• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Tes Formatif

3.2 Spesifikasi

6. Optimasi tersedianya perleng kapan.

Dapat terlihat dengan jelas bahwa ada rentangan optimum yaitu usaha pemeliharaan itu dapat ditentukan secara ekonomis. Sebaliknya, ongkos pemeliharaan meningkat sedemikian rupa sehingga tak seorangpun dapat mengatasinya

Gambar 3.6: Ongkos Pemeliharaan yang Tak Menentu (Sumber Peni Hadayani : 2008)

Spesifikasi 35

Gambar 3.7: Bandingkan Sebelum Membeli (Sumber Peni Hadayani : 2008)

2. komponen pasif, seperti resistor tetap dan variabel, kapasitor tetap dan variabel, induktor;

3. komponen aktif, seperti dioda, transistor, thyristor, FETdan IC.

Perancang harus mempergunakan spesifikasi untuk memilih komponen yang paling cocok. Untuk aplikasi tertentu spesifikasi komponen bergantung pula pada:

1. Harga disesuaikan produk.

2. Ketersediaan suku cadang.

3. Standarisasi dalam organisasi.

Terlepas dari masalah harga, kita harus memperhatikan semua aspek yang berikut ini:

1. Dimensi fisik : yaitu panjang, diameter, bentuk kawat penyambung dan bentuknya sendiri.

2. Rentangan resistansi : nilai maksimum dan minimumnya.

3. Toleransi seleksi : nilai seleksi maksimum dan minimum dari resistor.

4. Rating daya : daya maksimum dalam watt yang dapat didisipasikan biasanya dinyatakan pada temporatur 70 C (komersial), 125 (militer).

5. Koefisien temperatur : perubahan resistansi menurut temperatur di- nyatakan dalam bagian -bagian per sejuta (ppm) per C. Oleh kare- na”koefisien” menunjukan bahwa terjadi fungsi linier, maka istilah ka- rakteristik sekarang lebih disukai.

6. Koefisien tegangan : perubahan resistansi menurut tegangan yang ter- pasang dinyatakan dalam ppm per volt.

7. Tegangan kerja maksimum : tegangan maksimum yang dapat dipa- sangkan pada ujung-ujung resistor.

8. Tegangan breakdown : tegangan maksimum yang dapat dipasang di- antara badan resistor dan menyentuh konduktor luar, yaitu tegangan breakdown dari pelapis yang mengisolasi resistor itu.

9. Resistansi penyekat (insulation resistance): resistansi dari pelapis yang mengisolasi. 10 Stabilitas umur pembebanan : perubahan resistansi setelah waktu operasi yang disebutkan, dengan beban penuh pada 70 C. Waktu operasi biasanya diambil 1000 jam.

10. Shelf stability : perubahan resistansi selama disimpan biasanya dinya- takan untuk 1 tahun.

11. Range temperatur kerja : nilai-nilai ini minimum dan maksimum yang diizinkan untuk temperatur ambient.

12. Temperatur permukaan maksimum : nilai temperatur maksimum dan minimum yang diizinkan untuk badan resistor, kadang-kadang disebut

”HOT SPOT TEMPERATURE”.

13. Noise : noise (desah) kelistrikan vang disebabkan oleh tegangan yang terpasang yang menekan resistor dinyatakan v/y

14. Klasifikasi kelembaban : perubahan resistansi dalam mengikuti suatu temperatur standar yang tinggi dan test siklus waktu kelembaban.

Perubahan itu harus berada dalam limit tertentu.

15. Efek penyolderan : perubahan resistansi yang diakibatkan oleh test penyolderan standar. Setelah melihat berbagai parameter yang harus diperhatikan, maka sangatlah berguna untuk membandingknn berba- gai tipe resistor yang secara fisik kira-kira ukurannya sama. Angka- angka yang diberikan disitu adalah contoh-contoh dalam kebanyakan hal, terlepas dari beberapa nilai maksimum.

3.2.1 Spesifikasi Perlengkapan

Format standard dari spesifikasi suatu perlengkapan elektronika adalah :

Spesifikasi 37 1. Diskripsi dan nomor tipe Sebuah catatan singkat yang menyatakan dengan jelas apa yang harus dikerjakan oleh instrumen itu dan maksud aplikasinya.

2. Data kelistrikan

(a) Karakteristik prinsip, misalnya Output,taraf tegangan, Frekuensi, Impedansi, Rentangan, Akurasi, Distorsi,Karakteristik tempera- tur.

(b) Kebutuhan daya Sumber tegangan: 120 V atau 240 volt ac, fasa tunggal, frekuensi 50 Hz sampai 60 Hz dengan daya 250 Watt.

3. Data lingkungan Rentangan temperatur kerja, Kelembaban, Klasifi- kasi, Test getaran, Angka untuk MTBF.

4. Data mekanik Dimensi, Bobot.

Beberapa perlengkapan elektro nika yang dipakai secara umum dapat dikla- sifikasikan sbb (lihat gambar di bawah ini):

1. Instrumen ukur elektronika 2. Instrumen pembangkit sinyal 3. Sumber-sumber daya

4. Perlengkapan komunikasi 5. Instrumen pengolah data 6. Elektronika konsumen 7. Sistem kontrol

Gambar 3.8: Contoh Alat Ukur (Sumber Peni Hadayani : 2008)

Gambar 3.9: Contoh Sumber Dayar (Sumber Peni Hadayani : 2008)

Gambar 3.12: Contoh Elektonik Konsumen (Sumber Peni Hadayani : 2008)

Gambar 3.13: Contoh Sistem Kontrol (Sumber Peni Hadayani : 2008)

Spesifikasi 39

Gambar 3.10: Contoh Alat Komunikasi (Sumber Peni Hadayani : 2008)

Gambar 3.11: Contoh Pengolah Data (Sumber Peni Hadayani : 2008) 3.2.2 Spesifikasi Tes

Dalam sebuah industri elektronika tentunya tak luput dari pengetesan peralatan yang diproduksi, dan ini dilakukan oleh ahli tes pada bagian per- baikan. Untuk itu tentunya diperlukan sebuah informasi cara pengetesan suatu peralatan dengan menggunakan spesifikasi tes.

Definisi Spesifikasi Tes:s adalah informasi yang diperlukan oleh bagian test, perbaikan, atau ahli-ahli instalasi agar mereka dapat mencek apakah instrumen atau sistem memenuhi standar penampilan yang dipersyaratkan.

Spesifikasi test tentunya merupakan dokumen yang perlu pemahaman, ini mencakup semua aspek dari karakteristik instrumen, hal-hal yang harus di- cek, disetel, diukur, dan direkam (dicatat). Lembaran standar untuk menu- liskan spesifikasi tes yang logis tentang test dan penyetelan sebagai berikut

:

1. Judul, nomor tipe instrumen, nomor seri, spesifikasi, tanggal pengelu- aran

2. Daftar perlengkapan test yang diperlukan untuk melaksanakan test 3. Pemeriksaan kesinambungan, isolasi, dan resistansi (dengan daya di-

padamkan)

4. Penyetelan taraf sinyal dan tegangan, pengukuran, dan pencatatan pencatatan mengenai masing-masing perakitan sub. Beberapa dari test-test ini mungkin dapat dilakukan sebelum test akhir (catu daya hidup)

5. Test penampilan sistem dan instrumen

6. Burnin test (kadang-kadang disebut SOAL TEST)

Untuk menjamin agar unit produksi memenuhi semua aspek penam- pilan produksi yang telah disetujui,merupakan tugas para ahli test itu. Un- tuk itu diperlukan suatu ketrampilan dalam pengukuran dan mencari gang- guan dengan cepat. Bila beberapa bagian dari instrumen yang tidak bekerja sesuai dengan spesifikasi, maka ahli test itu harus menemukan sebab dari kesalahan secepat mungkin dan kemudian menyerahkan instrumen itu, atau bagian rakitan itu kepada bagian produksi untuk diperbaiki. Disamping pengukuran dan mencari gangguan, ahli itu harus mencatat data yang di- perlukan dengan teliti dari instrumen yang ditest. Yang penting lagi seorang ahli tes harus menjaga keselamatan kerja, menjaga instrumen-instrumen tes dan mempunyai catatan-catatan.

3.2.3 Kalibrasi Peralatan

Kebijakan pemeliharaan tipe tertentu suatu sistem dapat mencakup pro- gram detail tentang kalibrasi ulang dan langkah-langkah pencegahan lain- nya. Yang dimaksud kalibrasi ulang adalah menseting kembali peralatan yang sudah dipakai selama periode atau waktu tertentu dengan cara mem- bandingkan peralatan yang sama dan masih standar, sehingga alat tersebut dapat berjalan normal kembali. Kalibrasi ulang merupakan jenis pemeli- haraan untuk mempertahankan keandalan kerja peralatan sesuai kelasnya.

Hal ini dilakukan karena adanya penyimpangan dari batas toleransi spesi- fikasi peralatan tersebut. Kalibrasi sangat penting dilakukan untuk instru- men ukur, misalnya osiloskop, digital multmeter, alat- alat ukur elektronik

Keandalan dan Kegagalan 41 lainnya. Karena adanya penyimpangan spesifikasi bisa mengakibatkan pe- nyimpangan saat pengukuran, serta bila dibiarkan akan membuat alat ukur tersebut rusak. Untuk kalibrasi ulang biasanya tidak ada komponen yang diganti dan dilakukan dalam interval waktu yang tertentu (maksimum 1 tahun sekali) pada setiap peralatan (terutama peralatan ukur).