CERPEN
6. Salam
Menulis cerpen adalah suatu seni penulisan yang memerlukan daya taakulan dan kreativitas penulis yang tinggi sebenarnya.
Penguasaan plot, diksi, mesej, cara olahan dan penyampaian perlulah digarap sebaik mungkin untuk membolehkannya tersiar atau terpilih untuk dipertimbangkan.
Melalui bengkel yang sudah, saya mendapati kebanyakan penulis menghadapi masalah dalam menghasilkan jumlah muka surat yang dikehendaki. Kebiasaan majalah atau akhbar hanya perlukan antara 8-10 muka surat. Paling banyak pun 12 muka surat (untuk Dewan Sastra dikira boleh). Hanya dalam satu peraduan mengarang sahaja yang saya lalui, terpaksa menulis cerpen sepanjang 15 muka surat.
Baik, ini ada beberapa tips yang boleh dilihat sekiranya sesuai untuk digunakan:
1. Jumlah watak biasanya saya hanya menulis dua watak saja yang akan menggerakan plot keseluruhan. Ini disebabkan apabila watak hanya dua, ia memudahkan saya menguasai watak-watak, mood penceritaan, plot yang dikembangkan dan lebih fokus.
Andainya watak lebih dari tiga atau empat, ini adalah satu punca mengapa cerpen kita menjangkau hingga 15 halaman, malah kadangkala hampir 20 halaman. Sekiranya hanya satu watak sahaja, monolog akan berlaku. Cerpen jenis ini memerlukan kekuatan dialog, mood penceritaan, tema dan sebagainya.
2. Elakkan dialog yang tidak perlu kadangkala kedapatan dialog- dialog yang tidak diperlukan. Maksudnya, dialog tersebut tidak menggerakan cerita. Contohnya:
A - "Assalamualaikum, apa khabar?"
B - " Wa'alaikumussalam, baik. Kau sihat?"
A - "Sihat, cuma batuk-batuk. Macam malas nak pergi klinik."
B - " Ish, tak elok begitu."
Dan seterusnya dialog-dialog yang biasanya dipakai dalam penulisan novel. Tapi dalam garapan cerpen, tolong elakan.
3. Merangka Isi Atau Isu Merangka isi atau isu yang mahu dituliskan juga dapat menyelamatkan cerpen kita daripada panjang berjela. Misalkan, dalam cerpen cukup satu atau dua isu yang ingin dikembangkan. Tidak perlu banyak. Isu yang banyak akan menyebabkan cerpen kita sekali lagi terjerumus ke dalam kancah berjela-jela.
4. Penggunaan Diksi Penggunaan diksi yang tepat adalah salah satu cara untuk menyelamatkan cerpen berjela-jela. Diksi atau perkataan adalah satu perkara yang perlu diperhatikan oleh penulis dalam penghasilan cerpen. Garapan cerpen, amat memerlukan diksi yang tepat dan bersifat ekonomis. Tak perlu gunakan diksi yang panjang.
Contoh:
Ahmad mahu ke sana kerana di situ terdapatnya barangan yang menarik.
Ahmad ke sana kerana barangannya menarik. (Lihat, betapa kita dapat mengekonomikan ayat yang digarap)
5. Membaca syarat yang dikehendaki oleh akhbar/majalah Ini juga penting. Adakala akhar atau majalah tidak memaklumkan perkara ini, tapi seperti yang dikatakan kita kena agak-agak. 8-10 adalah yang sederhana dan memadai. Akhbar seperti Berita Harian (edisi hari Sabtu) ada menyatakan jumlah baris yang diperlukan. Sila patuhi.
6. Membaca karya orang lain adalah sangat penting untuk membolehkan kita melihat dan meninjau bagaimana penghasilan karya cerpen tersebut.
Tips Menulis Cerpen Yang Baik dan Menarik
Cerpen sesuai dengan namanya berarti singkatan dari ―Cerita Pendek‖. Sebenarnya, tidak ada rumusan yang baku mengenai apa itu cerpen. Kalangan sasterawan memiliki rumusan yang berbeda-beda.
Yang pasti dalam cerita pendek, dari segi kuantitas (banyaknya) kata terdiri dari 500 s.d. 20.000 kata. Memiliki satu plot, watak, dan kesan.
Ok, jadi seperti apa sih cerpen yang baik itu?
Pertama, cerita pendek harus pendek. Seberapa pendeknya?
Sebatas rampung baca sekali duduk, duduk ketika kita menunggu bus
atau kereta api, atau sambil antre karcis bioskop. Cerita pendek harus ketat dan ringkas, tidak mengobral detail, dialog hanya diperlukan untuk menampakkan watak, atau menjalankan cerita atau menampilkan problem. Dan karena harus pendek, maka jumlah tokohnya terbatas, peristiwanya singkat, waktu berlangsungnya tidak begitu lama, kata-kata yang dipakai harus hemat, tepat dan padat, tempat kejadiannya pun juga terbatas, berkisar 1-3 tempat saja.
Kedua, cerita pendek mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik. Di dalam cerita pendek tak dimungkinkan terjadi aneka peristiwa yang berbeda-beda.
Ketiga, cerita pendek harus ketat dan padat. Setiap detil harus mengarus pada satu efek saja yang berakhir pada kesan tunggal. Oleh sebab itu kata dan kalimat harus dibuat seirit mungkin. Membuat tulisannya menjadi ekonomis adalah salah satu keterampilan yang dituntut bagi seorang cerpenis.
Keempat, cerita pendek harus mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi, bukan suatu bikinan, rekaan.
Itulah sebabnya dibutuhkan suatu keterampilan khusus, adanya konsistensi dari sikap dan gerak tokoh, bahwa mereka benar-benar hidup, sebagaimana manusia yang hidup. Ya, meskipun merupakan hasil dari imajinasi dan fantasi tetapi harus juga logis atau masuk akal.
Kelima, cerita pendek harus menimbulkan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda, karena ceritanya seperti masih berlanjut. Kesan selesai itu benar-benar meyakinkan pembaca, bahwa cerita itu telah tamat, sampai titik akhirnya, tidak ada jalan lain lagi, cerita benar-benar rampung berhenti di situ.
Karena pendeknya, kita biasanya tidaklah menemukan adanya perkembangan di dalam cerita. Tidak ada cabang-cabang cerita. Tidak ada kelebatan-kelebatan pemikiran tokoh-tokohnya yang melebar ke pelbagai hal dan masalah. Peristiwanya singkat saja. Kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh, pun tidak berkembang, dan kita tidak menyaksikan adanya perubahan nasib tokoh, atau tokoh-tokoh ini ketika cerita berakhir. Dan ketika konflik yang satu itu terselesaikan, kita tidak pula tahu bagaimana kelanjutan kehidupan tokoh, atau tokoh-tokoh, cerita itu.
Sebuah cerpen meskipun singkat tetap harus mempunyai pertikaian dramatik, yaitu perbenturan kekuatan yang berlawanan.
Baik benturan itu terlihat nyata ataupun tersamarkan. Sebab inilah inti suatu cerpen.
Di dalam cerita yang singkat itu, tentu saja tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, bisa jadi hanya seorang, atau bisa juga sampai sekitar empat orang paling banyak. Itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh itu diungkapkan di dalam cerita. Fokus atau, pusat perhatian, di dalam cerita itu pun hanya satu.
Konfliknya pun hanya satu, dan ketika cerita itu dimulai, konflik itu sudah hadir di situ. Tinggal bagaimana menyelesaikan saja.
Namun pada kenyataannya banyak juga cerpenis terkenal yang melanggarnya. Misalnya, Edgar Allan Poe sering membuat ujung cerita yang tidak rampung, melambai-lambai ditiup angin alias misterius. Barangkali karena judulnya ―mistri‖ maka pembaca justru senang berteka-teki dengan ujung cerpen yang tidak jelas atau tidak rampung tersebut. Ernest Hemmingway-peraih Nobel sastra atas novel The Old Man and The Sea gemar membuat cerpen yang panjang- panjang dan memaparkan secara detil sekali karakter atau pemandangan alam pada cerpen-cerpennya. Sehingga boleh-boleh saja kita menambah kurangkan prinsip-prinsip tersebut sepanjang masih bisa dipertanggungjawabkan hasilnya.
Perlu ditegaskan pula bahwa cerpen bukan penggalan sebuah novel. BUKAN PULA sebuah novel yang dipersingkat. Cerpen itu adalah sebuah cerita rekaan yang lengkap: tidak ada, tidak perlu, dan harus tidak ada tambahan lain. Cerpen adalah sebuah genre atau jenis, yang berbeda dengan novel.
Unsur-Unsur dalam Sebuah Cerpen 1. Tema
Yaitu gagasan inti. Dalam sebuah cerpen, tema bisa disamakan dengan fondasi sebuah bangunan. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa fondasi. Dengan kata lain tema adalah sebuah
ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita.
Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini. Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tetapi ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.
Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana Anda menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya. Ketika Anda menulis, yakinlah bahwa setiap kata berhubungan dengan tema ini.
Cerpen yang baik dan benar biasanya menyajikan berbagai persoalan yang kompleks. Namun, selalu punya pusat tema, yaitu pokok masalah yang mendominasi masalah lainnya dalam cerita itu.
Cerita yang bagus adalah cerita yang mengikuti sebuah garis batas.
Tentukan apa inti cerita Anda dan walaupun tema itu sangat menggoda untuk diperlebar, Anda tetap harus berfokus pada inti yang telah Anda buat jika tidak ingin tulisan Anda berakhir seperti pembukaan sebuah novel atau sebuah kumpulan ide-ide yang campur aduk tanpa satu kejelasan.