap harinya.Berikut adalah tabel data mengenai jumlah penarikan retribusi pedagang terhadap pelayanan kebersihan dan keamanan setiap harinya:9

Tabel 6

Tarif Pelayanan Kebersihan dan Keamanan Pasar

No Ukuran

Bangunan Pelayanan kebersihan Pelayanan keamanan

1 Kios 3 x 3 M2 Rp 2.000 Rp 2.000

2 Kios 2,5 x 2,5 M2 Rp 2.000 Rp 2.000

3 Los 2 x 1,5 M2 Rp 2.000 Rp 2.000

4 Emperan Rp 2.000 Rp 2.000

8Perda Kabupaten Lampung Timur Nomor 20 Tahun 2011 tentang retribusi pasar. Di unduh

Pukul 21: 54 tanggal 12 Desember

202https://peraturan.bpk.go.id/Home/Download/856778/Perda%20No%2020%20Tahun%202011.

pdf

9 Hasil wawancara dengan bapak Candra, selaku staf tata usaha pasar Tradisional Pekalongan, 23 November 2021

44

Berdasarkan tabel diatas dapat kita ketahui bahwa pemungutan pelayanan kebersihan /sampah minimal Rp 2.000 tergantung banyak sedikitnya limbah sampah yang dibersihkan setiap harinya, jika limbah sampah toko atau kios masing-masing banyak maka petugas meminta tambahan pembayaran kepada pemilik toko atau los tersebut. Sedangkan pemungutan pelayanan keamanan semua di pukul rata yaitu Rp 2.000 setiap harinya. Retribusi dipungut di tempat penyediaan fasilitas bangunan yang diberikan, Sementara retribusi Pasar grosir dan toko dibayarkan setiap bulan oleh pedagangsesuai dengan klasifikasi tipe pasar rakyat,yaitu sebagai berikut:10

Tabel 7

Tarif Retribusi Klasifikasi Pasar Rakyat Pasar Tipe A

No Jenis Bangunan Tarif retribusi

1 Ruko Rp 3.000/M2 perbulan

2 Kios Rp 2.000/M2 perbulan

3 Los Rp 1.250/M2 perbulan

Pasar Tipe B

No Jenis Bangunan Tarif retribusi

1 Ruko Rp 2.500/M2 perbulan

2 Kios Rp 1.500/M2 perbulan

3 Los Rp 1.250/M2 perbulan

Pasar Tipe C

No Jenis Bangunan Tarif retribusi

1 Ruko Rp 2.000/M2 perbulan

2 Kios Rp 1.250/M2 perbulan

3 Los Rp 1.000/M2 perbulan

Dapat diketahui bahwa daftar tabel di atas merupakan daftar tarif retribusi dari Perda Kabupaten Lampung Timur terhadap seluruh pasar tradisional yang berada di kawasan Lampung Timur. Tarif retribusi ditinjau

10 PERDA Lampung Timur No.20 Tahun 2011 di unduh pada pukul 13.49 pada tanggal 10 Desember 2021

kembali paling lama 3 tahun sekali. Peninjauan tarif retribusi dilakukan dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan perekonomian.

Berdasarkan penuturan bapak Budi Kurniawan, pasar tradisional Pekalongan sebelum di revitalisasi merupakan pasar tipe kelas C. Dimana dalam Peraturan Mentri Perdagangan RI No.37/M-DAG/PER/5/2017 menjelaskan bahwa pasar rakyat tipe C merupakan pasar rakyat dengan operasionalnya 2 kali dalam satu minggu, jumlah kapasitas pedagang paling sedikit kurang dari 500 dan luas lahan paling sedikit 3.000 M2.Pasca revitalisasi pasar tradisional juga dilengkapi fasilitas-fasilitas untuk kenyamanan bersama.11

Berikut adalah data fasilitas-fasilitas yang dibangun setelah adanya revitalisasi pasar tradisional Pekalongan, antara lain :

Tabel 8

Fasilitas di Pasar Pekalongan

No Rincian /

Objek Ukuran Jumlah

Objek 1 Tangki air dan sabun untuk cuci tangan 2

2 APAR/Hydrant 20

3 Pembangunan Toilet 2

4 Mushola 1

5 Area Parkir 2

6 Penertiban lahan parkir 4

7 Post satpam 2

8 Kontener sampah/bak pembuangan sampah 3

9 Kantor pasar 1

10 Sumur Bor dan pompa air 2

11 Instalasi air bersih 12 Paving Blok

11 Peraturan Mentri Perdagangan RI No.37/M-DAG/PER/5/2017. Di unduh pukul 14.33 pada tanggal 10 desember 2021.

46

Berdasarkan tabel diatas banyak fasilitas-fasilitas yang dibangun untuk kenyamanan bersama seperti halnya pembangunan mushola, kamar mandi, paving blok, dsb. Dengan adanya pembangunan fasilitas-fasilitas tersebut penjual maupun pembeli dapat menggunakan fasilitas tersebut dengan semestinya. Menurut Bapak Budi Kurniawan, revitalisasi membawa dampak baik bagi kemajuan pasar dan para pedagangnyasehingga pada tahun 2018 pasar tradisional mendapatkan penghargaan atas gelar pasar tradisional terbaik dan di tandatangi langsung oleh pak Jokowi.12

Jika di kaitkan dengan teori di BAB II mengingat program revitalisasi tidak hanya titik fokusnya terhadap intervensi fisik saja, tetapi revitalisasi manajemennya juga harus ada karena menyangkut tentang sistem pengelolaan pasar yang meliputi peraturan-peraturan pasar serta hak dan kewajiban pedagang pasar. Namun pada kenyataanya masih ada beberapa permasalahan di pasar yang belum di perbaiki yaitu letak bak sampah yang kurang tepat karena letaknya berada di dekat pintu masuk gedung los pasar, area parkir belakang yang masih sempit, saluran pembuangan air belum di perbaiki sehingga menimbulkan genangan air dan berbau menyengat, kurangterpeliharanya mushola, masih ada pedagang yang berjualan di area parkir sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas pedagang dan pembeli, masih banyak pedagang yang diluar yang belum di tertibkan. Berikut ini wawancara penulis dengan salah satu pedagang yang masih berjualan di luar.

Ibu Juminten pedagang jajanan pasar dan nasi uduk misalnya beliau

12Wawancara bapak Budi Kurniawan staf tata usaha pasar tradisional Pekalongan, tanggal 23 November 2021

membenarkaan jika masih banyak kekurangan dalam pembenahan pasar salah satunya adalah saluran pembuangan air yang perlu segera di perbaiki karena baunya sangat menyengat dan dapat menimbulkan penyakit, serta bak sampah yang tidak tepat letaknya.beliau juga memberikan alasan mengapa beliau tidak berjualan di dalam kios yang sudah disiapkan, beliau berpendapat bahwa sewa di dalam gedung sangat mahal, sumpek dan panas. Berjualan diluar lebih leluasa tidak sumpek dan panas terlebih tidak membayar uang sewa dan hanya membayarkan uang retribusi saja.13

Namun hal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan petugas pasar yaitu bapak Candra yang telah menjelaskan dipembahasan awal tadi yaitu tentang sewa-menyewa di pasar yang tidak memungut biaya. Hal ini menandakan bahwa dalam manajemen pasar juga masih banyak kekurangan seharusnya petugas memberi himbauan kepada pedagang apabila ada informasi yang perlu di sampaikan dan petugas harus menjalankan peraturan yang sudah dibuat dan tegas dalam menertibkan pedagang.

Berikut ini adalah struktur kepengurusan pasar :

13 Wawancara Ibu Juminten, pedagang jajanan pasar dan nasi uduk, 25 November 2021

48

Gambar 1

Struktur Organisasi Kepengurusan Pasar Pekalongan

Berdasarkan gambar diatas merupakan struktur kepengurusan Pasar Tradisional, yang di pimpin oleh Bapak Munzir, beserta anggotanya yang membantu pekerjaan beliau dalam mengurus pasar tradisional Pekalongan.Dalam pengurusan administrasi atau kebendaharaan beliau di bantu oleh Ibu Hepi Yulistina, sedangkan dalam staf tata usaha ada Bapak Candra Harun dan Budi Setiawan dan petugas-petugas lainnya.

Dalam kepengurusan pasar tradisional untuk mengapresiasikan semangat kinerja para petugasnya, pengurus pasar mendapatkan upah atas

Kepala pasar Tradisional Pekalongan Munzir

NIP.197107182006041004

Staf Tata Usaha Chandra Harun Budi Kurniawan

Petugas Salar Petugas Kebersihan

Petugas Keamanan

Petugas Parkiran Bendahara Hepi Yulistina NIP.198110122008011

1. Ponirin 2. Agus 3. Jaidi 4. Wahyu 5. Rianto

1. Firman 2. Zubir 3. Baheram 4. Haidir 5. Yanto 6. Idris 7. Maridi

1. Aris 2. Heru 3. Ajis 4. Pariyanto 5. Kusno 6. Parji 1. Beka Heda

2. Dady Kasendra 3. Suryono 4. Rahmat 5. Yulina

pekerjaan yang dilakukan. Berikut ini adalah tabel penerimaan gaji kepegawaian Pasar tradisional Pekalongan :

Tabel 9

Upah/Gaji kepengurusan Pasar Tradisional Pekalongan

No Pegawai Pasar Upah/Gaji

1 Kepala Pasar Rp 2.000.000

2 Bendahara/administrasi Rp 1.500.000

3 Staf Tata Usaha Rp 1.500.000

4 Petugas Salar Rp 800.000

5 Petugas kebersihan Rp. 800.000

6 Petugas keamanan Rp. 1.000.000

7 Petugas Parkiran Rp 800.000

Berdasarkan data diatas, dapat kita ketahui bahwa besaran upah/gajih tidak semua sama, hanya saja para petugas salar, petugas kebersihan, dan petugas parkiran menerima upah yang sama sebesar Rp 800.000. Sedangkan yang lainnya berbeda sesuai dengan jabatan masing-masing.

Berdasarkan Pengadaan program revitalisasi yang telah dilakukan di Pasar Tradisional Pekalongan, baik pemerintah maupun pengelola berharap kedepannya pasar tradisional semakin maju dan mampu menjadi roda penggerak perekonomian masyarakat maupun pemerintah sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dari segala kalangan dan mensejahterakannya.14

14 Wawancara Ibu hepi Yulistina selaku bendahara pasar tradisional Pekalongan, 24 November 2021.

50

C. Dampak Revitalisasi Pasar Tradisional Pada Pendapatan Pedagang

Dokumen terkait