• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rukun dan Syarat Perkawinan

Dalam dokumen Pengertian Anak Dalam Perkawinan (Halaman 33-45)

Rukun dan Syarat perkawinan dalam Islam merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Karena kebanyakan aktivitas ibadah yang ada dalam Agama Islam senantiasa ada yang namanya rukun dan syarat, sehingga sedikit bisa dibedakan dari pengertian keduanya

68 Sution Usman Adji, Kawin Lari Dan Kawin Antar Agama, Libarty, Yogyakarta, 1989, hlm 21

69 Tim Redaksi Nuansa Aulia, Kompilasi....op.cit.,hlm 2

50

yakni syarat merupakan suatu hal yang harus atau dipenuhi sebelum perbuatan dilaksanakan.Sedangkan rukun adalah hal yang harus ada dalam suatu akad atau perbuatan. Lebih jelasnya akan dipaparkan sebagai berikut : 1. Rukun Perkawinan

Dalam Islam perkawinan tidaklah semata-mata sebagai hubungan kontrak keperdataan biasa, akan tetapi mempunyai nilai ibadah dan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 2 ditegaskan bahwa pernikahan merupakan akad yang sangat kuat, hal tersebut dilakukan untuk menaati perintah Allah SWT, dan dengan melaksanakannya merupakan suatu nilai ibadah kepada Allah SWT.70

Karena perkawinan yang syara akan ibadah dan tujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, perlu diatur dengan syarat dan rukun tertentu agar tujuan disyaratkan perkawinan tercapai. Dalam Pasal 14 Kompilasi Hukum Islam untuk melaksanakan perkawinan dalam rukun nikah harus ada :71 a. Calon Suami;

b. Calon Isteri;

c. Wali Nikah;

d. Dua Orang Saksi;

e. Ijab dan Kabul

70Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, cet IV, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000) hlm.69

7111 Nuansa Aulia, Kompilasi Hukum Islam: Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Perwakafan, cet II (Bandung: CV Nuansa Aulia, 2008) hlm.5

51

Kaitannya pada bidang perkawinan adalah bahwa rukun perkawinan merupakan sebagian dari hakikat perkawinan, seperti keharusan atau kewajiban ada kedua calon mempelai baik laki-laki dan perempuan, wali, ijab dan kabul, serta dua orang saksi. 12 (12 Slamet Abidin dan H.

Aminuddin, Fiqh Munakahat (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999) hlm.24 2. Syarat Perkawinan

Sedangkan dalam memenuhi persyaratan perkawinan, karena banyak info yang dapat mempermudah masyarakat melangsungkan perkawinan dan mengurus prosedurnya berdasarkan Hukum Islam dan aturan-aturan hukum di Indonesia.

Pada umumnya suatu perkawinan dikatakan sah apabila dilaksanakan menurut hukum yang berlaku.Apabila perkawinan itu dilaksanakan tidak sesuai dengan hukum yang berlaku maka perkawinan terebut tidak sah.Hukum yang berlaku tersebut adalah Peraturan Perundang-undangan yang mengatur tentang perkawinan dan aturan hukum agama serta hukum adat.

Jika suatu perkawinan dilaksanakan tidak menurut aturan hukum agama maka perkawinan tidak sah menurut agama.Begitu pula dengan perkawinan yang tidak sesuai dengan tata tertib hukum adat maka perkawinan tersebut tidak sah menurut hukum adat.Jadi hal mengnai suatu perkawinan bisa menurut peraturan perundang undangan, hukum adat, dan hukum agamanya.

52

Sahnya perkawinan menurut hukum adat bagi masyarakat hukum adat di indonesia pada umumnya bagi penganut agama, tergantung pada agama yang dianut masyarakat adat bersangkutan. Maksudnya jika telah dilaksanakan menurut tata tertib hukum agamanya, maka perkawinan tersebut sudah sah menurut hukum adat.Tetapi hal tersebut masih belum bisa diterapkan di beberapa daerah seperti masyarakat yang belum menganut agama yang diakui pemerintah.Masih menganut kepercayaan agama lama atau kuno seperti sipelebegu atau pemuja roh dikalangan orang Batak.

Di daerah tertentu suatu perkawinan dapat dikatakan sudah sah menurut agama kepercayaan yang dianut masyarakat adat tetapi belum tentu sah menjadi warga adat dari masyarakat adat yang bersangkutan.Misalnya di Lampung walaupun sudah terlaksana perkawinan yang sah menurut agama, tetapi apabila mempelai belum diresmikan masuk menjadi warga adat Lampung maka mereka belum diakui sebagai warga kekerabatan adat.

Menurut Hukum Islam, bahwa dasar berlakunya Hukum Islam khusus mengenai hukum perkawinan, talak dan rujuk ialah S. 1937 No 638 jo. S. 1937 No. 610 jo. Peraturan pemerintah No. 45 Tahun 1957 jo.

Undang undang No. 22 Tahun 1946 jo. Un 1974 undang undang No. 32 Tahun 1974, sekarang Undang undang No 1 Tahun 1974 (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 1), dan Kompilasi Hukum Islam. (Intruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991 jo. SK Mentri Agama No. 154 Tahun 1991).

53

Setelah ditetapkanya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka dasar berlakunya Hukum Islam dibidang perkawinan, talak, dan rujuk tentulah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, terutama pasal 2 ayat (1) dan pasal 2 ayat (2) yang menetapkan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya, dan tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan-peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.72

Dalam melangsungkan dan mengurus administrasi pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) mengacu kepada aturan hukum yakni berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Pelaksanaan Peradilan Agama ayat (4), dan hal-hal yang berkenanaan dengan perkawinan dapat diatur di Pengadilan Agama sebagaimana Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada pasal 1 ayat (1) yang menegaskan bahwa Peradilan Agama adalah Peradilan bagi orang-orang yang beragama Islam.73

Sedangkan dalam prosedurnya, pernikahan bagi Warga Negara Indonesia yang beragama Non-Muslim, maka perkaranya akan dilangsungkan di Kantor Catatan Sipil.Suatu perkawinan dapat dikatakan sah apabila syarat-syarat dalam perkawinan terpenuhi. Adapun syarat- syarat sahnya perkawinan adalah :

72 Ibid, hlm 50

73Djalil Basiq, Peradilan Agama di Indonesia: Gemuruhnya Politik Hukum (Hukum Islam, Hukum Barat, Hukum Adat), cet I, (Jakarta: Kencana, 2006) hlm 185

54

a. Mempelai perempuan halal dinikahi oleh laki laki yang akan menjadi suaminya.

b. Dihadiri dua orang saksi laki laki

c. Ada wali mempelai perempuan yang melakukan akad. Syarat ketiga ini dianut kaum muslim di Indonesia dan merupakan pendapat Syafii, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, Hasan Basri, Ibnu Abi Laila, dan Ibnu Syubruma.74

Sahnya suatu perkawinan dalam Hukum Islam adalah dengan terlaksananya akad nikah yang memenuhi syarat-syarat dan rukunnya.Syarat-syarat perkawinan tersebut meliputi akad nikah, pencatatan nikah, dan pengumuman nikah.75

a. Akad Nikah

Akad artinya ikatan, sedangkan nikah artinya perkawinan.Jadi akad nikah berarti perjanjian mengikatkan diri dalam perkawinan antara seorang wanita dengan seorang laki laki.

Ada beberapa hal yang berkenaan dengan akad nikah, yaitu ada ijab kabul, wali pihak perempuan, persetujuan kedua mempelai, hadirnya calon pengantin laki laki, adanya dua orang saksi, dan adanya mahar atau sadaq.

Ijab yang berarti menawarkan dan kabul yang berarti menerima. Dalam tehnis hukum perkawinan, ijab artinya penegasan kehendak mengikatkan diri dalam bentuk perkawinan dan dilakukan

74 Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan...op.cit, hlm 31

75 Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan...op.cit.,hlm 63.

55

oleh pihak perempuan ditunjukan kepada laki laki calon suami.

Sedangkan kabul berarti penegasan penerimaan mengikatkan diri sebagai suami istri yang dilakukan oleh pihak laki laki.

b. Pencatatan Nikah

Seseorang yang beragama Islam dalam melangsungkan perkawinan harus dicatatkan pada Kantor Urusan Agama dan diatur dalam peraturan perundang-undangan. Dapat dilihat pada bunyi Pasal 1 ayat 1 Undang undang No 22 Tahun 1946 bahwa nikah yang dilakukan menurut agama islam diawasi oleh pegawai pencatatan nikah yang diangkat oleh Mentri Agama atau oleh pegawai yang ditunjuk olehnya.76

Pegawai pencatatan nikah yang diangkat oleh Mentri Agama atau penghulu itu hanya bertugas mengawasi terlaksananya perkawinan agar perkawinan itu berlangsung menurut ketentuan- ketentuan agama Islam.Perkawinan tetap dilakukan oleh mempelai laki-laki dan mempelai wanita oleh walinya.Tetapi pada prakteknya apabila penghulu datang hanya untuk mengawasi dan juga saksi, diwakilkan oleh wali wanita yang bersangkutan untuk mengawinkan wanita sebagai pengganti walinya.

c. Pengumuman

Suatu perkawinan wajib diumumkan kepada sahabat dan anggota keluarga lainnya dengan cara dilakukan menurut kehendak yang bersangkutan. Ditegaskan dalam hadis Rasul :

56

Wajib diadakanya pengumuman perkawinan terlihat dari sebuah hadits Rasul yang datangnya dari Anas Bin Maliki yang menceritakan bahwa sesudah perkawinan Nabi Muhammad dengan Safiah Binti Huyai Bin Akhtab setelah usai perang Chabair, Nabi Muhammad berkata : “beritahukanlah, umumkanlah kepada orang sekeliling kamu”.

Hadis qauliyah Rasul yang berbunyi : “berwalimalah kamu walaupun hanya dengan menyediakan makanan yang terdiri dari kaki kambing”. Walimah atrinya pesta perkawinan untuk mengumumkan perkawinan kepada masyarakat.

Hadits Rasul diriwayatkan oleh Al-Tirmizy dan berasal dari Siti Aisyah istri Rasul, dinyatakan bahwa Rasul berkata :

“a‟limun nikaaha wardribu alaihi bil gaarbali”. Artinya

“umumkanlah perkawinan itu dan pukulah gendang dalam hubungan dengan pengumuman itu”.77

Jadi suatu perkawinan itu harus diumumkan supaya keluarga dan masyarakat umum dapat mengetahuinya, adanya perubahan status seseorang yang tadinya lajang setelah menikah menjadi beristri atau bersuami. Dapat menghindarkan dari fitnah, apabila keluarga atau masyarakat mengetahui bahwa seorang laki-laki dan perempuan yang tinggal tersebut telah mempunyai sebuah ikatan yang sah melalui perkawinan sehingga keluarga atau masyarakat tidak akan berfikir buruk.

Terdapat juga syarat sahnya perkawinan menurut Peraturan Perundang-undangan di Indonesia. Sejak 1 Oktober 1975 berlaku efektif untuk semua golongan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 beserta peraturan pelaksanaan. Syarat-syarat perkawinan yang diatur pada Undang undang Nomor 1 Tahun 1974 meliputi syarat-syarat materil

77 Ibid.

57

maupun formil. Syarat-syarat materil yaitu syarat-syarat mengenai diri pribadi calon mempelai sedangkan syarat formil menyangkut formalitas atau tata cara yang harus dipenuhi sebelum dan pada saat dilangsungkan perkawinan. Syarat materil ada yang berlaku untuk semua perkawinan (umum) dan yang berlaku hanya untuk perkawinan tertentu saja.

a. Syarat Materil yang Berlaku Umum

Syarat-syarat yang termaksud kedalam kelompok ini diatur didalam pasal dan mengenai hal sebagai berikut:

1) Pasal 6 ayat (1), harus ada persetujuan dari kedua calon mempelai

2) Pasal 7 ayat (1), usia calon mempelai pria sudah mencapai 19 tahun dan wanita sudah mencapai 16 tahun

3) Pasal 9, tidak terikat tali perkawinan dengan orang lain (kecuali dalam hal yang diijinkan oleh pasal 3 ayat (2) dan pasal 4)

4) Pasal 11 UU No. 1/1974 dan pasal 39 PP No. 9/1975, mengenai waktu tunggu bagi seorang wanita yang putus perkawinanya yaitu:

a) 130 hari, apabila perkawinan putus karena kematian

b) 3 kali suci atau minimal 90 hari, apabila putus karena perceraian dan masih datang bulan

c) 90 hari, apabila putus karena perceraian, tetapi tidak datang bulan

58

d) Waktu tunggu sampai melahirkan, apabila janda dalam keadaan hamil

e) Tidak ada waktu tunggu, apabila belum pernah terjadi hubungan kelamin

f) Penghitungan waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai kekuataan hukum yang tetap bagi suatu perceraian, dan sejak hari kematian apabila perkawinan putus karena kematian.

Tidak dipenuhinya syarat-syarat tersebut menimbulkan ketidakwenangan untuk melangsungkan perkawinan dan berakibat batalnya suatu perkawinan.

b. Syarat Materil yang Berlaku Khusus

Syarat ini hanya berlaku untuk perkawinan tertentu saja dan meliputi hal-hal sebagai berikut :

1) Tidak melanggar larangan perkawinan sebagaimana yang diatur dalam pasal 8, 9, dan 10 UU NO. 1/1974, yaitu mengenai larangan perkawinan antara dua orang yang :

a) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus kebawah ataupun ke atas

b) Berhubungan darah dalam garis keturunan kesamping c) Berhubungan semenda

d) Berhubungan susunan

59

e) Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemanakan dan istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang

f) Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin

g) Masih terikat tali perkawinan dengan orang lain, kecuali dalam hal tersebut pada pasal 3 ayat (2) dan pasal 4

h) Telah bercerai untuk kedua kalinya, sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya tidak menentukan lain (pasal 10).

2) Ijin dari kedua orang tua bagi mereka yang belum mencapai usia 21 tahun.

Apabila salah satu orang tua telah meninggal, ijin dapat diperoleh dari orang tua yang masih hidup, apabila tidak ada dari wali maka orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus keatas atau dapat juga ijin dari pengadilan.Apabila orang-orang tersebut tidak ada atau tidak mungkin dimintai ijinya (pasal 6 ayat (2) sampai dengan ayat (5)).

Mengenai syarat “persetujuan kedua calon mempelai” dan syarat harus adanya, ijin kedua orang tua bagi yang belum berusia 21 tahun sebagaimana diatur pada pasal 6 berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain. Jadi syarat-syarat

60

perkawinan sebagaimana yang diatur pada pasal 6 itu berlaku sebagai “lex generalis” terhadap syarat perkawinan menurut hukum agama sebagai “lex spesialis” nya.

c. Syarat Formil

Syarat-syarat formil ini meliputi :

1) Pemberitahuan kehendak akan melangsungkan perkawinan kepada pegawai pencatat perkawinan;

2) Pengumuman oleh pegawai pencatat perkawina;

3) Pelaksanaan perkawinan menurut hukum agamanya dan kepercayaanya masing-masing

4) Pencatatan perkawinan oleh pegawai pencatat perkawinan .78 Berkaitan dengan pencatatan perkawinan tersebut, Pasal 2 peraturan pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan :

1) Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinan menurut agama islam, dilakukan oleh pegawai pencatat sebagaimana dimaksud dalam UU No. 32 Tahun 1954 tentang pencatatan nikah, talak, dan rujuk.

2) Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinanya menurut agamanya dan kepercayaanya itu selain agama islam, dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan pada kantor catatan sipil sebagaimana dimaksud dalam berbagai perundang undangan mengenai pencatatan perkawinan.

78Asmin, Status Perkawinan Antar Agama Ditinjau Dari Undang-undang Perkawinan No. 1/1974, Dian Rakyat Jakarta, 1986, hlm 24.

Dalam dokumen Pengertian Anak Dalam Perkawinan (Halaman 33-45)

Dokumen terkait