2 DASAR PENELITIAN KUALITATIF
C. Rancangan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
6. Penggambaran tentang besar anggaran yang diperlukan, termasuk rincian alokasi penggunaan yang direncanakan.
7. Hasil akhir yang diharapkan dari suatu penelitian.
Pada penelitian kuantitatif ketujuh hal tadi lazimnya bias, dan malah seharusnya dapat dipastikan dari awal, yaitu ketika merancang suatu penelitian. Lazimnya, diharapkan hal itu tertuang secara eksplisit dan spesifik di dalam setiap usulan/rancangan penelitian kuantitatif. Ini wajar dan bisa dimengerti karena penelitian kuantitatif bersifat deduktif-verifikatif, etik a priori, dan berlangsung linear.
Lain sekali halnya dengan penelitian kualitatif yang induktif- konseptual, emic post priori, dan prosesnya berbentuk siklus.
Karenanya, ketujuh elemen yang disebutkan tadi (yang biasanya diharapkan terbatasi sebelumnya secara jelas dan pasti dalam rancangan penelitian kuantitatif) umumnya sukar (dan bahkan tidak mungkin) dibatasi sebelumnya pada usulan/rancangan penelitian kualitatif. Sebab, rancangan penelitian kualitatif menuntut pengembangan sewaktu penelitian itu sendiri tengah berlangsung. Ia terbuka untuk berubah, dan karena itu harus luwes mengikuti tuntutan perkembangan masalah dilapangan.
Mengapa ketujuh unsur tadi disebut sukar dan bahkan tidak mungkin ditentukan atau dibatasi sebelumnya di dalam usulan/rancangan penelitian kualitatif.
a. Fokus/Pokok Masalah Penelitian
Setiap peneliti terlebih dahulu tentunya mengetahui “apa”
yang akan ditelitinya, termasuk juga peneliti kualitatif. Mengenai
„apa” yang dimasalahkan itu, pada penelitian kuantitatif telah sedemikian jelas dan terbatasi sebelumnya sebab penelitiannya berangkat dari pandangan bahwa ia telah mengetahui tentang apa yang belum diketahuinya (knows what he or she does not know).
Sedangkan, para peneliti kualitatif lebih cenderung bertolak dari pandangan ”tidak mengetahui tentang apa yang tak diketahuinya”
(does not know what he or she does not know). Karenanya, penelitian kualitatif ditingkat awal biasanya hanya menyatakan fokus atau pokok masalah yang kadarnya masih cukup umum.
Fokusnya yang lebih spesifik/selektif akan berkembang di saat proses/ berlangsungnya penelitian itu sendiri.
Dalam mempertajam penelitian, peneliti kualitatif menetapkan fokus. Spradley (1980) menyatakan bahwa A fokused refer to a single cultural domain or a few related domains.
Maksudnya adalah bahwa fokus itu merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Dalam penelitian kualitatif, penentuan fokus dalam proposal lebih di
dari situasi sosial (lapangan). Kebaruan informasi itu bisa berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi sosial, tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi sosial yang diteliti. Fokus yang sebenarnya dalam penelitian kualitatif diperoleh setelah peneliti melakukan grand tour observation dan grand tour question atau yang disebut dengan penjelajahan umum. Dari penjelajahan umum ini peneliti akan memperoleh gambaran umum menyeluruh yang masih pada tahap permukaan tentang situasi sosial. Untuk dapat memaham secara lebih luas dan mendalam, maka diperlukan pemilihan fokus penelitian.
Spradley (1980) mengemukakan empat alternatif untuk mendapatkan fokus yaitu:
1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informan.
2. Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizing domain.
3. Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk pengembangan iptek.
4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang telah ada.
b. Landasan Teori
Pada penelitian kualitatif fokus/masalah penelitian diharapkan berkembang sesuai dengan kenyataan di lapangan, mementingkan perspektif emic, dan bergerak dari fakta/informasi/peristiwa menuju ke tingkat abstraksi yang lebih tinggi (apakah konsep ataukah teori) serta bukan sebaliknya, dari teori atau konsep ke data/informasi. Karenanya, secara konseptual-paradigmatis, peneliti kualitatif malah justru harus mampu membebaskan dirinya dari “tawanan” suatu teori; ini bukan berarti mengabaikan perlunya pemahaman akan teori yang sudah ada sebab teori itu juga mempunyai kegunaan tertentu, khususnya di tahap-tahap akhir suatu penelitian kualitatif (pada saat harus membahas atau mendiskusikan hasil penelitian).
Cooper and Schindler (2003) mengemukakan bahwa, A theory is a set of systematically interrelated concepts, definition, and proposition that are advanced to explain and predict phenomena (fact). Teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Selanjutnya Sitirahayu Haditono (2009) menyatakan bahwa
banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada.
Mark (1963), dalam (Sitirahayu Haditono, 2009), membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:
1. Teori yang deduktif: memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
2. Teori yang induktif: cara menerangkan adalah dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistis ini dijumpai pada kaum behaviorist.
3. Teori yang fungsional: di sini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.
Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut.
1. Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya sifat hubungan yang deduktif. Suatu hukum menunjukkan suatu hubungan antara
variabel-variabel empiris yang bersifat ajeg (tidak berubah/teratur) dan dapat diramal sebelumnya.
2. Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. Di sini orang mulai dari data yang diperoleh dan dari data yang diperoleh itu datang suatu konsep yang teoritis (induktif).
3. Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi. Di sini biasanya terdapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat yang teoritis.
Berdasarkan data tersebut di atas secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem pengertian ini diperoleh melalui jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, dia bukan suatu teori.
c. Sampel Penelitian
Dalam penelitian kualitatif tidak dikenal konsep
“keterwakilan” contoh/sampel dalam rangka generalisasi yang berlaku bagi populasi. Yang dikenal adalah keluasan dan pencakupan rentangan informasi. Karenanya, soal jumlah dan
kepedulian penelitian kualitatif. Yang menjadi kepedulian adalah luas dan mencakupnya rentangan informasi yang diperlukan sesuai dengan elemen-elemen fokus/masalah penelitian.
Karenanya, sampel akan berkembang atau bergerak mengikuti karakteristik elemen-elemen yang ditemukan di lapangan sehingga tidak dapat dipastikan sebelumnya. Hanya sampel awal yang dapat disebutkan sebelumnya, yang darinya akan menyebar sesuai dengan keperluan menuntaskan pemburuan data/informasi tentang segenap elemen yang ingin diketahui.
d. Instrumentasi
Dalam penelitian kualitatif, instrumen yang dipergunakan bukanlah “alat ukur” yang disusun atas dasar definisi operasional varibel-variabel, sebagaimana yang lazim dalam penelitian kuantitatif. Sebab, secara paragdimatis memang ia tidak memakai logika deduktif-verifikatif; logika yang dipakai justru sebaliknya, yaitu “manusia peneliti-nya” itu sendiri. Kapasitas jiwa raganya dalam mengamati, bertanya, melacak, dan mengabstraksi merupakan alat atau instrumen penting yang tiada duanya.
Artinya, masalah instrumentasi memang tak dapat “ditagih”
dalam rancangan penelitian kualitatif; yang dapat ditagih adalah kemampuan/kualifikasi penelitiannya.
e. Analisis Data
Secara umum, analisis data dalam penelitian kualitatif bergerak secara induktif, yaitu dari data/fakta menuju ketingkat abstraksi yang lebih tinggi, termasuk juga melakukan sintesis dan mengembangkan teori (bila diperlukan, dan datanya menunjang).
Artinya, analisis data pada penelitian kualitatif lebih bersifat open ended dan harus disesuaikan dengan data/informasi di lapangan sehingga prosedur analisisnya sukar untuk dispesifikkan sedari awal.
f. Jadwal, Pembiayaan, dan Produk akhir
Sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang telah disebutkan di atas, maka jadwal, pembiayaan, dan produk akhirnya juga sukar dapat di “reka” secara lebih pasti dari awal.
Ini menunjukkan bahwa kriteria yang biasanya dipakai dalam menilai rancangan penelitian kuantitatif tidak dapat dipergunakan dalam menilai usaha/rancangan penelitian kualitatif.
Jika demikian halnya, tentu timbul pertanyaan: apakah penelitian kualitatif memerlukan rancangan; bila diperlukan bagaimana sosok rancangannya.
Penelitian kualitatif sebagai suatu disciplined inquiri, bukanlah kegiatan acak-acakan yang tidak berstruktur. Ia merupakan kegiatan berstruktur, berencana, dan berstrategi yang dapat dan seharusnya di “petani” semenjak awal. Oleh sebab itu, adanya rancangan merupakan suatu keharusan juga.
Bagaimanakah rancangan penelitian kualitatif tersebut?
Bog dan dan Biklen mengibaratkan rancangan penelitian kualitatif dengan rencana seseorang yang hendak mengisi hari liburnya kesuatu objek wisata tertentu. Dia hanya menyatakan kearah mana atau daerah tujuan wisata mana ia akan berpergian, dan dengan menyebutkan bahwa apa yang akan dikunjunginya bergantung pada keadaan disana nantinya. Ia tidak berpretensi bahwa keadaan di daerah objek wisata itu telah dipahaminya benar-benar sehingga ia tidak dapat merinci secara spesifik objek- objek yang bakal dikunjunginya. Ia juga tak dapat merinci jenis strategi yang perlu dipakai dalam menuju sasaran-sasaran kunjungan di daerah objek wisata.
Sejalan dengan itu, Michael H. agar menuturkan pengalamannya selaku konsultan yang menilai usulan-usulan penelitian di suatu lembaga. Dikatakannya bahwa banyak peneliti etnografi hanya memaparkan sekitar setengah halaman mengenai metode penelitian dalam usulan/rancangan penelitian mereka.
Biasanya dinyatakan bahwa mereka akan menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam yang tak berstruktur, dan melakukan pencatatan data secara tertentu. Sedangkan, Richard L.
Daft menyebutkan bahwa pada penelitian kualitatif, rancangannya menyerupai puisi bukan menyerupai novel (design research as a Poem, not as a Novel).
Walaupun demikian, baik Bogdan dan Biklen maupun Michael agar juga mengakui bahwa terdapat juga penelitian- penelitian kualitatif yang oleh penelitinya telah direncanakan secara lebih rinci dalam usulan/rancangan penelitiannya, baik berkenaan dengan aspek permasalahan maupun prosedur/metode penelitiannya. Juga terdapat penelitian-penelitian yang sejak awalnya sudah lebih “terpancang”. Bisa lebih terpancang atau tidaknya sesuatu penelitian yang bersifat kualitatif banyak bergantung pada kadar pengetahuan pendahuluan penelitiannya tentang subjek dan latar penelitian yang hendak distudinya. Ia juga bergantung seberapa banyak kadar analisis induktif-kualitatif dan proses rotasi/siklus dipedulikan sebagai “garis pegangan”.
D. Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif