169 Kualitas air yang bisa dihasilkan dengan program software SWMM adalah parameter tentang TSS, dari hasil terlihat bahwa nilai TSS yang tertinggi ada pada outfall Pusal Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Undip dengan nilai 30,17 mg/l, sedangkan hasil yang lainnya dapat dilihat pada Tabel 5.14.
Tabel 5.14. Rekapitulasi Angkutan Polutan pada Masing-Masing Outfall
Outfall
Total Suspended Solids (TSS)
(Mg/L) Total Leads (Mg/L)
Full Catchment
Catchment Area Kampus dengan Luas Layanan Drainase 10 Meter
Full Catchment
Catchment Area Kampus dengan Luas Layanan Drainase 10 Meter
PPLH 30,17 12,65 7,54 3,16
FEB 24,39 12,52 6,10 3,13
Jurang Blimbing 5,59 12,50 1,40 3,13
Peternakan 12,50 12,50 3,13 3,13
Tugu Arah LPPU 23,43 12,56 5,86 3,14
Tugu Arah Tembalang 12,51 12,50 3,13 3,13
170 infrastruktur drainase dapat berfungsi baik sesuai rencana dengan kinerja yang optimal, diperlukan program pemeliharaan yang lengkap dan menyeluruh.
5.7.1. Kegiatan Pengamanan dan Pencegahan
Kegiatan ini merupakan usaha menjaga kondisi saluran drainase dari hal-hal yang merusak bangunan saluran. Kegiatan pengamanan dan pencegahan ini untuk mengantisipasi dari berbagai gangguan yang bersumber dari luar baik dilakukan oleh manusia ataupun alam. Kegiatan pengamanan dan pencegahan yang dilakukan meliputi:
1. Inspeksi rutin, merupakan kegiatan pengamatan secara visual keadaan drainase jalan raya dan pemeriksaan secara detail mengenai kondisi bangunan dan sarana pelengkapnya. Inspeksi ini dilaksanakan sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun, yaitu pada musim hujan dan musim kemarau. Jika pengamatan yang dilaksanakan pada inspeksi rutin kurang lengkap untuk melakukan evaluasi maka diperlukan inspeksi khusus. Inspeksi khusus dilakukan setelah adanya kejadian luar biasa yang diakibatkan oleh kejadian alam seperti gempa bumi, hujan lebat, longsor dan lain sebagainya, serta kejadian-kejadian luar biasa yang diakibatkan oleh manusia, atau berdasarkan informasi dari masyarakat. Pelaksanaan inspeksi khusus tidak terbatas oleh waktu.
2. Melarang Berbagai Aktivitas Masyarakat Yang Dapat Merusak Fungsi Drainase Kegiatan pengamanan dan pencegahan berikutnya yang berkaitan dengan larangan untuk melakukan berbagai aktivitas masyarakat yang dapat merusak fungsi dari drainase jalan raya dan bagian-bagiannya. Larangan ini ditujukan kepada masyarakat penggguna jalan dan masyarakat yang beraktivitas disekitar drainase jalan raya.
Kegiatan-kegiatan atau aktivitas masyarakat tersebut meliputi:
a. Membuang sampah pada saluran drainase, sumur resapan dan bagian-bagiannya.
b. Merusak bangunan drainase, sumur resapan dan bagian-bagiannya.
c. Mengambil dan memanfaatkan agregat pada saluran drainase yang berfungsi sebagai filter, untuk kepentingan lain yang tidak ada hubungannya dengan drainase.
5.7.2. Kegiatan Perawatan
Kegiatan perawatan merupakan usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi saluran drainase, tanpa ada bagian konstruksi yang diubah atau diganti. Perawatan dilakukan
171 secara sengaja dan sistematis terhadap infrastruktur drainase hingga mencapai kondisi yang dapat diterima dan diinginkan. kegiatan yang terprogram mengikuti cara tertentu untuk mendapatkan kondisi yang disepakati. Perawatan hendaknya merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus agar sistem selalu dalam keadaan siap pakai.
Kegiatan perawatan meliputi:
1. Perawatan Rutin
Perawatan rutin merupakan usaha mempertahankan kondisi dan fungsi sistem, tanpa ada bagian konstruksi yang diubah dan dilakasanakan setiap waktu, kegiatan ini meliputi:
a. Perawatan pada saluran, saluran drainase yang terbuat dari beton pracetak U- ditch dengan filter agregat halus dan agregat kasar pada saluran, harus tetap dipertahankan posisi dan bagian-bagiannya pada tempat yang benar. Kegiatan perawatan yang dilakukan meliputi: membersihkan sampah, dan tumbuhan pengganggu yang berada pada saluran dan sekitarnya, memperbaiki kerusakan- kerusakan kecil pada saluran dan menjaga agar agregat tetap ada pada posisinya dan menambah agregat halus jika terjadi pengurangan atau hilang.
b. Perawatan pada sumur resapan, pada bagian atas sumur resapan dipasang bak control sebagai tempat untuk mengecek kondisi sumur resapan, perawatan yang dilakukan adalah dengan mengecek konstruksi bak control dan sumur resapan, memperbaiki jika ada kerusakan yang terjadi serta membersihakan sampah dan tumbuhan yang ada disekitar bak kontrol.
2. Perawatan Berkala
Perawatan berkalan merupakan usaha-usaha mempertahankan kondisi dan fungsi sistem, tanpa ada bagian konstruksi yang diubah dan dilaksanakan secara berkala, kegiatan ini meliputi.
a. Perawatan pada saluran, disamping kegiatan rutin perlu dilakukan pula pemeliharaan secara berkala dengan skala yang lebih besar, yaitu dengan tetap memperhatikan kondisi agregat dan posisi saluran, jika perlu diadakan penggantian agregat karena agregat sudah tercampur dengan lumpur atau sampah yang masuk dalam agregat sehingga perlu dibersihkan atau diganti.
Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengganti seluruh agregat atau sebagain dari agregat yang telah tercampur dengan tanah atau sampah.
172 b. Perawatan pada sumur resapan, kegiatan perawatan dengan skala besar pada sumur resapan adalah dengan mengecak pada bak kontrol dan sumur resapan apakah perlu dilakukan pembersihan pada sumur resapan dengan cara masuk kedalam sumur resapan, untuk melihat kondisi dan fungsi dari sumur resapan.
5.7.3. Kegiatan Perbaikan dan Penggantian
Kegiatan perbaikan dan penggantian, kegiatan ini merupakan usaha untuk mengembalikan kondisi fungsi saluran drainase sesuai dengan desain perencanaan agar dapat berfungsi dengan baik. Kegiatan ini meliputi:
1. Kegiatan Perbaikan
Kegiatan perbaikan merupakan usaha untuk memperbaiki dan mengembalikan kondisi dan/atau fungsi saluran dan sumur resapan.
Perbaikan Darurat, perbaikan darurat merupakan usaha perbaikan dengan segera agar saluran dan sumur resapan segera berfungsi kembali. Kerusakan-kerusakan pada saluran dan sumur resapan bersumber dari bencana alam atau kejadian-kejadian yang disebabkan oleh manusia.
2. Perbaikan permanen
Kegiatan perbaikan permanen merupakan usaha perbaikan dengan maksud mengembalikan kondisi dan fungsi sistem yang sifatnya peningkatan perbaikan darurat maupun perbaikan akibat factor alam maupun manusia dengan didahului dengan membuat desain dan hasilnya bersifat permanen. Program ini memerlukan pemeriksaan berkala yang mencakup pengecekan, pengukuran, dan penelitian lebih seksama untuk mengetahui terjadinya kerusakan sebagai dasar untuk melakukan tindakan perbaikan yang akan dilakukan, sehingga tindakan yang diambil tepat sasaran.
3. Penggantian
Penggantian merupakan usaha pemeliharaan untuk mengganti seluruh atau sebagian komponen fisik dari saluran dan sumur resapan serta peralatan pendukung lainnya yang secara ekonomis kondisi dan fungsinya sudah tidak layak lagi. Kegiatan penggantian ini meliputi seluruh bagian dari saluran drainase maupun sumur resapan yang secara pengecekan dan penelitian wajib untuk diganti dikarenakan sudah tidak layak dan tidak berfungsi kembali.
173 5.8. Hasil Pengembangan Model
Hasil pengembangan model sistem drainase jalan raya yang berkelanjutan merupakan proses panjang dari mulai melakukan persiapan, desain, metode analisis, pengembangan model, dan hasil akhir berupa drainase jalan raya yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan. Pengembangan model drainase ini dengan nama U-Ditch Filter Drains Integrated Infitration Wells yang merupakan pengembangan model saluran drainase bentuk U-ditch dengan beton pracetak yang sudah ada di pasaran. Penempatan model drainase dilapangan untuk berbagai wilayah yang ada di Indoneisa perlu memperhatikan berbagai ketentuan dan pejelasan, dapat dilihat pada Tabel 5.15.
Tabel 5.15. Ketentuan dan Rekomendasi Model
No. Kategori Rekomendasi
1. Bentuk Saluran dan Material 1. Saluran bentuk U-ditch dengan pengembangan bagian bawah saluran ditambahkan tampungan air dihubungkan dengan sekat berlubang, dengan nama model saluran U-Ditch Filter Drains Integrated Infitration Wells
2. Material beton pracetak.
2. Lokasi 1. Lahan datar.
2. Lahan berbukit ada tanjakan dan turunan ditambahkan penutup saluran berlubang sebagai pengaman agregat.
3. Tampungan Akhir 1. Sumur resapan untuk kondisi muka air tanah dalam.
2. Badan penerima air lainnya yang menerapkan prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
3. Memperhatikan topografi wilyah terutama daerah berbukit untuk menggunakan tampungan akhir yang sesuai dengan prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
4. Agregat Filter Menggunakan agregat setempat yang telah diuji laboratorium untuk material konstruksi. Penggunaan penyekat antar agregat dari material yang tahan lama.
5. Pemeliharaan Pemeliharaan terhadap saluran maupun material filter secara menyeluruh dan berkesinambungan.
6. Hubungan antar laju resapan dengan tinggi air genangan H Terukur pada sumur resapan
Hasil hubungan laju resapan dengan tinggi air genangan (H terukur) pada sumur resapan adalah persamaan 5.3.
Laju Resapan = 0,0073 H0,7919 pada musim hujan yang merupakan kondisi real terjadinya air limpasan permukaan pada jalan raya. Tekanan hidrostatis pada sumur resapan dan permeabilitas tanah mempengaruhi besar kecilnya laju resapan yang terjai.
Skema hasil pengembangan model sistem drainase jalan raya yang berkelanjutan secara keselurahan dari desain awal sampai pemeliharaan disampaikan dalam bagan alir yang dapat dilihat pada Gambar 5. 27.