• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semiotika Politik dalam Gambar

pemungutan hasil suara pencoblosan yang diklaim dimenangkan Sayang dalam perhitunngan quick count di tiga Kabupaten. Menurut analisis semiotika kebudayaan, gambar yang belum memiliki makna mendalam dianggap sebagai pengaburan unsur-unsur yang nyata. Gombrich (1972) menyebutkan bahwa signifikansi foto belum mengharfiahkan penggunaan analogi yang populer, baik panorama wacana maupun panorama bahasa dalam mengilustrasikan judul, isi, dan makna berita yang dipublikasikan. Kendati demikian, berita menyinggung perihal pasangan IA yang unggul di sembilan kabupaten. Namun, isi berita memuat perhitungan suara yang dilakukan tim teknis dan tim hukum. Dengan melihat objek yang dipotret, peneliti menyebut bahwa bahasa fotografi belum menampilkan tanda sebagai bagian dari komposisi, konteks, dan daya reaksi yang kuat bagi berita.

G. Semiotika Politik dalam Gambar

kampanye menjadi tolok ukur utama dalam mencari kasus pemberi suara yang mengubah pikirannya sebagai akibat terpaan media. Sebab, terpaan yang mendalam oleh media (surat kabar) sebagai sumber informasi kampanye pada seluruh sagmen pemilih menimbulkan pertanyaan tentang jenis informasi mana yang paling diperhitunngkan yang terdapat di dalam gambar politik yang diilustrasikan dalam berita surat kabar.

Sebagai contoh dapat dilihat pada kolom berita yang dimuat pada 14 Januari 2013 berjudul “Kandidat Siasati Masa Tenang”. Foto ini berusaha menggambarkan bagaimana kedua pasangan (kandidat) kampanye Pilgub Sulsel berdoa. Namun, karena sifatnya ilustratif, foto tersebut belum tentu terjadi bersamaan dengan momentum yang sedang diberitakan. Meski hanya menggambarkan situasi, foto ini dapat meningkatkan nilai berita melalui penggambaran yang sesuai dengan topik berita yang sedang dibicarakan.

2. Surat Kabar Tribun Timur

Berpijak pada pemaparan analisis bentuk isi gambar berita pada surat kabar Tribun Timur mengindikasikan adanya foto yang ditampilkan mampu mengomunikasikan berita guna mendukung topik berita karena menonjolkan sisi lain objek, dan foto yang mendampingi berita guna mendukung perwajahan surat kabar karena menarik dilihat.

Analisis Nimmo (2001) mengemukakan bahwa foto dalam kampanye politik adalah ilustratif penciptaan, penciptaan ulang, dan pemilihan lambang signifikan secara berkesinambungan melalui komunikasi. Apabila foto yang ditampilkan memiliki sisi kemenarikan yang dominan, dapat

dipastikan bahwa kampanye politik tersebut menggabungkan sisi partisipasi aktif bagi pembaca guna ikut berkampanye dan memberikan suara. Sebagaimana surat kabar Tribun Timur yang dinilai secara selektif memperhatikan hal-hal tertentu dalam kampanye dengan turut menciptakan, memperhitungkan, menginterpretasikan, dan memodifikasi lambang-lambang signifikan.

Sebagai contoh dapat dilihat pada kolom berita yang dimuat pada 18 Januari 2013. Dalam berita tersebut tampak sebuah spanduk bertulisan Rudi Nawir Gubernur & Wakil Gubernur-Ku. Foto ini mendukung pemberitaan karena sesuai dengan topik berita, yaitu tentang suasana kampanye pasangan Cagub-Cawagub Sulsel Garuda-Na di Stadion Bau Massepe.

3. Surat Kabar Rakyat Sulsel

Berpijak pada pemaparan analisis bentuk isi gambar berita pada surat kabar Rakyat Sulsel mengindikasikan adanya foto memiliki nilai berita yang tinggi dan pantas berada di headline berita di koran, di samping foto yang memiliki meaning guna mengubah pikiran pembaca untuk merasakan impact sesuai dengan gambar tersebut guna memicu adanya graphic interest. Sementara penanda foto ditunjukkan melalui kekonsistenan fotografer dalam memuat pemberitaan yang sesuai dalam muatan, isi, dan tema berita yang dipublikasikan.

Sesuai dengan perihal tersebut, analisis semiotika politik Barthes menyebutkan secara sederhana bahwa foto adalah media berkampanye paling mutakhir yang mampu menjaring pengaruh yang nyata. Sebab, kampanye politik mengambil bentuk dan memeroleh makna melalui sajian foto berita politik bagi pemberi suara (pembaca) melalui

komunikasi. Yakni, melalui keterlibatan pemberian suara dengan menginterpretasikan peristiwa, isu, aksi nyata, dan personalitas kampanye Pilgub Sulsel dengan merumuskan citra pada surat kabar (Rakyat Sulsel).

Sebagai contoh, foto yang dimuat pada 17 Januari 2013 dan gambar berita mengandung pengertian bahwa Cagub SYL sedang memilih mengunjungi korban banjir di Kota Makassar dibandingkan aksi kampanye Piglub Sulsel.

4. Surat Kabar Seputar Indonesia

Berpijak pada pemaparan analisis bentuk isi gambar berita pada surat kabar Sindo mengindikasikan adanya foto yang ditampilkan dengan foto yang mampu mengomunikasikan berita guna mendukung topik berita karena menonjolkan sisi lain objek, dan foto lepas atau berdiri sendiri dengan keterangan (caption) foto guna mendukung estetika halaman yang memuat berita tersebut menjadi lebih menarik.

Dalam kajian Nimmo (2001), ada sajian simbolik dalam foto yang memberikan interaksi yang membentuk proses komunikasi. Sebab, pemberi suara (pembaca) yang merefleksikan berbagai segi dari kandidat (Pilgub Sulsel), membayangkan bagaimana masing-masing segi itu, kemudian memberikan suara, maka ada perilaku (interaksi) simbolik yang bermakna sebagai kesan keterlibatan aksi kampanye (dukungan). Kesan ini dianggap mampu menguji daya imajinasi pembaca dalam memberikan suara atas citra kandidat Pilgub Sulsel dengan memberikan signifikansi kepada lambang-lambang yang disodorkan.

Sebagai contoh dapat dilihat pada kolom berita yang dimuat pada 7 Januari 2013. Foto tersebut menggambarkan

awan yang berbentuk seperti huruf hijaiyah berlafal “Allah.”

Sebagaimana disebutkan dalam keterangan, foto tersebut bersifat ilustratif. Artinya, foto tersebut tidak diambil saat momentum peristiwa yang diberitakan. Pemuatan foto hanya bertujuan mengomunikasikan berita dan menimbulkan minat pembaca dan mendukung perwajahan surat kabar. Dengan adanya foto tersebut, estetika halaman yang memuat berita tersebut menjadi lebih menarik.

5. Surat Kabar Tempo

Berpijak pada pemaparan analisis bentuk isi gambar berita pada surat kabar Tempo mengindikasikan adanya foto yang memiliki graphic interest yang mewakili permasalahan isi, muatan, dan tema berita yang dipublikasikan guna memberikan pendapat, sikap dan reaksi (impact) terhadap objek berita.

Sesuai dengan telaah tersebut, analisis semiotika politik berargumen bahwa media (surat kabar) yang digunakan oleh para pelaku kampanye (kandidat Pilgub Sulsel) disinyalir memainkan peran penting dalam turut menciptakan dan memodifikasi lambang-lambang signifikan. Peran foto yang memiliki impact dan graphic interest ini secara selektif membuat pemberi (pembaca) memperhatikan hal-hal tertentu dalam aksi kampanye Pilgub Sulsel, yakni memperhitungkan dan menginterpretasikannya. Konsekuensinya, foto kampanye mampu menjadi imbauan yang melakukan kampanye (kandidat) itu lebih dari sekadar kesan pada susunan saraf pemberi suara, pemberi suara melakukan lebih dari hanya membuka mata mereka sehingga rangsangan dapat menggerakkan partisipasi mereka dalam Pilgub Sulsel.

Sebagai contoh dapat dilihat pada kolom berita yang dimuat pada 17 Januari 2013. Berita itu memperlihatkan aksi tiga pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Sulawesi Selatan (dari kiri ke kanan), Ilham Arief Sirajuddin-Azis Qahhar Mudzakar, Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang, dan Rudiyanto Asapa-Andi Nawir Pasinringi, mengikuti debat kandidat di Kota Makassar.

6. Surat Kabar Kompas

Berpijak pada pemaparan analisis bentuk isi gambar berita pada surat kabar Kompas mengindikasikan adanya foto close up yang biasanya bertujuan menunjukkan detail wajah seseorang. Pembaca yang melihat foto kemudian membaca judul berita akan termotivasi untuk membaca berita tersebut hingga habis.

Sesuai dengan telaah tersebut, O‟Keefe menyebut pewajahan media yang mampu menunjukkan kedetailan kandidat (politik) disebut sebagai perhatian persepsi. Di mana ada terpaan berita kampanye politik yang memiliki gambar pendukung bernilai guna memengaruhi kepercayaan pembaca (pemberi suara) terhadap kandidat. Ada empat jenis tindakan apabila muatan gambar pada berita kampanye politik dianggap memiliki konsekuensi kognitif bagi pembaca, yakni petunjuk agenda kampanye yang menampilkan sosok kandidat; isu penting dari kampanye kandidat; posisi kandidat terhadap isu penting; dan informasi tentang kepribadian kandidat atau atribut lain.

Sebagai contoh dapat dilihat pada kolom berita yang dimuat pada 7 Januari 2013. Foto itu menggambarkan sebuah panggung yang terpasang baliho pasangan Garuda-Na

berukuran besar. Meski tidak ada sosok Prabowo Subianto yang tampak di foto tersebut, foto itu mewakili berita yang membicarakan kampanye pasangan Cagub-Cawagub Garuda- Na di Pinrang.

7. Surat Kabar Republika

Berpijak pada pemaparan analisis bentuk isi gambar berita pada surat kabar Republika mengindikasikan adanya tidak adanya kedalaman makna dalam foto. Melihat objek yang dipotret, peneliti menyebut bahasa fotografi belum menampilkan komposisi, konteks dan daya reaksi yang kuat bagi berita.

Dalam pandangan Nimmo (2001), semiotika politik yang ditunjukkan apabila ada media yang belum memiliki fragmen (foto) yang mampu memengaruhi pemberi suara (pembicara), teori kehendak rakyat sebagai basis komunikasi dalam Pemilu menjadti kajian mendasar. Di mana ada argumen yang menyebutkan bahwa Pemilu (Pilgub) memiliki dimensi instrumental yang penting, yakni menyajikan kepada para pembaca (pemberi suara) sebagai alat alternatif guna mencapai tujuan yang disepakati di dalam peraturan berkampanye di media. Artinya, pertalian surat kabar Republika dari sudut pandang semiotika politik belum merefleksikan atau menaksir perasaan pembaca, suasana hati pembaca, dan tuntutan kepentingan khususu dalam memberitakan kampanye politik Pilgub Sulsel.

Sebagai contoh dapat dilihat pada kolom berita yang dimuat pada 7 Januari 2013 menggambarkan pemungutan hasil suara pencoblosan yang diklaim dimenangkan Sayang dalam perhitunngan quick count di tiga Kabupaten.[]

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaer. 1997. Politik Bahasa dan Pendidikan.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Alwasiah, A. Chaer, 1985, Beberapa Madhjab dan Dikotomi Teori Linguistik, Angkasa, Bandung.

Alwasiah, A. Chaer. 1988. Tata Bahasa Praktis. Jakarta:

Bhratara.

Alwasilah, A. Chaer. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Alwi, Hasan, dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Alwi, Hasan, dkk. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Jakarta: Balai Pustaka.

Anwar, Rosihan. 2004. Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi.Yogyakarta: Media Abadi.

Artha, Arwan Tuti. 2003. “Kearifan Bahasa Lokal pada Pers Berbahasa Indonesia”, makalah pada Kongres Bahasa Indonesia VIII. Jakarta:Pusat Bahasa.

Badudu, J. S. dan Zain. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Bagong Suyanto dan Sutinah (editor). 2011. Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan. Edisi Revisi.cetakan ke-6. Jakarta: Kencana.

Barthes, Roland. 2007. Petualangan Semiologi, diterjemahkan oleh Stephanus Aswar Herminarko, dari buku L‟aventure Semiologique. Yagyakarta: Pustaka Pelajar.

Barthes, Roland. 2010, Imaji, Musik, Teks, diterjemahkan oleh Agustinus Hartono dari buku Image, Music, Text.

Yogyakarta: Jalasutra.

Berger, Arthur Asa. 2005. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, Suatu Pengantar Semiotika.

Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya.

Berutu, Dedy Isnaini (2012)

jurnal.usu.ac.id/index.php/flow/article/ download/

493/248, diakses tgl. 22 Maret 2013.

Black, James A. & Dean J. Champion. 1992. Metode dan Masalah Penelitian Sosial. Bandung : Eresco.

Bleicher, Josef. 2003. Hermeneutika Kontemporer.

Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Cangara, Hafied, 2009. Komunikasi Politik, Konsep Teori dan Strategi. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Cresswell, J.W. 2009. Research Design, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Los Angeles: Sage, diterjemahkan Achmad Fawaid, 2010.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

360

Crystal, D, 1985, A Dictionary of Linguistics and Phonology.

New York: Basil Blakwell.

Depdikbud. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

De Saussure, Ferdinand. 1988. Course in General Linguistics, terjemahan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Dewabrata, A.M. 2004. Kalimat Jurnalistik. Jakarta: Kompas Media Utama.

Dittmar, N, 1976, Sosiolinguistics, A Critical Survey of Theory and Aplication, Edward Arnol, London.

Dola, Abdullah. 2011. Linguistik Khusus Bahasa Indonesia.

Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.

Ecip, Sinansari. 2007. Jurnalisme Mutakhir, Republika.

Edna, Andrews. 2003. Cultural Semiotics in Language, Literature & Cognition. Canada: University of Toronto Press Incorporated

Eriyanto, 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS

Fahruddin, Arif. 2003. Hermeneutika transendental.

Yogyakarta: IRCISOD.

Faiz, Fakhruddin. 2005. Hermeneutika Al-Qur‟an: Tema-Tema Kontroversial. Yogyakarta: eLSAQ Press.

Fatah, E.S. (1999). Otoritarianisme dan Distorsi Bahasa.

Jakarta: Pusat Bahasa.

Fiske, John. 1990. Introduction to Communication Studies.

Second Edition: Methuen & Co. Ltd.

Habermas, Jurgen. 1975. Krisis legitimasi, Qalam. Yogyakarta Hamad, Ibnu, 2004. Konstruksi realitas politik dalam media massa: Sebuah studi Critical Discourse Analysis Terhadap Berita-berita Politik. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta.

Handaka, Tatag. 2008. Kajian Teoretis Semiotika Media dan Pilpres. Media dan Pemilu, Vol. 2, 45-54.

Hardiman, F. Budi. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Yogyakarta: Kanisius.

Hartmann and Stork, 1972, Dictionary of Language and Linguistics, Applied Science, London.

Hawalik, Oemar. 1986. Komputerisasi Pendidikan Nasional.

Bandung: Mandar Maju.

Hoed, Benny H. 2002. Strukturalisme, Pragmatik dan Semiotik dalam Kajian Budaya, dalam Indonesia: Tanda yang Retak. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

http://achmadsulaiman.blogspot.com/2012_01_01_archive.ht ml, diakses tgl. 22 Maret 2013.

http://agsjatmiko.blogspot.com/2011/12/sekilas-tentang- ragam-bahasa.html, diakses tgl. 22 Maret 2013.

http://bambangsukmawijaya. wordpress.com/. diakses tgl. 28 Maret 2013.

http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/492/jbptunikompp-gdl- yyaenrenal-24556-3-unikom_y-i.pdf.

(http://hendrapgmi.blogspot.com/2012/10/makalah-ragam- bahasa-indonesia. html), diakses tgl. 22 Maret 2013.

http://kangarul.wordpress.com/2009/07/31/pengertian- bahasa-jurnalistik/, diakses tgl. 22 Maret 2013.

(http://pps-antasari.ac.id/dwn/penelitian%20kualitatif.doc.).

http://sawirman-e135.blogspot.co.id/2009/09/e-135-sawirman- dalam-analisis-bahasa.html

http://sofiansukentes.wordpress.com/2009/10/29/bahasa-dan- media-massa/, diakses tgl. 22 Maret 2013.

http://usupress.usu.ac.id/files/Bahasa%20Indonesia%20Baku_

Normal_bab1.pdf, diakses tgl. 22 Maret 2013.

Irtanto. 2007. Perilaku Politik Pemilih pada Pemilihan Gubernur Jawa Timur Periode 2008-2013. Jurnal Penelitian Komunikasi, Vol. 12 (1), 43-62).

Johnson, Carla dan Lee, Monlee, 2004. Prinsip-Prinsip Pokok Periklanan dalam Perspektif Global . Jakarta: Prenada Media.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2001: 329) Tentang Gambar.

Yogyakarta: Gramedia.

Kasiyan, 2008 . Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan. Ombak Yokyakarta.

Kawulusan, H.E. (1998). Bahasa Politik dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Keraf, Gorys, 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Keraf, Gorys, 1991, Tatabahasa Indonesia Rujukan Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Menengah, Gramedia, Jakarta.

Khotimah, Khusnul. 2008. Semiotika: Sebuah Pendekatan dalam Studi Agama. Komunika, Vol. 2 (2), 277-289.

Kurniawan. 2001. Semiologi Roland Barthes. Magelang:

Yayasan Indonesiatera.

Kusumaningrat, Hikmat Purnama, 2007. Jurnalistik Teori dan Praktek. Remaja Rosdakarya Bandung.

Laksono, A. Bagus. 1997. Theori Kritis dan Teori Tradisional;

Program Teori Kritis Menurut Max Horkheimer.

Lincoln, Y.S. & Guba, E.G. (1985). Naturalistic Inquiry. New Delhi: Sage Publication.

Marzuki. 2002. Metodologi Riset. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Masinambow, E.K.M. 2001. Semiotik: Mengkaji Tanda dalam Artifak. Jakarta: YKKPI.

Moeliono, A, M, 1975, Sosiolinguistik, Angkasa, Bandung.

Naga, Karolus. 2012. Semiotika:Ilmu untuk Berdusta dan Mitos sebagai Sebuah Type of Speech, diakses tgl. 15 November 2012.

Nasution, Ikhwanuddin. 2008. (online). Sistem dan Kode Semiotika dalam Sastra: Suatu Proses Komunikasi.

Jurnal ilmiah bahasa dan sastra, Volume IV No. 2 Oktober Tahun 2008: Universitas Sumatra Utara.

Nasution, S. 1986, Didaktik Asas-Asas Mengajar, Bandung, Jemars.

Poerwadarminta, W.J.S, 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.

Patmono SK. 1990. Teknik Jurnalistik: Tuntunan Praktis Menjadi Wartawan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Rahardjo, Mudjia. 2011. Analisis Data Penelitian Kualitatif (Sebuah Pengalaman Empirik). http://judul-skripsi- tesis-desertasi.blogspot.com/2011_10_01archi-ve.

html, diakses tgl. 31 Maret 2013.

Richards, Jack, John Platt, and Heidi Weber. (1985). Longman Dictionary of Applied Linguistics. Harlow, Essex, England: Longman.

Ricour, Paul. 2006. Hermeneutika Ilmu Sosial. Yogyakarta:

Kreasi Wacana.

Riswara, dkk. 2004. Analisis Ketepatan Peran Semantis dalam Wacana Tajuk Rencana Surat Kabar Riau Pos dan Surat Kabar Riau Mandiri (Laporan Penelitian Balai Bahasa Pekanbaru).

Rusyana, Yus, 1984, Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan, Dipenogoro, Bandung.

Sadiman, Arief S dkk. 2008. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Setyobudi, Imam & P.M. Laksono. 2006. Analisis Wacana:

Polemik Teks “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” di Koran Kompas (18 November – 13 Desember 2002). Humanika, Vol, 19 (2), 163-173).

Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suherianto, 1981, Kompas Bahasa, Pengantar Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar, Widya Duta, Surakarta.

Sumadiria, A.S. Haris. 2005. Jurnalistik Indonesia. Bandung:

Simbiosa Rekatama Media.

Dokumen terkait