PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN
C. Sekolah Menengah Kejuruan Solusi Alternatif
dipungkiri bahwa pendidikan memiliki kontribusi terhadap terjadinya pengangguran sebagai akibat dari sistem pendidikan yang tidak mampu meluluskan lulusannya sesuai dengan tuntutan dunia kerja (Kompas, 29 Mei 2004).
Kartono (dalam Tamboto 2006) mengemukakan Indonesia sistem pendidikannya belum sempat pada taraf menghasilkan lulusan sebanyak-banyaknya dan belum sampai taraf efisien produktif, kreativitas, dan kualitas lulusannya.
Pendidikan yang dilakukan selama ini lebih bersifat umum dan kurangnya menyiapkan anak didik sebagai calon tenaga kerja yang produktif, kreatif, dan sebagai manusia pembangunan. Jumlah lulusan sekolah yang tidak seimbang dengan perluasan kesempatan kerja yang disertai dengan tidak terpenuhiya keriteria persyaratan lowongan kerja.
Memperkuat pandangan Salibi (2006) bahwa membengkaknya jumlah pengangguran terdidik di Indonesia karena para pencari kerja tidak memenuhi kriteria yang dibutuhkan dunia kerja. Kesulitan ini cenderung dinyatakan dalam rumus yaitu l:3:10, yang artinya dari 10 orang pelamar, hanya 3 orang yang memenuhi kriteria, dan selanjutnya hanya 1 orang yang betul-betul memenuhi persyaratan lowongan pekerjaan yang ditawarkan (Pikiran Rakyat, 11 Januari 2016).
yang dirancang menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan khusus (Vocational skills), dengan tujuan agar ilmu yang dimiliki segera diaplikasikan di lapangan sesuai dengan tuntutan dan kebuhutan masyarakat.
Menariknya SMK untuk dipelajari melalui kajian ini karena lembaga pendidikan ini merupakan lembaga khusus mempersiapkan anak didik yang memiliki pengetahuan, wawasan dan keterampilan serta nilai-niai kewirausahaan yang cukup untuk mencari lapangan kerja ataupun menciptakan lapangan pekerjaan. Keunikan lainnya bahwa lulusan SMK dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan Tinggi sebagai ilmuwan bidang pendidikan ekonomi dan bisnis. Pandangan ini sejalan dengan hasil penelitian Tamboto (2006) yang meneliti tentang faktor-faktor motif dan perilaku ekonomi yang memengaruhi pemilihan spesifikasi pendidikan ditemukan bahwa faktor karier dan pendapatan merupakan faktor dominan dalam memilih spesifikasi pendidikan di perguruan tinggi. Kaitannya dengan kajian ini bahwa lulusan SMK cenderung memilih spesifikasi pendidikan yang relevan dengan bidang keahliannya di SMK.
Pentingnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang kehlian Bisnis dan Manajemen juga dijadikan alasan sebagai objek kajian akternatif di bidang pendidikan ekonomi, dikemukakan berikut ini:
1. Karena lembaga pendidikan ini mempersiapkan anak didik untuk memiliki pengetahuan atau wawasan, sikap dan keterampilan bidang bisnis dan manajemen sebagai bagian integral dari substansi pendidikan ekonomi.
Bagaimana isi materi pendidikan atau substansi pembelajaran pendidikan ekonomi, bagaimana proses
pembelajarannya, $6113 bagaimana kompetensi dan kcsiapan guru dalam proses pembelajaran merupakan substansi permasalahan pendidikan ekonomi yang terus dipelajari melalui penelitian ini.
2. Dalam pelaksanaan pendidikan ekonomi khususnya melalui Sekolah Menengah Kejuruan bidang keahlian Bisnis dan Manajemen ini, bidang kewirausahaan berperan scbagai salah satu bidang materi kajian pendidikan ekonomi. Artinya, nilai-nilai kewirausahaan memegang peran penting dan strategis untuk menjadi pemacu dan pemicu implementasi konsep dan teori dalam praktik kerja di lapangan. Dengan demikian, materi pelajaran kewirausahaan menjadi substansi dasar pendidikan ekonomi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang proses perubahan perilaku ekonomi masyarakat ke arah peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup.
3. Perilaku wirausaha siswa yang merupakan jiwa atau roh dari pendidikan ekonomi sesungguhnya perlu dipelajari, dipersiapkan dan dibentuk melalui sistem pembelajaran yang terencana secara sistemik pada tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) termasuk bidang keahlian Bisnis dan Manajemen. Dalam konteks inilah, pengkajian penelitian ini penting untuk ditemukan model sistem pembelajaran sekolah yang berwawasan kewirausahaan pada tingkat Sekolah Menengah Kejuruan bidang keahlian Bisnis dan Manajemen.
Ketiga alasan pentingnya pendidikan ekonomi, termasuk di dalamnya pengkajian tentang pelaksanaan sistem pembelajaran Sekolah Menengah Kejuruan
berwawasan kewirausahaan menjadi objek konsep alternatif, karena adanya permasalahan pengangguran di kalangan tenaga kerja produktif yang sebagian berasal dari lulusan SMK yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Melalui konsep ini diharapkan akan turut mengambil bagian dalam proses penanggulangan kualitas tenaga kerja muda yang sesuai dengan kebutuhan keterampilan lapangan kerja yang diharapkan. Menghadapi kecenderungan lonjakan pertumbuhan tenaga kerja muda yang kurang memiliki keterampilan hidup melalui lulusan SMA yang tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi, maka pemerintah menempuh kebijakan untuk memperbanyak sekolah-sekolah menengah kejuruan (SMK). Melalui pengkajian mendalam tentang pentingnya sekolah-sekolah menengah kejuruan secara makro di tingkat nasional, maka kebijakan ini muncul setelah mengkaji perjalanan perkembangan pelaksanaan pendidikar nasional bahwa khususnya jumlah gedung sekolah SMA tingkat nasional lebih dari 11.000 sekolah sedangkan jumlah SMK 6.200-an sekolah (Joko Sutrisno, 2017). Karenanya, dalam rencana strategis pendidikan nasional telah ditetapkan kebijakan yang mengatur perbandingan SMA dan SMK, karena rasio SMA dan SMK sekarang ini mencapai 65:35%. Lulusan SMA didesain untuk belajar menjadi akademisi, dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Kenyataannya 70% lulusan SMA masuk pasar kerja, sehingga kondisi ini cukup memprihatinkan karena SMA tidak dibekali keterampilan untuk masuk ke pasar kerja, seperti halnya SMK. Jika lulusan SMA banyak yang masuk dunia kerja, maka sebaiknya lulusan SMP ketika melanjutkan studi, diarahkan masuk ke SMK. Hal ini sangat penting karena lulusan SMK
selain memiliki peluang kerja juga dapat melanjutkan ke perguruan tinggi sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki. Dengan demikian, SMK dapat diibaratkan seperti pisau bermata dua aninya siap bekerja dan siap melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Terhadap kebijakan tersebut, ke depan pada tahun 2020 rasio SMA dan SMK sama, dan pada tahun 2025 perbandingannya telah menjadi SMK 70% dan SMA 30%
(Bambang Sudibyo, 2018). Kebijakan ini sejalan dengan rancangan kurikulum SMK yang telah mengalokasikan penerapan konsep kewirausahaan bagi siswa SMK karena kurikulum SMK selama ini mempersiapkan lulusan untuk siap kerja. Jika lulusannya kurang bahkan tidak mengerti tentang konsep dan implementasi manajemen dan pengelolaan pasar, maka kurikulum SMK sekarang mengarahkan lulusan SMK ke masa depan yang unggul dalam menguasai bagaimana mengoperasikan pasar.
Itulah sebabnya sekolah menengah kejuruan mendapat perhatian khusus melalui program Link and Match yaitu membuka kemitraan dengan dunia usaha untuk dijadikan tempat magang kerja bagi siswa, yang pada gilirannya lulusan SMK siap dipekerjakan pada perusahaan perusahaan yang terkait dengan bidang keahliannya.
Perbedaan yang sangat prinsip dari kedua kelompok lembaga pendidikan ini bahwa lulusan SMA tidak dibekali dcngan keterampilan khusus melainkan kurikulumnya bersifat umum, sementara lulusan SMK (SMEA) dibekali dengan pengetahuan, wawasan dan keterampilan kewirausahaan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, di antaranya SMK (SMEA) bidang keahlian bisnis dan manajemen. Keunikan SMK bidang Bisnis dan Manajemen
ini terlihat dalam hal: (1) desain kurikulumnya selain teori juga praktik dengan beban seimbang, sehingga sambil belajar siswa mendapat pengalaman praktik dan sekaligus mendapat upah minimum dari objek praktik dimaksud, (2) secara teoritis konsepsional inti kurikulum SMK bidang keahlian bisnis dan manajemen merupakan pusat dari implementasi materi kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan bidang-bidang keahlian lainnya. Dikatakan demikian, karena misalnya SMK bidang keahlian Industri dan Teknologi (STM) membutuhkan konsep keilmuan tentang bisnis dan manajemen.
Berdasarkan kajian lapangan, lulusan SMK bidang keahlian teknologi dan industri (STM) yang tidak memiliki pengetahuan dasar tentang konsep bisnis dan manajemen walaupun mereka memiliki keterampilan unggul dalam bidang keahlian listrik, mesin, bangunan dan sejenisnya, mereka akan menemui kesulitan dalam mengimplementasikan keterampilannya di lapangan pekerjaan. Dan (3) permasalahan yang serius yang dihadapi oleh sekolah menengah kejuruan (SMEA) bidang keahlian bisnis dan manajemen yang muncul di Iapangan ialah bahwa banyak lulusan SMK bidang keahlian bisnis dan manajemen ini kurang memiliki keterampilan substansi bidang keahlian lainnya, hingga lulusannya membutuhkan keterampilan khusus yang profesional dalam bidang bisnis dun manajemen agar instansi dan saham mana pun lulusan bidang keahlian ini unggul dalam persaingan lapangan pekerjaan.
↜oOo↝
- 122 -