BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
B. Proses Terjadinya Interaksi Sosial Keagamaan Dalam Pola Penyebaran
B. Proses Terjadinya Interaksi Sosial Keagamaan Dalam Pola Penyebaran
ditemukan peneliti pada salah satu desa penganut kepercayaan Islam Wetu telu. Akan tetapi, kitab kuno seperti itu hanya dimiliki oleh pemangku adat saja, dan itupun disimpan dalam tangkepan (tempat penyimpanan barang pusaka).71
Pada umumnya proses interaksi para muballigh (dai, ustadz, tuan guru) memiliki keunikan tersendiri dalam meletakkan dasar-dasar agama (baca:
ajaran dan kepercayaan) kepada para masyarakat tempat mensyiarkan ajarannya. Dalam hal ini, ilmu tasawuf merupakan salah satu unsur pokok dalam ajaran islam yang diajarkan secara sir (tersembunyi dan rahasia) baik dari kalangan orang awam atau orang-orang yang belum siap secara mental dan kedalaman iman.
Paparan di atas senada dengan apa yang disampaikan oleh salah satu tokoh pengajar tasawuf lokal (Amaq Raniah), Ia mengatakan bahwa:
“Dulu ketika saya belajar ilmu tasawuf ini berawal dari guru- guru dan tuan guru yang sering mengajarkan di daerah ini sehingga kedekatan saya dengan salah satu tuan guru membuat saya belajar banyak tentang ilmu tasawuf ini,, Misalnya saja saya dulu sering ikut Tuan Guru Azhar Ali Santong yang menjadi mursyid tarekat Naksabandiyah pada waktu itu . dan tiga tahun lamanya saya belajar dan seringkali berdiskusi ilmu tasawuf ini dengan Tuan Guru Umar Sasaki.dan melalui proses itulah saya diberi pemahaman tentang ilmu tasawuf ini.”72
Dari hasil observasi yang peneliti lakukan, ada beberapa tokoh yang mendapatkan ilmu tasawuf lokal ini dari garis keturunan yang diwariskan secara turun temurun. Sehingga kitab-kitab yang umumnya digunakan refrensi untuk mengajar tasawuf lokal ini berada ditangan para pemangku- pemangku adat yang terbagi atas tokoh agama, tokoh pemerintahan, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Biasanya kitab-kitab tersebut akan dibacakan
71 Observasi, Sesait, 15 September 2022
72 Amak Rani’ah, Tokoh Penyebar, wawancara, Rebakong, 20 September 2022
ketika perayaan-perayaan agama atau perayaan-perayaan adat seperti malam ke sembilan tahlilan bagi orang yang meninggal.73
Terkait dengan pendapat salah satu tokoh tasawuf lokal tersebut mengisyaratkan bahwa, proses interaksi ini berjalan beriringan dengan pemaham-pemahaman masyarakat setempat yang notabene-nya mereka sebut sebagai Wetu Telu. Bagi mereka Islam Wetu Telu bukanlah sebuah ajaran sesat yang dituduhkan sebagian orang dengan mendefinisikannya sebagai sholat tiga waktu. Hal itu dijelaskan secara rinci oleh tokoh penyebar ajaran tasawuf lokal (Amaq Raniah) mengatakan:
“kata Islam wetu telu itu adalah sebuah filosofi tasawuf bagi kami nak. Maksud wetu telu itu adalah tiga siklus kehidupan di dunia ini, yaitu mentiwok, menganak, mentelok. Jadi bukan seperti yang dituduhkan sebagian orang-orang pada kami yang mengatakan kalo wetu telu itu adalah sholat tiga waktu sholat”74
2. Proses Penyebaran Ajaran Tasawuf Lokal di Desa Kayangan
Proses interaksi sosial yang terjadi pada Islam Wetu Telu lebih bersifat ekslusif dalam artian, bahwa hubungan-hubungan sosial yang yang terjadi antara seorang mursyid dengan jama’ah yang mempelajari tasawuf diajarkan secara tersembunyi dan sangat rahasia, Sebagaimana yang dijelaskan oleh tokoh penyebar ajaran tawasuf lokal (Amaq Raniah), mengatakan bahwa:
“Proses interaksi yang terjadi kepada setiap jama’ah berlangsung secara tertutup, Karena pada dasarnya siapa saja yang membukakan ilmu (tasawuf) kepada mereka yang belum ada dasarnya atau belum sampai akalnya maka itu merupakan dosa besar. Dan siapa saja yang sudah sampai akalnya dan ada dasarnya untuk mempelajari ilmu ini kemudian tidak di ajarkan, maka itu juga merupakan dosa besar bagi saya. Proses itulah yang biasa terjadi Ketika jama’ah belajar taawuf kepada saya, Ini dijelaskan dalam
73 Observasi, Kayangan, 16 September 2022
74 Amak Rani;ah, Tokoh Penyebar, wawancara, Rebakong, 20 September 2022
kitab Tahkik yang saya sebut tadi. Dengan landasan itulah saya tidak sembarang orang menyebarkan ajaran ini, pada intinya semua jama’ah yang datang kesini adalah mereka yang memiliki dasar dan kemampuan berpikir yang kuat untuk mempelajari ilmu ini.”75 Selain itu, dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan pada latar penelitian, imbas dari proses interaksi yang pada khusunya dilakukan secara ekslusif oleh seorang mursyid dan jama’ah dalam mempelajari tawasuf, ialah jika tidak dilandasi dengan pemahaman yang dalam dan didampingi oleh seorang guru yang ahli, maka seseorang itu akan hilang akal sehatnya (gila).76
Dari hasil observasi lebih lanjut yang dilakukan peneliti, untuk menguatkan ke-autentikan pada proses interaksi yang terjadi dalam penyebaran ajaran tasawuf ialah, Ketika jamaa’ah berintraksi dengan seorang mursyid, dengan kesadarannya sendiri ketika mengkaji ajaran tasawuf lokal tidak pernah merekam atau melakukan kegiatan sejenisnya yang bisa mengancam hubungan sosial yang sudah terjaga dalam ajaran tasawuf lokal.77 Seperti halnya yang diceritakan oleh jama’ah tasawuf di Dusun Rebakong, Desa kayangan ini, (Fadli) mengatakan:
“ketika proses belajar ilmu tasawuf berlangsung, saya selaku murid dari amaq raniah tidak pernah melakukan dokumentasi berupa rekaman dan video, karna tidak diragukan lagi dengan belajar ilmu tasawuf dari seorang mursyid, ilmu yang ajarkanpun sanadnya jelas dari para tuan guru dan para mursyid terdahulu, ilmu tasawuf yang di ajarkan kepada kami memang berlangsung tertutup, tidak seperti halnya pengajian biasa di masjid atau di musholla -musholla”78
Sesuai hasil observasi yang dilakukan peneliti dilapangan, persepsi tentang Islam Wetu Telu memang selalu diidentikkan dengan sholat tiga
75 Amak Rani’ah, Tokoh Penyebar, Wawancara, Rebakong, 20 September 2022
76 Observasi, Rebakong, 14 September 2022
77 Observasi, Rebakong, 15 September 2022
78 Fadli, Jama’ah, wawancara. Kayangan 22 september 2022
waktu atau bahkan tidak sholat sekalipun. Bahkan ada paham yang tersebar bahwa penganut Islam Wetu Telu dalam melakukan sholat kadang menitipkan sholat untuk dikerjakan kepada temannya. Akan tetapi seluruh tokoh-tokoh adat sepakat menolak persepsi demikian dengan angapan yang sama seperti disebutkan tokoh penyebar ajaran tasawuf lokal di atas. 79
Seiring berkembangnya zaman dan tekhnologi, kerap kali membuat adat dan budaya di suatu daerah sedikit demi sedikit tergeser dan mulai dilupakan, tidak terkecuali dengan proses interaksi dalam memepelajari tasawuf lokal. Saat ini orang-orang mulai belajar agama dengan metode- metode modern yang dibantu dengan alat-alat yang canggih (baca:
handphone, internet dan jejaring sosial) sehingga akhirnya membuat rasa enggan untuk menelusuri lebih dalam bagaimana sejarah agama khususnya di Lombok ini tersebar.Hanya segelintir orang saja yang mau mempertahankan ajaran klasik seperti tasawuf lokal.
C. Bentuk Interaksi Sosial Keagamaan Dalam Pola Penyebaran Ajaran Tasawuf Lokal Pada Islam Wetu Telu Di Dusun Rebakong, Desa Kayangan
1. Kajian Kitab Tasawuf Lokal di Desa Kayangan
Interaksi sosial merupakan proses dimana orang-orang berkomunikasi dan saling mempengaruhi dalam pikiran serta tindakan. Interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat memiliki berbagai macam bentuk.Pada dasarnya interaksi sosial mengarah pada hal yang positif untuk mewujudkan kebaikan dan Kerjasama dengan menciptakan suatu pesan yang dapat dipahami diantara dua belah pihak dan bentuk dari interaksi sosial yang di lakukan menciptakan suatu komunikasi yang efektif..80
Dalam kesehariannya bentuk interkasi sosial dalam lingkup pengajian tasawuf lokal ini ketika menyebarkan ajarannya adalah bentuk asosiatif, yang mana interaksi sosial yang terjadi tidak seperti interaksi yang terjadi di lingkungan sosial pada umumnya, namun lebih bersifat tertutup (eksklusif).
79 Observasi, Kayangan, 17 September 2022
80 Vardiansyah, Pengantar Ilmu Sosial, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), hlm.36.
Sebagaimana yang dijelaskan tokoh penyebar ajaran tasawuf lokal (Amaq Raniah), Mengatakan bahwa:
“Biasanya ketika saya hendak mengajar itu terkadang tidak langsung membukakan kitab kepada para jama’ah yang datang,dan saya memulainya dengan obrolan ringan, nah kemudian baru selang-selang itu saya bukakan kitab. Jika ada yang mereka anggap kurang mengerti atau tidak paham langsung ditanyakan kepada saya. Untuk diingat .saya tidak menyebarkan ajaran saya ini keluar, cukup dirumah saja kepada para jama’ah yang datang kesini. Saya juga tidak membuatkan jadwal untuk mengaji siapa saja jama’ah yang datang itu yang saya ajar.”81
Selain itu, bentuk interaksi sosial lainnya tergambar ketika para jamaah melakukan pengajian, seperti mencatat isi dari kitab yang di bacakan, menanyakan apa yang belum di pahami, dan lain sebagainya. Namun dari kebiasaan inilah mereka paham akan pentingnya belajar agama dalam konteks tasawuf. Begitu juga yang dilakukan penyebar ajaran tasawuf lokal didalam menyebarkan ajarannya. Hal tersebut dituturkan oleh jama’ah tasawuf lokal (Fadli), mengatakan bahwa:
“Biasanya ketika saya datang ke rumah Amak Rani’ah beliau mengajak saya berbincang-bincang atau ngobrol dulu, setelah saya dirasa tidak canggung barulah beliau diselah-selah percakapan tersebut memulai pengajiannya, setelah itu selang beberapa waktu saya dibukakan kitab. Dan setiap apa yang belum saya pahami saya selalu mencatat dan Jikalau saya tidak tahu atau mengerti maka saya langsung menanyakannya, misalnya apa tugas tubuh kita, apa tugas rohaniah kita.”82
Salah satu unsur interaksi sosial adalah adanya hubungan individu dengan individu lainnya. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, hubungan sosial adalah salah satu cara untuk berintraksi sehingga interaksi
81 Amak Rani’ah, Tokoh Penyebar, Wawancara, Rebakong 21 September 2022
82 Fadli, Jama’ah, Wawancara, Kayangan 22 September 2022
yang terjadi memberikan suatu pesan dan rasa saling menghargai.83 Tokoh penyebar ajaran tasawuf lokal menggunakan kitab-kitab klasik sebagai pesan untuk mengajarkan ilmu tasawuf lokal kepada jama’ah sehingga ajarannya dapat dimengerti dan dipahami.
Dari hasil observasi di lapangan yang menunjukkan bahwa,kitab-kitab selain dari kitab yang sudah disebutkan tokoh diatas. Hal ini terlihat jelas ketika peneliti ikut serta dalam pengajian tasawuf lokal di Dusun Rebakong yang bertepatan ketika itu sedang mengkaji tentang kitab Tuhfatul Adam.84 Ilmu tasawuf pada umumnya terkenal agak sulit untuk dipelajari dan dimengerti, oleh karena itu membutuhkan seorang guru untuk membimbingnya (mursyid). Begitu juga dengan amalan atau latihan-latihan rohaniyah (riyadloh) yang kadang sangat sulit dilakukan khususnya bagi orang awam. Namun berbeda halnya dengan ajaran tasawuf lokal yang lebih menekankan kepada pemahaman tentang hakikat tuhan dan diri yang sebenarnya. Inilah salah satu bentuk interaksi antara mursyid dan jama’ah sehingga membuat beberapa masyarakat memilih belajar tasawuf lokal.
2. Penyebaran Ajaran Tasawuf Lokal Dalam Perayaan Maulid
Maulid atau maulidan pada hakekatnya adalah memperingati hari kelahiran junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW yang bertepatan pada tanggal 12 Rabi’ul awal, namun bagi masyarakat dusun Rebakong Desa Kayangan, maulid bukan hanya sekedar memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, akan tetapi sekaligus memperingati napak tilas proses penyebaran islam di daerah tersebut.
Susana yang berbeda dalam peringatan ini yang dilakukan oleh masyarakat di Dusun Rebakong Desa Kayangan, dimana Budaya Maulidan dilaksanakan dua hari setelah ketetapan Kalender Islam. Maulid Nabi dilaksankan oleh masyarakat berjalan selama dua hari yaitu pada tanggal 14-15 Rabi’ul Awal berdasarkan Syari’at Islam. Adapun Budaya Maulidan
83 J.Dwi Narwoko dkk, Sosiologi teks pengantar dan terapan. (Jakarta, Kencana.2004),hlm.43
84 Observasi, Sesait, 25 September 2022
ini dilaksanakan dua hari setelah ketetapan Kalender Islam di dasarkan pada Sejarah sebagaimana dijelaskan tokoh penyebar ajaran tasawuf lokal (Amaq Raniah) yaitu:
“Maulid Nabi dilaksanakan pada tanggal 14-15 Rabi’ul Awal menurut sejarah bahwa dimana pada saat itu pulau Lombok khususnya di Desa kayangan ini di Jajah oleh orang Nonmuslim , masyarakat disini tidak diperbolehkan untuk melaksanakan kegiatan keagamaan seperti Maulid Nabi, bagi orang- orang yang melaksanakannya pada saat itu akan ditembak mati oleh para penjajah, sehingga Maulid di palingkan atau diganti untuk mengelabui penjajah, masyarakat memperingati Maulid Nabi secara diam-diam agar tidak diketahui oleh para penjajah sehingga maulid dilaksankan dua hari setelah Ketetapan Kalender Islam”. 85 Penjelasan lebih lanjut dijelaskan oleh masyarakat Dusun Rebakong (Fadli) yaitu:
“Tidak diketahui persis bagaimana sejarah Maulid dikarenakan seluruh bukti-bukti sejarah berupa tulisan dibakar dan di buang oleh para penjajah pada waktu itu, namun begitulah Maulid dilaksanakan oleh Masyarakat Dusun Rebakong semua tidak berubah sesuai dengan keadaan waktu itu dimana semua kegiatan seperi memasak menumbuk padi sebagiannya dilakukan dengan tradisional sebagai rasa syukur masyarakat dan menghargai warisan dan budaya orang tua terdahulu,dan maulid di dusun kami tidak beda jauh dengan maulid adat di Desa Bayan”86 Cara berpakain masyarakat adat bagi laki-laki mengenakan pakaian adat berupa Sapuq (Ikat Kepala), Kereng Belo dan Keben, sedangkan untuk perempuan, adat pakaian mengenakan Jong (Penutup Kepala), Kereng Belo (Kain Tenun), Kemben dan lempot (Selendang). Dimana awalnya Maulid merupakan suatau Budaya agama yang diadakan oleh umat muslim
85 Amak Rani’ah, Tokoh Penyebar, Wawancara, Rebakong 15 Januari 2023
86 Fadli, Masyarakat Dusun Rebakong, Wawancara, Rebakong 15 Januari 2023
diseluruh dunia sebagai ungkapan rasa cinta mereka kepada Rasulullah.
Namun seiring berjalannya waktu Perayaan Maulid Nabi berubah menjadi suatu budaya karena adanya akulturisme budaya Agama menjadi suatu Budaya yang tidak ada di komunitas lain.
Rangkaian acara pada maulid adat di Dusun Rebakong tersusun sebagaimana perayaan pada desa-desa yang lain. Namun perbedaan susunan acaranya terletak pada pembacaan kitab atau pengkajian tentang kitab-kitab tasawuf lokal yang disampaikan oleh para tokoh agama yang ada di Dusun Rebakong di sela-sela pembahasan pada pengajian acara maulid Nabi SAW.
Hal itu sejalan dengan hasil wawancara yang disampaikan oleh (amaq Raniah) selaku tokoh penyebar ajaran tasawuf lokal, ia menyampaikan bahwa:
“Pada materi atau isi dari pengajian yang disampaikan oleh kami para tokoh agama di sesi pengajian, biasanya kami selaku tokoh agama yang membawakan materi pengajian selalu menyisipkan materi-materi ajaran tasawuf lokal yang berbentuk umum dan mudah dipahami oleh jamaah di dusun Rebakong. Karna atas dasar itu kami berusaha memberikan pengajaran dasar terkait ilmu tasawuf ”. 87
Dari hasil wawancara tersebut penulis selaku peneliti menyimpulkan bahwa, ajaran tasawuf diperkenalkan oleh para tokoh agama yang berkecimpung pada ajaran tasawuf lokal kepada masyarakat melalui materi- materi dasar ilmu tasawuf yang disisipkan melalui isi materi pengajian yang disampaikan berbentuk pengajian umum.
87 Amak Rani’ah, Tokoh Penyebar, Wawancara, Rebakong 15 Januari 2023
D. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Interaksi Sosial Yang Terjadi di Lingkungan Penganut Islam Wetu Telu Dalam Meyebarkan Ajaran Tasawuf Lokal
Setiap sesuatu yang dilakukan pasti selalu bermuara pada dua faktor yang saling berlawanan yaitu faktor pendukung dan penghambat. Begitu juga dengan kegiatan penyebaran ajaran tasawuf lokal ini, walaupun kegiatan ini bernuansa positif, namun tidak menutup kemungkinan bagi sebagian orang melihat dari kacamata yang berlawanan sehingga mereka menjustifikasinya negatif. Sebagaimana yang dijelaskan tokoh penyebar tasawuf lokal, (Amaq Raniah) Mengatakan:
“Salah satu faktor penghambatnya adalah beberapa orang yang menyangka ajaran ini sesat mulai menjauhi kita. Mereka menganggap ajaran ini sesat, bahkan para jama’ah sering dituduh mempelajari ilmu sesat kepada saya. Namun itu tidak menjadi penghambat saya bahkan menjadi spirit bagi saya. Bahkan para jama’ah yang datang mengkaji ilmu ini semakin bertambah saja setiap harinya, itulah yang menjadi faktor pendukung bagi saya untuk terus menyampaikan ilmu ini. Bahkan sebagian dari para jama’ah ada yang membawakan saya beberapa oleh-oleh seperti singkong, beras, buah-buahan, dan yang lainnya karena rasa syukur mereka dan rasa terimakasihnya.”88
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa salah satu faktor penghambat ajaran tasawuf lokal adalah banyaknya tuduhan-tuduhan sesat yang disematkan kepada ajaran ini. Tuduhan tersebut muncul karena interaksi sosial yang tertutup terjadi antara tokoh penyebar ajaran tasawuf lokal dengan para jama’ahnya. Namun hal itu tidak membuat tokoh penyebar ajaran ini putus asa, bahkan menjadi semangat baginya untuk tetap mengajarkan ajaran tasawuf lokal ini, seperti yang diungkapkan (Amaq Raniah), Mengatakan:
88 Amak Rani’ah, Tokoh penyebar, Wawancara, Rebakong 24 Oktober 2022
“Banyak sekali yang mengatakan ajaran ini sesat, bahkan sebagian jama’ah yang diketahui masyarakat untuk belajar kepada saya sering dituduhkan mempelajari ilmu sesat, tetapi selalu saya bilang begini kepada jam’ah “coba bawa orang-orang yang bilang ajaran ini sesat, ikut dudukkan disini mengaji agar mereka bisa menilai sendiri apakah ajaran ini sesat atau tidak, jika memang sesat maka saya siap untuk meninggalkan ajaran ini dan tidak mengajarkannya lagi”. sebenarnya hal-hal semacam itu juga menjadi semangat buat saya agar semakin tekun dan giat dalam belajar dan menyebarkan ilmu ini. mereka yang mengatakan kalau mempelajarai ilmu ini maka bisa saja nanti kita tidak mengerjakan sholat, maka saya tegaskan itu salah besar. Ilmu hakikat tidak bisa dipisahkan dengan ilmu syariat karena keduanya berkaitan erat satu sama lainnya. Antara ilmu Fiqih, Usul, dan Tasawuf tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Ilmu Fiqih untuk badan, Tasawuf untuk hati, dan Usul untuk nyawa.”89
Tuduhan-tuduhan sesat yang diberikan tidak hanya menimpa tokoh penyebar ajaran tasawuf lokal saja, melainkan para jamaahnya juga. Berbagai respon diberikan kepada mereka baik yang bersifat positif maupun negatif.
Seperti yang disampaikan salah satu jama’ah, (Jumadil),mengatakan:
“Pasti ada yang positif dan ada yang negatif. Kalau positif disamping menambah pengetahuan tentang ilmu rohaniah/ilmu tasawuf, juga dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.Sedangkan negatif ialah ada saja yang tidak senang, mereka mengatakan ajaran sesat.”90
Terlepas dari berbagai persepsi negatif yang dilontarkan sebagian orang, ada sebagian orang yang malah mendukung bahkan melindungi ajaran ini, salah satunya Kepala Desa Kayangan. Sebagai instansi pemerintah yang dipilih rakyat, maka menjadi kewajiban bagi kepala desa untuk mengayomi serta
89 Amak Rani’ah, Tokoh penyebar, Wawancara, Rebakong 24 Oktober 2022
90Jumadil, jama’ah, Wawancara, Rebakong 26 September 2022
melindungi masyarakatnya. Seperti yang dia tegaskan oleh (Edi Kartono) sebagai berikut:
“Kami tetap melindunginya, kalau ada yang menuduh ajaran sesat, ya kita balik bertanya yang mana ajaran yang sesat. Ini tidak bertentangan dengan syari’at Allah, mereka tetap sholat, puasa, dll.
Cuma mereka yang datang kesini bertanya tentang sifat, zat, asma’, dan af’alullah.”91
Kepala Desa Kayangan kembali menambahkan penjelasannya yang menerangkan keikutsertaannya dalam mempertahankan ajaran tasawuf lokal, (Edi Kartono) yaitu:
“Tetap dek kalau melindungi/mengayomi masyarakat itu sudah tanggung jawab saya sebagai pemimpin lingkungan/dusun Rebakong. Bahkan anaknya si guru ini menjadi Sekdes Desa Kayangan saat ini. Tidak pernah ada yang komplain, kalaupun ada itu diluar dusun atau mereka beranggapan dari jauh.”92
Dalam menyebarkan ajaran tasawuf lokal yang lebih bersifat eksklusif ini, selain sering mendapat tuduhan-tuduhan sesat tokoh penyebar dan jamaahnya juga sering mendapat konflik dari masyarakat sekitar, namun tidak pernah berujung pada kontak fisik. Seperti yang diutarakan tokoh penyebar tasawuf lokal, (Amaq Raniah) Mengatakan:
“Mungkin konflik seperti berkelahi sih tidak pernah, tetapi konflik dalam hal kesenjangan sosial sering. Misalnya saja seperti yang saya katakan tadi banyak orang-orang yang tidak suka dengan ajaran ini, alhasil mereka mengklaim ajaran ini sesat serta mulai untuk menjaga pergaulan dengan kita.”93
Konflik yang terjadi antara tokoh penyebar ajaran tasawuf lokal dan jamaahnya dengan masyarakat sekitar, dominan terjadi dengan masyarakat
91 Edi Kartono, Kades kayangan, Wawancara, Kayangan 2 Oktober 2022
92 Edi Kartono, Kades kayangan, Wawancara, Kayangan 2 Oktober 2022
93 Amak Rani’ah, Tokoh Penyebar, Wawancara, Rebakong 25 September 2022
diluar kampung atau diluar desa. Seperti yang diuraikan salah salah satu jamaah tasawuf lokal,(Jumadil) yaitu:
“Tidak pernah dikucilkan atau dijauhi karena kita semua yang ada didusun, desa/kecamatan ini masih menganggap polong renten (keluarga sedarah). Karena guru kita juga dari kalangan keluarga sendiri. Tapi untuk diluar kampung mungkin banyak yang beranggapan lain terhadap kami sehingga kadang membuat mereka enggan untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang ajaran ini.”94 Ungkapan jama’ah di atas juga dipertegas dengan pengakuan kepala desa Kayangan yang lebih banyak mendapat konflik dari pihak luar. Seperti yang dijelaskannya, (Edi Kartono) Mengatakan:
“Kalo konflik dari dalam desa sih nggak pernah mas ya, karena kita disini sangat erat memegang budaya yang ada, tapi kalo masyarakat luar ya paling mereka cuma nyinyir nyinyir dibelakang, nggak pernah ada yang langsung terus terang gitu karena mereka udah tahu adat dan budaya di lombok utara ini seperti apa.”95 Hal serupa pun dirasakan oleh masyarakat sekitar. Salah satu masyarakat Dusun Rebakong menjelaskan situasi konflik yang sering terjadi terhadap penganut ajaran tasawuf lokal,(Anah) yaitu:
“Kalo ketidak setujuan sih banyak sekali ya tetapi untuk konflik yang bersifat fisik sih tidak pernah, karena disini kami sangat menekankan persaudaraan polong renten (istilah untuk sebutan saudara sesama daerah), kalaupun ada yang konflik kita duduk bersama atau istilah orang disini “tokol kon berugak ta musyawarah (duduk bersama menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah)”96
Faktor utama terjadinya konflik dikalangan penganut ajaran tasawuf lokal ini adalah ketidak-senangan beberapa oknum masyarakat tertentu
94 Jumadil, Jama’ah, Wawancara, Rebakong, 3 Oktober 2022
95 Edi Kartono, Kades Kayangan, Wawancara, Kayangan 3 Oktober 2022
96 Anah, Wawancara, Rebakong 4 Oktober 2022