BAB II TINJAUAN TEORITIS
D. Resiko Pembiayaan Mudharabah
3) Pada dasarnya, dalam mudharabah tidak ada ganti rugi, karena pada dasarnya akad ini bersifat amanah (yad amanah) kecuali akibat dari kesalahan di sengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.
4) Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibanya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya di lakukan melalui Badan Arbitrsi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.21
masing-masing probabilitas terjadinya risiko dalam bank syariah. Di dalam Islam sendiri sebenarnya telah membedakan secara jelas dua bentuk yang berbeda dari risiko dalam kegiatan bisnis. Kedua jenis risiko yang dimaksud itu adalah:
1. Risiko terkait dengan transaksi atau dalam kegiatan ekonomi yang bertujuan menciptakan nilai tambah atau kekayaan.
2. Risiko yang terkait dengan perjudian (eating wealth for nothing).
Maka sebenarnya masih sulit untuk mendefiniskan risiko pada bank syariah secara spesifik. Namun, dari literatur yang ditemukan dalam studi ini terdapat pembahasan yang sudah spesifik mengenai risiko pada akad syarian yang diaplikasikan pada perbankan syariah. Dikarenakan bank syariah mengaplikasikan akad-akad syariah dalam kegiatanya bisnisnya, maka risiko-risiko modern akad pembiayaan pada bank syariah tergantung karakteristik pada produk-produk pembiayaannya, yaitu:
Risiko yang timbul pada akad Ijarah bisa jadi penyebabnya ialah jika barang milik bank timbul risiko tidak produktif aset ijarah karena tidak adanya nasabah; jika barang bukan milik bank, timbul risiko rusaknya barang oleh nasabah karena pemakaian tidak normal; dalam hal jasa tenaga kerja yang disewakan bank kemudian disewakan kepada nasabah timbul risiko kualitas pemberi jasa mungkin kurang cakap seperti yang diharapkan.
Sedangkan risiko pada pengembangan akad Ijarah, yaitu pembiayaan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT) ialah mengenai ketidak
mampuan nasabah membayar angsuran dalam jumlah besar di akhir periode, jika pembayaran dilakukan dengan sistem pembayaran angsuran dalam jumlah besar di akhir periode. Jika bank menggunakan akad Salam yang biasanya digunakan untuk membiayai pembelian barang-barang pertanian, maka risiko yang dihadapi bisa saja pada saat penjual tidak dapat memenuhi kontrak sebagaimana yang diperjanjikan. Misalnya, tidak mengirimkan sebagian atau seluruh barang pesanan.
Risiko lain, bisa saja adanya kemungkinan penurunan nilai barang- barang pesanan atau penurunan nilai inventory yang disimpan. Penurunan nilai barang ini bisa terjadi karena rusak atau harga di pasar mengalami penurunan. Risiko jika menggunakan akad Istishna sebenarnya risiko yang sama dengan Salam. Istishna menurut sebagian fuqaha merupakan jenis khusus dari Salam, tetapi banyak diaplikasikan jika bank ini melakukan kegiatan bisnis di bidang-bidang manufaktur dan konstruksi yang jangka waktunya relatif panjang. Namun dalam hal ini bank dapat menghadapi risiko yang berupa default pelaksanaan yang tidak sesuai kontrak. Bisa jadi karena terlambat melaksanakan kontrak atau mungkin saja kualitas barang yang dipesan tidak sesuai.
Pada akad Mudharabah dan Musyarakah, pada akad ini penilaian risiko pada bank biasanya meliputi risiko bisnis yang dibiayai atau resiko berkurangnya nilai pembiayaan mudharabah dan musyarakah, serta risiko karakter dari mudharib. Lebih dalam lagi dijelaskan bahwa pada akad Mudharabah nasabah sebagai pengelola dana, sebenarnya tidak
mempunyai kewajiban untuk menanggung risiko kerugian yang timbul.
Mudharib juga tidak diwajibkan untuk memberikan agunan kepada bank . Kerugian yang dapat dibebankan kepada nasabah adalah apabila kerugian tersebut dikarenakan kelalaian dan kecurangan yang dilakukannya sendiri.
Untuk menghadapi kemungkinan risiko kecurangan atau kelalaian nasabah pada akad Mudharabah ini bank dapat melakukan pengawasan secara aktif dan melakukan pemeriksaan secara langsung terhadap operasional bisnis, maupun berkas-berkas nasabah. Namun, pada jenis akad Mudharabah Mutlaqah bank biasanya tidak ikut campur dalam pengelolaan usaha, sehingga dengan adanya ketentuan ini menyebabkan bank bisa jadi menghadapi risiko yang tinggi karena seluruh kerugian akan ditanggung bank sebagai pemilik modal. Namun, studi ini telah menyetujui penjelasan yang ditulis oleh Rivai & Ismal (2013),
Bahwa risiko yang sangat tinggi pada Mudharabah Mutlaqah tersebut bisa diatasi dengan meminta jaminan kepada nasabah, meskipun pada akad aslinya Mudharabah tidak disyaratkan adanya jaminan atau agunan. Sementara akad Musyarakah apabila diaplikasikan pada bank, maka digunakan untuk investasi jangka panjang pengusaha, bank sebagai investor yang masing-masing menyerahkan modal untuk melaksanakan usaha, serta sepakat untuk membagi keuntungan dan kerugian (risiko).
Keuntungan dan kerugian ini sesuai nisbah yang telah disepakati dalam perjanjian. Risiko kerugian yang bisa dihadapi oleh bank bisa jadi risiko kerugian dari hasil usaha atau proyek yang dibiayai atau adanya
ketidak jujuran dari partner usaha. Namun, bisa jadi pula risiko pembiayaan Musyarakah relatif lebih kecil daripada risiko dengan akad pembiayaan Mudharabah, karena pada Musyarakah bank sebetulnya dapat ikut mengelola usaha yang dijalankan bersama dan melakukan pengawasan secara lebih ketat terhadap usaha yang dijalankan. Namun, masalah lain yang timbul apabila akad jenis ini digunakan ialah keterbatasan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) yang melakukan pengelolaan dan melakukan pengawasan.
Akad lain yang dapat diterapkan oleh bank adalah Murabahah.
Risiko yang dihadapi bank syariah jika menggunakan akad ini tanpa modifikasi sama halnya seperti Mudharabah, yaitu ketiadaan jaminan bagi bank seandainya pembeli membatalkan transaksi. Selanjutnya, bank juga akan mengalami risiko kerugian karena menurunnya nilai barang akibat cacat atau rusak selama masa penyimpanan. Meskipun telah disebutkan bahwa akad-akad bank syariah yang digunakan untuk pembiyaaan memiiliki risiko yang spesifik sesuai jenis akadnya, namun manajemen risikonya masih juga belum menemukan bentuk yang pasti dan sesuai dengan jenis risiko yang dihadapi oleh bank syariah.
Gambaran umum manajemen risiko bank syariah saat ini bisa dilihat dari penjelasan Ernest dan Young (2000) bahwa proses dan langkah-langkah penerapan manajemen risiko secara umum dapat berlaku untuk semua bank, baik pada bank konvensional maupun pada bank syariah. Kemudian penjelasan oleh Herlianto (2002) bahwa penerapan
manajemen risiko untuk semua perbankan harus memperhatikan dengan cermat risk management life cycle yaitu siklus understanding, siklus identifying, siklus assessing, siklus measuring, siklus managing, dan siklus monitoring.
Berdasarkan adanya dua pendapat tersebut proses penerapan manajemen risiko pada bank adalah proses yang tetap harus berjalan meskipun pelaksanaannya pada setiap bank mungkin saja berbeda tergantung jenis banknya (Rosly & Mohd. Zaini 2008). Penjelasan dalam literatur lain juga mengatakan bahwa esensi penerapan manajemen risiko sebenarnya adalah proses untuk melakuan kecukupan prosedur dan metodologi pengelolaan risiko sehingga kegiatan usaha bank tetap dapat terkendali (manageable) pada batas/limit yang dapat diterima, serta dapat memberikan keuntungan bagi bank sesuai dengan tingkat risiko yang dapat diterima.
Ditambah dengan adanya perbedaan kondisi pasar, struktur, ukuran serta kompleksitas usaha bank, maka tidak ada satu sistem manajemen risiko yang universal untuk seluruh bank (Ikatan Bankir Indonesia, 2014, p. 347). Literatur selanjutnya dibahas bahwa untuk mengantisipasi sebuah risiko sebetulnya bisa dilakukan dengan melakukan penilaian terhadap risiko inheren dan penilaian terhadap kualitas penerapan manajemen risiko yang meliputi sistem pengendalian risiko.
Sedangkan jenis risiko itu adalah risiko yang melekat pada setiap kegiatan usaha bank, karena itu bank wajib menyampaikan laporan profil
risiko bank secara individual maupun secara konsolidasi. Dengan demikian, manajemen risiko ialah kegiatan yang dilakukan untuk menanggapi risiko yang telah diketahui dalam rangka meminimalisasi konsekuensi buruk yang muncul. Manajemen risiko juga dikatakan sebagai suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam rangka mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman terhadap bisnis.
Pendapat lain mengatakan bahwa manajemen risiko dalam Islam sebenarnya adalah bagaimana mengendalikan kerugian yang ditimbulkan dari kemungkinan-kemungkinan adanya risiko dan spekulasi. Di dalam literatur fikih, term gharar memang berhubungan dengan risiko dan ketidakpastian yang ada di dalam perjanjian. Namun, kurang tepat jika dikatakan bahwa manajemen risiko dalam Islam adalah tentang bagaimana mengendalikan terjadinya kemungkinan gharar, karena gharar dalam Islam bukannya harus dikendalikan atau dikurangi, melainkan dihindari sama sekali. Jadi, jika terdapat gharar berupa ketidak jelasan atau ketidak pastian dalam usaha bank syariah, terutama kualitas nasabah yang membutuhkan pembiayaan, bank syariah sebaiknya tidak menyalurkan modalnya.
Untuk itu segmentasi nasabah sebenarnya sangat penting dalam hal ini. Studi ini setuju dengan yang telah ditulis oleh Ikatan Bankir Indonesia (2014) bahwa penentuan segmentasi nasabah sangat penting dalam memetakan kebutuhan produk dan jasa perbankan, baik dari sisi asset dan pembiayaan maupun liabilities dana dari masing-masing kelompok
nasabah dalam rangka meningkatkan kualitas layanan ataupun produk pembiayaan. Tujuan segmentasi ini ialah selain untuk mengantisipasi risiko, juga agar pengelolaan bisnis dapat dilakukan secara fokus, efisien, dan tepat sasaran sesuai dengan besar kecilnya usaha dan atau karakteristik usaha.
Definisi resiko menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah akibat yang kurang menyenangkan, merugikan,membahayakan dari suatu perbuatan atau tindakan. Resiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa tertentu. Sedangkan Menurut Adiwarman Karim Resiko perbankan suatu kejadian potensial baik yang dapat di perkirakan maupun tidak dapat di perkirakan yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan perbankan.22
22 Adiwarman A. Karim, 2010, Bank islam: Analisis Fiqih dn Keuangan, Jakarta, Raja Garindro Persada, hal 255
35 A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah salah satu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang kenyataan melalui proses berpikir induktif. Melalui penelitian kualitatif peneliti dapat mengenali subjek, merasakan apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini dengan terjun langsung ke lapangan atau lokasi objek penelitian, seperti lingkungan masyarakat. Yang di maksud dalam penelitian ini adalah pegawai Bank BNI Syariah Cabang Makassar.
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Pemilihan lokasi penelitian sangat penting dalam rangka mempertanggung jawabkan data yang diambil. Dalam penelitian ini lokasi penelitian ditetapkan pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Makassar.
Di mana penetapan lokasi penelitian ini dimaksudkan untuk mempermudah atau memperlancar objek yang menjadi sasaran dalam penelitian, sehingga penelitian tersebut akan terfokus pada pokok permasalahannya. Penelitian ini di rencanakan 2 (dua) bulan tahun 2020.
C. Fokus dan Deskripsi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mengfokuskan pada Analisis Resiko Bank Syariah Pada Produk Pembiyaan Mudharabah dalam Perspektif Hukum Islam.
Penelitian ini berfokus dalam 2 hal pokok, yaitu:
1. Resiko Bank Syariah pada produk pembiayaan mudharabah.
2. Managemen resiko pembiayaan mudharabah di bank syariah.
D. Sumber Data
Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Data Primer
Data primer adalah data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli yang dalam hal ini diperoleh atau dikumpulkan dari lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya.23 Dalam hal ini data yang diperoleh bersumber dari pegawai yang bekerja di Bank BNI Syariah Cabang Makassar.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan dari sumber-sumber yang telah ada. Data tersebut diperoleh dari perpustakaan atau laporan-laporan penelitian terdahulu yang berbentuk tulisan.24 Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari buku-buku, jurnal, Al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.
23 Etta Mamang Sungaji dan Sopiah, Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Penerbit Andi), 171.
24 Iqbal Hasan, Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya (Jakarta:
Ghalia IKAPI, 2002), 82.
E. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan instrumen yaitu satu- satunya instrumen terpenting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Peneliti mungkin menggunakan alat-alat bantu untuk mengumpulkan data seperti tape recorder, video kaset, atau kamera.
Tetapi kegunaan atau pemanfaatan alat-alat ini sangat tergantung pada peneliti itu sendiri.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, yaitu percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi.25 Komunikasi ini dilakukan secara langsung oleh pihak yang membutuhkan informasi dengan pihak lain untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Dengan cara ini, kita dapat menggali informasi lebih mendalam karena segala sesuatu yang tidak dipahami dapat ditanyakan secara langsung.
Dalam hal ini, penulis memperoleh informasi dari pegawai yang bekerja di Bank BNI Syariah Cabang Makassar.
2. Dokumentasi
Dokumentasi adalah proses pecairan, pengumpulan dan penyediaan data sebagai bukti akurat untuk memperkuat informasi yang telah
25 NASUTION, Metode Research (Jakarta: Bumi Aksara,2012), 113.
diperoleh. Dokumentasi ini bisa berupa gambar ataupun dokumen- dokumen yang berkaitan dengan penelitian yang diperoleh saat penelitian sedang berlangsung.
3. Observasi
Peneliti melalui observasi langsung di lokasi (disebut
"Participant-Observer") di samping memiliki kelebihan-kelebihan, juga mengandung beberapa kelemahan. Kelebihannya antara lain,
Pertama, peneliti dapat langsung melihat, merasakan, dan mengalami apa yang terjadi pada subjek yang ditelitinya. Dengan demikian, peneliti akan lambat laut "memahami" makna-makna apa saja yang tersembunyi di balik realita yang kasat mata (verstehen). Ini adalah salah satu tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian kualitatif.
Kedua, peneliti akan mampu menentukan kapan penyimpulan data telah mencukupi, data telah jenuh, dan penelitian dihentikan. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data tidak dibatasi oleh instrumen (berupa wawancara) yang sengaja membatasi penelitian pada variabel- variabel tertentu saja.
Ketiga, peneliti dapat langsung melakukan pengumpulan data, menganalisanya, melakukan refleksi secara terus menerus, dan secara gradual "membangun" pemahaman yang tuntas tentang sesuatu hal.
Ingat, dalam penelitian kualitatif, peneliti memang "mengkonstruksi"
realitas yang tersembunyi (tacit) di dalam masyarakat.26 G. Teknik Analisis Data
Dari semua data yang diperoleh dari lapangan saat penelitian, kemudian penulis menganalisis dengan menggunakan analisis kualitatif untuk mengambarkan keadaan atau fenomena yang terjadi. Dalam hal ini penulis Menganalisis Resiko Bank Syariah Pada Produk Pembiyaan Mudharabah dalam Perspektif Hukum Islam.
Penelitian ini menggunakan berbagai teknik analisis data yaitu:
1. Reduksi Data ialah proses mengubah data kedalam pola, fokus, kategori, atau pokok permasalahan tertentu.
2. Penyajian Data ialah menampilkan data dengan cara memasukkan data dalam bentuk yang di inginkan seperti memberikan penjelasan dan analisis.
3. Menarik Kesimpulan ialah mencari simpulan atas data yang direduksi dan disajikan.
26 Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja RosdaKarya.
2000), h. 19.
40
A. Gambaran Umum Tentang Bank BNI Syariah 1. Sejarah Bank BNI Syariah
Bank BNI Syariah sejak berdiri pada tahun 1946, Bank Negara Indoneia (BNI), merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Bank Negara Indonesia mulai mengedarkan alat pembayaran resmi pertama yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia, yakni ORI atau Obligasi Ritel Indonesia, pada malam menjelang tanggal 30 Oktober 1946. Pada tahun 2004, identitas perusahaan yang diperbaharui mulai digunakan untuk menggambarkan prospek masa depan yang lebih baik,
Setelah keberhasilan mengarungi masa-masa yang sulit. Sebutan
“Bank BNI” dipersingkat menjadi “BNI”, Sedangkan tahun pendirian yaitu “46” digunakan dalam logo perusahaan untuk meneguhkan kebangaan sebagai bank nasional pertama yang lahir pada era Negara Kesatuan Republik Indonesia.
BNI membuka layanan perbankan yang sesuai dengan prinsip syariah dengan konsep dual system banking, yakni menyediakan layanan perbankan umum dan syariah sekaligus. Hal ini sesuai dengan UU No. 10 Tahun 1998 yang memungkinkan bank-bank untuk membuka layanan syariah. Di awali dengan pembentukan Tim Bank Syariah di Tahun 1999, Bank Indonesia kemudian mengeluarkan ijin
prinsip dan usaha untuk beroperasinya unit usaha syariah BNI. Setelah itu BNI Syariah menetapkan strategi pengembangan jaringan cabang.
Selanjutnya UUS BNI terus berkembang menjadi 28 Kantor Cabang dan 31 Kantor Cabang Pembantu. Disamping itu nasabah juga dapat menikmati layanan syariah di Kantor Cabang BNI Konvensional (office channelling) dengan kurang lebih 750 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di dalam pelaksanaan operasional perbankan, BNI Syariah tetap memperhatikan kepatuhan terhadap aspek syariah. Dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang saat ini diketuai oleh Dr. Hasanuddin, M.Ag yang sebelumnya diketuai oleh KH Ma’ruf Amin, semua produk BNI Syariah telah melalui penguji dari DPS sehingga telah memenuhi aturan syariah. Berdasarkan surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No.12/41/KEP.GBI/2010 tanggal 21 Mei 2010, maka telah diperoleh izin usaha bank umum syariah (BUS) PT Bank BNI Syariah atau BNI Syariah.
BNI Syariah merupakan anak perusahaan dari BNI dengan komposisi kepemilikan saham 99.99% dimiliki oleh BNI dan sisanya dimiliki oleh PT. BNI Life. Hingga akhir Mei 2010, Unit Usaha Syariah BNI memiliki aset sebesar Rp 5,2 triliun, total dana masyarakat sebesar 4,2 triliun, total pembiayaan Rp 3,2 triliun, modal sebesar Rp 1 triliun , dengan customer based lebih dari 420 ribu nasabah. Strategi jangka menengah-panjang setelah spin off, BNI akan menjajaki kemungkinan menjalin kemitraan strategis dengan berbagai pihak, baik institusi di
dalam maupun di luar negeri dalam mengebangkan PT Bank BNI Syariah, termasuk mengundang investor strategis guna memperkuat permodalan, keahlian, dan jaringan global. BNI Syariah akan menjadi elemen penting dalam bisnis BNI secara holding melalui konsep BNI Incorporated. Sementara itu,
Nasabah tetap dapat menikmati layanan yang ada selama ini, seperti layanan e-channel BNI (BNI ATM, BNI SMS Bangking, BNI Internet Bangking), tarik setor di seluruh kantor BNI, serta masih dapat melakukan pembukaan rekening BNI Syariah di lebih dari 750 kantor cabang BNI yang telah menjadi Syariah Channeling Outlet (SCO).
Demikian juga dengan fitur produk tidak mengalami perubahan, bahkan ke depan akan lebih bervariasi.27
2. Visi dan Misi Bank BNI Syariah
1) Visi PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Makassar
Menjadi Bank Syariah pilihan masyarakat yang unggul dalam layanan kinerja.
2) Misi PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Makassar
a) Memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan peduli pada kelestarian linkungan.
b) Memberikan solusi bagi masyarakat untuk kebutuhan jasa perbankan syariah.
27 Betara indra gunawan, sejarah berdirinya Bank Negara Indonesia Syariah,
http://ktara.blogspot.com/2015/03/sejarah-berdirinya -bank-negara-indonesia syariah.html, di akses pada tanggal 26 januari 2020 (15.16)
c) Memberikan nilai invstasi yang optimal bagi investor.
d) Menciptakan wahana terbaik sebagai tempat kebangaan untuk berkarya dan berprestasi bagi pegawai sebagai perwujudan ibadah.
e) Menjadi acuan tata kelola perusahaan yang amanah.
3. Budaya Kerja PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Makassar 1) Amanah
a) Jujur dan menepati janji b) Bertanggung jawab
c) Bersemangat untuk menghasilkan karya terbaik d) Bekerja ikhlas dan mengutamakan niat ibadah e) Melayani melebihi harapan
2) Jamaah
a) Peduli dan berani memberikan maupun menerima umpan balik yang konstruktif.
b) Membangun sinergi secara profesional.
c) Membagi pengetahuan yang bermanfaat.
d) Memahami keterkaitan proses kerja.
e) Memperkuat kepemimpinan yang efektif.
4. Kegiatan Operasional Perusahaan a. Penghimpun Dana (Funding)
1) Produk Tabungan
Tabungan merupakan simpanan dalam bentuk mata uang rupiah yang dikelola berdasarkan prinsip syariah dengan akad Mudharabah Mutlaqah atau akad Wadiah. Bank sebagai pihak yang bebas tanpa pembatasan dari pemilik dana menyalurkan dana nasabah tersebut dalam bentuk pembiayaan kepada usaha- usaha yang menguntungkan dan tidak bertentangan dengan prinsip Syariah. Atas keuntungan yang didapat dari penyaluran dana, bank memberikan bagi hasil sesuai dengan nisbah yang telah disepakati. Jenis tabungan yang ada di BNI Syariah yaitu:
a) Tabungan iB hasanah
Yaitu tabungan dengan akad mudharabah atau wadiah yang memberikan berbagai fasilitas serta kemudahan dalam mata uang Rupiah.
b) Tabungan iB Bisnis Hasanah
Yaitu tabungan dengan akad mudharabah yang dilengkapi dengan detil mutasi debet dan kredit pada buku tabungan dan bagi hasil yang lebih kompetitif dalam mata uang Rupiah.
c) Tabungan iB Tunas Hasanah
Yaitu tabungan dengan akad wadiah yang diperuntukkan bagi anak-anak dan pelajar yang berusiadi bawah 17 tahun.
2) Produk Transaksi
Produk transaksi di BNI Syariah yaitu Giro iB hasanah.
Simpanan Giro iB Hasanah merupakan produk penyimpanan dana yang menggunakan prinsip wadiah yad addhamanh (titipan murni). Pada produk ini nasabah menitipkan dana dan Bank akan mempergunakan dana tersebut sesuai dengan prinsip Syariah dan menjamin akan mengembalikan titipan tersebut secara utuh bila sewaktu-waktu nasabah membutuhkannya.
3) Produk investasi a) Deposito iB Hasanah
Deposito iB Hasanah adalah simpanan berjangka yang ditujukan untuk berinvestasi bagi nasabah perorangan dan perusahaan, dengan mengunakan prinsip mudharabah mutlaqah. Dana nasabah akan dikelola dengan cara disalurkan melalui pembiayaan usaha produktif yang sesuai dengan prinsip syariah dan menghasilkan bagi hasil yang kompetitif bagi nasabah.
b) Tabungan iB Baitullah Hasanah
Tabungan dengan akad mudharabah atau wadiah yang dipergunakan sebagai sebagai sarana untuk mendapatkan kepastian porsi berangkat menunaikan ibadah haji (regular/khusus) dan merencanakan ibadah umrah sesuai
dengan keinginan penabung dengan sistem setoran bebas atau bulanan dalam mata uang Rupiah dan USD.
c) Tabungan iB Tepenas Hasanah
Yaitu tabungan dengan akad mudhrabah untuk perencanaan masa depan yang dikelola berdasarkan prinsip Syariah dengan sistem setoran bulanan yang bermanfaat untuk membantu menyiapkan rencana masa depan seperti rencana liburan, ibadah umrah, pendidikan ataupun rencana pendidikan masa depan lainnya.
b. Penyaluran Dana (lending)
Penyaluran dana (pembiayaan) di BNI Syariah ada dua yaitu:28 1) Produktif
a) Tunas Usaha iB Hasanah
Tunas iB Hasanah (TUS) adalah pembiayaan modal kerja dan atau investasi yang diberikan untuk usaha produktif yang feasible namun belum bankable dengan prinsip syariah dalam rangka mendukung pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2007.
b) Wirausaha iB Hasanah
Wirausaha iB Hasanah (WUS) adalah fasilitas pembiayaan produktif yang ditujukan untuk memunuhi kebutuhan pembiayaan usaha-usaha produktif (modal kerja dan
28 Sri Ekawati. 2018. Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) di PT Bank BNI Syariah Kantor Cabang Utama Makassar. h 60-61