BAB 4 Beton Aspal
3. Persiapan alat dilokasi
7.3 Sistem Pengendalian Mutu Pada Tahap Pascakonstruksi
152
Karena aspal merupakan material termoplastis, maka mutu campuran sangat ditentukan pula oleh nilai viskositas aspalnya selama pencampuran dan selama konstruksi. Tabel 7.2 memperlihatkan nilai viskositas aspal dan batasan suhu selama pencampuran dan penghamparan, dan pemadatan. Jika terjadi perbedaan nilai, maka nilai viskositas aspal yang disyaratkan untuk dipenuhi.
Tabel 7.2 Nilai viskositas dan suhu campuran beton aspal
No. Prosedur Pelaksanaan Viskositas aspal (Pa.S)
Suhu Campuran
(oC) Pen 60/70 1 Pencampuran benda uji
Marshall 0,2 155 ± 1
2 Pemadatan benda uji Marshall 0,4 145 ± 1 3 Pencampuran, rentang
temperatur sasaran 0,2 – 0,5 145 – 155 4 Menuangkan campuran dari
AMP ke dalam truk ± 0,5 135 – 150
5 Pasokan kealat penghampar 0,5 - 1,0 130 - 150 6 Penggilasan awal (roda baja) 1 - 2 125 – 145 7 Penggilasan kedua (roda karet) 2 - 20 100 - 125 8 Penggilasan akhir (roda baja) < 20 > 95 Sumber: Spesifikasi 2010
153
Sistem
pengendalian mutu tahap
pascakonstruksi:
1. kepadatan di lapangan 2. ketebalan
lapisan 3. elevasi
permukaan uji inti yang diperoleh dengan menggunakan mesin bor pengambil benda uji inti (core). Benda uji inti berdiameter 4 inci untuk partikel berukuran maksimum 1 inci dan berdiameter 6 inci untuk partikel berukuran di atas 1 inci. Benda uji inti paling sedikit diambil 2 buah per penampang melintang per lajur dengan jarak memanjang antar penampang melintang yang diperiksa tidak lebih dari 100 m[Spesifikasi 2010]
.
Benda uji inti digunakan untuk menguji kepadatan beton aspal dan ketebalan yang dihasilkan. Kepadatan hasil pemadatan di lapangan dibandingkan dengan kepadatan standar kerja
(JSD) hasil pemadatan di laboratorium.
Kepadatan relatif adalah perbandingan kepadatan di lapangan dengan kepadatan standar kerja (JSD). Kepadatan relatif ini tak boleh kurang dari 97% untuk jenis lataston dan 98% untuk beton aspal jenis lainnya. Tabel 7.3 memperlihatkan batasan kepadatan relatif yang harus dipenuhi dari analisis data pengujian kepadatan.
Tabel 7.3 Batasan nilai kepadatan campuran beton aspal Kepadatan
yang disyaratkan
(% JSD)
Jumlah benda uji perpengujian
Kepadatan minimum rata-
rata (% JSD)
Nilai minimum setiap pengujian
tunggal (% JSD) 98
3-4 5
> 6
98,1 98,3 98,5
95 94,9 94,8 97
3-4 5 > 6
97,1 97,3 97,5
94 93,9 93,8 Sumber: Spesifikasi 2010
154
Bagian dari sistem pengendalian mutu pasca konstruksi adalah pemeriksaan kerataan permukaan dengan menggunakan mistar lurus sepanjang 3 meter, atau mistar lurus beroda sepanjang 3 meter.
Pemeriksaan dilakukan terhadap paling sedikit 3 titik yang diukur melintang pada paling sedikit 12,5 meter memanjang sepanjang jalan yang dikerjakan. Perbedaan elevasi setiap dua titik pada setiap penampang melintang tak boleh lebih dari 5mm.
155
Daftar Pustaka
AASHTO, 1990, Standard Specifications For Transportation Materials And Methods of Sampling and Testing, Part I, “Specifications”, Fifteenth Edition, Washington,D.C.
AASHTO, 1990, Standard Specifications For Transportation Materials And Methods of Sampling and Testing, Part II, “Tests”, Fifteenth Edition, Washington,D.C.
Badan Standardisasi Nasional, Cara Uji Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Kasar, SNI 1969 : 2008.
Badan Standardisasi Nasional, Cara Uji Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Halus, SNI 2441 : 2008
De Leuw, Cather International Limited, 1984, Course Sixteen, Introduction To Asphaltic Concrete Plant Inspection, Abudhabi.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Jalan, Kumpulan Makalah Teknologi Bahan, Tjitjik WS, Pengalaman Melakukan Pengujian Mutu Aspal Keras Di Laboratorium, 1994
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Campuran Aspal Dengan Alat Marshall, SNI 06-2489-1991; SK SNI M-58-1990-03.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Berat Jenis Aspal Padat, SNI 06-2441-1991; SK SNI M-30-1990-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Daktilitas Bahan-bahan Aspal, SNI 06-2432-1991; SK SNI M-18-1990-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Kadar Air Agregat, SNI 03-1971-1990; SK SNI M-11-1989-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Kadar Beraspal
156
Dengan Cara Ekstraksi menggunakan Alat Soklet, SNI 03-3640-1994;
SK SNI M-10-1993-03.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Keausan Agregat Dengan Mesin Los Angeles, SNI 03-2417-1991; SK SNI M-02-1990-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Kehilangan Berat Minyak Dan Aspal Dengan Cara A, SNI 06-2440-1991; SK SNI M-29-1990-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Kelekatan Agregat Terhadap Aspal, SNI 06-2439-1991; SK SNI M-28-1990-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Pengujian Penetrasi Bahan-bahan Bitumen, SNI 06-2456-1991; SK SNI M-21- 1990-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Sifat Kekekalan Bentuk Agregat Terhadap Larutan Natrium Sulfat dan Magnesium Sulfat, SNI 03-3407-1994; SK SNI M-04-1992-03.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Tentang Analisis Saringan Agregat halus Dan Kasar, SNI 03-1968-1990; SK SNI M-08- 1989-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Titik Lembek Aspal dan Ter, SNI 06-2434-1991; SK SNI M-20-1990-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode Pengujian Titik Nyala dan titik Bakar Dengan Cleveland Open Cup, SNI 06-2433-1991; SK SNI M-19-1990-F.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Metode PengujianKadar Aspal, SNI 06-2438-1991; SK SNI M-27-1990-F.
157
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Tata Cara Pelaksanaan Lapis Tipis Beton Aspal Untuk Jalan Raya, SNI 03-3425-1994; SK SNI T-23-1991- 03.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia, Tata Cara Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (Laston), SNI 03-1737-1989; SKBI-2.4.26.1987..
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, 1999, Sertifikasi Tenaga Inti Konsultan Supervisi, Modul IIIA, Filosofi Spesifikasi Dan Pengendalian Mutu, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, 1999, Sertifikasi Tenaga Inti Konsultan Supervisi, Modul V, Pekerjaan Pondasi Jalan, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, 1999, Sertifikasi Tenaga Inti Konsultan Supervisi, Modul VI, Pekerjaan Lapis Permukaan Aspal, Jakarta.
Departemen Permukiman Dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian Dan Pengembangan Permukiman Dan Prasarana Wilayah, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Prasarana Transportasi, 2002, Diseminasi Spesifikasi Baru Campuran Beraspal Panas Dengan Alat PRD, Denpasar, Juli 2002.
Departemen Permukiman Dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian Dan Pengembangan Permukiman Dan Prasarana Wilayah, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Prasarana Transportasi, 2002, Spesifikasi Campuran Beraspal Panas, Juli 2002.
Direktorat Jenderal Bina Marga, 1983, Konstruksi Pondasi Jalan No 211.
Direktorat Jenderal Bina Marga, Central Quality Control & Monitoring Unit, C.P.Corne & Associates Ltd, PT Virama Karya, 1988, “Komentar terhadap spesifikasi untuk kontraak pemeliharaan dan peningkatan jalan, Seksi 6.3/I “Aspal campuran panas dengan durabilitas tinggi”, buku I: Rancangan Campuran.
Direktorat Jenderal Bina Marga, Direktorat Bina Program Jalan, Second Nine Provinces Road, Rehabilitation Project, Buku 3, "Spesifikasi Umum", Jakarta.
158
Djanasudirdja, Suroso;Ir, "Pengantar Mekanika Batuan", Bandung, Desember, 1984.
Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Spesifikasi Umum, Edisi 2010 (Revisi 3).
Kett, Irving, 1998, Asphalt Materials And Mix Design Manual, Noyes Publications, New Jersey, USA.
Khairudin M.Ali, Split Mastik Aspal Sebagai Surfacing/Wearing Course Untuk Konstruksi Jalan MST 10 Ton.
M.Ali Khairudin, Split Mastik Aspal Sebagai Surfacing/Wearing Course Untuk Konstruksi Jalan MST 10 Ton.
Monismith C.L., and Epps.J.A., 1984, Course Notes For Asphalt Paving Mixtures: Design, Construction, And Performance
Monismith C.L.; Epps.J.A.; 1984, Course Notes for Asphalt Paving Mixtures: Design, Construction, And Performance.
PT Subur Brothers, 1995, Job Mix Formula Of Split Mastic Asphalt, Package AK-1 Cileunyi-Nagreg.
Saskatchewan Highways and Transportation, 1983, Pavement Technology Manual volume 1.
Saskatchewan Highways and Transportation, 1983, Pavement Technology Manual volume 2.
Sukirman Silvia, 1992, Perkerasan Lentur jalan Raya, Nova, Bandung Sukirman Silvia, 2002, Beton Aspal Campuran Panas, Granit, Jakarta Sukirman Silvia, Beton Aspal Campuran Panas, 2012, Institut Teknologi
Nasional, Bandung.
The Asphalt Institute, 1983, “Asphalt Technologie Construction Practice”, Educational Series No 1.
The Asphalt Institute, 1983, Principles of Construction of Hot-mix Asphalt Pavements, Manual Series No.22, College Park, Maryland, USA:, Asphalt Institute.
The Asphalt Institute, 1993, Mix Design Methods for Asphalt Concrete and other Hot Mix Types, Manual Series No.2 (MS-2), Sixth Edition, Lexington, Kentucky, USA:, Asphalt Institute.
159
Lampiran
160
La mp ira n A Fo rm u lir le n gk u n g gra d asi
Ukuran bukaan ayakan Nomor ayakan
% Lolos
163
Lampiran B
Formulir Perhitungan Sifat Volumetrik
Formulir Perhitungan Sifat Volumetrik Beton Aspal Padat (Perhitungan berdasarkan berat beton aspal padat)
1 dari 2
Benda Uji: Tanggal:
Identifikasi:
Komposisi dari benda uji:
Berat Jenis, G, gram
Komposisi campuran, % dari berat total benda uji,P Efektif Bulk Benda uji ke
1 2 3 4 5
1. Agregat kasar G1 P1
2. Agregat halus G2 P2
3. Bahan pengisi G3 P3
4. Campuran agregat
Gs Ps
5. Kadar aspal Ga Pa
Berat Jenis, G, gram
Komposisi campuran, % dari berat total agregat,P Efektif Bulk Benda uji ke
1 2 3 4 5
6. Agregat kasar G1 P1
7. Agregat halus G2 P2
8. Bahan pengisi G3 P3
9. Campuran agregat
Gs Ps
10. Kadar aspal Ga Pa
11. Berat kering benda uji = ………..gram 12. Berat benda uji kering permukaan = ………. gram 13. Berat benda uji di dalam air = ………gram
164
Formulir Perhitungan Sifat Volumetrik Beton Aspal Padat (Perhitungan berdasarkan berat beton aspal padat)
2 dari 2
Benda uji ke
1 2 3 4 5
14. Berat jenis bulk agregat campuran,gr
Gsb
15. Berat jenis maksimum benda uji, gr
Gmm 16. Berat jenis bulk benda uji,gr Gmb 17. Berat jenis efektif agregat
campuran,gr
Gse
18. Kadar aspal terabsorbsi, % Pab
19. Kadar aspal efektif,% Pae 20. Prosentase pori antara agregat VMA 21. Prosentase pori dalamcampuran VIM 22. Prosentase pori terisi aspal VFA Catatan:
Berat jenis bahan pengisi sukar untuk didapatkan, oleh karena itu diasumsikan sama dengan berat jenis apparent.
Contoh perhitungan ada di Bab 4
Lampiran C Formulir Perhitungan Hasil Pengujian Marshall
Tanggal:
Jenis Campuran:
Agregat:
Berat jenis bulk, Gsb: Berat jenis apparent:
Aspal:
Penetrasi:
Berat jenis (T):
No.
Benda uji
Kadar aspal Berat jenis Berat,gram
Volume bulk cm3
Berat jenis bulk,
Gmb
% volume % pori Stabilitas
Flow
mm
% berat thdp total agregat.
% berat thdp total campuran .
Gmm Gse di udara
Dlm air
kering permukaan
ssd
Aspal thdp campur
an
Agregat efektif thdp campuran
VMA VIM VFA Bacaan
dial
Justifikas i kg
Koreksi volume
A B C D E F G H J K L M N P Q R S U
1 2 3
1 2 3
1 2 3
Keterangan:
1. B = 100
A 100
A
6. J = H
E 9. M =
Gsb
) B 100 (
100 J
12. Q hasil pengujian Marshall
2. C diperoleh dari pengujian sesuai AASHTO T 209-90 7. K =
T J .
B 10. N =
C ) J C ( 100
13. R = Q x kalibrasi
3. D =
T / B C / 100
B 100
8. L =
D ) B 100 (
J
11. P =
M ) N M ( 100
14. S = R x faktor koreksi
4. E s/d G hasil pengujian di laboratorium 15. U hasil pengujian Marshall
5. H = G-F
165
166
Contoh Grafik Penentuan Kadar Aspal Optimum
165