BAB IV DATA DAN HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Desa Gintu
1. Sejarah Desa Gintu
yaitu patung-patung batu yang berupa patung monyet, patung babi, patung kerbau dan patung-patung batu lainnya yang kebanyakannya menghadap ke Watu Palindo.
Masyarakat suku bada pada saat ini mayoritas memeluk agama Kristen, terlihat dari gereja suku, yaitu Gereja Kristen Sulawesi Tengan (GKST).
Suku Bada juga memiliki beberapa jenis rumah tradisional/adat yang terbuat dari tiang dan dinding bambu, dan beratap ijuk. Setiap desa yang berada di lembah bada ini masing-masing memiliki rumah adat yang sama, tidak terkecuali desa gintu yang merupakan kota kecamatan dari Lore Selatan.
Rumah-rumah suku bada adalah:
a) Duhunga (baruga) adalah rumah adat yang digunakan untuk berbagai acara adat, seperti festival, upacara atau pesta modulu-dulu (makan bersama/makan sedaun).
b) Tambiadalah nama yang digunakan untuk rumah tradisianal tempat tinggal suku bada.
c) Buhoadalah rumah yang digunakan sebagai lumbung padi, atau tempat penyimpanan hasi pertanian yang lainnya.
Beberapaciri khas lain suku bada:
a. Pakaian adat dan perlengkapan perempuan:
1) Pohea sebagai pengikat kepala
2) Hiora sebagai hiasan kepala yang terbuat dari kalide dan bulu-bulu ayam yang sudah diwarnai
3) Awolo sebagai kalung
4) Kaewa adalah baju adat yang disulam dari benang emas
5) Wini adalah rok yang berasal dari sarung donggala atau rok yang terbuat dari kulit kayu.
b. Pakaian adat dan perlengkapan laki-laki
1) Siga sebagai ikat kepala untuk laki-laki, baju dan celana yang sudah dirancang sedemikian rupa.
2) Piho atau parang yang diselipkan dipinggang.
3) Pahua semacam sarung, modelnya hingga sepanjang sarung.
2. Letak Geografis Desa Gintu
Desa Gintu terletak pada posisi tengah lembah Bada atau Kecamatan Lore Selatan dengan beragam suku, etnis, ras masyarakat dikarenakan adanya sebagian kecil masyarakat pendatang dari daerah lain, dengan pola kehidupan penuh kebersamaan dan kedamaian dan masih perlu adanya peningkatan taraf kehidupan demi kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan di segala bidang. memiliki luas wilayah yang cukup besar, serta daerah administratif
Secara geografis Desa Gintu merupakan salah satu Desa di Kecamatan Lore Selatan yang merupakan ibu kota kecamatan.. Dengan jumlah penduduk Desa Gintu sebanyak 1442Jiwa. Desa Gintu merupakan salah satu Desa dari 8 (Delapan) Desa yang ada di kecamatan Lore Selatan Kabupaten Poso, Desa Gintu berada pada ketinggian ± 165 dpl (longitut 6,70543 ºE dan etitut 106,70543 ºE) dan curah hujan ± 200 mm, rata-rata suhu udara 28º - 32º celcius. Bentuk wilayah datar, Desa Gintu terletak di tengah-tengah Kecamatan Lore Selatan.
Batas-batas wilayah desa Gitu:
Sebelah Utara :Kecamatan Lore Barat
Sebelah Timur : Desa Bewa Kec. Lore Selatan Sebelah Selatan : Desa Runde Kec. Lore Selatan
Sebelah Barat : -
3. Demografi Desa Gintu a. Keadaan Penduduk
Berdasarkan pemutahiran data pada bulan September 2016 jumlah penduduk Desa Gintu terdiri dari 1442 Jiwa degan rincian sebagai beriukut:
Tabel 1
Jumlah Penduduk Desa Gintu Menurut Agama
No Agama Jumlah
1. Islam 63 orang
2. Kristen 1375
3. Katolik 2 orang
4. Hindu 2 orang
5. Budha -
Demografi Desa Gintu Tahun 2016
Tabel 1 menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Gintu Lore Selatan Kabupaten Poso memeluk agama Kristen. Kenyataan ini dapat dilihat dari jumlah masyarakat yang memeluk agama Kristen yang berjumlah Protestan 1,375 orang dan katholik 2 orang dan jumlah keseluruhan agama Kristen di Desa Gintu sebanyak 1,377 orang,
sedangkan penduduk Desa Gintu yang beragama Islam berjumlah 63 orang, penduduk yang beragama Hindu berjumlah 2 orang.
b. Keadaan Sosial 1. Kesehatan :
a) Derajat Kesehatan, untuk angka kematian bayi dan ibu relatif kecil, dikarenakankader Posyandu, bidan dan dokter serta tenaga kesehatan secara rutinsetiap bulan melakukan
kunjungan/pengobatan dan selalu proaktif danpeduli terhadap masalah kesehatan warga.
b) Puskesmas dan Sarana Kesehatan Lainnya, desa Gintu memiliki 1 Puskesmas yang sangat membantu kesehatan masyarakat dan melayani masyarakat, demi meningkatkan kesehatan masyarakat di Kecamatan Lore Selatan.
2. Pendidikan :
Tabel 2:
Jumlah Lembaga Pendidikan di Desa Gintu No Jenis Lembaga Pendidikan Jumlah 1 Pendidikan Anak Usia Dini 2 buah
2 Sekolah Dasar 2 buah
3 Sekolah Menengah Pertama 1 buah 4 Sekolah Manengah Atas 1 buah Sumber : Demografi Desa Gintu 2016
Tabel 2 diatas menunjukkan kepada kita tentang adanya partisipasi masyarakat Desa Gintu dalam membangun atau mencetak generasi yang berpendidikan untuk masa yang akan datang. Hal ini bisa dibuktikan
dengan pendirian sarana pendidikan yang didirikan mulai dari tingkat Taman kanak- kanak hingga Sekolah Menengah Atas. Desa Gintu memiliki 2 buah lembga pendidikan setingkat Taman Kanak-kanak, 2 lembaga pendidikan Sekolah Dasar, 1 lembaga pendidikan Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.
3. Sarana Ibadah
Tabel 3 :
Jumlah Tempat Ibadah Desa Gintu
No Agama Jumlah
1 Gereja 3 buah
2 Masjid 1 buah
3 Mushollah -
Sumber : Demografi Desa Gintu 2017
Tabel 3 menggambarkan jumlah fasilitas tempat ibadah yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan rohani bagi masyarakat Desa Gintu Kecamatan Lore Selatan Kabupaten Poso. Keberadaan tempat ibadah dengan jumlah yang cukup memadai di Desa Gintu ini tentunya sangat mendukung setiap ummat beragama dalam menjalankan ibadah mereka masing-masing baik dari kalangan Kristen maupun yang beragama islam.
4. Aksesibilitas (Komunikasi Dan Transportasi)
Komunikasi yang di gunakan oleh masyarakat desa gintu masih tradisional yaitu dengan cara saling panggil memanggil secara individu (mengundang pesta) dan sebagian dari masyarakat gintu telah dapat menggunakan handphone dan internet.
Sedangkan pada transportasi yang digunakan ialah berupa sepedad, sepeda motor, mini buss, truk dan teknologi pertanian yang sudah modern.
B. Kegiatan Dakwah di Desa Gintu 1. Majlis Taklim Al- Maidah Desa Gintu
Sejarah berdirinya majlis taklim al- Maidah Desa Gintu kecamatan Lore Selatan kabupaten Poso yaitu berawal dari melihat kondisi masyarakat di Desa Gintu belum begitu belum mengenal banyak ajaran agama karena kebanyakan dari mereka adalah muallaf, dan juga kondisi lingkungang yaitu mereka bertempat tinggal di daerah mayoritas Kristen, yang dapat mempengaruhi keyakinan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung, atas dasar itu sebagian masyarakat dan beberapa orang ustadz dan juga dihadiri oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Lore Selatan mengadakan pertemuan untuk membicarakan tentang pembentukan majlis taklim sebagai tempat mereka mempelajari agama dan belajar membaca al-Quran. Maka pada tahun 2006 dibentuklah perkumpulan pengajian yang dinamakan Majlis Taklim Al-Maidah. Adapun waktu dan tempat pelaksanaannya majlis taklim ini, dijadwal pada jumat sore sampai magrib dan bertempat dirumah wargasecara bergiliran karena majlis ini dirangkaikan dengan arisan.
Adapun agenda atau program kegiatan Majlis taklim Al-Maidah Desa Gintu yang dilakukan setiap hari jumat adalah sebagai berikut:
a. Baca Al-Quran
Kegiatan ini dilakukan diawal-awal pertemuan dan pelaksanaannya dilakukan secara bergilir, untuk memudahkan perbaikan bacaan.
b. Perbaikan tajwid
Setelah semua mendapat giliran membaca Al-Quran selanjutnya perbaikan bacaan yang disampaikan oleh ustadz yang memmbimbing mereka.
c. Ceramah
Setelah ustadz memperbaiki bacaan para jamaah, maka dipersilahkan kepada pembimbing untuk menyampaikan ceramah agama yang berdurasi 20-30 menit.
d. Arisan
Setelah kegiatan keagamaan sudah selesai dilanjutkan dengan arisan, kegiatan ini sebagai daya tarik agar mereka hadir dan mendengarkan dakwah.
2. Pengajian Bapak-bapak (Yasinan)
Kegiatan ini dilakukan pada kamis malam, selain untuk mendapatkan pahala dari bacaan, kegiatan ini untuk mempersatukan warga muslim dan sebagai sarana silaturahim, karena warga muslim khususnya para kaum adam disiang hari disibukkan dengan sawah dan kebun mereka, maka pengajian ini sangat baik untuk mempersatukan ummat dan tempat belajar agama.
3. TPA (Taman Pendidikan al-Quran)
Taman Pendidikan al-Quran al-Akbar Desa gintu awalnya dibentuk bersamaan dengan pembentukan majlis taklim al-Maidah pada tahun 2006, dan TPA ini bertempat di masjid al-Maidah Desa Gintu. Dalam pembelajarannya juga mereka hanya menggunakan fasilitas seadanya.
Tempat Pendidikan al-Quran ini dibentuk sebagai tempat belajar agama,
baca al-Quran dan praktek keagamaan lainnya bagi anak-anak dan remaja.
C. Problematika Dakwah
Problematika dakwah yang dihadapi oleh para da’i dan ustadz di Desa Gintu Kecamatan Lore Selatan Kabupaten Poso adalah
1. Problematika dari subjek dakwah (da’i)
Persoalan yang dirasakan para da’i di desa ini adalah kurangnya tenaga da’i dan ustadz yang ada, kurangnya tenaga da’i atau ustadz ini terjadi pada kegiatan pengajian remaja masjid dan pengajar TPA, salah seorang dari tokoh agama menuturka bahwa:
“TPA di desa gintu sudah lama dibentuk, tp disayangkan tidak berjalan dengan lancar karena hanya sekali dalam sepekan karena tidak ada yang mengajar selain saya, dan saya cuman bisa meluangkan waktu untuk mengajar di TPA pada hari sabtu sore”.81 masalah kedua para da’i juga merasakan bahwa komunikasi antara da’i yang satu dengan yang lainnya belum terorganisir, sehingga terjadinya penyampain materi yang berulang-ulang oleh da’i yang berbeda pada jamaah yang sama. Salah seorang jamaah pengajian mengatakan bahwa:
“kami sering mendapatkan materi yang berulang baik dari pemateri yang sama maupun pemateri yang berbeda dalam waktu yang dekat”.82
Berdasarkan hasil wawancara kepada Kepala Kantor Urusan Agama yang dilakukan pada tanggal 10/07/2017 sebagai berikut:
“Kami masyarakat muslim yang tinggal di Lembah Bada ini sangat kekurangan tenaga pendidikbaik untuk di sekolah-sekolah maupun dalam masyarakat, sehingga masih banyank anak-anak kita yang tidak paham agamanya atau kurang mengetahui agama islam itu sendiri, dan ada sebagian masyarakat kita yang prihatin dengan mereka tapi hanya mampu mengajar dari apa yang dia tahu saja walaupun sedikit”.83
81Fita (27 thn) Hasil Wawancara Pada Tanggal 01/07/2017
82Sarifa (60 thn) Hasil wawancara Pada Tanggal 01/07/2017
83Hamid (40thn) Hasil Wawancara Pada Tanggal 10/07/2017
Masalah ketiga yang dirasakan para da’i adalah sebagian dari mereka adalah kurangnya pengetahuan tentang ilmu-ilmu agama islam sehingga pertanyaan dan kebutuhan agama untuk masyarakat masih banyak yang belum terjawab sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang dari tokoh agama sebagai berikut:
“Saya hanya lulsan SMA dan saya merasa prihatin terhadap anak- anak muslim di sini, saya hanya menyampaikan dan mengajarkan apa yang saya ketahui, karna kalau bukan kami siapa lagi yang akan membimbing mereka”.84
Masalah keempat yang dirasakan oleh da’i adalah sebagian da’i merasa kurang begitu percaya diri dikarenakan pendidikan yang pada tinggkat SMU atau tidak berlatar pendidikan agama islam sehingga membuat mereka (da’i) belum begitu banyak memperoleh ilmu-ilmu agama Islam.
Permasalahan yang kelima adalah rendahnya tingkat perekonomian da’i untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga sebagian besar waktu digunakan untuk mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari yang menjadikannya tidak fokus terhadap dakwah ini.
“Saya hanya mampu meluangkan sedikit waktu untuk mengajar mengaji untuk anak-anak muslim disini dikarenakan kesibukam mencari nafkah”.85
2. Problematika Dari Segi Objek Dakwah
Problematika dilihat dari segi objek dakwah adalah keberagaman golongan objek dakwah sehingga menyebabkan para da’i harus bisa menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh semua golongan masyarakat, hal ini sebagaimana penuturan seorang yang da’i sebagai berikut:
84Ilham (38 thn) Hasil Wawancara pada tanggal 10/08/2017
85 Ilham (38 thn) Hasil Wawancara Pada Tanggal 10/08/2017
“Di daerah ini terdapat banyak suku, karena banyak pendatang dari luar sana, ada suku bugis, suku jawa, dan suku asli daerah ini yaitu suku bada, sehingga saya harus menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh semua kalangan, terlebih lagi suku asli daerah ini yang memiliki bahasa yang masih sangat kental yang digunakan baik yang kecil maupun yang dewasa”.86
Masalah lainnya yaitu tentang tradisi nenek moyang yang masih dilaksanakan oleh sebagaian masyarakat. Serta pandangan materialis duniawi yang menyebabkan sebagian masyarakat, khususnya remaja hanya mengejar kehidupan dunia dan mengesampingkan bekal untuk kehidupan di akherat kelak. Dari problematika yang berkaitan dengan objek dakwah ada beberapa hal yang sangat mempengaruhi keagamaan daerah setempat yaitu:
a. Lingkungan minoritas muslim
Lembah bada merupakan daerah yang dihuni oleh masyarakat mayoritas kristen, adapun masyarakat muslim tidak lebih dari 5%. Dengan keadaaan seperti ini tentunya pengaruh dari lingkungan sekitar sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat muslim, mempengaruhi ahlak anak-anak muslim, mempengaruhipola berfikir dan yang lebih besar lagi pengaruhnya adalah pengaruh terhadap agama, contoh kasus dalam hal ini telah terjadi beberapa pernikahan beda agama antara muslim dan non muslim, dan mempelai muslim brpindah agama atau murtad dari islam, hal ini disebabkan kedangkalan aqidah, kurangnya ilmu tentang agama islam, besarnya pengaruh lingkungan dan pergaulan.basarkan pengamatan penulis bahwa kebanyakan masyarakat muslim di lembah bada terkhusus di dea gintu, selain dangkalnya aqidah dan besarnya pengaruh lingkungan, orang-orag nasrani sangat berhasrat untuk menarik masyarakat muslim untuk masuk ke agama mereka , walaupum
86Ilham, (38 thn), Hasil Wawancara Pada Tanggal 10/08/2017
menempuh jalan yang sangat tidak baik, yaitu dengan cara melakukan pendekatan dengan wanita muslimah, dan menjadikannya sebagai kekasih, dan menghamilinya, dan pada akhirnya dibujuk untuk masuk kristen, walaupun tidak semua kasus tentang pemurtadan terjadi dengan cara demikian. Beberapa poin yang kami sebutkan diperkuat dengan perkataan dari salah seorang yang ditokohkan dari masyarakat muslim yaitu sebagai berikut:
“bada adalah daerah minoritas dan terpencil, dan kuatnya pengaruh lingkungan, pergaulan dengan orang kristen sehingga menjauhkan sebagian besar dari anak-anak muslim dari mempelajari agama mereka, dan membuat hidup mereka hanya mengejar dunia semata”.87
Hal yang sama dituturkan oleh beberapa orang yang kami temui dalam silaturahim di rumah-rumah muslim dan berbincang-bincang mengenai pengaruh lingkungan dan bahayanya terhadap agama.
b. Toleransi yang berlebihan
Isalam adalah agama yang sempura, islam sudah menyediakan seperangkat aturan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan ini agar selamat baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya seorang muslim tidak hanya hidup hanya hidup di tengah-tengah sesama kaum muslimin. Di tengah-tengah kita juga ada kaum kafir yang hidup bersama-sama dengan kita, ataukah sebagian muslim hidup di tengah-tengah kerumunan masyarakat non muslim, yang mengharuskan adanya muamalah dengan mereka.
87Dahlan (35 thn), Hasil Wawancara Pada Tanggal 07/08/2017
Di daerah ini yaitu lembah bada khususnya di desa gintu dan sekitarnya telah penulis saksikan terjadinya toleransi yang berlebihan atau sudah melampaui batas, salah satu contohnya yaitu adanya acara ibadah orang-orang kristen di orang muslim yang pada saat itu tertimpa duka dengan maninggalnya salah seorang dari kaum muslimin , mereka beralasan bahwa keluarga yang meninggal adalah bagian bagian dari keluarga mereka dan mereka berhak untuk mendoakannya, dan mereka meminta untuk melakukan ritual ibadah di rumah duka tersebut, dengan senang hati sebagian kaum muslimin atau keluarga duka mengizinkannya, sehingga ritual ibadah kristen yang tak terlepas dari nyayian dal lagu pun terdengar di rumah duka dan di susul dengan khutbah dari pendeta, selang beberapa menit setelah adanya ibadah kristen dilanjutkan dengan tahlilan atau yasinan di rumah tersebut.
Dan telah sampai berita tentang kejadian tersebut kepada kepala kantor urusan agama dan beliau berkata:
“saya sangat kecewa dengan kejadian ini, seharusnya ini tidak boleh terjadi, ini adalah toleransi yang kebablasan, padahal permasalahan yang seperti ini sudah kami jelaskan kepada masyarakat tentang tidak bolehnya ada acara ibadah mereka di rumah duku yang muslim. Boleh mereka mendoakan karena mereka adalah keluarganya tetapi dengan syarat mereka adakan acara ritual ibadah di rumah mereka bukan di rumah dukayang muslim”.88
88Hamid (40 thn) Hasil Wawancara Pada Tanggal 24/10/2017
Selain masalah di atas,problematika dari segi objek dakwah adalah banyak para jamaah pengajian rutin ibu-ibu yang masih kesulitan atau belum bisa membaca al-Quran di sebabkan mereka kebanyakan muallaf.
3. Problematika dari metode dakwah
Problematika yang dirasakan da’i dari segi metode dakwah adalah da’i merasa kurang menguasai metode-metode dakwah sehingga seringkali hanya menggunakan metode ceramah yang cenderung membuat jamaah menjadi jenuh dan pasif. Selain itu masalah yang timbul dalam hal metode dakwah adalah terjadinya ketidakselarasan antara materi dakwah dengan metode yang digunakan. Sebagai mana yang dijelaskan oleh seorang tokoh agama dalam wawancara sebagai berikut:
“Saya selaku khatib di sini tidak mengetahui banyak tentang metode dakwah, metode penyampaian ketika khutbah jumat atau ceramah, saya haya membaca teks atau buku khutbah”.89
4. Problematika Materi Dakwah
Berdasarkan pengamatan kami setelah tinggal beberapa lamadengan masyarakat muslim di lembah bada, khususnya di desa gintu kami menemukan bahwa problematika yang dirasakan da’i pada materi dakwah adalah tidak sinkronnya antara kebutuhan jamaah dengan materi yang disampaikan da’i. Persoalan yang kedua adalah materi yang disampaikan terkesan monoton sehingga jamaah merasa jenuh, hal ini disebabkan oleh karena tidak adanya koordinasi antar da’i dalam menyampaikan materi dakwah atau bisa juga dikarenakan kurangnya penguasaan da’i dari materi yang disampaikan.
Masalah yang lainnya adalah sebagian da’i merasakan kesulitan untuk menghubungkan dakwah islam dengan realita kehidupan masyarakat.
89Ilham, (38 thn), Hasil Wawancara Pada Tanggal 10/08/2017
5. Problematika Media Dakwah
Problematika dalam hal metode dakwah adalah media yang tersedia di masjid al-Maidah desa Gintu yang merupakan pusat dakwah masih sangat minim. Hal ini sangat terlihat pada kegiatan pengajaran TPA dimana alat- alat tulis seperti, meja, bangku, alat penghapus dan spidol sangat kurang, bahklan sampai kehabisan, dan juga buku-buku di tempat ini sangat minim.
D. Upaya pemecahan problematika dakwah islam oleh dai di Kecamatan Lore Selatan terkhusus di Desa Gintu
1. Upaya dari segi objek dakwah
Setelah adanya laporan-laporan dari beberapa jamaah dan keluhan para tokoh agama kepada Kepala Kantor Urusan Agama selaku penanggung jawab terhadap perkembangan keagamaan di kecamatan Lore Selatan dan Lore Barat, maka para tokoh agama islam dan da’i dikumpulkan untuk mecari solusi dari problematika yang ada, dari hasil pertemuan tersebut adalah adanya upaya-upaya sebagai berikut:
Untuk mengatasi masalah kurangnya jumlah da’i diupayakan dengan mendatangkan tenaga da’i profesioanal dari luar linkungan, seperti bekerja sama dengan AMCF yang setiap tahunnya mengirim da’i-da’i sampai kepelosok yang sangat sulit dijangkau, hal ini disampaikan oleh kepala kantor urusan agama dalam wawancara sebagai berikut:
“Kami menghimbau para tokoh agama untuk sering-sering berdiskusi dan mencari jalan keluar bagi masalah-masalah yang ada di tempat ini,dan kami telah memohon bantuan kepada salah satu yayasan di Indonesia (AMCF), kami bertemu langsung dengan dengan koordinator da’i untuk daerah Poso, ustadz Gunawan, kami memohon untuk mendatangkan da’i di daerah kami, dan alhamdulillah permintaan kami sudah dipenuhi, dan kami berharap ini akan terus ada”.90
90Hamid (40 thn) Hasil Wawancara Pada Tanggal 10/07/2017
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi problematika yang dirasakan da’i dan tokoh agama (subjek dakwah) adalah membentuk forum silaturahmi interen da’i di tempat tersebut sehingga terjadi saling mengisi antar da’i.
Dari hasil pertemuan tersebut juga didapati upaya pemecahan problematika dari kurangnya pemahaman tentang agama maka disepakasi adanya seminar-seminar atau pelatihan-pelatihan yang akan diadakan di kantor urusan agama bersama para tokoh agama dan pemateri yang akan diundang dari departemen agama kabupaten poso.
Sebagaimana penuturan kepala kantor urusan agama bahwa:
“Kami adakan pelatihan-pelatihan untuk tokoh-tokoh agama islam di kecamatan ini sebagai solusi dari permasalahan yang ada, agar mereka terbiasa dan tidak kaku dan memiliki ilmu yang memadai”.91 2. Upaya dari segi objek dakwah
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi problematika dari segi objek dakwah adalah dengan cara menghimbau pada masyarakat muslim untuk tetap tidak melupakan ajaran agama dalam menjalani kehidupan sehari- hari. Selain itu untuk mengatasi kurangnya minat para remaja dalam menikuti kegiatan keagamaan para da’i mencoba mengatasinya dengan mengadakan kegiatan pengajian khusus untuk remaja, pengajian rutin untuk muslimah tiap pekan.
Untuk mengatasi persoalan keberagaman golongan dalam masyarakat para da’i mengupayakan untuk menggunakan bahasa yang bisa diterima dan dipahami oleh semua kalangan. Para da’i juga mengadakan pelatihan membaca al-Quran karena sebagian dari jamaah belum bisa membaca al- Quran tanpa bantuan tekstual kedalam bahasa Indonesia.
91Hamid (40 thn) Hasil Wawancara Pada Tanggal 10/07/2017
Selain itu, untuk mengatasi problematika dari segi objek dakwah yang bertempat di daerah minoritas muslim yang mendapatkan banyak pengaruh akibat interaksi kepada masyarakat yang mayoritas kristen, agar tidak ada kesalah pahaman anatara ajaran muslim dengan kristen, departemen agama bekerja sama dengan tokoh agama muslim di desa gintu untuk melakukan kegiatan tiap tahunnya yang disebut dengan FKUB (Forum Kerukunan Umamat Beragama) untuk mendiskusikan kepada pemuka agama baik yang kristen maupun yang islam tentang hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan seorang muslim, sehingga kaum mayoritas bisa memahami hal-hal yang diperbolehkan agama islam dalam berinteraksi atau bermuamalah.
3. Upaya dari segi metode dakwah
Para da’i yang hanya menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan pesan dakwah mengakibatkan kejenuhan para jamaah maka para da’i berusaha untuk mampu memberikan stimulus dan para jamaah memberikan respon sehingga ada hubungan timbal balik antara da’i dengan jamaah. Selain itu dalam menyampaikan materi pengajian para da’i mengusahakan untuk menyelipkan humor-humor yang wajar dengan tetap menjaga kejujuran dan wibawa agar para jamaah tidak tegang. Hal ini diterapkan pada pengajian jumat sore.
4. Upaya dari segi materi dakwah
Untuk mengatasi problematika dari segi materi dakwah para da’i mengusahakan untuk menyesuaikan materi dakwah dengan situsi dan kondisi masyarakat. Disamping itu para dai berusaha untuk banyak membaca buku-buku keagamaan dan ilmu-ilmu lainnya untuk menambah materi dakwah agama islam.