• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rima Purnamayani dan Haris Syahbuddin

Landasan strategis kebijakan pangan tertuang dalam Undang-Undang No. 18/2012 tentang Pangan, antara lain menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang bermanfaat, berkeadilan, merata, dan berkelanjutan. Aturan ini kemudian dilanjutkan oleh Undang-Undang No.

19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani serta konsep Nawacita dengan ciri utama berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Setelah itu terbitlah Rencana Induk Pembangunan Pertanian (RIPP) 2045 yang mengubah pandangan dari pembangunan berbasis pertanian menjadi pertanian untuk pembangunan (agriculture for development). Untuk aturan yang lebih operasional, terdapat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Strategis (Renstra) Kementerian Pertanian. Landasan strategis berupa regulasi ini penting sebagai dasar dalam pelaksanaan berbagai program dan kegiatan yang mendukung mewujudkan visi Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045, termasuk di dalamnya program dan kegiatan peningkatan indeks pertanaman.

Potensi sumber daya lahan Indonesia sangat besar yaitu 188.20 juta hektar dan sebagian belum dimanfaatkan secara optimal, terutama lahan suboptimal seperti lahan kering (148 juta hektar) dan lahan basah yaitu rawa pasang surut dan rawa lebak (40,20 juta hektar), yang produktivitasnya relatif rendah karena berbagai kendala. Dalam implementasi model peningkatan indeks pertanaman lingkup Balitbangtan, sentuhan dan rekayasa penerapan inovasi teknologi pada lahan sub optimal telah menjadikan lahan sub optimal lebih produktif untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian. Walaupun belum menyamai produktivitas lahan optimal terutama lahan beririgasi, namun model tersebut sudah merupakan optimisme bahwa peningkatan indeks pertanaman dapat dilakukan dalam skala ekonomis/Kawasan.

Salah satu titik ungkit yang crucial dalam implementasi peningkatan indeks pertanaman adalah ketersediaan air. Untuk lahan sawah tadah hujan dan lahan kering, penampungan dan pemanfaatan air yang berlimpah merupakan langkah strategis operasional yang harus diterapkan, agar sasaran peningkatan indeks pertanaman dapat tercapai sebesar 26% dari IP 158 (kondisi saat ini) menjadi IP 200, serta peningkatan produksi pangan sebesar 7% dapat terealisasi. Pengembangan embung, dam parit, long storage, dan bangunan pengelolaan air lainnya menjamin penyediaan air untuk irigasi guna

202

|

Bukti Nyata Peningkatan Indeks Pertanaman:

Fondasi Lumbung Pangan Masa Depan

meningkatkan indeks pertanaman dari IP 100 menjadi IP 200 atau IP 300. Dalam buku ini sudah tertuang bukti nyata peningkatan indeks pertanaman rata-rata dari IP 100 menjadi IP 150 – 200 di beberapa wilayah yang dominan lahan kering dan sawah tadah hujan.

Mendukung hal ini, maka diterbitkanlah Instruksi Presiden No. 1 tahun 2018 tentang Percepatan Penyediaan Embung Kecil dan Bangunan Penampung Air Lainnya di Desa. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) sebagai perpanjangan tangan Balitbangtan di daerah mendapat tugas untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi lokasi pembangunan embung dan pengelolaan air lainnya. Kerja keras tim BPTP selama kurun waktu 2 tahun sejak 2017 telah mencapai target. Pada akhir tahun 2018, diperoleh potensi rekomendasi embung dan bangunan penampung air lainnya sejumlah 30.111 unit. Potensi luas layanan lahan memang belum mencapai keseluruhan luas 4 juta hektar, namun mendekati separuhnya. Tinggal lagi, bagaimana potensi yang telah teridentifikasi tersebut dimanfaatkan oleh Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk membangun infrastrukturnya. Terkait pemanfaatan potensi sumber daya air, Direktorat teknis Bersama pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan Perbankan agar hasil identifikasi rekomendasi embung dan bangunan penampung air ini dapat menjadi prioritas pembangunan untuk pencapaian swasembada pangan.

Pembangunan penampung dan pengelolaan air tidaklah dapat mendorong peningkatan produksi jika tidak dimanfaatkan dengan baik.

Infrastruktur air yang telah terbangun haruslah didukung dengan Gerakan panen dan hemat air. Gerakan panen dan pemanfaatan air secara efisien menjadi strategis dan sangat penting untuk dieksekusi. Dengan dimensi embung, dam parit, dan bangunan air lainnya yang rata-rata mampu menampung air 500 m3 (tergantung volume bangunan), maka terdapat 15 juta m3 air tersedia untuk irigasi lahan sawah tadah hujan seluas kurang lebih 130.000 ha untuk menghasilkan 650.000 ton padi dengan nilai Rp2,4 triliun per musim tanam.

Implementasi Gerakan Panen dan Hemat Air merupakan fondasi lumbung pangan masa depan yang harus didukung tidak hanya oleh Kementerian Pertanian, namun juga oleh Kementerian lainnya.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengertian peningkatan indeks pertanaman tidak hanya dalam artian peningkatan frekuensi waktu penanaman, namun juga berupa peningkatan frekuensi penggunaan ruang penanaman pada sebidang lahan pertanian untuk memproduksi bahan pangan dalam kurun waktu 1 tahun (lihat Prolog) serta peningkatan nilai tambah produk pertanian. Tumpang sari tanaman, merupakan salah satu cara peningkatan indeks pertanaman melalui ruang. Dengan populasi masing-masing komoditas sama dengan populasi 1 hektar, maka untuk 2 komoditas diperoleh produktivitas untuk seluas 2 hektar.

Jika dalam sebidang lahan dilakukan 3 kali tanam dan dalam 2 musim tanam dilakukan budidaya turiman tanaman pangan, maka total indeks pertanaman

|

203

Prolog Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

dalam setahun mencapai IP 500. Untuk mendukung langkah operasional ini dibutuhkan kesiapan pemerintah sebagai pendamping dan penguatan kelembagaan pertanian sebagai supporting agent utama (Lihat Prolog)

Langkah operasional lainnya adalah memanfaatkan dan memasivkan Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu dalam penerapan peningkatan indeks pertanaman. Hingga kini SI Katam Terpadu terus mengalami pembaharuan sehingga lebih detail, akurat dan informatif. Informasi yang termuat di dalamnya meliputi estimasi awal waktu tanam ke depan berdasarkan prediksi iklim, yang dilengkapi dengan informasi rawan bencana banjir, kekeringan, dan organisme penganggu tanaman (OPT), serta rekomendasi teknologi berupa varietas, benih, dan Standing Crop dengan mengoptimalkan data citra satelit sentinel 1 dan 2.

Sistem informasi ini harus lebih didiseminasikan lagi dan juga harus terus menerus divalidasi melalui jejaring penyuluhan di setiap kecamatan.

Langkah strategis dan operasional yang diambil dalam rangka peningkatan indeks pertanaman sebagai fondasi lumbung pangan dunia tidak hanya terbatas pada potensi sumber daya lahan dan air saja, namun kelembagaan pertanian juga menjadi dasar utama keberhasilkan konteks Indonesia menjadi Lumbung Pangan Masa Depan. Kelembagaan pertanian yang berorientasi bisnis dan adanya off taker juga menjadi kunci utama lainnya untuk menjamin keberlanjutan sistem usaha agribisnis peningkatan indeks pertanaman sebagai fondasi lumbung pangan masa depan. Kelembagaan pertanian meliputi sarana produksi, tenaga kerja, modal, pemasaran dan penyuluhan harus mulai ditata sejalan dengan hilirisasi dan penerapan inovasi teknologi pengolahan lahan dan air (lihat Prolog).

Aspek keterbatasan tenaga kerja, modal petani dan rendahnya posisi tawar petani dalam perdagangan hasil pertaniannya merupakan juga merupakan salah satu Remaining Issues dalam penerapan peningkatan indeks pertanaman.

Keterbatasan tenaga kerja dirasakan petani di Pulau Jawa karena umumnya menggunakan tenaga kerja keluarga dalam berusaha taninya, sedangkan petani di luar Jawa dihadapi masalah yaitu tingginya biaya tenaga kerja. Hal ini menyebabkan keengganan petani untuk meningkatkan indeks pertanaman.

Selain itu, terbatasnya modal dan sulitnya pemasaran hasil pertanian juga merupakan remaining issue yang mesti dicarikan terobosannya agar tidak menghambat terbangunnya fondasi Lumbung Pangan Masa Depan melalui peningkatan indeks pertanaman.

Terlepas dari inovasi teknologi yang ada serta langkah strategis dan operasional yang telah dikemukakan di atas, satu hal yang tidak bisa kita tinggalkan adalah sosial budaya masyarakat. Orientasi mayoritas petani masih terbatas pada pemenuhan kebutuhan konsumsi, bukan produksi untuk dijual.

Kearifan lokal beberapa masyarakat setempat yang enggan melakukan 9peningkatan indeks pertanaman dapat menjadi inspirasi bahwa peningkatan indeks pertanaman harus juga diikuti dengan ketahanan daya dukung lahan dan ketahanan social ekonomi masyrakatnya.

204

|

Bukti Nyata Peningkatan Indeks Pertanaman:

Fondasi Lumbung Pangan Masa Depan

Tersedianya pilihan dalam upaya peningkatan produktivitas lahan yaitu dengan memilih komoditi yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dibutuhkan oleh kalangan industri. Upaya ini diyakini mampu dilakukan petani atau kelompok tani dikarenakan jaminan pasar jelas, tidak banyak tanaman yang diusahakan dan dikelola, cukup waktu, sekaligus memiliki peluang memperbaiki kualitas produk.

|

205

Prolog Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Dokumen terkait