• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skor Hasil Belajar Pada Siklus II

Dalam dokumen meningkatkan minat belajar ilmu pengetahuan (Halaman 55-66)

Tabel 4.5 Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Murid Kelas V SD Negeri Ballewe Kabupaten Barru Pada Siklus II

Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 – 34 Sangat rendah 0 0

35 – 54 Rendah 0 0

55 – 64 Sedang 3 16,67

65 – 84 Tinggi 7 38,89

85 – 100 Sangat tinggi 8 44,44

Jumlah 18 100,00

Dari tabel 7 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar murid Kelas V SD Negeri Ballewe Kabupaten Barru setelah diberi tindakan pada siklus II berada pada kategori tinggi.Hal ini dapat di lihat pada diagram batang berikut ini:

0 10 20 30 40 50

0 - 34 35 - 54 55 - 64 65 - 84 85 - 100

Selanjutnya jika nilai hasil belajar murid pada siklus II dikelompokkan berdasarkan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65 untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial maka diperoleh distribusi nilai hasil belajar murid sebagai berikut:

Tabel 4.6 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Murid Kelas V SD Negeri Ballewe Kabupaten Barru Pada Siklus II

Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)

0-64 65-100

Tidak tuntas Tuntas

3 15

16,67 83,33

Jumlah 18 100,00

Berdasarkan tabel 8 di atas, di peroleh informasi bahwa 83,33%

murid yang termasuk dalam kategori tuntas dalam pembelajaran Ilmu

Tidak Tuntas

Tuntas 16,67%

83,33%

Pengetahuan Sosial pada siklus II. Hal ini dapat memberikan gambaran bahwa pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus II mencapai ketuntasan klasikal minimal yaitu 80% murid mencapai atau lebih dari nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Informasi lain yang ditemukan yaitu masih ada 3 orang murid yang memerlukan perhatian serta perbaikan secara individual pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berikutnya.

Selanjutnya tabel 9 akan memperlihatkan peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial murid Kelas V SD Negeri Ballewe Kabupaten Barru setelah diajarkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I dan siklus II.

Tabel 4..7 Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Murid Kelas V SD Negeri Ballewe Kabupaten Barru Pada Tes Akhir Siklus I Dan Siklus II

NILAI KATEGORISAS I

FREKUENSI PERSENTASE (%) SIKLUS

I

SIKLUS II

SIKLUS I

SIKLUS II

0 – 34 Sangat Rendah 0 0 0 0

35 – 54 Rendah 3 0 16,67 0

55 – 64 Sedang 5 3 27,28 16,67

65 – 84 Tinggi 9 7 50,00 38,89

85 – 100 Sangat Tinggi 1 8 5,55 44,44

Jumlah 18 18 100 100

Dari hasil analisis deskriptif di atas menunjukkan bahwa nilai rata- rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial murid pada siklus I sebesar 55,00 dan pada siklus II terlihat bahwa nilai rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial murid sebesar 78,89 Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw maka dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada murid Kelas V SD Negeri Ballewe Kabupaten Barru. Hal ini dapat dilihat pada diagram batang berikut ini:

b. Hasil Analisis Kualitatif

Selama penelitian, selain terjadi peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siklus I dan siklus II tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada setiap murid terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Perubahan tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut untuk mengetahui perubahan sikap murid selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.

Adapun perubahan sikap murid pada siklus II adalah sebagai berikut:

1. Pada siklus II tampak perubahan dengan ketidakhadiran murid hampir tidak ada dibandingkan dengan siklus I.

2. Perhatian murid pada siklus II tampak terjadi peningkatan pada saat proses belajar mengajar.

0 10 20 30 40 50 60

0 - 34 35 - 54 55 - 64 65 - 84 85 - 100

HASIL BELAJAR PADA SIKLUS I HASIL BELAJAR PADA SIKLUS II PERBANDINGAN FREKUENSI DAN SKOR HASIL

BELAJAR PADA SIKLUS I DAN II

PERSENTASE

SKOR HASIL BELAJAR PADA SIKLUS I DAN SIKLUS II

3. Pada siklus II keaktifan murid sudah meningkat dalam proses belajar mengajar seperti menjawab pertanyaan, sudah berani bertanya dan berebutan menaikkan tangan untuk menjawab pertanyaan dari guru.

4. Pada siklus II kepasifan murid dalam proses belajar mengajar sudah rendah, dalam hal ini murid sudah berani menjawab pertanyaan serta mengerjakan soal dipapan tulis tanpa ditunjuk.

5. Selama siklus II berlangsung, perhatian murid sudah meningkat dengan ditandai banyaknya murid yang menyetor pekerjaan rumah.

c. Hasil Analisis Refleksi

Begitu pula Siklus II juga dilaksanakan dengan menerapkan pembelajaran yang sama dengan berbagai macam metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Lain halnya pada siklus II kehadiran murid hampir tidak ada yang tidak hadir mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan karena rasa ingin tahu murid terhadap Ilmu Pengetahuan Sosial yang sebelumnya dianggap sulit itu ternyata mudah. Sehingga timbul semangat untuk mengikuti pelajaran.

Begitu pula perhatian murid semakin antusias saja dalam menerima materi pelajaran. Sama halnya pada pemberian PR hampir semua murid mengerjakan dan mengumpulnya meskipun itu dikerja di sekolah.

Pada siklus II ini semangat dan minat murid semakin meningkat dengan adanya penghargaan yang diberikan sehingga dapat memotivasi murid dalam proses belajar mengajar.

B. Analisis Refleksi Murid

Dari hasil analisis terhadap refleksi dan tanggapan murid dapat disimpulkan ke dalam kategori sebagai berikut:

1. Pendapat murid tentang pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Sebagian murid berpendapat bahwa pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan pelajaran yang kadang-kadang mudah dimengerti juga kadang-kadang sulit dipahami tidak hanya cukup dengan mendengarkan cerita guru dan menghafalkannya, akan tetapi harus lebih banyak terlibat dalam berbagai macam kegiatan baik berpikir maupun motorik. Oleh karena itu diperlukan keseriusan, konsentrasi dan disiplin yang tinggi.

Adapula yang berpendapat bahwa kesenangan terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial relatif artinya pada saat materi pelajaran yang diajarkan mudah mereka senang belajar. Tetapi jika materi yang diajarkan sulit maka mereka kurang senang menerima materi pelajaran. Selain itu dalam mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial diperlukan banyak keterampilan membaca dan memahami dalam menyelesaikan soal-soal, agar dapat meningkatkan daya nalar. Sehingga dengan mudah mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial

2. Bagaimana tanggapan murid tentang model pembelajaran Jigsaw ? Murid merasa senang dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Karena model pembelajaran ini dapat melatih murid mengembangkan sendiri ide-ide serta dapat memudahkan murid memahami materi yang dipelajarinya.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Dari analisis kualitatif dan kuantitatif dapat dikatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberikan suatu perubahan yang mendasar pada sikap dan motivasi belajar murid. Perbandingan hasil belajar yang menunjukkan bahwa setelah dilaksanakan dua kali tes, peningkatan kualitas proses belajar murid pada hasil observasi menunjukkan pada siklus I rendah, hal ini disebabkan murid belum terbiasa dengan strategi pembelajaran yang diterapkan, akibatnya hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial juga rendah.

Pada siklus II terjadi peningkatan kualitas proses belajar mengajar yang diikuti dengan peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Hal ini disebabkan murid mulai beradaptasi dengan strategi pembelajaran yang diterapkan, selain itu murid lebih termotivasi dengan penghargaan dalam bentuk materi. Peningkatan hasil belajar ini tidak terlepas dari meningkatnya keaktifan murid untuk belajar karena pada setiap pertemuan akan diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan tanggapan sehingga murid mudah memahami pelajaran yang diberikan dan cara belajar murid lebih teratur. Adapun hasil pengamatan menunjukkan bahwa keterampilan sosial dalam belajar kelompok secara kooperatif masih perlu ditingkatkan terutama menjalin kerjasama yang baik.

Jadi, peneliti merangsang motivasi murid dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw di setiap pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat bahwa motivasi dan keaktifan murid untuk mengikuti pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial meningkat. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Eliot Aronson (dalam Jasruddin, 2008:71) bahwa

“pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw (tim ahli) akan meningkatkan kebermaknaan dan kreativitas murid dalam belajar.”

Berdasarkan data kuantitatif yang diperoleh dari lembar hasil penelitian yang merupakan hasil tes disetiap siklus tergambar bahwa Nilai rata – rata yang diperoleh murid setelah mengadakan tes dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan yaitu dari 64,44 meningkat menjadi 78,89 ini akibat dari perubahan tindakan yang dilakukan pada siklus II setelah mengadakan refleksi pada siklus I. Pada tingkat ketuntasan hasil belajar dari siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan, ini dapat terlihat bahwa pada silus I murid yang tuntas hanya 10 murid dari 18 murid dengan persentase 55,46 % sedangkang pada siklus II meningkat menjadi 15 murid yang tuntas dari 18 murid dengan persentase 83,33 %. Eliot Aronson dkk (dalam Jasruddin) mengemukakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw (tim ahli) akan meningkatkan kebermaknaan dan kreativitas murid dalam belajar

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw telah memberikan kesempatan kepada murid untuk meningkatkan nilai kereatifitasnya dan kemampuan untuk menguasai materi, secara bergiliran melalui pembelajaran bersiklus sehingga dapat meningkat tingkat aktivitas murid secara signifikan dari 55,50 % pada siklus pertama menjadi meningkat menjadi 83,33 % pada siklus kedua atau terjadi peningkatan besar. Peningkatan aktivitas murid diiringi dengan peningkatan hasil belajar murid yang sangat menonjol yang ditandai dengan meningkatnya rata – rata hasil belajar 64,44 pada siklus pertama menjadi 78,89 pada siklus II atau peningkatan sekitar.

Pembelajaran IPS dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberikan perubahan sikap pada diri murid ke arah yang lebih baik. Hal ini di lihat dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, mulai dari kehadiran murid, sikap murid dalam pembelajaran, keaktifan murid dalam pembelajaran, motivasi belajar murid, serta pandangan murid tentang IPS.

Pembelajaran IPS dengan model jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas V SD Negeri Ballewe Kabupaten Barru.

46

B. Saran

Hasil penelitian mengarahkan adanya peningkatan hasil belajar IPS dan terjadinya perubahan sikap positif murid maka diajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Pembelajaran IPS perlu mendapat apresiasi dengan model kooperatif tipe Jigsaw, karena dengan penggunaan model tersebut ternyata telah menggerakkan aktivitas murid yang menonjol yang diiringi dengan peningkatan hasil belajar murid yang memadai.

2. Penanaman konsep perlu mendapat pengujian dengan pembelajaran kooperatif tipe yang lain agar diperoleh perbandingan mana yang lebih baik.

3. Penelitian ini hendaknya dapat dilanjutkan oleh peneliti lain yang berminat pada subyek serta obyek penelitian yang berbeda dengan memperhatikan kekurangan – kekurangan yang ada pada penelitian ini.

Dalam dokumen meningkatkan minat belajar ilmu pengetahuan (Halaman 55-66)

Dokumen terkait