• Tidak ada hasil yang ditemukan

Spektrum FTIR Pada PAMAM G4 Terkonjugasi PEG

Dalam dokumen laporan - SIMAKIP (Halaman 31-35)

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Spektrum FTIR Pada PAMAM G4 Terkonjugasi PEG

Berdasarkan spektrum FTIR MPEG yang didapatkan terlihat terdapat gugus hidroksi (-OH) yang menjadi gugus terminal dengan terdapatnya peak pada bilangan gelombang 2881,2 cm-1, peak tersebut dapat terlihat pada panjang gelombang 3300-2500 cm-1. Kemudian karena MPEG memiliki banyak ikatan hidrokarbon maka terlihat banyak peak yang mengindikasikan banyaknya ikatan hidrokarbon pada bilangan gelombang 1340,0 cm-1, 1101,4 cm-1 dan 946,7 cm-1, peak tersebut menunjukkan adanya kombinasi antara ikatan hidrokarbon yang kuat dan renggang pada bilangan gelombang 1300-1420 cm-1, ikatan hidrokarbon yang kuat pada bilangan gelombang 1275-1000 cm-1 dan ikatan hidrokarbon yang lemah pada bilangan gelombang 850-950 cm-1. Selain itu terdapat pula ikatan antara atom karbon dan oksigen (C-O) yang menjadi inti gugus PEG yang dapat terlihat pada peak yang terdapat pada bilangan gelombang 1278,5 cm-1, peak tersebut dapat terlihat pada panjang gelombang 1300-1100 cm-1 (Stuart, 2004).

Berdasarkan spektrum FTIR PAMAM G4 yang didapatkan terlihat terdapat ikatan nitrogen dan hidrogen (N-H) yang kuat terbukti dengan adanya peak lancip yang terdapat pada bilangan gelombang 1021,3 cm-1, peak tersebut dapat terlihat dalam jarak bilangan gelombang 1220-1020 cm-1. Kemudian pada bilangan gelombang 1114,5 cm-1 terdapat peak kecil yang menandakan adanya ikatan antara atom karbon dan hidrogen (C-H), peak tersebut dapat terlihat dalam jarak bilangan gelombang 1275-1000 cm-1. Pada bilangan gelombang 1448,1 cm-1 dan 1420,1 cm-

1 terdapat pula peak yang menandakan adanya ikatan yang lemah antara nitrogen dan hidrogen (N-H), peak tersebut dapat terlihat dalam bilangan gelombang 1400- 1500 cm-1. Lalu dalam spektrum juga terlihat adanya ikatan amina primer (-NH2) yang menjadi gugus terluar PAMAM G4 dengan terdapatnya peak pada bilangan gelombang 1649,3 cm-1, peak tersebut dapat terlihat pada bilangan gelombang 1650-1620 cm-1. Selain itu ikatan karbon dan nitrogen (C-N) dapat juga terlihat dengan adanya peak pada bilangan gelombang 1559,9 cm-1, peak tersebut dapat terlihat dalam jarak bilangan gelombang 1560-1530 cm-1. Pada PAMAM G4 yang didominasi oleh gugus hidrokarbon dan gugus amina, hal tersebut dapat terlihat

30

dengan adanya peak pada bilangan gelombang 3304,3 cm-1 untuk amina serta 2942,7 cm-1 dan 2830,9 cm-1 untuk hidrokarbon yang berbentuk asimetrik dan simetrik (Stuart, 2004).

Berdasarkan spektrum FTIR PAMAM G4 terkonjugasi PEG yang didapatkan hanya terlihat 3 peak, hal tersebut membuktikan bahwa gugus bagian dalam PAMAM G4 lebih sulit untuk terbaca dengan adanya PEG yang mengkonjugasi gugus terluar PAMAM G4 dan membuat bagian dalam dendrimer menjadi lebih terlindungi dari pengaruh lingkungan luar dendrimer. Pada gambar spektrum FTIR PAMAM G4 terkonjugasi PEG terdapat peak pada bilangan gelombang 3268,9 cm-1, peak tersebut membuktikan bahwa telah terbentuk ikatan amida sekunder (-NH) yang membuktikan bahwa proses konjugasi antara PAMAM G4 dengan MPEG telah berhasil dan peak tersebut dapat terlihat pada jarak bilangan gelombang 3300-3250 cm-1. Kemudian pada bilangan gelombang 1638,2 cm-1 juga menunjukkan adanya peak yang mengindikasikan adanya ikatan amida primer (- NH2), peak tersebut menunjukkan bahwa tidak semua gugus terluar PAMAM G4 berkonjugasi dengan MPEG dan hal tersebut memang diinginkan karena jika seluruh gugus terluar PAMAM G4 terkonjugasi dengan MPEG maka kurkumin akan sulit untuk terenkapsulasi kedalam PAMAM G4, peak tersebut dapat terlihat pada bilangan gelombang 1650-1629 cm-1. Lalu terdapat pula peak kecil yang terlihat pada bilangan gelombang 1013,8 cm-1 yang menandakan bahwa terdapat gugus hidrokarbon yang berasal dari PAMAM G4 dan MPEG, peak tersebut dapat terlihat pada bilangan gelombang 1275-1000 cm-1 (Stuart, 2004).

31

Gambar 11. Spektrum FTIR MPEG, PAMAM G4 dan PAMAM G4 Terkonjugasi PEG

Berdasarkan spektrum FTIR kurkumin yang didapatkan terlihat terdapat gugus hidrokarbon (C-H) aromatik dengan adanya peak pada bilangan gelombang 3017,3 cm-1, hal tersebut membuktikan bahwa kurkumin memang memiliki senyawa aromatik berupa cincin benzena pada strukturnya, peak gugus hidrokarbon (C-H) tersebut dapat terlihat pada bilangan gelombang 3100-3000 cm-1. Kemudian pada spektrum juga terlihat adanya substitusi gugus alkena aromatik yang spesifik dapat terlihat dalam benzena yang terdapat dalam kurkumin dengan adanya peak pada bilangan gelombang 1908,4 cm-1, peak tersebut dapat terlihat pada bilangan gelombang 2000-1700 cm-1. Lalu dapat dilihat pula terdapat gugus alkena alifatik yang terdapat pada kurkumin dengan adanya peak pada bilangan gelombang 1600,9cm-1dan 1507,7 cm-1, peak tersebut dapat terlihat pada bilangan gelombang 1600-1430 cm-1. Pada spektrum juga terlihat adanya gugus hidroksi (-OH) yang berikatan dengan benzena, hal tersebut terlihat dengan adanya peak pada bilangan gelombang 3513,0 cm-1, peak yang menandakan adanya senyawa fenol tersebut dapat terlihat pada bilangan gelombang 3550-3500 cm-1. Hal lain yang penting untuk dapat diidentifikasi dalam senyawa kurkumin adalah dengan adanya gugus eter (C-O-C) pada spektrum, gugus tersebut terlihat dengan adanya peak pada bilangan gelombang 1114,5 cm-1 (Stuart, 2004).

Berdasarkan spektrum FTIR PAMAM G4 terkonjugasi PEG yang mengenkapsulasi kurkumin dapat terlihat adanya gugus amida sekunder yang

32

menjadi ciri khas PAMAM G4 yang terkonjugasi PEG dengan adanya peak pada bilangan gelombang 3069,5 cm-1, peak amida sekunder itu dapat terlihat pada jarak bilangan gelombang 3100-3060 cm-1, hanya saja peak yang muncul tersebut lebih menunjukkan bahwa ikatan amida tersebut lemah. Selain itu juga terdapat gugus hidroksi (-OH) dengan adanya peak pada bilangan gelombang 3237,2 cm-1, peak gugus hidroksi dapat diamati pada bilangan gelombang 3237,2 cm-1. Lalu pada bilangan gelombang 2883,1 cm-1 terdapat peak yang cukup signifikan, hal tersebut menandakan adanya gugus hidrokarbon alifatik yang ditunjukkan dari adanya PEG yang berbentuk alifatik memanjang pada bagian terluar dari PAMAM G4, gugus tersebut dapat diamati dengan adanya peak pada bilangan gelombang 3000-2800 cm-1. Kemudian pada spektrum juga dapat terlihat adanya ikatan yang membentuk alkena (C=C) karena adanya kurkumin yang telah terjerap dalam PAMAM G4 terkonjugasi PEG, ikatan tersebut dapat terlihat pada peak dengan adanya peak pada bilangan gelombang 2883,1 cm-1, peak yang menunjukkan adanya ikatan alkena dapat terlihat pada jarak bilangan gelombang 2260-2100 cm-1. Pada spektrum dapat pula diketahui adanya gugus alifatik keton yang menjadi bagian dari PAMAM G4 dan kurkumin dengan adanya peak pada bilangan gelombang 1750,0 cm-1, peak tersebut dapat terlihat dalam jarak bilangan gelombang 1720-1680 cm-1. Hal lain yang dapat diketahui dari hasil spektrum adalah dengan adanya gugus alifatik keton dengan adanya peak pada bilangan gelombang 2853, peak yang menunjukkan adanya gugus alifatik keton dapat diamati pada jarak bilangan gelombang 1300- 1100 cm-1. Berdasarkan hasil spektrum FTIR yang didapatkan dapat diketahui bahwa dalam spektrum tersebut terdapat senyawa kurkumin, PEG dan PAMAM G4 yang bercampur menjadi 1, sehingga dapat diketahui pula bahwa PAMAM G4 terkonjugasi PEG dan mengenkapsulasi kurkumin (Stuart, 2004).

33

Gambar 12. Spektrum FTIR Kurkumin dan PAMAM G4 Terkonjugasi PEG yang Mengenkapsulasi Kurkumin

Dalam dokumen laporan - SIMAKIP (Halaman 31-35)

Dokumen terkait