BAB III METODOLOGI PENELITIAN
D. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dipakai dalam penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber, yaitu:
1. Wawancara
Pengumpulan data penelitian bisa juga dilakukan dengan wawancara, baik wawancara terstruktur maupun wawancara tidak terstruktur.
4 Huzaemah T. Yanggo, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Dan Disertasi Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta, h.18
Baik wawancara sekilas maupun wawancara mendalam. Baik dilakukan secara perorangan atau secara berkelompok. Biasanya wawancara dilakukan pihak peneliti dan pihak resonden secara langsung. Tetapi seiring perkembangan teknologi, maka wawancara dilakukan via telepon, teleconference, atau media teknologi lainnya. Seperti dengan chatting diinternet dan lainnya.5
Untuk mendapatkan data-data yang kompeten, maka peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pihak yang terkait, diantaranya dalam penelitian ini wawancara dilakukan terhadap pengurus pondok pesantren, pengurus Lajnah Bahtsul Masail (LBM), para guru (ustadz), para santri, dan sumber-sumber lain yang dapat memberikan informasi.
2. Observasi
Pengumpulan data penelitian bisa dilakukan juga dengan pengamatan langsung peneliti terhadap objek yang ditelitinya. Hal ini disebut dengan observasi. Observasi ini bisa dilaksanakan sebagai observasi terlibat maupun observasi non- terlibat. Teknik pengumpulan data dengan observasi, khusunya observasi terlibat biasanya digunakan oleh penelitian kualitatif.6
5 Huzaemah T. Yanggo, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Dan Disertasi Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta, h. 20
6 Huzaemah T. Yanggo, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Dan Disertasi Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta, h. 20
Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk memperoleh data berkaitan dengan situasi dan kondisi, orientasi, sistem pengajaran, proses kegiatan belajar mengajar yang berlangsung, dan kegiatan keseharian yang terjadi khususnya kegiatan Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo.
3. Dokumentasi
Dokumentasi berupa “data tertulis yang mengandung keterangan dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih aktual”.7
Dokumentasi ditujukan untuk “memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relavan, peraturan-perturan, laporan kegiatan, foto- foto, film dokumenter, data yang relavan penelitian”.8
Dokumentasi ini digunakan peneliti untuk mendapatkan data-data maupun dokumen yang terkait dengan perihal penelitian Lajnah Bahtsul Masail (LBM).
Dokumentasi diperlukan untuk melengkapi data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara.
7 Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta:
Logos, 1997), h. 77
8 Riduan, Metode Dan Teknik Menyusun Tesis, (Bandung:
Alfabeta, 2009), h.105
E. Teknik Pengelolahan dan Analisis Data
Berikut ini beberapa penjelasan tentang teknik pengolahan data dan analisis data.
Dalam penelitian kualitatif, data yang diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi) dan dilakukan secara terus menerussampai datanya jenuh. Triangulasi adalah memverifikasi data dengan berbagai sumber data yang ditemukan. Dilakukan dengan cara check dan recheck sampai peneliti tidak menemukan data baru lagi.9
Selanjutnya dalam hal ini prinsip tujuan pengelolahan/anlaisis data dijelaskan oleh Prasetyo Irawan, dkk dalam bukunya Metode Penelitian.
Pada prinsipnya tujuan pengolahan/analisis data adalah untuk menjawab permasalahan- permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Pada tahap ini, peneliti harus merumuskan dan menjawab suatu permasalahan serta mewujudkan agar rumusan-rumusan tersebut mudah dipahami secara runtun dan nalar.10
Data-data yang diperoleh penulis dari berbagai referensi, observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi
9 Huzaemah T. Yanggo, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Dan Disertasi Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta, h. 23
10 Prasetyo Irawan, dkk, Metode Penelitian, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), Cet.ke-5, h. 8.3
akan diolah dan dinalisis sehingga mendapatkan suatu kesimpulan tentang bagaimana efektifitas LBM dalam meningkatkan motivasi belajar santri pada mata pelajaran fiqh di Ponpes Putri Lirboyo Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri.
79
HASIL PENELITIAN
A. Profil Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyah Kota Kediri
Sebelum melangkah pada wawancara dan interview, penulis akan memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyyah I Kediri. Mulai dari letak geografis Pondok Pesantren, sejarah berdirinya Pondok Pesantren, susunan kepengurusan Pondok Pesantren, serta macam-macam kegiatan yang terdapat di dalamnya.
1. Letak Geografis Pondok Pesantren Putri Lirboyo al- Mahrusiyyah Kota Kediri.
Secara geografis, Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyyah I Kediri terletak di lokasi paling timur di lingkungan pondok lirboyo. Kurang lebih 3 KM Sebelah barat kota kediri. Pondok Pesantren Putri Lirboyo al- Mahrusiyyah terbagi menjadi 4 lokasi. Yang pertama adalah Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyyah I yang terletak di JL. KH. Abdul Karim No. 09 desa Lirboyo Kec. Mojoroto Kota Kediri, tepatnya di samping barat ndalem al-marhum al-maghfurlah KH. Imam Yahya
Mahrus yang di tempati oleh siswi aliyah dan mahasisiwi, yang pada akhir tahun 2015 ditambah dengan sisiwi kelas III Tsanawiyah (formal). Lokasi selanjutnya yakni terletak di Jl. Penanggungan No 44 B Kediri, atau lebih tepatnya berada di belakang ndalem Hj.
Etna Iyyana Miskiyyah yang merupakan putri ketiga al- marhum al-maghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus.
Pondok Pesantren ini diberi nama Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyyah II yang dikhususkan untuk siswi Tsanawiyah (formal).
Untuk lokasi selanjutnya adalah Pondok Pesantren al-Mahrusiyyah Putri Unit Ndalem Barat yang dibangun pada pertengahan tahun 2012, Pondok Pesantren ini bertempat di belakang ndalem barat al-marhum al- maghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus yang berada di desa Lirboyo Kec. Mojoroto Kota Kediri dan ditempati oleh siswi Aliyah dan mahasiswi serta siswi kelas III Tsanawiyah (formal). Dan untuk lokasi yang terakhir yakni berada di desa ngampel Kec. Mojoroto Kota Kediri dengan nama Pondok Pesantren al-Mahrusiyyah III.
Untuk santri yang berada disini hanya diperuntukkan untuk siswi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan ditempatkan didua tempat yakni samping ndalem putra
pertama al-marhum al-maghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus, yakni KH. Reza Ahmad Zahid dan satu lagi berada di ndalem atas KH. Melvin Zainul as-Syiqien yang merupakan putra kedua al-marhum al-maghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus.1
2. Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyah Kota Kediri.
Pada saat Universitas Islam Tribakti (UIT) menerima mahasiswi secara bersamaan muncul pemikiran KH. Imam Yahya Mahrus untuk mendirikan asrama Pondok Putri dikarenakan banyaknya mahasiswi yang datang dari berbagai daerah di samping KH. Imam Yahya Mahrus menginginkan antara pendidikan formal dan non formal bisa seimbang, agar santri tidak hanya mendapatkan pendidikan yang bersifat umum melainkan santri juga harus mendapatkan pendidikan formal seperti Fiqh, Tauhid, dll. Akhirnya beliau membangun asrama putri di sebelah barat kampus, bersamaan dengan proses pembangunan tersebut sebagian santri bertempat di Jl.
KH. Wahid Hasyim No. 62 Kota Kediri, dan sebagian
1 Observasi selama penelitian di Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyyah
lainnya bertempat di rumah Ibu Matal tepatnya di sebelah utara masjid Tribakti yang juga merupakan rumah kos bapak Halim Musthofa.
Perkembangan asrama putri selesai sekitar tahun 1987 yang terdiri dari lima kamar (sekarang menjadi gedung Ma‟had Ali), dan pada waktu itu juga seluruh yang pada mulanya bertempat di Jl. KH. Wahid Hasyim No. 62 Kota Kediri serta di rumah ibu Matal dipindahkan ke asrama putri tersebut, tepatnya pada bulan september 1987. Awalnya yang diterima hanya mahasiswi saja.
Seiring dengan berjalannya waktu, ada juga siswi tingkat Aliyah dan siswi tingkat Tsanawiyah yang berkeinginan untuk belajar di asrama tersebut, akhirnya siswi Tsanawiyah, Aliyah dan mahasiswi digabung dan bertempat tinggal di asrama tersebut.
Kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan pada waktu itu diantaranya: pengajian kitab Kifayah al- Akhyar ba‟da subuh, pengajian kitab Irsyad al-‘ibad ba‟da ashar, pengajian al-Quran bakda maghrib, dan ba‟da isya‟ diadakan Madrasah Diniyah. Pada waktu itu, sistem pengelompokan kelas yang diterapkan oleh madrasah diniyah hanya menyesuaikan menurut tingkatan formal masing-masing. Jadi, antara anak yang
sudah mampu ataupun yang belum mampu tidak dibedakan. Semua kegiatan sudah tertata dengan rapi.
Pada waktu itupun kepengurusan sudah mulai terbentuk.
Hanya saja belum dikatakan maksimal, karena masih terbilang sedikit santrinya.
Semakin meningkatnya santri putri dan supaya lebih terkontrol, tepatnya pada hari Minggu Tanggal 06 Januari 2002 sebagian santri yang terdiri dari siswi kelas 1 Aliyah dan siswi kelas 1, 2, 3 Tsanawiyah (Sekolah Formal) pindah ke Asrama yang berada di sebelah barat ndalem KH. Imam Yahya Mahrus yang sebelumnya sebagai kantor Pondok Pesantren HM Putra Lirboyo Kediri atau disebut juga dengan gedung al-Fattah.
Sedang untuk siswi kelas 2, 3 Aliyah dan mahasiswi masih berada di lokal yang lama tepatnya sebelah barat kampus IAIT.
Pada tahun 2003 Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyah berhasil menyelesaikan pembangunan satu lokasi Pondok Pesantren yang bertempat dijalan Penanggungan di sebelah kanan jalan diperuntukkan khusus untuk siswi tingkat Madrasah Tsanawiyah (Formal) sehingga seluruh siswi kelas 2, 3 Aliyah dan mahasiswi yang masih berada di asrama sebelah barat
kampus dipindah ke asrama sebelah barat ndalem timur sampai saat ini. Seiring bergantinya tahun tepatnya pada tahun 2012 Pondok Pesantren Putri Lirboyo al- Mahrusiyah Unit Ndalem Barat Pondok resmi menjadi Asrama Putri yang di belakang ndalem barat keluarga besar KH. Imam Yahya Mahrus dan Nyai Hj. Zakiyatul Miskiyah. Waktu kian berganti pada tahun 2015 bangunan selanjutnya adalah Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyah 3 yang bertempat di Desa Ngampel Kediri yang digunakan khusus untuk santri pada tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Waktu terus berganti jam, bahkan detikpun terus melaju mengikuti arah putarannya. Seiring dengan berkembangnya Pondok Pesantren HM Putri al- Mahrusiyah, dari segi nama pun mengalami perkembangan dan pergantian, pada awal berdirinya pada tahun 1987-1996 bernama PP. HM Putri Tribakti Lirboyo Kediri, pada tahun 1996-1997 beralih menjadi PP HM Tribakti Kediri, kemudian pada tahun 1997-2001 bernama PP. Tribakti Kediri, tepatnya pada bulan Januari
2002 hingga saat ini resmi diganti menjadi Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyah.2
Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyah merupakan sebuah lembaga pendidikan yang menampung siswa, Mahasiswa/I yang belajar di bawah naungan Yayasan Pendidikan HM. Al-Mahrusiyah Lirboyo Kota Kediri. Pondok Pesantren HM. Al- Mahrusiyah memiliki beberapa lembaga pendidikan yaitu:
a. Pondok Pesantren Putra/Putri Lirboyo al- Mahrusiyyah.
b. Madrasah Diniyah Putra/Putri al-Mahrusiyah.
c. Institut Agama Islam Tribakti (IAIT).
d. Madrasah Aliyah al-Mahrusiyah.
e. Madrasah Tsanawiyah al-Mahrusiyah.
f. Sekolah Dasar al-Mahrusiyah.
g. Taman kanak-kanak al-Mahrusiyyah.
h. Play Group al-Mahrusiyah.
2 Tim Pembukuan Historiografi, Historiografi al-Mahrusiyah Biografi KH. Imam Yahya Mahrus (Kediri: Al-Mahrusiyah Press, 2015), cet.ke-2, h. 61-64
3. Visi dan Misi Pondok Pesantren Putri Lirboyo al- Mahrusiyyah Kota Kediri.
Visi dari Pondok Pesantren Putri Lirboyo al- Mahrusiyyah Kota Kediri adalah berakhlaqul karimah, disiplin, dan berprestasi. Dan misinya adalah :
a. Mencetak generasi Islam salaf yang intelek, beriman, berakhlaq, dan bertaqwa.
b. Menciptakan produk yang mampu mentransformasikan ilmu dalam berbagai kondisi masyarakat.
c. Menumbuhkan penghayatan dan pengalaman terhadap ajaran.3
Waktu terus berganti, detik pun terus melaju mengikuti arah putarannya. Maka seiring dengan berkembangnya Pondok Pesantren Putri Lirboyo al- Mahrusiyyah beberapa kali telah mengalami pergantian nama, yakni seperti yang berada dalam tabel sebagimana berikut :
3 Brosur Pondok Pesantren al-Mahrusiyah Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur Tahun Ajaran 2015-2016
Pergantian nama Pondok Pesantren Putri Lirboyo al- Mahrusiyyah I Kediri
NO TAHUN NAMA
1. 1987-1996 Pondok Pesantren HM Tribakti Liboyo Kediri
2. 1996-1997 Pondok Pesantren HM Tribakti Kediri
3. 1997-2001 Pondok Pesantren Tribakti Kediri 4. 2002-2012 Pondok Pesantren HM al-
Mahrusiyyah Putri 5. 2012-Sekarang Pondok Pesantren Putri Lirboyo
al-Mahrusiyyah
4. Bagan Struktur Pengurus Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyyah I Kediri.
4
4 Bagan Pengurus Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyyah Periode 2016-2017
B. Deskripsi dan Analisis Data
Setelah peneliti menguraikan tentang sejarah dan komponen yang ada dalam Pondok Pesantren Putri Lirboyo al-Mahrusiyyah I Kediri, maka peneliti akan melanjutkan dengan langkah wawancara, observasi serta dokumentasi.
Dalam langkah ini, peneliti mewawancarai beberapa pihak diantaranya pengurus LBM, ustadzah, dan santri serta narasumber lain yang sebelum pelaksanaan wawancara dimintai kesediaan untuk menjadi narasumber, agar tidak terjadi unsur pemaksaan atau keterpaksaan yang bertujuan untuk memperoleh data yang valid dan sesuai dengan yang diinginkan.
1. Efektifitas LBM Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Santri Pada Mata Pelajaran Fiqh Di Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri.
Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I adalah salah satu pondok yang ada di kawasan Lirboyo Kota Kediri.
Selama observasi, peneliti melihat bagaimana kegiatan yang ada didalam ponpes ini. Ternyata tidak hanya satu saja kegiatan yang ada di ponpes ini, melainkan bebarapa kegiatan dari beberapa lembaga yang ada di ponpes ini. Lembaga Madrasah Diniyah mempunyai kegiatan belajar mengajar dan musyawaroh per-kelas,
dari Lembaga Tadris mempunyai kegiatan belajar mengajar al-Qur‟an,5 dari Lembaga Bahtsul Masail mempunyai beberapa kegiatan antara lain bandongan kitab, takhassus, diskusi fiqhiyyah, muskub (musyawaroh kubro), muspes (musyawaroh spesial), BM Mahrusiyah yakni mengundang pondok lain di sekitar ponpes Lirboyo.
Hal yang disebutkan diatas adalah hasil wawancara peneliti dengan salah satu kepengurusan Lembaga Bahtsul Masail Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, sebagaimana penuturan dibawah ini:
Program kegiatan LBM disini sangat banyak, yakni bandongan kitab dan takhassus dilaksanakan setiap hari jumat pagi untuk seluruh santri Madrasah Diniyah al mahrusiyah. Diskusi fiqhiyyah setiap malam selasa. Muskub (musyawaroh kubro) 1 bulan satu kali. Muspes (musyawaroh spesial) 3 bulan sekali. Peserta ini diambil 2 orang dari kelas diniyah. BM mahrusiyah satu tahun sekali. Peserta diambil 3 orang perwakilan mahrusiyah dan mengundang pondok lain di sekitar ponpes Lirboyo.6
5 Hasil observasi penulis pada tanggal 7 Juni 2016
6 Wawancara dengan Ibu Siti Lu‟luatul Millah, Ketua LBM tahun ajaran 2015-2016, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 9 Juni 2016
Penulis memfokuskan pada Lembaga Bahtsul Masail saja, yang mana akan diteliti secara rinci pada bab IV ini. Selain itu, proses kegiatan LBM di ponpes Mahrusiyah inipun dijelaskan kembali oleh ibu ketua LBM.
Terutama bandongan dan takhassus dilaksanakan setiap jum‟at pagi dari jam 05.15 - 06.15. Sesuai tingkatan kelas. Tingkat PK belajar Takhassus yakni santri masih belajar apa itu nahwu sorof. Kemudian tingkat Tsanawiyah dan Aliyah mengaji bandongan. Tingkat Tsanawiyah kelas sendiri dan Aliyah juga kelas sendiri.
Bandongan itu mengaji kitab yang mana ustadz membacakan, santri yang memaknai kitab.7
Proses kegiatan yang telah dijelaskan oleh ibu Siti Lu‟luatul Millah adalah sebagian dari proses kegiatan LBM. Disini disambungkan lagi bahwasannya kegiatan selain itu yang menyangkut musyawaroh seperti diskusi fiqhiyyah, muskub, muspes, dan BM Mahrusiyah proses kegiatannya yakni ada peserta, notulen, moderator, dan rois. Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan salah satu pengurus LBM di ponpes al-Mahrusiyah berikut ini:
Proses kegiatan BM yakni ada peserta, notulen, moderator dan rois. Peserta adalah santri
7 Wawancara dengan Ibu Siti Lu‟luatul Millah
yang mengikuti BM itu sendiri, notulen adalah pencatat masalah-masalah yang dibahas dalam forum BM, moderator adalah orang yang berbicara didepan menanggapi berbagai pendapat para peserta, dan rois adalah orang yang menengahi permasalahan yang ada, memberikan solusi serta yang membantu memecahkan permasalahan fiqhiyyah secara lugas dan tepat.8 Peneliti dalam hal ini juga menanyakan mengenai respon santri disini dengan adanya kegiatan-kegiatan yang diberikan oleh LBM. Sedikit penuturannya
“alhamdulillah responnya bagus. Sudah mampu membuat santri disini tertarik, termotivasi belajar fiqh dengan adanya kegiatan yang diberikan LBM”.9
Salah satu santri yang saya wawancarai juga menuturkan pendapatnya mengenai kegiatan yang diadakan LBM di ponpes ini. “Ada perkembangan dari tahun ke tahun. Ada program kegiatan bandongan kitab, takhassus, diskusi fiqhiyyah, muskub, muspes, BM
8 Wawancara dengan Ibu Tamara, Ketua LBM tahun ajaran 2016- 2017, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 7 Juni 2016
9 Wawancara dengan IbuTamara
tahunan (pertengahan dan akhir tahun), BM antar pondok, dan fmp3 (forum BM se-Jatim Madura)”.10
Mengenai motivasi yang muncul dari dalam diri santri di ponpes al-Mahrusiyah ini dengan adanya LBM berikut penuturan dari beberapa santri disini. Penuturan dari saudari Putri Listiani siswi Madrasah Diniyah kelas 3 Tsanawiyah A “Sangat termotivasi. Alhamdulillah program-program yang diberikan oleh LBM disini membuat semangat belajar fiqh saya bertambah”.11 Penuturan dari saudari Lailatus Salamah siswi Madrasah Diniyah kelas 3 Tsanawiyah B “Iya alhamdulillah. Salah satu bentuk motivasinya dengan adanya ujian qiroatul kutub yang diadakan oleh LBM”.12Penuturan dari saudari Audina siswi Madrasah Diniyah kelas 2 Tsanawiyah “iya termotivasi sekali. Dari awalnya rasa keingintahuan dan
10 Wawancara dengan Nurul Qomariyah, Siswi kelas 1 Aliyah Madrasah Diniyah, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 8 Juni 2016
11 Wawancara dengan Putri Listiani, Siswi kelas 3 Tsanawiyah A Madrasah Diniyah, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 16 Juni 2016
12 Wawancara dengan Lailatus Salamah, Siswi kelas 3 Tsanawiyah B Madrasah Diniyah, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 8 Juni 2016
lama-lama timbulnya ketertarikan untuk ikut berperan dalam LBM tersebut”.13
Namun ada juga santri di ponpes ini yang belum bisa termotivasi dengan adanya LBM. Berikut penuturannya:
Saya belum termotivasi, karena dalam diri sendiri tidak berkeinginan mengikuti kegiatan- kegiatan yang diberikan LBM. Selain itu juga, karena saya kurang bisa berpendapat, kurang bisa membaca kitab dengan mahir, dan banyaknya kesibukan saya menjabat sebagai salah satu kepengurusan ponpes al-Mahrusiyah ini.14
Dalam Lembaga Bahtsul Masail ini, yang menjadi semangat santri untuk memperdalam pelajaran fiqh adalah kegiatan Bahtsul Masail yang mana kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sangat terkenal di pondok pesantren, tidak hanya di dalam pondok tetapi di luar pondok se-Jawa Madura.
Bahtsul Masail adalah suatu pemecahan masalah dalam problematika fiqh yang dilaksanakan dalam forum tertentu. Dan
13 Wawancara dengan Audina, Siswi kelas 2 Tsanawiyah Madrasah Diniyah, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 7 Juni 2016
14 Wawancara dengan Ita Khusnul Khowatim, Siswi kelas 3 Aliyah Madrasah Diniyah, di Aula Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 10 Juni 2016
pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan dalil yakni kitab-kitab rujukan.
Tujuannya untuk meningkatkan diskusi santri dalam pemecahan masalah-masalah fiqh.15
Salah satu ustadzah/pengajar di ponpes yang sejak tahun 2014 mengajarkan fan fiqh inipun menuturkan kembali tujuan dari BM sendiri “tujuan BM untuk mengupas problematika yang ada yang berkaitan langsung dengan masalah fiqh. Oleh sebab itu pelajaran fiqh disini harus benar-benar dipelajari lebih mendalam”.16
Bahsul Masail pastinya santri harus banyak mendalami pelajaran fiqh, yang dipelajari oleh dirinya sendiri, yang diajarkan ustadz/ustadzah maupun dengan dewan rois BM. Dari beberapa narasumber yang peneliti wawancarai, berikut penuturan salah satu santri:
Pelajaran fiqh itu sangat penting karena fiqh membahas tentang problematika sehari-hari di dalam pondok maupun di luar pondok. Dan hubungan fiqh dengan BM sangat berkesinambungan. Fiqh itu isinya mengenai
15 Wawancara dengan Ibu Tamara, Ketua LBM tahun ajaran 2016-
2017, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 7 Juni 2016
16 Wawancara dengan Ibu Irma Fillayati, Ustadazah Kelas Pemula (PK) Madrasah Diniyah, di Kantor Kepengurusan Ponpes Putri Al- Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 16 Juni 2016
problematika sehari-hari yang dapat dipecahkan permasalahannya dalam forum BM.17
Santri lainnya yang peneliti wawancarai mengenai penting atau tidaknya pelajaran fiqh dan berkaitan atau tidaknya fiqh disini dengan kegiatan Bahsul Masail adalah sebagai berikut. “Penting sekali.
Karena nanti di masyarakat fiqh itu sangat dibutuhkan.
Pasti. Karena memang dalam forum BM itu kebanyakan membahas tentang fiqh”.18 Ditambahkan juga dengan penuturan seorang siswi santri ponpes al-Mahrusiyah
“Pasti. Karena dalam belajar fiqh itu pasti ada kemusykilan. Dan kita harus musyawarohkan bersama dalam forum BM”.19
Pelajaran fiqh begitu pentingnya bagi kehidupan sehari-hari. Santri yang termotivasi belajar karena kgiatan yang diberikan oleh LBM tentunya juga mendapatkan motivasi dari pengajar fiqh di kelas
17 Wawancara dengan Audina, Siswi kelas 2 Tsanawiyah Madrasah
Diniyah, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 7 Juni 2016
18Wawancara dengan Putri Listiani, Siswi kelas 3 Tsanawiyah A Madrasah Diniyah, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 16 Juni 2016
19 Wawancara dengan Lailatus Salamah, Siswi kelas 3 Tsanawiyah
B Madrasah Diniyah, di Ruang Tamu Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 8 Juni 2016
Madrasah Diniyah. Salah satu ustadzah Madrasah Diniyah kelas 2 Aliyah mengemukakan tujuan dari pembelajaran fiqh, dan kiat khusus supaya santri termotivasi belajar.
Supaya bisa mengenal dan faham tentang cabang syariat agama yang lebih baik. Dan pastinya bekal untuk bisa masuk surga. Ada, salah satunya diberikan PR. Tentu ada, walaupun hanya berapa persen saja. Semakin semangat mencari ibarot dalam kitab kuning gundul, musyawaroh serta latihan-latihan lainnya.20
Dan peneliti juga menanyakan pentingnya fiqh untuk dipelajari oleh santri disini. Serta motivasi yang diberikan pengajar seperti apa bentuknya. Berikut penuturannya.
Sangat penting. Karena santri adalah agen of change di masyarakat. Jika santri tidak belajar fiqh, bagaimana nanti santri dapat mengetahui hukum-hukum permasalahan yang ada. Tidak sampai ada kekerasan. Usaha saya selama ini lebih memotivasi mereka dengan menasehati, menyupport kegiatan belajar mereka bahwasannya fiqh itu penting untuk dipelajari.
20 Wawancara dengan Ibu Nur Wahidah, Ustadzah Kelas 2 Aliyah
Madrasah Diniyah juga sebagai Kepala Madrasah Diniyah, di Kantor Kepengurusan Ponpes Putri Al-Mahrusiyah I Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 9 Juni 2016