BAB II GAMBARAN UMUM KERAJAAN MAMBI
C. Struktur Keadatan Masyarakat Kerajaan Mambi
Di masa silam pelaksanaan pemerintahan otonomi daerah sudah berlaku dalam sistim pemerintahan tradisional Pitu Ulunna Salu khususnya Mambi. Substansi dalam sistim pemerintahan otonomi adalah memberi kewenangan kepada daerah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki untuk kemaslahatan hidup rakyat di daerah itu.
Di Pitu Ulunna Salu masing-masing lembang/wilayah adat memiliki fungsi sesuai dengan kemampuan dan keunggulannya tersendiri, setiap wilayah otonom.
Sejak dulu sudah ada penegasan, dalam pengungkapan local: “jangan terlampau jauh masuk menjenguk kamarnya orang”. Bahkan begitu ketatnya dalam satu lembang/wilayah ini, untuk pengungkapan pau-pau (cerita sejarah secara lisan), tokoh penutur di satu lembang tak bias terlalu memahami secara detail sejarah di lembang yang lain, dan tak jarang urung ketika diminta menceritakan semua lembang.66 Dalam pemahaman para penutur di setiap lembang, bahwa hal ini sebagai bentuk saling menghargai dan menghormati tokoh yang ada di wilayah/lembang masing-masing. Setiap lembang di Pitu Ulunna Salu masih memiliki yang namanya passappi’ (mitra) sekaligus penyangga adat lembang.
Struktur keadatan masyarakat di Mambi di sebut Adat Sibali artinya tolong menolong dan bantu membantu dalam menyelesaikan setiap kasus adat di masyarakat. Mambi sebagai salah satu daerah di Pitu Ulunna Salu dipimpin oleh
66Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah, (Cet. 2. Makassar: Pt. Murimuri Transmedia.2008).h. 44.
53
seorang Tomakaka (Raja). Posisinya sebagai Lantang Kada Nenek artinya Mambi sebagai tempat bermusyawarah, dibutuhkan adanya mitra (adat sibali) yang secara internal dan eksternal untuk memikirkan kehidupan masyarakat dan kemajuan wilayah.
Arti dari Adaq atau adat pada dasarnya adat itu ialah aturan-aturan yang tidak tertulis akan tetapi, demi untuk kesejahteraan bersama, adat itu dijunjung tinggi dan dipatuhi sebagaimana mestinya.67 Untuk mengetahui dan memahami apa itu adat, yakni orang yang dihormati atau disapa dengan puang oleh orang Mambi atau Pitu Ulunna Salu. Adapun perangkat adat yang menjalankan fungsi-fungsi adat di Mambi sebagai Lantang Kada Nenek adalah sebagai berikut:
1. Tomakaka, Tomakaka itu berasal dari kata “tau “dan “kaka”. Tau artinya orang, kaka artinya kakak. Kalau kedua kata itu disambungkan maka akan memberikan pengertian orang yang kakak atau orang terdahulu. Tomakaka tidak hanya mengartikan sebagai orang yang dianggap kakak, namun lebih dari itu. Kata itu mengandung makna yang lebih dalam dan mempunyai arti simbolik pada konotasinya apabila kata kaka itu mendapat awalan “ma” sehingga terjadi kata
“makaka” di belakang kata “to” jadi tomakaka yang bermakna “orang yang dituakan dalam mengatur satu lembang yang sangat luas, atau pemimpin.68 Dan saat itu golongan Tomakaka dianggap kelas menengah.
2. Pangulu Tau, penghulu sebagai lembaga internal sebagai tempat penyaluran aspirasi masyarakat.Pangulu Tau berkewajiban mendata apa saja yang diperlukan dalam masyarakat, baik yang dikeluhkan maupun yang disenangi, harus
67Ibrahim Abbas, Pendekatan Budaya Mandar, (Cet.1, : Pt. Ud. Hijrah Grafika, Makassar, 2000).h. 29.
68Edwar L. Poelinggomang, Sejarah Mandar Masa Kerajaan Hingga Sulawesi, (Cet.1, :Pt.
Zadahaniva, Solo, 2015). h. 57-58.
54
mengenal seluruh kehidupan masyarakat kemudian memusyawarakan bagaimana solusinya.69
3. Indona Lembang, semua persoalan yang berasal dari luar lembang yang akan diselesaikan oleh adat pa‟pituan, maka yang bertindak atau yang didatangi adalah Indona lembang. Dan posisi ini diduduki oleh Talippuki kini Kelurahan Talippuki, Mambi. Mengingat terlalu banyak persoalan yang masih baku yang perlu diselesaikan atau dituntas, dan setelah dikerucutkan di Talippuki maka sudah bisa dibahas di Mambi sebagai Lantang Kada Nenek. Selain itu, di Mambi yang ditempatkan sebagai tomepairan semangat nilai-nilai dan moral manakala masih ada persoalan yang ruwet namun belum dirasa perlu melibatkan banyak orang, maka cukup dirumuskan di Talippuki. Memang semua persoalan biasanya memerlukan perdebatan panjang. Maka Indona Lembang berkewajiban menanggung dan menanyakan apa yang diperlukan oleh mereka.
4. Dapo‟na Ada‟, semacam lembaga logistik Lembang Mambi. Mambi sebagai tempat musyawarah adat Pitu Ulunna Salu, maka sebagai tuan rumah setiap perdebatan besar, harus ada yang senantiasa menyiapkan konsumsi.70 Jika sewaktu-waktu ada tamu mendadak mendatangi atau ada masyarakat yang terkena musibah perlu bantuan, semuanya ini menjadi kewajiban dapurnya Adat.
Kalau dipikir sepintas lalu seakan-akan bahwa Dapotnya Adat ini orang kaya.
Sebenarnya tidak selalu sejalan apa yang ada dalam pikiran kita, sebab sesungguhnya kekayaan yang dimiliki oleh Dapotnya Adat memerlukan sesuatu
69La Mansi, Petuah Bijak Sengo-Sengo di Kecamatan Mambi Kabupaten Mamasa, (Jurnal : Khazanah Keagamaan, 2013), h. 122.
70Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah, (Cet. 2. Makassar: Pt. Murimuri Transmedia.2008).h. 45.
55
dia boleh meminta pada masyarakatnya sesuatu yang diperlukan tanpa memberati masyarakatnya.71
5. Bukunna Lita, bukunna lita ini berkewajiban menyelesaikan silang sengketa dalam hal-hal yang berkaitan dengan hak tanah anak, baik batas batas yang dipersengketakan maupun tanah-tanah tertentu yang dipersengketakan maupun tanah-tanah tertentu yang dipersengketakan oleh rumpung keluarga.
Adapun kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab pada lembaga yang tersebut di atas, tidak berarti lembaga tersebut menyelesaikan persoalan sendiri, tetapi pada umumnya semua persoalan yang ada dalam negeri selalu dibawa dalam musyawarah Adat di Mambi. Bukunna Lita memusyawarakan semua persoalan ke 5 di atas. Lantang Kada Nenek adalah tempat bermusyawarah ke lima pemangku Adat di Kecamatan Mambi yaitu:
1) Buda‟ Ella sebagai pemangku adat “Tomakaka’ di Rante.
2) H. Maula sebagai pemangku adat Pengulu Tau.
3) Jamaluddin sebagai pemangku adat Dapotnya adat.
4) Arifin Amri sebagai pemangku adat Bukunna Lita.
5) Amiruddin sebagai pemangku adat Anak Isese.
Kemudian pemimpin adat/tomakaka di Rante Mambi dari waktu ke waktu adalah sebagai berikut:
1) Daeng Matana 2) Rondo bulahan 3) Daeng Marappa‟
4) Petampi
71La Mansi, Petuah Bijak Sengo-Sengo di Kecamatan Mambi Kabupaten Mamasa, (Jurnal : Khazanah Keagamaan, 2013), h. 122.
56 5) Dude Daeng Bone
6) Enang Daeng Sumanjung
Berbicara tentang Mambi sebagai Lantang Kada Nene, di Pitu Ulunna Salu, tentu tidak lengkap tanpa membicarakan salah satu dari sekian pemimpin yang pernah memimpin Mambi adalah Enang Daeng Sumanjang yang juga merupakan Tomakaka Rante Mambi yang terakhir, diangkat dan ditetapkan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai kepala distrik Mambi. Masyarakat Mambi dan Pitu Ulunna Salu lebih mengenalnya dengan sapaan Parengnge, Mambie. Ketokohannya sebagai Tomakaka di Mambi (Lantang Kada nene) dikenal luas di seluruh wilayah Pitu Ulunna Salu.72 Silsilah keturunan Tomakaka di rante Mambi (versi catatan Enang Daeng Soemanjang) sebagai berikut:
1) Nenek Rondobulahan
2) Daeng Marrapa (Tomakaka Rante Mambie) 3) Petampi (Tomakaka
4) Daeng Marreting, dukun ( Songko‟na) Lisuang Ngada‟
5) Dude Daeng Bone ( Tomakaka Mambi).73 Tomakaka yang pernah memimpin di Kerajaan Mambi.
72Nurmawansyah Rahman Enang, Mambie Lantang Kada Nene’, (Jurnal : Jejak Anak Mambi , 2013), h. 2-11.
73Nurmawansyah Rahman Enang, Mambie Lantang Kada Nene’, , h. 2-12.
57 BAB III
PROSES ISLAMISASI DI KERAJAAN MAMBI A. Asal Mula Berdirinya Kerajaan Mambi
Dalam perjalanan sejarah Sulawesi Barat, khususnya di wilayah pegunungan Pitu Ulunna Salu, yaitu sebelum Kerajaan-Kerajaan di Mandar-Mamasa ini menjadi Amara’diangan dan anggota Adat dan Hadat. Sesungguhnya sejarah mencatat bahwa mereka itu berasal dari seorang yang bernama “Tomanurung” (orang yang turun dari kayangan) yang mempunyai anak bernama Pongka Padang yang tinggal menetap di Hulu Sungai Saddang.74 Pongka Padang adalah salah satu di antara tujuh bersaudara bahkan ada yang berpendapat sebelas bersaudara sebagai manusia pertama yang turun di Hulu Sungai Saddang, ia adalah cikal bakal penduduk di Pitu Ba’bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu serta Arua Tipariti’na Uwai yang kemudian disebut kawasan Mandar.
Kepercayaan pada Tomanurung ini sebagai seorang tokoh yang cara kedatangannya digambarkan dalam lontar sebagai sesuatu yang luar biasa.
Tomanurung digambarkan sebagai datangnya sang “juru selamat” untuk menyusun satu tata kehidupan yang menjamin kesejahteraan rakyat. Tomanurung dilukiskan sebagai manusia luar biasa, yang tiba-tiba muncul di muka bumi tanpa diketahui asal kedatangannya. Kehadirannya menjadi cikal bakal terjadinya negara khususnya wilayah Pitu Ulunna Salu dan Kerajaan. Hadirnya sosok manusia pertama atau generasi awal menjadi sangat penting untuk melihat keberlanjutan sejarah sosial manusia itu sendiri.75 Oleh karena itu, setiap masyarakat selalu memerlukan
74H. Ahmad Asdy, Mandar Dalam Kenangan Tentang Latar Belakang Keberadaan Arajang Balanipa Ke-52, ( Pt. Yayasan Mahaputra Mandar, 2000). h. 22.
75Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah, (Cet. 2. Makassar: Pt. Murimuri Transmedia.2008).h.28.30.
70
cerita tentang manusia pertama sebagai alat pemenuhan kebutuhan atas sejarah kehadiran masyarakat tersebut. Konsepsi tentang manusia pertama senantiasa menghadirkan pluralitas penafsiran. Sifatnya yang mitos memungkinkan berbagai penafsiran terhadapnya muncul begitu saja.
Beberapa sejarawan Mandar-Mamasa menghadirkan sosok manusia pertama mengikuti logika manusia pertama di tanah Bugis Gowa yaitu Tomanurung yakni manusia langit yang turun ke bumi melalui cara yang unik dan ajaib. Dia dipercaya sebagai seorang putri yang turun dari kayangan di sebuah tempat yang bernama Takak Bassi.76 Beliau datang secara luar biasa tanpa diketahui nama dan tempat asalnya, sehingga disebut saja Tomanurung (orang yang turun dari langit).
Masyarakat Sulawesi Barat menganggap Tomanurung adalah konsep manusia pertama di muka bumi. Tomanurung juga yang dipercaya sebagai pemilik Negara dan pemilik agama. Di Gowa tomanurung sebagai raja pertama di Gowa (Sulawesi Selatan) dan manusia pertama di Mandar (Sulawesi Barat) dipercayai sebagai penjelmaan dewata di muka bumi budaya yang dapat berarti sebagai wakil Tuhan di muka bumi (Islam).77 Tetapi masih banyak juga yang belum percaya terhadap adanya Tomanurung pada saat itu.
Versi lain tentang manusia pertama yang cukup populer di Pitu Ulunna Salu adalah kehadiran dua sosok sekaligus, yaitu Torijeqne sebagai sosok perempuan yang
76Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah .h.43.
77Zuhriah, Jejak Wali Nusantara, (Cet. 1, :Pt. Pustaka Ilmu, Yogyakarta, 2013). h. 58-60.
71
sangat cantik dan Puang Pattingboro inilah yang dikenal sebagai Pongkapadang sebagai lelaki tangguh nama Pongkapadang terdiri dari dua suku kata, Pongka artinya menembus, Padang artinya daerah ketinggian. Torijeqne merupakan simbol dari kehidupan air dari daratan rendah (laut dan sungai). Ia dikisahkan berasal dari dalam air karena itu disebut dengan Torijeqne. Sedangkan Pongkapadang merupakan simbol dari air pegunungan, ia dikisahkan berasal dari hulu sungai Saddang.78 Menarik untuk dilihat, bahwa penceritaan sejarah Mandar dulu sejak awal senantiasa dilekatkan dengan air. Air tampaknya merupakan elemen penting dalam kebudayaan di Sulawesi Barat.
Persekutuan kerajaan yang lahir di Mandar juga dilekatkan dengan aliran air, yaitu Pitu Ulunna Salu (sebagai simbol dari Pongkapadang, representasi dari air yang mengalir dari hulu sungai), dan Pitu Baqbana Binanga (simbol dari Torijeqne, representasi dari air yang mengalir sampai dilautan). Adapun bentuk petuah bijak yang ada di Kab. Mamasa dan sekitarnya khususnya Mambi:
Mekutana Kada ada, Mettule Bukunna Lita, Burudita nanna Indo Tioso Tapanallanang. Nitale tau di Bone, roka kurang budi rapa tondok Gowa, Runtuk Nenek Tenriabeng runtuk daeng tassusuk mellabus sariwi gading niteppe kaju belande, Notomboloki bulawang, Nasombala Sau jawa, Napopetangnga balanga. Kedde Nenek Pongka Padang, isaringi padalinna, Nusele tamba lowana. Mentanete Jao mai, Tanete landa banua, mengka seppong buntu bulo, pirassai Tabulahan. (Mudadian Tau pitu titalena Tau pitu daditoh seppulo mesa), dianlan tahamana, lambi tappahamana.
Artinya,
Bertanya tentang aturan, berarti bertanya kepada penguasa tentang penyebaran manusia pertama “Tioso Tapanallanang” dari Bone.Didaerah Gowa ada seorang Nenek yang bernama Tenriabeng yang juga suka pergi merantau.
78Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah, (Cet. 2. Makassar: Pt. Murimuri Transmedia.2008).h.29.
72
Setelah merantau mereka bertemu dengan nenek Sariwigading di pegunungan yang sementara menebang pohon Dewata atau kayu malambek untuk dibuat perahu yang sambung dengan emas lalu dia pakai berlayar ke Jawa di tengah- tengah lautan. Di Hulu Sungai ada nenek Pongkapadang dengan membawa Gomnya bersama pedang yang diselipkan di pinggang lalu berjalan sepanjang lembah Gunung (Gunung Landa Banua) kemudian menurut di lembah gunung Bulo akhirnya sampai di Tabulahan. Pongkapadang melahirkan 7 orang anak kemudian dari 7 orang ini ada yang melahirkan sehingga menjadi 11 orang.79
Maksud dari pernyataan tersebut adalah ada yang disebut tau pitu atau tujuh orang antara lain: Puang Rimbulu, Lando Belua, Puang Pattingboro, Bombong Langi, Lando Guntu, Lombeng Susu, dan Puang Rilembong. Tujuh orangInilah dibagikan wilayah pegunungan termasuk Mambi yang membagi bagikan harta pusaka (wilayah).
Di Hulu Sungai daerah dataran tinggi Sulawesi Barat ada nenek moyang Sarewegading di hutan belantara menebang pohon dewata. Pongkapadang inilah yang diceritakan pada mulanya, dan Torijeqne sebagai manusia pertama, tidak bisa diartikan sebagai manusia yang benar-benar pertama hidup di tanah Mandar dan Mamasa. Beberapa catatan lontaraq menyebutkan bahwa sebelum kedatangan kedua orang ini, telah terdapat komunitas manusia yang hidup di kawasan pegunungan di Tabulahan. ini berarti mitologi Pongkapadang dan Torijeqne adalah mitos tentang awal kisah kehadiran para raja.80 Turunan dari keduanya merupakan penguasa- penguasa di tanah Mandar.Bahkan Pongkapadang dianggap sebagai pimpinan sosial politik pertama di tanah Mandar.
79La Mansi, Petuah Bijak Sengo-Sengo di Kecamatan Mambi Kabupaten Mamasa, (Jurnal : Khazanah Keagamaan, 2013), h.125.
80La Mansi, Petuah Bijak Sengo-Sengo di Kecamatan Mambi Kabupaten Mamasa, h.125.
73
Pongkapadang dan Torijeqne yang bertemu, menikah dan menetap di Tabulahan melahirkan tujuh orang anak yang menjadi cikal bakal dari lahirnya sejarah Mandar selanjutnya. Ketujuh anak tersebut atau yang populer dengan sebutan tau pitu adalah Daeng Matangnga (laki-laki), Mana Dahodo (laki-laki), Simbak Datu (perempuan), dan Patta Nabulan (laki-laki). Versi lain menyebutkan bahwa ketujuh anak Pongkapadang Torijeqne adalah Daeng Matangnga, Manalasaqbi, Pullao Mesa, Simbak Datu, Buraleqbo, Pattanan Bulawan, dan Buntu Bulo. Kedua anak perempuan Pongkapadang yaitu Simbak datu dan Buraleqbo kemudian dinikahi oleh saudaranya Daeng Matangnga dan Mana Dahodo. Ada versi yang menyebutkan Daeng Matangnga menikah dengan Simbak Datu, dan Mana Dahodo menikah dengan Buraleqbo. Ada pula versi yang menyebutkan Daeng Matangnga menikah dengan Buraleqbo.81 Hasil perkawinan ini kemudian melahirkan keturunan yang berjumlah sebelas orang atau yang dikenal dengan sebutan tau sappulo mesa. Kesebelas cucu Pongkapadang dan Torijeqne ini merupakan cikal bakal masyarakat Mandar selanjutnya.
Tau sappulo mesa yang dimaksud adalah Daeng Tumanan (menetap di Tabulahan), Ampu Tengngeq yang dikenal juga dengan nama Tammi (pergi dan menetap di daerah Bambang), Daeng Matana (pergi dan menetap di daerah Mambi), To Ajoang (pergi dan menetap di daerah Matangnga), Sahalima (pergi dan menetap
81Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah, (Cet. 2. Makassar: Pt. Murimuri Transmedia.2008).h.26.29.
74
di daerah Tabang), Daeng Malulun (pergi dan menetap di daerah Balanipa), Daeng Maroe (pergi dan menetap di daerah Taramanu atau Tuqbi), Makke Daeng (pergi dan menetap di daerah Mamuju), Daeng Kamahu atau Mataning (pergi dan menetap di daerah Sumahuq atau Sondoang) dan Talaqbina (pergi dan menetap di daerah Lohe).82
Hubungan perkawinan itulah yang melahirkan generasi berikutnya. Pada perkembangan kemudian, anak keturunan Torije‟ne dan Pongkapadang ini atau Tau Sappulo Mesa ini menyebar kebeberapa daerah. Daeng Matana ke daerah Mambi dijadikan sebagai Lantang Kada Nenek di masa pemerintahan tradisional Pitu Ulunna Salu. Beginilah pemimpin adat/tomakaka di wilayah Pitu Ulunna Salu khususnya di Kerajaan Mambi salah seorang keturunan pongka padang sekitar abad XVI Dari waktu ke waktu.83 Kesimpulannya, Tomanurung dari manapun dia berasal, datang, dan berdiam di suatu tempat untuk menciptakan perubahan, memperbaiki masyarakat, dan membangun masyarakat dengan menjadi pemimpin.
B. Kerajaan Mambi Sebelum Islam
Sebelum masuknya Agama Islam di kerajaan Mambi, masyarakat Mambi tidak berbeda dengan masyarakat lainnya di Indonesia yaitu mengenal dua kepercayaan yaitu animisme dan dinamisme.84 Animisme yaitu memuja roh nenek
82Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah,.h.26.29.
83Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah, (Cet. 2. Makassar: Pt. Murimuri Transmedia.2008).h.26.29.
84Drs.H.M.Tanawali Aziz Syah, Sejarah Mandar Polmas-Majene-Mamuju Jilid III, (Cet. 1, Pt: Yayasan Al-aziz, Ujung Pandang, 1998).h. 79-80.
75
moyang, sedangkan dinamisme yaitu bahwa setiap makhluk dan benda mempunyai kekuatan gaib. Dua kepercayaan itu tentu sulit karena kepercayaan ini sudah menjadi kepercayaan yang sudah turun temurun dalam masyarakat Mambi.
Dahulu, orang takjub kepada benda-benda alam, seperti matahari, batu besar, dan pohon besar. Karena dianggapnya dapat memberikan hidup sehingga terdorong untuk menyembahnya. Mereka berfikir sangat sederhana, terutama matahari yang memberi sinar terang sehingga dapat melihat dan memungkinkan dapat mencari nafkah hidup disamping memberi kekuatan hidup terhadap tumbuh-tumbuhan maka disembahlah matahari itu.
Orang-orang tua memberi petunjuk atau nasihat kepada anak-anak yang diselingi cerita-cerita yang berkaitan dengan alam baik yang membahagiakan seperti matahari yang memberikan hidup maupun yang membahayakan seperti datangnya gempa bumi. Meletusnya gunung berapi, banjir serta hantu-hantu yang ada disekeliling alam, maka orang-orang tua dianggap sebagai sumber pengetahuan dan penyelamat. Akhirnya orang tua atau nenek yang meninggal dunia terutama yang dianggap sakti sakti disembah kuburannya sambil menanyai roh halusnya apa yang akan diperbuat penduduk saat sedang ketakutan akan terjadinya sesuatu yang akan menimpa kehidupannya.85 Dan biasanya juga orang-orang terdahulu ketika pergi di
85Tanawali Aziz Syah, Sejarah Mandar Polmas-Majene-Mamuju Jilid III, (Cet. 1, Pt:
Yayasan Al-aziz, Ujung Pandang, 1998).h. 79-80.
76
kuburan yang dianggap sakti mereka membawa uang koin lalu menyimpannya di dalam kuburan sebagai bentuk terimakasih atas apa yang mereka terima.
Pengakuan atas kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sudah ada sejak sebelum kedatangan agama-agama bumi seperti agama-agama samawi di Indonesia (Islam, Kristen) maupun agama-agama bumi seperti agama Hindu, Budha.
Sisa-sisa kepercayaan tersebut masih dijumpai di Pitu Ulunna Salu khususnya di Mambi kepercayaan mereka diseb ut “Mappurondo”. Sedang Tuhan Yang Maha Esa dalam kepercayaan itu ialah “Dewata Metampa” yang dipandang gaib serta dikagumi dan diyakini oleh manusia akan kebesaran dan kekuasaannya. Manusia menurut Mappurondo wajib meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak Dewata Metampa. Manusia sebagai ciptaannya meyakini akan kedudukan Dewata Metampa tempat tumpuan manusia menggantungkan hidup dan kehidupan baik di dunia fana maupun di alam baka.86
Hal yang menjadi faktor penghambat Islamisasi di Mambi adalah adanya Kristenisasi, di masa silam.Ketika pemerintahan tradisional masih berjalan efektif dalam wilayah Pitu Ulunna Salu, masyarakatnya masih kukuh berpegang aliran kepercayaan masyarakat Mambi penganut mappurondo dengan falsafah pemali appa’
randanna. “Iklim kepercayaan” pun berubah ketika datang tahun 1630-1800, khususnya di Mambi, Salurindu‟ Aralle, dan Rantebulahan dengan mulai mengenal agama Islam. Mereka mengenal Islam selain datang di perkenalkan oleh para pedagang, juga ketika warga dari daerah ini bepergian ke pantai mengambil garam,
86Tanawali Aziz Syah, Sejarah Mandar Polmas-Majene-Mamuju Jilid III, h. 80-81.
77
kelapa, minyak kelapa, serta alat-alat pertanian.87 Salah satu tempat yang paling sering dituju warga Pitu Ulunna Salu itu adalah Balanipa. Di Balanipa pulalah dan daerah di pesisir pantai lainnya mereka berguru ilmu agama.
Diluar dari itu untuk masyarakat Mambi yang sebelumnya sudah memiliki agama lain juga menjadi faktor tersendiri karna untuk kemudian meyakinkan orang untuk memeluk Islam dengan mereka yang sudah beragama kristen itu sulit karna agama kristen ini sudah dianut lebih dulu dari mereka meskipun sesungguhnya masyarakat ini adalah masyarakat yang satu suku dengan masyarakat Toraja.88 Dan masyarakat Mambi yang masih tergolong kedalam suku Pattaek, dan suku Pannei ini hanya memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme saja yang tergolong masi bisa menerima Islam.
Terbentuknya Kerajaan Mambi mempunyai hubungan erat dengan kedatangan Tomanurung yang digambarkan sebagai juru selamatseperti dijelaskan di atas bahwa Tomanurung Torije‟ne dan Pongkapadang melahirkan banyak generasi dan diantaranya adalah Daeng Matana sebagai pemimpin adat di Kerajaan Mambi.89 Namun Sebelum terbentuknya Kerajaan Mambi kehidupan manusia pada waktu itu masih terpisah-pisah sebelum datang Tomanurung disaat itulah Tomanurung datang secara tiba-tiba menjadi juru selamat dalam menyusun tata kehidupan yang menjamin
87Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah, (Cet. 2. Makassar: Pt. Murimuri Transmedia.2008).h. 104.
88Nawir, Perkembanga Islam Pada Masa Orde Baru Di Mambi Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat, h. 55.
89Sarman Sahudding, Pus dan Pbb Dalam Iperium Sejarah, (Cet. 2. Makassar: Pt. Murimuri Transmedia.2008).h. 30.