• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Bertahan Hidup

2.2 Definisi Konseptual

2.2.1 Strategi Bertahan Hidup

Strategi bertahan hidup menjadi sebagai sebuah pemahaman bagaimana rumah tangga mengelola dan memanfaatkan aset sumber daya dan modal yang dimiliki melalui kegiatan tertentu yang dipilih. Secara umum strategi bertahan hidup dapat diartikan sebagai rencana tindakan yang dilakukan manusia baik secara sadar maupun tidak sadar, secara eksplisit maupun implisit dalam merespon berbagai kondisi internal atau eksternal. Marzali dalam bukunya menjelaskan bahwa secara luas strategi bertahan hidup adalah merupakan perilaku manusia dalam mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki dalam menghadapi masalah-masalah sebagai pilihan-pilihan tindakan yang tepat guna sesuai dengan lingkungan sosial ekonomi, kultural, dan ekologis di tempat dimana mereka hidup (Marzali, 2003, p. 26). Suharto menjelaskan bahwa strategi bertahan hidup sebagai kemampuan seseorang dalam menerapkan seperangkat cara untuk mengatasi berbagai permasalahan yang melingkupi kehidupannya, strategi penanganan masalah ini pada dasarnya merupakan kemampuan segenap anggota keluarga dalam mengelola aset yang dimilikinya (Suharto, 2009, p. 29).

21

Menurut Snel dan Staring (dalam Setia, 2005:6) menyatakan strategi bertahan hidup sebagai rangkaian tindakan yang dipilih secara standar oleh individu dan rumah tangga yang miskin secara sosial ekonomi. Melalui strategi ini seseorang bisa berusaha untuk menambah penghasilan lewat pemanfaatan sumber-sumber lain ataupun mengurangi pengeluaran lewat pemanfaatan sumber- sumber lain ataupun mengurangi pengeluaran lewat pengurangan kuantitas dan kualitas barang atau jasa. Cara-cara individu maupun kelompok dalam menyusun strategi dipengaruhi oleh posisi individu atau kelompok tersebut didalam struktur masyarakat, sistem kepercayaan dan jaringan sosial yang dipilih, termasuk keahlian dalam mobilitas sumber daya yang ada, kepemilikan aset, status gender, tingkat keterampilan, jenis pekerjaan, dan motivasi pribadi. Terlihat jelas bahwa jaringan sosial dan kemampuan memobilitas sumber daya yang ada termasuk didalamnya mendapatkan kepercayaan dari orang lain membantu individu dalam menyusun strategi bertahan hidup.

Menurut Aimie Sulaiman strategi bertahan (survival strategy) bisa diartikan sebagai cara yang digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempertahankan eksistensi kediriannya yang bernilai atau dianggap bernilai, baik yang bersifat material maupun non material. Dalam perspektif sosiologi, strategi bertahan lazimnya menjadi sebuah pilihan ditengah gerusan ancaman-ancaman yang setiap waktu dapat merusak nilai-nilai yang menjadi kearifan sebuah komunitas atau kelompok tertentu(Sulaiman, 2014, p. 2).

Menurut Soeharto strategi bertahan hidup dalam mengatasi goncangan dan tekanan ekonomi dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Strategi bertahan

22

hidup dapat digolongkan menjadi 3 kategori yaitu strategi aktif, startegi pasif, dan startegi jaringan (Suharto, Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia, 2009, p. 31).

1. Strategi Aktif : merupakan strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara memanfaatkan segala potensi yang dimiliki yaitu dengan melakukan pekerjaan sampingan. Strategi aktif ini strategi yang dilakukan keluarga miskin dengan cara mengoptimalkan segala potensi keluarga(Suharto, 2009, p. 31). Salah satu strategi yang digunakan oleh rumah tangga untuk mengatasi kesulitan ekonomi adalah dengan mendorong para istri untuk ikut mencari nafkah. Bagi masyarakat yang tergolong miskin mencari nafkah bukan hanya menjadi tanggung jawab suami semata tetapi menajdi tanggung jawab semua anggota keluarga sehingga pada keluarga yang tergolong miskin isteri juga ikut bekerja demi membantu menambah penghasilan dan mencukupi kebutuhan keluarganya.

2. Startegi pasif : merupakan strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara meminimalisir pengeluaran keluarga. Strategi pasif ini menjadi strategi bertahan hidup dengan cara mengurangi pengeluaran keluarga, misalnya biaya untuk sandang, pangan, dan papan(Suharto, Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia, 2009, p. 31). Strategi pasif adalah strategi dimana individu berusaha meminimalisir pengeluaran uang, startegi ini merupakan salah satu cara masyarakat miskin untuk bertahan hidup (Kusnadi, 2000, p. 8). Dalam hal ini tentu masyarakat harus membiasakan diri dengan pola hidup hemat agar kebutuhan tetap dapat

23

tercukupi dan sesuai dengan penghasilan yang didapat. dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi pasif merupakan startegi bertahan hidup yang dilakukan dengan upaya selektif dan tidak boros dalam mengatur pengeluaran keluarga.

3. Strategi jaringan : merupakan strategi yang dilakukan dengan cara memanfaatkan jaringan sosial. Strategi jaringan disini dijelaskan bahwa strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara menjalin relasi, baik formal maupun dengan lingkungan sosialnya dan lingkungan kelembagaan seperti meminjam uang ke tetangga, rentenir, bank, atau toko (Suharto, 2009, p. 31). Secara umum budaya meminjam atau berhutang merupakan hal yang wajar bagi masyarakat desa karena budaya gotong royong dan kekeluargaan yang masih sangat kental dan menganut sistem solidaritas mekanik.

Menurut Kusnadi strategi jaringan terjadi akibat adanya interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat, jaringan sosial dapat membantu keluarga miskin ketika membutuhkan uang secara mendesak (Kusnadi, 2000, p. 146). Modal sosial berfungsi sebagai jaring pengaman sosial bagi keluarga miskin. Bantuan dalam skala keluarga besar, komunitas, atau dalam relasi pertemanan telah banyak menyelamatkan keluarga miskin. Sehingga dari uraian tersebut ditarik kesimpulan bahwa apa yang dimaksud dengan strategi jaringan adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara meminta bantuan kepada kerabat, tetangga dan relasi lainnya baik secara formal maupun informal ketika dalam kesulitan seperti meminjam uang ketika ada keperluan lain yang dirasa mendadak dan mendesak.

24

Dengan adanya konsep tersebut maka peneliti akan mudah untuk menganalisis cara bertahan buruh pengrajin patung batu yang ada di Desa Watesumpak, mereka yang saat ini sedang berada dikondisi perekonomian yang bisa dibilang jauh dari kata cukup dipaksa untuk tetap bisa bertahan hidup.

Meruntut dari 3 konsep strategi bertahan milik Soeharto yaitu strategi bertahan aktif, strategi bertahan pasif, dan strategi bertahan jaringan yang sudah dijelaskan diatas, maka strategi bertahan hidup yang bisa dilakukan oleh buruh pengrajin patung batu ini sangat relevan dan sesuia jika dikaji dengan menggunakan konsep strategi bertahan tersebut.

Dari beberapa penjelasan diatas, peneliti melihat bahwa hal tersebut cukup mewakili untuk mengambil asumsi dasar mengenai strategi bertahan hidup buruh pengrajin patung batu yang ada di Desa Watesumpak dalam usaha mereka agar tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup sebagai unit konsumen dan cara mereka dalam menjaga kestabilan perekonomian mereka dan kemampuan mereka dalam mengatasi berbagai masalah terutama ditengah persaingannya dengan kerajinan patung cor, serta masalah-masalah sosial ekonomi lain yang tidak menutup kemungkinan juga bisa mempengaruhi kehidupan para buruh pengrajin patung batu di desa Watesumpak tersebut.

25

Dokumen terkait