• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN

B. KajianTeori

2. Saham

saham pada saham ASDM, sedangkan bagi investor yang tidak menyukai risiko disarankan memilih kombinasi portofolio 2 saham pada saham ASRM (Asuransi Ramayana Tbk).25

2. Penelitian Windi Martya dkk (2013) menggunakan model indeks tunggal untuk menetapkan komposisi portofolio optimal pada saham- saham LQ-45 di BEI tahun 2010-2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 22 sampel terpilih terdapat 14 perusahaan yang membentuk komposisi portofolio optimal dengan masing-masing proporsi saham

25Prayoga & Ariyani, “Pembentukan Portofolio Optimal Pada Perusahaan Keuangan Di BEI

(Jurnal Riset Manajemen dan Akuntansi, No. 1, Februari, Vol.1, 2013).

GGRM 3,95 %, KLBF 16,35 %, JSMR 17,13%, ASII 15,24 %, SMGR 7,62 %, INTP 482 %, LPKR 3,3 %, BBCA 10,18 %, BBNI 5,5 %, INDF 4,15 %, PGAS 1,4 %, BMRI 7,68 %, BBRI 2,27 %, BDMN 0,4 %.26 3. Nalini (2014) Optimal Portpolio Construction Using Sharpe’s Single

Index Model Study Of Selected Stocks From BSE, Sharpe’s single index model. Dari sampel, hanya 4 perusahaan yang dipilih untuk membentuk portofolio optimal menggunakan model indeks tunggal.27 4. Penelitian Nanda Rafika (2015) menggunakan metode indeks tunggal

pada saham perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2010- 2014. Hasil penelitiannya adalah terdapat 17 saham yang menjadi kandidat portofolio dari 20 saham yang diteliti dan menghasilkan pengembalian sebesar 0,028 dan risiko sebesar 0,015.28

5. Penelitian Jesika Sembiring (2016) Analisis pembentukan portofolio optimal dengan menggunakan Model Indeks Tunggal mampu menghasilkan 9 (sembilan) kandidat saham sebagai penyusun portofolio optimal dari 39 (tigapuluh Sembilan) sampel penelitian yang berasal dari saham indeks LQ-45. Kandidat saham tersebut merupakan saham yang mempunyai nilai ERB≥ C* (C* = 0.0034). 9 (sembilan) kandidat

26 Windi dkk, “Penerapan Model Indeks Tunggal Untuk Menetapkan Komposisi Portofolio Optimal” (Studi Pada Saham-Saham LQ-45 di BEI tahun 2010-2012), (Malang: Jurnal Universitas Brawijaya, 2013).

27Nalini, R.Optimal Portofolio Ginstruction Using Sharpe’s Single Index Model- A Study Of Selected Stocks From BSE, International Journal of Advanced Research in Management and Social Sciences, (2014) Vol. 3, Issue. 12, pp. 72-93.

28Nanda Rafika Permatasari, “Penentuan Portofolio Saham Optimal dengan Metode Single indeks Sebagai Dasar Penepatan Investasi Saham”, (Yogyakarta: Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta, 2015).

penyusun portofolio optimal yaitu saham AKRA, WSKT, ADRO, GGRM, BBTN, TLKM, PTBA, UNVR, UNTR.29

Dari pembahasan penelitian terdahulu di atas, maka dapat dilihat ringkasan penelitian terdahulu pada:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Persamaan Perbedaan

1. Prayogo dan Ariyani (2013)

Pembentukan portofolio optimal menggunakan model indeks tunggal pada perusahaan keuangan di BEI.

Model indeks tunggal

 Objek penelitian perusahaan keuangan di BEI.

 Hasil penelitiannya adalah bagi investor yang menyukai return dengan risiko minimal disarankan memilih kombinasi portofolio 2 saham pada saham ASDM (Asuransi Dayin Mitra Tbk), bagi investor yang menyukai risiko disarankan memilih kombinasi 3 saham pada saham ASDM, sedangkan bagi investor yang tidak menyukai risiko disarankan memilih kombinasi portofolio 2 saham pada saham ASRM (Asuransi Ramayana Tbk).

2. Windi Martya dkk (2013)

Penerapan Model Indeks Tunggal Untuk Menetapkan Komposisi

Portofolio Optimal”

Model Indeks

TunggalSaham-saham LQ-45

di BEI

 Hasil penelitian menunjukkan bahwa

29 Jesika Sembiring,” Analisis pembentukan portofolio optimal menggunakan model indeks tunggal untuk mengambilan investasi(saham LQ45 di Bursa Efek Indonesia)”,(skripsi, Universitas Sumatra Utara, Medan,2016).

(studi pada saham- saham LQ-45 di BEI tahun 2010- 2012)

dari 22 sampel terpilih terdapat 14 perusahaan yang membentuk

komposisi portofolio optimal dengan masing-masing proporsi saham GGRM 3,95 %, KLBF 16,35 %, JSMR 17,13%, ASII 15,24 %, SMGR 7,62 %, INTP 482

%, LPKR 3,3 %, BBCA 10,18 %, BBNI 5,5 %, INDF 4,15 %, PGAS 1,4

%, BMRI 7,68 %, BBRI 2,27 %, BDMN 0,4 %.

3. Nalini (2014) Optimal Portpolio Construction Using Sharpe’s Single Index Model Study Of Selected Stocks From BSE, Sharpe’s single index model.

Sharpe’s Single Index Model

 Selected Stocks From BSE.

 Hasil penelitian dari sampel, hanya 4 perusahaan yang dipilih untuk membentuk portofolio optimal menggunakan model indeks tunggal.

4. Nanda Rafika (2015)

Penentuan Portofolio Saham Optimal dengan Metode Single indeks Sebagai Dasar Penepatan Investasi Saham

Model indeks tunggal

 Objek penelitian perusahaan

manufaktur di BEI.

 Hasil penelitian menggunakan metode indeks tunggal pada saham perusahaan

Manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2010-2014.

Hasil penelitiannya adalah terdapat 17 saham yang menjadi kandidat portofolio

dari 20 saham yang diteliti dan

menghasilkan pengembalian sebesar 0,028 dan risiko sebesar 0,015.

5. Jesika Sembiring (2016)

Analisis pembentukan portofolio optimal menggunakan model indeks tunggal untuk mengambilan investasi(saham LQ45 di Bursa Efek Indonesia)

Model Indeks Tunggal

 Objek penelitian saham LQ-45 di BEI.

 Hasil penelitian Model Indeks Tunggal mampu menghasilkan 9 (sembilan) kandidat saham sebagai penyusun portofolio optimal dari 39 (tigapuluh

Sembilan) sampel penelitian yang berasal dari saham indeks LQ-45.

Kandidat saham tersebut merupakan saham yang

mempunyai nilai ERB≥ C* (C* = 0.0034). 9

(sembilan) kandidat penyusun portofolio optimal yaitu saham AKRA, WSKT, ADRO, GGRM, BBTN, TLKM, PTBA, UNVR, UNTR.

Sumber : diolah dari penelitian terdahulu

yang hendak dipecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.

1. Investasi

a. Pengertian investasi

Istilah investasi berasal dari bahasa Latin, yaitu investire (memakai), sedangkan dalam bahasa Inggris, disebut dengan Invesment. Para ahli memiliki pandangan yang berbeda mengenai konsep teoritis tentang investasi. Menurut Fitzgeral mengartikan investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumber-sumber (dana) yang dipakai untuk mengadakan barang modal pada saat sekarang, dan dengan barang modal akan dihasilkan aliran produk baru dimasa yang akan datang. Dalam definisi ini investasi dikontruksikan sebagai sebuah kegiatan untuk penarikan sumber dana yang digunakan untuk pembelian barang modal dan barang modal itu akan dihasilkan produk baru.30 Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa mendatang.

Dalam Islam investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat dianjurkan, karena dengan berinvestasi harta yang dimiliki menjadi produktif dan juga mendatangkan manfaat bagi orang lain.31 Investasi dalam Islam bukan hanya dipengaruhi oleh faktor keuntungan materi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor syariah

30Salim dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), 31.

31Indah Yuliana, Investasi Produk Keuangan Syariah, 8.

(kepatuhan pada ketentuan syariah) dan faktor sosial (kemaslahatan umat). Harta yang dimiliki seorang muslim tidak boleh dimanfaatkan dan dikembangkan dengan cara yang bertentangan dengan syariat Islam. Islam telah melarang aktivitas perjudian, riba, penipuan, serta investasi di sektor-sektor maksiat. Sebab aktivitas semacam ini justru akan menghambat produktifitas manusia.Firman Allah QS. Al-Lail (92) 5-11.



























































Artinya: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalanAllah) danbertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail (92) 5-11).

b. Jenis-jenis investasi

1) Menurut asetnya investasi merupakan penggolongan investasi dari aspek modal atau kekayaanya. Investasi berdasarkan asetnya dibagi menjadi dua jenis.32yaitu :

a) Real Asset merupakan investasi yang berwujud, seperti gedung-gedung, kedaraan dan sebagainya.

32Ibid.,37.

b) Financial Asset merupakan dalam bentuk dokumen (surat- surat) klaim tidak langsung pemegangnya terhadap aktivitas rill pihak yang menerbitkan sekuritas tersebut.

2) Investasi berdasarkan pengaruhnya merupakan investasi yang didasarkan pada faktor-faktor yang memengaruhi atau tidak berpengaruh pada investasi. Investasi berdasarkan pengaruhnya bagi dibagi menjadi dua macam, yaitu:

a) Investasi autonomus merupakan investasi yang tidak dipengaruhi tingkat pendapatan, bersifat spekulatif. Misalnya, pembelian surat berharga.

b) Investasi induced merupakan investasi yang dipengaruhi kenaikan permintaan akan barang dan jasa serta tingkat pendapatan. Misalnya, penghasilan transitori, yaitu penghasilan yang didapat selain dari bekerja, seperti bunga dan sebagainya.

3) Investasi berdasarkan sumber pembiayaan ( Undang-Undang Nomor 1Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing; Undang- Undang Nomer 11 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri). Investasi berdasarkan sumber pembiayaannya merupakan investasi yang didasarkan pada asal-usul investasi itu diperoleh.

Dibagi menjadi dua macam,33yaitu:

a) Investasi yang bersumber dari modal asing (PMA).

33Ibid.,38.

b) Investasi yang bersumber dari modal dalam negeri (PMDN).

4) Investasi berdasarkan bentuknya merupakan investasi yang didasarkan pada cara menanamkan investasinya. Dibagi menjadi dua macam,34yaitu:

a) Investasi portofolio b) Investasi langsung c. Tujuan Investasi

Ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi.

Kamaruddin Ahmad, mengemukakan tiga alasan sehingga banyak orang melakukan investasi,35yaitu:

1) Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa yang akan datang. Seseorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu kewaktu atau setidaknya- tidaknya bagaimana berusaha untuk mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang dimasa yang akan datang.

2) Mengurangi tekanan inflasi. Dengan mealkukan investasi dalam pemilihan perusahaan atau objek lain, seseorang dapat menghindarkan diri agar kekayaan atau harta miliknya tidak merosot nilainnya karena digerogoti oleh inflasi.

3) Dorongan untuk menghemat pajak. Beberapa di dunia banyak melakukan kebijakan yang sifatnya mendorong tumbuhnya

34Ibid.,38.

35 Abdul Manan, Aspek Hukum Dalam Penyelenggaraan Investasi di Pasar Modal Syariah Indonesia(Jakarta:Prenadamedia,2009), 188.

investasi dimasyarakat melalui fasilitas perpajakan yang diberikan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidang-bidang usaha tertentu.

d. Proses Investasi

Analisis investasi secara tradisional, jika ingin melakukan investasi atas sekuritas, dasarnya adalah proyeksi dari harga saham dan deviden sekuritas tersebut. Karena itu, harga potensial dari saham suatu perusahaan dan pola deviden yang akan datang diramalkan terlebih dahulu, kemudian dilakukan diskon untuk memperoleh nilai sekarang.36

Menurut Iggi, proses investasi menunjukkan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan investasi pada efek- efek yang bisa dipasarkan dan kapan dilakukan. Untuk itu diperlukan tahapan sebagai berikut:

1) Menentukan tujuan investasi.

2) Melakukan analisis.

3) Melakukan pembentukan portofolio.

4) Melakukan evaluasi kinerja portofolio.

5) Melakukan revisi kinerja portofolio.37

36Kamaruddin Ahmad, Dasar-Dasar Manajemen Investasi(Jakarta:rineka cipta,1996),8.

37 Iggi H Achsien, Investasi Syariah di Pasar Modal Syariah(Jakarta:Gramedia Pustaka Utama,2000), 89.

2. Saham

a. Pengertian Saham

Saham atau Stock dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.38

Saham adalah surat berharga yang dapat dibeli atau dijual oleh perorangan atau lembaga di pasar tempat surat tersebut diperjual- belikan. Saham merupakan instrumen ekuitas, yaitu tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan usaha dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Jadi saham merupakan surat berharga sebagai bukti penyertaan atau kepemilikan individu maupun institusi dalam suatu perusahaan. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

Saham (Stock) merupakan surat berharga yang berupa kepemilikan. Artinya si pemilik saham merupakan pemilik perusahaan.

38Tjiptono Darmadji, Hendy M. Fakhrudin, Pasar Modal Di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat, 2012),5.

Semakin besar saham yang dimilikinya, maka semakin besar pula kekuasaanya di perusahaan tersebut.39

Dari beberapa pengertian diatas saham atau stock dapat diartikan sebagai surat berharga yang menyatakan bahwa yang memegangnya merupakan pemilik dari perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Dengan menyertakan modal tersebut maka sang pemilik saham memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut, semakin besar nilai kepemilikan saham seseorang di suatu perusahaan maka semakin besar pula kekuasaannya di perusahaan tersebut.

b. Jenis-jenis Saham

Adapun jenis-jenis saham adalah sebagai berikut :

1) Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham tebagi atas :

a) Saham Biasa (Common Stock)

Saham biasa adalah surat berharga dalam bentuk piagam atau sertifikat yang memberikan pemegangnya bukti atas hak-hak dan kewajiban menyangkut andil kepemilikan dalam suatu perusahaan. Pembagian deviden untuk saham biasa dapat dilakukan jika perusahaan sudah membayar

39Kasmir, Bank dan lembaga keuangan lainnya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 185- 186.

deviden untuk saham preferen. Saham biasa mempunyai hak yang sama bagi pemegangnya yang dapat menentukan jalannya perseroan melalui rapat umum pemegang saham (RUPS). Pada umumnya hak suara dalam rapat pemegang saham hanya diberikan pada saham biasa, tetapi sering juga saham preferen mempunyai hak suara.

b) Saham Preferen (Preferred Stock)

Merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor. Saham preferan serupa dengan saham biasa karena dua hal, yaitu :

(1) Mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas lembaran saham tersebut.

(2) Membayar dividen.

Sedangkan persamaan saham preferan dan obligasi terletak pada tiga hal, yaitu :

(1) Ada klaim atas laba dan asset sebelumnya.

(2) Dividennya tetap selama masa berlaku (hidup) dari saham.

(3) Memiliki hak tebus dan dapat dipertukarkan (convertible) dengan saham biasa.

Oleh karena saham preferen diperdagangkan berdasarkan hasil yang ditawarkan kepada investor, maka secara praktis saham preferen dipandang sebagai surat berharga dengan pendapatan tetap dan karena itu akan bersaing dengan obligasi di pasar. Walaupun demikian, obligasi perusahaan menduduki tempat yang lebih senior disbanding dengan saham preferen. Saham biasa merupakan efek yang paling populer di pasar modal. Umumnya pembicaraan seputar saham selalu mengacu pada saham biasa, kecuali bila disebut secara khusus saham preferen.

2) Dilihat dari cara peralihannya, saham dapat dibedakan atas : a) Saham atas unjuk (bearer stock)

Artinya pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah dipindah tangankan dari satu investor ke investor lain. Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah yang diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

b) Saham atas nama (registered stock)

Merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, dimana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.40

40Ibid., 6-7

3) Ditinjau dari kinerja perdagangan, maka saham dapat dikategorikan atas :

a) Saham unggulan (blue-chip stock)

Yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar deviden.

b) Saham pendapatan (income stock)

Yaitu saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar deviden lebih tinggi dari rata-rata deviden yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten seperti ini biasanya mampu menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan deviden tunai.

Emiten ini tidak suka menekan laba dan tidak mementingkan potensi pertumbuhan harga saham.

c) Saham Pertumbuhan ( growth stock-well known)

Yaitu saham-saham dari emiten yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis yang memiliki reputsai tinggi. Selain itu juga terdapat growth stock (lesser known), yaitu saham dari emiten yang tidak sebagai leader dalam industri namun memiliki ciri growth stock. Umumnya saham ini berasal dari daerah dan kurang populer di kalangan emiten.

d) Saham Spekulatif (speculative stock)

Yaitu suatu saham perusahaan yang tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemungkinan penghasilan yang tinggi di masa mendatang, meskipun belum pasti.

e) Saham Siklikal (counter cyclical stock)

Yaitu saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Pada saat resesi ekonomi, harga saham ini tetap tinggi, dimana emitennya mampu memberikan deviden yang tinggi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi. Emiten seperti ini biasanya bergerak dalam produk yang sangat dan selalu dibutuhkan massyarakat seperti rokok dan barang-barang kebutuhan sehari-hari (consumer goods).41

Dokumen terkait