• Tidak ada hasil yang ditemukan

REAKTUALISASI PENDIDIKAN KESETARAAN MELALUI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

REAKTUALISASI PENDIDIKAN KESETARAAN

menggunakan tatap muka, tutorial dan kegiatan mandiri. Harapannya pembela-jaran pada pendidikan kesetaraan dapat menyesuaikan dengan kurikulum 2013.

Konsep Dasar Kurikulum 2013

Pengembangan Kurikulum 2013 dilandasi oleh aspek filosofis, yuridis dan konseptual. Secara filosofisnya pendidikan hendaknya berbasis nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat serta kurikulum berorientasi pengembangan kompetensi. Secara yuridis pendidikan dilandaskan pada perubahan metodologi pembelajaran, penataan kurikulum dan aspek hukum lainnya yang ditetapkan untuk sektor pendidikan. Secara konseptual pendidikan harus mempunyai relevansi, lebih dari hanya sekedar dokumen, berbasis kompetensi, memperhatikan proses , aktivitas, output dan out came pembelajaran dan penilaian dan lainnya. Ketiga aspektersebut menjadi dasar atau pondasi dalam mengembangan kurikulum 2013.

Pengembangan kurikulum 2013 tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana dituliskan pada Pasal 3 Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendiikan Nasional, bahwa pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari tujuan pendidikan tersebut dikembanganlah kompetensi inti yaitu menjadi 3 (tiga) aspek yaitu Pertama aspek sikap yang meliputi sikap spiritual (beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa) dan sikap sosial (berakhlak mulia, sehat, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab), kedua aspek pengetahuan (berilmu) dan ketiga aspek keterampilan (cakap dan kreatif). Ketiga aspek itulah yang dikembangkan dalam kurikulum 2013 menjadi kompetensi-kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik secara berjenjang mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari Sekolah Dasar (SD) sederajat, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajatnya. Kompetensi Inti inilah yang menjadi tujuan pendidikan menurut kurikulum 2013.

Tuntutan kurikulum 2013 ini muncul karena adanya perubahan paradig-ma pembangunan di negara Indonesia. Pergeseran paradigma pembangunan dari pembangunan berbasis kekayaan alam menjadi pembangunan berbasis kekayaan peradaban. Dimana pembangunan sampai dengan dekade akhir abad 20 meliputi pembangunan berbasis sumber daya ekonomi, SDA sebagai modal pembangunan, SDM sebagai beban pembangunan dan penduduk sebagai pasar/pengguna. Sedangkan

pembangunan abad 21 dan seterusnya meliputi ; pembangunan kesejahteraan berbasis peradaban, peradaban sebagai model pembangunan, SDM beradab sebagai model pembangunan dan penduduk sebagai pelaku/produsen. Pergesaran paradigma pembangunan ini menuntut sektor pendidikan mengambi l peran penting.

Transformasi melalui pendidikan merupakan suatu cara yang dianggap efektif.

Sehingga pendidikan harus menyiapkan SDM yang beradab dan kekayaan peradaban.

Kurikulum 2013 juga mengeser paradigma belajar yang selama ini ada menjadi paradigma belajar abad 21 yang membutuhkan model pembelajaran saintifik yang bercirikan sebagai berikut:

 Pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik “mencari tahu” dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu, karena informasi tersedia dimana saja dan kapan saja dapat diakses.

 Pembelajaran diarahkan untuk mampu “merumuskan masalah (menanya)”, bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab).

 Pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir “analitis (pengambilan keputusan)”

bukan berfikir mekanistis (rutin).

 Pembelajaran menekankan pentingnya “kerjasama dan kolaborasi” dalam menyelesaikan masalah.

Adapun tema pengembangan kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat menghasilkan insan Indoensia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan, sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi.

Kurikulum 2013 mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba (observation based learning) untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Disamping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning. Kegiatan pembelajarannya meliputi:

 Kegiatan mengamati (observing) ; aktivitas belajarnya adalah mengamati gejala sosial dengan melihat, membaca, mendengar dan mencermatinya melalui berbagai sumber, seperti kunjungan lapangan, kajian pustaka, dan sumber informasi dari media massa.

 Kegiatan menanya (questioning); aktivitas belajarnya adalah melakukan pengamatan berbagai gejala sosial dengan merumuskan pertanyaan berdasarkan kaitan, pengaruh dan kecenderungannya;

 Kegiatan mengumpulkan data (eksperimenting); aktivitas belajarnya adalah mengumpulkan data dengan merumuskan daftar pertanyaan berdasarkan hasil

identifikasi, menentukan indikator, melakukan wawancara dan atau mengisi kuesioner.

 Kegiatan mengasosiasi (associating) ; aktivitas belajarnya adalah melakukan analisis data berdasarkan kerangka analisis dengan melihat keterkaitan data dengan konsep, klasifikasi, kuantifikasi, interpretasi dan tabulasi data. Memecahkan masalah dengan mengajukan pendapat, penilaian atau argumen untuk merumuskan rencana aksi dan strategi serta melakukan evaluasi;

 Kegiatan mengkomunikasikan (Communicating); aktivitas belajarnya adalah mengkomunikasikan proses dan hasil kegiatan dalam memecahkan masalah sosial dengan memaparkan, mendiskusikan, membuat laporan dan mempublikasikannya.

Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik menjadi rohnya kurikulum 2013 untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Pada tingkat satuan pendidikan tetap dilakukan penyusunan kurikulum yang mengacu pada permendikbud yang mengatur 8 standar pendidikan nasional. Kurikulum 2013 memang baru dilaksanakan pada jalur pendi-dikan formal, bagaimana dengan pendidikan nonformal dan informal?

Pendidikan informal yang diselenggarakan oleh keluarga dan masyarakat selama ini hanya ada sesuai dengan kebutuhan dan dilaksanakan secara mandiri, jadi dapat disimpulkan bahwa jauh dari sentuhan kurikulum 2013. Sedangkan pendidikan nonformal yang selama ini diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat. PNFI meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik (Pasal 26 ayat (3) UU No. 20 tahun 2003 tentang sisitem pendidikan nasional

Sekilas Kurikulum Pendidikan Kesetaraan

Struktur kurikulum program Paket A, Paket B, dan Paket C dilaksanakan dalam sistem tingkatan dan derajat yang setara dengan sistem kelas pada pendidikan formal dengan kompetensi masing-masing sebagai berikut:

1. Program Paket A meliputi Tingkatan 1 dan tingkatan 2. Tingkatan 1 dengan derajat kompetensi Awal setara dengan kelas III SD/MI, menekankan pada kemampuan literasi dan numerasi (kemahirwacanaan bahasa dan angka), sehingga peserta didik mampu berkomunikasi melalui teks secara tertulis dan lisan, baik dalam bentuk huruf maupun angka. Selanjutnya Tingkatan 2 dengan derajat

kompetensi Dasar setara dengan kelas VI SD/MI, menekankan penguasaan fakta, konsep, dan data secara bertahap, sehingga peserta didik mampu berkomunikasi melalui teks secara tertulis dan lisan dengan menggunakan fenomena alam dan atau sosial sederhana secara etis, untuk memiliki keterampilan dasar dalam memenuhi kebutuhan hidup seharihari dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

2. Program Paket B meliputi: Tingkatan 3 dengan derajat kompetensi Terampil 1 setara dengan kelas VIII SMP/MTs, menekankan pada penguasaan dan penerapan konsep-konsep abstrak secara lebih meluas dan berlatih meningkatkan keterampilan berpikir dan bertindak logis dan etis, sehingga peserta didik mampu berkomunikasi melalui teks secara tertulis dan lisan, serta memecahkan masalah dengan menggunakan fenomena alam dan atau sosial yang lebih luas. Sedangkan Tingkatan 4 dengan derajat kompetensi Terampil 2 setara dengan kelas IX SMP/MTs, menekankan peningkatan keterampilan berpikir dan mengolah informasi serta menerapkannya untuk menghasilkan karya sederhana yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat, sehingga peserta didik mampu secara aktif mengekspresikan diri dan mengkomunikasikan karyanya melalui teks secara lisan dan tertulis berdasarkan data dan informasi yang akurat secara etis, untuk memenuhi tuntutan keterampilan dunia kerja sederhana dan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

3. Program Paket C meliputi: Tingkatan 5 dengan derajat kompetensi Mahir 1 setara dengan kelas X SMA/MA, diarahkan pada pencapaian dasar-dasar kompetensi akademik dan menerapkannya untuk menghasilkan karya sehingga peserta didik mampu mengkomunikasikan konsep-konsep secara lebih ilmiah dan etis serta mempersiapkan diri untuk mampu bekerja mandiri dan mengembangkan kepribadian profesional. Selanjutnya Tingkatan 6 dengan derajat kompetensi Mahir 2 setara dengan kelas XII SMA/MA, diarahkan untuk pencapaian kemampuan akademik dan keterampilan fungsional secara etis, sehingga peserta didik dapat bekerja mandiri atau berwirausaha, bersikap profesional, berpartisipasi aktif dan produktif dalam kehidupan masyarakat, serta dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Struktur kurikulum program Paket A, Paket B, dan Paket C dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan sesuai dengan Permen Diknas 23/2006 dengan orientasi pengembangan olahkarya untuk mencapai keterampilan fungsional yang menjadi kekhasan program program Paket A, Paket B, dan Paket C, yaitu:

a. Paket A: Memiliki keterampilan untuk memenuhi kebutuhan hidup seharihari.

b. Paket B: Memiliki keterampilan untuk memenuhi tuntutan dunia kerja.

c. Paket C: Memiliki keterampilan berwirausaha.

Program kesetaraan menggunakan sistem satuan kredit kompetensi (SKK).

SKK merupakan penghargaan terhadap pencapaian kompetensi sebagai hasil belajar peserta didik dalam menguasai suatu mata pelajaran. SKK diperhitungkan untuk setiap mata pelajaran yang terdapat dalam struktur kurikulum. Satu SKK dihitung berdasarkan pertimbangan muatan SK dan KD tiap mata pelajaran. SKK dapat digunakan untuk alih kredit kompetensi yang diperoleh dari jalur pendidikan informal, formal, kursus, keahlian dan kegiatan mandiri.

Satu SKK adalah satu satuan kompetensi yang dicapai melalui pembelajaran 1 jam tatap muka atau 2 jam tutorial atau 3 jam mandiri, atau kombinasi secara proporsional dari ketiganya. Satu jam tatap muka yang dimaksud adalah satu jam pembelajaran yaitu sama dengan 35 menit untuk Paket A, 40 menit untuk Paket B, dan 45 menit untuk Paket C.

Upaya Reaktualisasi Pendidikan Kesetaraan Melalui Kurikulum 2013

Dalam upaya pengembangan kurikulum pada pendidikan kesetaraan, beberapa peluang yang dapat digunakan.

1. Standar isi, standar proses, dan standar penilaian truktur kurikulum pendidikan kesetaraan pada Kurikulum 2013 diha-rapkan tidak berbeda jauh dengan struktur kurikulum pada kurikulum 2006.

2. Pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik “mencari tahu” dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu, karena informasi tersedia dimana saja dan kapan saja dapat diakses.

3. Pembelajaran diarahkan untuk mampu “merumuskan masalah (menanya)”, bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab).

4. Pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir “analitis (pengambilan keputusan)”

bukan berfikir mekanistis (rutin).

5. Pembelajaran menekankan pentingnya “kerjasama dan kolaborasi” dalam menyelesaikan masalah.

PENUTUP

1. Kurikulum untuk pendidikan kesetaraan secara konseptual telah termuat pada standar kompetensi lulusan pendidikan formal.

2. Untuk standar lain seperti standar isi, standar proses, dan standar penilaian termasuk Struktur kurikulum belum diterbitkan untuk pendidikan kesetaraan 3. Diharapkan kurikulum 2013 untuk pendidikan kesetaraan tidak berbeda jauh

dengan kurikulum

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional (2007) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 14 tahun 2007 Standar Isi Pendidikan Kesetaraan Program Paket A, Program Paket B, Dan Program Paket C

Departemen Pendidikan Nasional (2008) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 3 tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan Kesetaraan Program Paket A, Program Paket B, Dan Program Paket C.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2014) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah

REAKTUALISASI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH