• Tidak ada hasil yang ditemukan

KECELAKAAN LALU LINTAS

E. Saran Kebijakan

Total panjang jalan di Indonesia tidak termasuk tol mencapai 528 ribu kilometer, yang terdiri atas 481 ribu kilometer jalan daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah, dan 47 ribu kilometer jalan nasional yang dikelola oleh pemerintah pusat melalui Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR. Sejak 2017 Bina Marga PUPR mengoperasikan aplikasi interaktif Jalan Kita4 (JAKI) sebagai wadah bagi masyarakat pengguna jalan untuk melaporkan kerusakan jalan dan berkomitmen menindaklanjuti laporan tersebut dalam waktu 1x24 jam. Kelemahannya adalah sulit untuk instalasi aplikasi JAKI ke ponsel android. Untuk jalan yang kewenangannya bukan di Pemerintah Pusat, Bina Marga PUPR mengumpulkan data kondisi jalan daerah dari masing-masing Pemda.Dalam hal pembiayaan jalan daerah, Pemerintah Pusat dapat memberikan Dana Alokasi Khusus (DAK) kepada Pemda yangmengajukan permohonan untuk pemeliharaan berkala, rehabilitasi, rekonstruksi (peningkatan struktur), dan pembangunan. Pemeliharaan rutin menjadi tanggung jawab penuh Pemda yang idealnya dianggarkan dalam Anggaran Belanja Pemerintah Daerah (APBD). Standar biaya pemeliharaan jalan daerah dikeluarkan oleh peraturan kepala

daerah masing-masing. Tidak semua daerah melaporkan data standar biaya pemeliharaan jalan daerah ke Bina Marga PUPR. Pelaksanaan dan pengawasan kegiatan peningkatan fungsi jalan daerah menjadi tanggung jawab Pemda sepenuhnya. Saat ini Pemda sedang mempersiapkan infrastruktur teknologi GPS agar kedepan kondisi jalan daerah dapat dipantau secara realtime.

Respon Bina Marga PUPR terhadap kecelakaan lalu lintas di jalan nasional telah menghasilkan kajian kecelakaan lalu lintas, dimulai dari inventarisasi lokasi rawan kecelakaan lalu lintas, membobot dan mengurutkan kasus kecelakaan, mengambil 10 kasus terbesar,identifikasi penyebab apakah dari faktor jalan, menganalisis secara mendalam dengan observasi langsung ke lapangan atas 1 kasus terbesar di setiap provinsi, menuliskan rekomendasi spesifik. Hasil kajian ditembuskan ke Balai untuk tindak lanjut rekomendasi, namun atas pelaksanaan rekomendasi tersebut tidak ada yang memantau.

Menurut Subdit Perlengkapan Jalan Kementerian Perhubungan, pemasangan lampu jalan yang pengadaannya setelah tahun 2018 wajib panel surya agar tidak membebankan biaya listrik bulanan kepada Pemda. Namun yang menjadi masalah adalah tingginya tingkat pencurian baterai lampu panel surya. Untuk itu pemerintah saat ini mulai menggunakan baterai lithium untuk lampu panel surya agar tindak pencurian dapat diminimalisir.

Lampu yang terpasang pada jalan nasional sejak tahun 2016 sampai 2018 baru sebanyak 19.850 tiang lampu. Standar jarak antar lampu adalah 50 meter, dipasang di sisi kiri dan kanan jalan.Maka setiap satu kilometer jalan membutuhkan 40 lampu. Dengan panjang jalan nasional 47.000 kilometer, maka jalan nasional yang telah dipasangi lampu baru sekitar 1%. Pemerintah masih memandang bahwa lampu jalan adalah perlengkapan yang tinggi biaya tapi rendah manfaat. Pemerintah memprioritaskan pemasangan lampu jalan hanya pada jalan perkotaan yang ramai penduduk ditujukan untuk melindungi pejalan kaki. Sedangkan pada jalan pedesaan, pemerintah menilai bahwa keberadaan marka jalan dan paku jalan atau delineator lebih bermanfaat bagi keselamatan pengguna kendaraan bermotor dan berbiaya jauh lebih murah dibandingkan lampu jalan. Namun sangat disayangkan bahwa identifikasi keberadaan marka dan paku jalan tidak terakomodir dalam laporan kecelakaan lalu lintas di dalam IRMS. Data isian tipe jalan telah mengakomodir separator atau median pemisah tapi khusus hanya pada jalan dua arah. Idealnya, marka jalan ada di setiap lajur meskipun searah dan paku jalan ada di pinggir kiri kanan jalan sebagai penanda bahu jalan.

Untuk melihat efektivitas biaya dari kegiatan peningkatan kondisi permukaan jalan dan peningkatan penerangan jalan, diperlukan perhitungan kasar (back of envelope calculation) dengan asumsi-asumsi yang disederhanakan, namun tetap mendekati kondisi sebenarnya. Informasi yang digunakan dalam perhitungan ini berasal dari berbagai sumber, termasuk hasil wawancara dengan Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan, survei harga pasar, laporan BPS, WHO, dan hasil estimasi. Biaya pengadaan lampu panel surya telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan nomor 78 tahun 2014 tentang Standar Biaya di Lingkungan Kementerian Perhubungan. Namun unit biayanya adalah lumpsum sehingga perlu dicari informasi biaya satuan harga panel surya dan baterainya.

Maka informasi yang dapat digunakan adalah spesifikasi teknisnya yaitu panel surya 100

watt peak (Wp) dan baterai VRLA Deep Cycle 12V. Namun seharusnya standar biaya dan spesifikasi baterai disesuaikan dengan kondisi saat ini, dimana satuan harga panel surya per Wp terus turun karena perkembangan teknologi dan semakin luas penggunaannya, juga karena baterai VRLA banyak dicuri dan baterai lithium menjadi alternatifnya. Survei harga tidak dapat dilakukan pada e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) karena produk penerangan jalan umum panel surya belum tersedia dalam e-katalog. Oleh karena itu survei harga pasar panel surya dilakukan pada beberapa pemasok. Didapatkan harga satuan panel surya adalah Rp12.000,00/Wp dan harga baterainya Rp1,5 juta. Menurut Subdit Perlengkapan Jalan Kementerian Perhubungan, umur ekonomis panel surya mencapai 20 tahun sedangkan baterainya hanya mampu bertahan selama 3 tahun, dengan asumsi tidak dicuri dan tidak dirusak. Rata-rata jarak antar tiang lampu berdasarkan Standar Nasional Indonesia adalah setiap 50 meter dan dipasang di kedua sisi jalan, maka dalam satukilometer dibutuhkan 40 tiang lampu.

Apabila 528 ribu kilometer panjang jalan di Indonesia telah dilengkapi lampu penerangan panel surya, maka total biaya pemeliharaan lampu jalan Rp11,8 triliun per tahun.

Berdasarkan informasi dari Bina Marga PUPR dalam Surat nomor PR0102-Bn/57 (2016), untuk mempertahankan permukaan jalan tetap dalam kondisi baik, maka setiap tahunnya perlu dilakukan pemeliharaan rutin yang mencakup pengisian celah/retak permukaan, pelaburan, penambalan lubang, pelapisan tipis, pembersihan bahu jalan, dan pembersihan drainase. Perkiraan biaya penanganan pemeliharaan rutin jalan tergantung pada jenis jalan (jalan berpenutup, tidak berpenutup, jalan kecil, jalan sedang, dan jalan raya).Idealnya pemeliharaan rutin dilakukan setiap tahun, sebab jalan yang tidak dipelihara akan lebih cepat rusak dan pada level tertentu kerusakan memerlukan penanganan yang lebih kompleks dan beban biayanya jauh lebih mahal. Untuk keperluan perhitungan, setelah berkonsultasi dengan narasumber PUPR, sebaiknya menggunakan satu nilai acuan yaitu Rp50 juta/km. Jadi untuk 528 ribu kilometer jalan di Indonesia biayapemeliharaan rutin yang diperlukan mencapai Rp26,4 triliun per tahun.

Perhitungan manfaat dilakukan dengan menggunakan hasil estimasi parameter penerangan dan parameter jalan berlubang, dengan pertimbangan bahwa pemeliharaan rutin jalan untuk memperbaiki jalan yang berlubang. Penerangan jalan menurunkan jumlah korban kecelakaan sebesar 4,45%, sedangkan jalan yang kondisi permukaannya baik menurunkan 1,43% jumlah korban kecelakaan dibandingkan jalan berlubang. Estimasi biaya kecelakaan lalu lintas Indonesia sebesar 2,9–3,1% (WHO, 2015) dan diambil nilai tengah yaitu 3%, kemudian dikalikan dengan PDB sebesar Rp13.588,80 triliuun (BPS, 2017), maka Indonesia menanggung beban kecelakaan lalu lintas setara Rp407 triliun pada tahun 2017. Manfaat atau pengurangan beban ekonomi kecelakaan lalu lintas yang dihasilkan oleh penerangan jalan umum adalah sebesar Rp18 triliun. Sedangkan manfaat pengurangan jumlah korban kecelakaan lalu lintas yang dihasilkan oleh kondisi permukaan jalan baik adalah sebesar Rp5,8 triliun. Peningkatan kondisi permukaan jalan membutuhkan biaya lebih tinggi2,23 kali dan memberi manfaat 0,3 kali dibandingkan peningkatan penerangan jalan.

07

► Nama : Ariesto Andrew Agoes

► Unit Organisasi : Bappeda Pemerintah Kota Manado

► Program Studi : Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan

► Negara Studi : Indonesia

► Universitas : Universitas Indonesia

SIKLUS ANGGARAN POLITIK PADA