Muniri
Jurusan Tadris Matematika IAIN Tulungagung [email protected]
ABSTRAK
Kajian mengenai karakter bangsa sesungguhnya diilhami adanya banyak fenomena dan kasus merosotnya moral anak bangsa yang disuguhkan lewat tayangan berbagai media baik cetak maupun elektronik yang mengusik rusaknya tatanan kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara yang wujudnya berupa permasalahan kemanusian yang tragis dan anarkis yang secara terus menerus terjadi seakan-akan tiada henti. Fenomena ini telah merasuk pada setiap tingkatan level kehidupan, mulai kriminalitas anak pinggiran, perkotaan hingga tindak kejahatan para penguasa dan intelektual berupa tindak pidana korupsi. Banyak kalangan menjustifikasi bahwa penyebab utama dari hal di atas adalah gagalnya dunia pendidikan kita dalam mencetak generasi yang handal. Penyebab lain mungkin akibat derasnya laju transformasi informasi yang kurang terseleksi secara baik, atau mungkin disebabkan oleh keringnya nilai-nilai agama dalam diri manusia atau mungkin disebabkan oleh kurang berimbangnya antara kemajuan sains dan teknologi dengan peningkatan pemahaman nilai-nilai keagamaan.
Kata-kata Kunci: Nilai matematika, Karakter bangsa.
PENDAHULUAN
Pendidikan karakter pada hakikatnya merupakan proses pembentukkan perilaku setiap individu atau seseorang untuk terbiasa berperilaku baik dan menghargai pentingnya nilai-nilai moral (valuing), membentuk cita rasa ingin berbuat baik (desiring the good) yang bersumber dari rasa cinta untuk berbuat baik (loving the good).1 Adapun tujuan pendidikan karakter pada dasarnya mendorong lahirnya manusia yang baik, memiliki kepribadian menarik, beretika, bersahaja, jujur, cerdas, peduli dan tangguh.2 Berdasarkan beberapa pendapat di atas, sesungguhnya orientasi pendidikan karakter merupakan redesain dari tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam UU No.20 tahun 2003 bahwa tujuan pendidikan nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab3.
Sesungguhnya konsep dasar karakter (akhlak), nilai-nilai kebaikan (haq) merupakan hal yang paling mendasar dalam agama (religi) selain aqidah dan syariah yang merupakan fitrah manusia yang telah digagas oleh Sang penggagas jagad alam raya ini (Allah SWT). Upaya membentuk karakter (baca: akhlak)
1 Rukiyati, 2013. Urgensi Pendidikan Karakter Holistik Komprehensif di Indonesia. Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun III, Nomor 2, Juni 2013. h. 196
2 Sudarsono, 2008. Karakter Mengantar Bangsa:dari Gelap menuju Terang. Jakarta: Elex Media Komputindo. h. 37
3 Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematrika Sekolah Menengah Atas dan MA, (Jakarta: Depdiknas)
melalui tuntunan para utusan (nabi) mulai zaman Nabi Adam hingga Nabi yang terakhir, yakni Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu hadist disebutkan
“innamaa buitstu liutammima makaarimal akhlaq” yang artinya “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak”.4 Berdasarkan konteks hadist ini sesungguhnya akhlak (karakter) pada diri manusia sudah ada (fitrah), karenanya ada istilah “menyempurnakan”. Yang berarti secara fitrah manusia sudah memiliki akhlak kepada sang penciptanya. Manusia sudah mengenal yang baik dan yang buruk, yang hak dan yang bathil, yang bermanfaat dan yang modlarat berdasarkan keyakinan dan pengetahuannya (fitrahnya). Akan tetapi berdasarkan ketentuannya juga Tuhan menciptakan iblis, syetan untuk menggoda, menciptakan keraguan dan menakut-nakuti manusia melalui bisikan hati manusia.
Maka disinilah peran pendidikan mutlak diperlukan dalam sepanjang hayat manusia. Telah disebutkan dalam sebuah hadits “tolabul ilmu minal mahdi ilal lahdi” atau yang juga kita kenal dengan konsep life long education.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Almawardi dalam buku “Adab ad-Dunya wa ad-Din” mengatakan “ad-din dharuroh fi al-aql wa al-aqli li ad-din al ashli” yang artinya agama adalah hal yang niscaya bagi rasio, dan rasio adalah landasan bagi agama5. Sedangkan dalam buku yang sama hal senada juga diungkapkan oleh Albert Einstein” agama tanpa ilmu buta, dan ilmu tanpa agama lumpuh”.6 Pendapat tersebut memberikan inspirasi bahwa agama dan sain harus dan mutlak diselaraskan, tidak perlu dipertentangkan karena pada hakikatnya berasal dari sumber yang sama, yakni dari Tuhan (Allah SWT). Konsep pemerolehan keilmuan (baca: sains dan teknologi) telah digambarkan dalam Al-Qur‟an dalam surah al-‟alaq ayat 1-5 yang berbunyi7:
Artinya (1) Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, (2) yang menciptakan manusia dari tanah, (3) bacalah dan Tuhanmu yang maha mulya, (4) yang mengajarkan dengan pena, (5) yang mengajarkan manusia dari apa yang mereka tidak ketahui.
Berdasarkan ayat di atas, berarti sains dan teknologi memang seakan-akan didesain oleh oleh manusia, namun sesungguhnya sumbernya berasal dari Tuhan (Allah SWT). Ayat di atas jelas mengajarkan pengetahuan yang diikat oleh tauhid yang kokoh (bismirobbikal ladzi kholaq) dan (warobbukal akrom). Perintah membaca dapat berarti pula mengkaji, menelaah, melakukan studi, research,
4 Maksudin, 2013. Pendidikan Karakter Nondikotomik; (Upaya Membangun Bangsa Indonesia Seutuhnya). Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun III, Nomor 2, Juni 2013, h. 137
5 Miskawaih, dkk. 1999. Menuju Kesempurnaan Akhlak: Buku Dasar Pertama tentang Filsafat Etika. Penerjemah Helmi Hidayat. (Bandung. Mizan). h. 21
6 Ibid. h. 25
7 Al-Qur‟an Al Kariem dan terjemahnya surat Al-„Alaq ayat 1-5.
berdiskusi, mempertanyakan, menemukan, membuktikan dan sebagainya.
Perintah tersebut tidak hanya untuk mempelajari salah satu ilmu agama saja, akan tetapi perintah membaca tersebut juga untuk mengkaji berbagai pengetahuan lain seperti ilmu teknik, industri, peternakan, pertanian, dan bahkan juga ilmu matematika (falaqiyah, faraid, zakat, jual beli, dan sebagainya). Melalui perintah membaca bukan saja memperoleh ilmu pengetahuan akan tetapi juga memperoleh kemulyaan (warobbukal akrom) yang merupakan akibat berfungsinya semua panca indera manusia, oleh pikir (otak) dan olah rasa/akal budi (hati) yang pada akhirnya akan terbentuk dengan sendirinya kepribadian yang mantap yang dihiasi oleh akhlak yang mulia.
Potret sosok manusia Indonesia yang diharapkan sebenarnya telah tergambar dalam diri manusia pilihan (insan kamil) yang menjadi rujukan setiap umat Islam adalah kepribadian sang Nabi SAW yang memiliki 4 sifat atau karakter, yaitu sidiq, amanah, tabligh, dan fatonah. Melalui keempat sifat ini beliau mampu melakakan perubahan perabahan dunia yang luar biasa. Eksistensi 4 sifat ini merupakan manifestasi kesempurnaan manusia dari tiga sisi (1) akal budi, (2) jiwa/rasa dan (3) akhlaq atau dengan meminjam istilah yang lebih keren
"thinking, feeling and action.8 Melalui empat (4) sifat mulia ini, manusia dijamin menjadi tangguh, kuat secara fisik dan psikologinya (sehat otaknya, sehat hatinya dan sehat badannya). Keempat sifat yang dimiliki oleh Nabi SAW ini sudah lama dilirik oleh banyak pakar dan dijadikan acuan bagi ranah tujuan pendidikan sebagaimana digambarkan oleh Bloom menjadi tiga (3) ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Sudah barang tentu dampak positif dari nilai karakter luhur diatas, akan membentuk manusia bermartabat yang memiliki kesadaran diri sebagai hamba Allah dan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, aktualisasi dari emapt (4) sifat atau akhlak mulia yang dimiliki Nabi SAW yang menjadi rujukan atau teladan bagi ummat manusia dibagi dalam tiga (3) domain pilar karakter atau akhlak, yaitu (1) akhlak terhadap Tuhan, (2) akhlak terhadap alam, dan (3) akhlak terhadap sesama insan. Melalui keteladanan Nabi SAW akan melahirkan manusia yang memiliki integritas, matang, mantap, serta dewasa secara personal maupun sosial. Hal ini berarti melalui sifat Sidiq (jujur) dan Fathonah (cerdas) akan tercermin manusia yang berkualitas secara personal, sedangkan melalui sifat Tabligh (kecakapan komunikasi) dan sifat Amanah (tanggungjawab) akan tercermin manusia yang berkualitas secara sosial9.
Manifestasi dari kedua aspek kematangan tersebut (kematangan personal dan sosial) yang merupakan inti nilai-nilai yang dirujuk dari sosok manusia pilihan (Nabi Muhammad SAW) sang pembawa risalah dari Allah (Rasulullah) menjadi inspirasi pendidikan karakter di negara kita yang turunan nilai-nilai tersebut diuaraikan menjadi 18 butir indikator nilai pendidikan karakter yang menjadi isu hangat dalam pendidikan kita dewasa ini, yaitu sebagai berikut:
8 Rukiyati, 2013. Urgensi Pendidikan Karakter Holistik .... h. 200
9 Mulyono Abdurrahman, 2003. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta). h. 86
Fondasi Aspek Sifat Luhur Nilai Karakter Nilai Turunan