• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Metode Penelitian Metode Penelitian

E. Sumber Data

Menurut Sugiono, Sumber data penelitian ini terbagi dua, sumber data primer dan sumber data skunder, sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber data skunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data.243

Data dalam penelitian ini di peroleh dari dua sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data skunder, Sumber data primer di peroleh dengan mengunakan hasil wawancara dan observasi dengan informan yang merupakan infornan kunci, yaitu :

1. Data primer

Menurut Arikunto yakni data yang diperoleh dari sumber asli, sumber asli disini diartikan sebagai sumber pertama dari mana data tersebut diperoleh.244

Adapun sumber data primer dalam kegiatan penelitian ini antara lain sebagai berikut:

243 Sugiono, Metode penelitian pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2020), 219

244Arikunto, Suharsimi, Metode Penelitian. Cetakan Kedua, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2019), 304.

a. Kepala Madrasah MAN 1 Banyuwangi yaitu, Drs. Abd. Hadi Suwito dan MAN 3 Srono Banyuwangi yaitu Drs. Ahmad Suyuti, M.Pd.

b. Wakil kepala Madrasah MAN 1 Banyuwangi yaitu Nur Khalimatus Sa’diyah, S.Pd dan wakil kapala MAN 3 Srono Banyuwangi yaitu Willis Anggraini, S. SI.

c. Guru Pendidikan Agama Islam di MAN 1 Banyuwangi ( Ahmad Rizki Maulana, S.Pd), guru aqidah akhlak ( Nur Khalimatus Sa’diyah, S.Pd) dan guru MAN 3 Srono Banyuwangi, yaitu guru PAI ( Syamsul Ma’arif, S.Ag), Guru Qur’an hadits ( Misbahul Munir, S.Pd), guru aqidah akhlak ( Ahmad Ikbal Faiz Alkhoir, S.Pd), guru fiqh ( Silqi Rosidah, S.Pd), yang mana para guru tersebut terlibat langsung dalam proses kegiatan pembelajaran. Sehingga diketahui model penguatan madrasah berbasis pesantren dapat menguatkan pendidikan agama Islam.

d. Siswa yang ada di MAN 1 Banyuwangi yaitu, Firgy Ryan Hidayat ( klas 12A), Dewi Rahmawati (klas 12B), Silvi Nurdina (klas 12D0, Dwi Hilda (klas 12 E), Natasya Audina ( klas 12), Ahmad Muhaimin Ilhami (klas 11A), Arzha Atholillah (klas 11B), dan siswa MAN 3 Srono Banyuwangi, Diana Puspitasari (klas 12A), Ahmad Syafa’at (klas 12B), Ifan Wahyu Kurniawan (klas 12C), Ade Wahyu Wiradinata (klas 12D)

2. Data sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini sangat berguna sebagai bahan pembanding dan memperkuat data di lapangan. Data sekunder ini bisa diperoleh dari dokumentasi dan jurnal hasil penelitian terdahulu yang dapat digunakan

untuk memperkuat teori. Sedangkan pada penelitian kali ini sumber data sekunder berupa dokumentasi dengan mengumpulkan dokumen- dokumen yang relevan yang ada di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Banyuwangi jawa timur seperti :

a. Denah MAN 1 Banyuwngi dan MAN 3 Srono Banyuwangi.

b. Dokumen tentang materi Pendidikan Agama Islam berupa program- program pembiasaan baik di MA dan Pesantren, bercorak agama dan kegiatan malam jum’at pengajian dan tahlil, (lihat lampiran no.15.

c. Dokumen tentang pembiasaan sholat dengan berjama’ah di MAN 3 Srono yang menjadi pembiasaan para siswa, ( lihat lampiran no.16).

d. Dokumen tentang kegiatan satri belajar ceramah di depan para ustadz dan para santri putra-putri sebagai bentuk belajar berbicara di depan banyak orang, (lihat lampiran no.324).

e. Dokumen secara umum tentang lembaga yang diteliti seperti profil lembaga, visi, misi dan tujuan madrasah, data guru, karyawan dan siswa di MAN 1 banyuwangi, (lihat lampiran no. 303), dan profil lembaga, visi, misi dan tujuan madrasah, data guru, karyawan dan siswa di MAN 3 Srono Banyuwangi, ( lihat lampiran no.315).

F. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi Partisipasi Pasif

Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi pasif, dimana peneliti hanya mengamati namun tidak terlibat aktif dalam proses kegiatan madrasah. Observasi atau pengamatan merupakan hasil

perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya suatu rangsangan tertentu yang diinginkan atau studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan atau fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat.245 Observasi partisipasi pasif adalah "means the researcher is present at the scene of action but does not interact or participate".246 Jadi dalam hal ini peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Catherine Marshall, Gretchen B. Rossman, menyatakan bahwa “the fundamental methods relied on by qualitative researchers for gathering information are, participation in the setting, direct observation, in-depth interviewing, document review.247

Saat penelitian berlangsung, peneliti melakukan observasi langsung di obyek penelitian untuk mendapatkan data yang dapat dimanfaatkan untuk menyempurnakan proses pembelajaran pendidikan agama Islam. Data yang di peroleh dengan teknik observasi meliputi:

a. Pembelajaran model penguatan materi PAI berbasis kurikulum pesantren dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di Madrasah Aliyah untuk mewujudkan penguatan agama Islam siswa, data meliputi keberadaan madrasah yang menyatu kurikulumnya dengan pesantren yang ada di MAN 1 Banyuwangi dan MAN 3 Banyuwangi. Keberadaan Ma’had di Madrasah Aliyah sangat membantu peserta didik dalam segi penguatan pendidikan agama Islam, antara Ma’had dan Madrasah terintegrasi baik

245 Mardalis, Metode suau penelitian:suatu pendekatan proposan, (Jakarta: Bumi aksara, 2019), 63.

246 Sugiono, Metode penelitian kualitatif, ( Bandung : Alfabeta, 2017), 108.

247 Sugiono, metode penelitian kualitatif,( Bandung: Alfabeta, 2020), 105.

dalam sistem dan menejamenya, akan tetapi dalam pengelolaan Ma’had, dalam segi akomodasi santri di kelola sendiri oleh ketua Pengurus Ma’had beserta jajaranya. Antusias wali murid untuk memondokan anaknya di ma’had/pesantren Darul Mutaallimin yang ke beradaanya di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi sangat besar sekali, sehingga keberadaan asrama sudah tidak mampu menampung para santri, jumlah santri Putri berjumlah 190 dan santri putra ada 80 santriwan dari 1100 murid yang ada di MAN 1 Banyuwangi. Ma’had Darul Muta’allimin MAN 1 Banyuwangi, dalam aktifitasnya pulang dari sekolah jam 2.40, habis sholat berja’ah magrib madrasah diniyah, habis sholat isya’ kajian kitab klasikal seperti, fiqih wadek, kitab tankikhul qaul, arbain Nawawi, mustolah hadits, Bulugul Marom, Ta’lim muta’allim, jawahirul kalamiyah, jurumiyah, nurul yakin, fathul qorib, habis sholat shubuh berjama’ah membaca Alqur’an bersama-sama. Para siswa yang tinggal di ma’had lebih berkualitas dalam pengetahuan dan pemahaman tentang agama Islam di bandingkan dengan para siswa yang tidak berma’had dan keunggulanya di atas rata-rata di kelas artinya banyak keunggulanya antara anak-anak yang berada di ma’had dan yang tidak di ma’had. Terintegrasinya Ma’had Alhidayah dengan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Banyuwangi adalah untuk melengkapi dan menguatkan materi PAI yang ada di formal, karena materi yang ada di formal tidak mencukupi dalam pendidikan pendidikan agama Islam, di ma’had adalah pengembangan dan penguatan materi PAI.

Keberadaan ma’had Al-hidayah di Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono

Banyuwangi merupakan Madrasah Berbasis Pesantren yang keberadaanya berada di dalam MAN 3 Srono Banyuwangi, dalam pengelolaan ma’had Alhidayah yaitu di bawah naungan MAN 3 Srono Banyuwangi baik dalam manajemenya dan pengelolaanya, ma’had alhidayah di pimpin oleh seorang pengasuh bernama Kiyai Samsul Ma’arif, S.Ag dan di bantu 15 guru yang berada di ma’had.Metode pembelajaran di ma’had Alhidayah cara penyampaianya seperti metode yang ada di pondok pesantren pada umumnya yaitu dengan memakai metode , bandongan, sorogan dan wetonan, model penguatan pendidikan agama Islam yang di implementasikan di dalam ma’had sangatlah efektif bagi para siswa yang menjadi santri di ma’had Alhidayah, karena bisa memahami agama Islam secara tajam dan mendalam. Pendalaman pendidikan agama Islam yang ada di ma’had di Al-hidayah, adalah pedidikan yang sangat menunjang untuk memperdalam dan memperkuat pendidikan agama Islam, karena kajian kitab-kitab yang di ajarkan di Ma’had Al-hidayah, seperti kitab kowaidus sorfi, kowaidul iklal, kitab bidayatul bidayah, akklakul banat, nahwu sorof, kitab mabadi, dan kitab-kitab klasikal lainya).

b. Pembelajaran model penguatan materi PAI berbasis budaya pesantren dalam penguatan materi pendidikan agama Islam untuk menguatkan agama Islam bagi para siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Kabupaten Banyuwangi, data meliputi madrasah yang keberadaanya di lingkungan pesantren. Model penguatan materi Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah, sangat

membawa dampak positif terhadap para siswa yang tidak berma’had dengan berbaurnya para siswa yang tidak berma’had dengan yang berma’had kelihatanya sama-sama baik semuanya, perbedaanya pada pendalaman dan pengetahuan agama Islam secara mendalam lebih baik yang ada di ma’had. Siswa yang nyantri di ma’had bisa memberi pengaruh yang positif kepada para siswa yang tidak berma’had contoh dalam kegiatan sholat dhuha di lanjutkan dengan kultum yang di laksanakan bersama-sama di masjid bisa memberi pengaruh kepada para siswa yang tidak berma’had, demikian pula dalam pelaksanaan sholat dhuhur denga berjamaah para siswa dengan kesadaran diri juga ikut sholat dengan berjama’ah. Madrasah berbasis pesantren sangat membawa dampak positif terhadap para siswa yang tidak berma’had dengan berbaurnya para siswa yang tidak berma’had dengan yang berma’had kelihatanya sama-sama baik semuanya, perbedaanya pada pendalaman dan pengetahuan agama Islam secara mendalam lebih baik yang berma’had.

c. Pembelajaran model penguatan materi pendidikan agama Islam berbasis pengelolaan pesantren di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Banyuwangi untuk menguatkan agama Islam, data meliputi sistem dan nilai-nilai pesantren dan mengedepankan kultur kepesantrenan secara menyeluruh. Model penguatan materi PAI berbasis pengelolaan Pesantren untuk menguatkan agama Islam di Madrasah Aliyah, yang sangat menonjol dalam kultur adalah sholat dhuha dengan berjamaah pada pagi hari dan di teruskan dengan kultum, demikian

pula dengan sholat dhuhur dengan berjamaah para siswa sudah tidak di perintah sudah sadar dengan sendirinya untuk melaksanakan sholat berjamaah, yang sangat menonjol pada para siswa adalah akhlaknya, kenakalanya Cuma berada pada keterlambatan masuk sekolah, klau di suruh pak guru nurut, tawadhuk, semua siswa yang berma’had atau yang tidak berma’had akhlaknya baik semua.

2. Wawancara semiterstruktur

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang di lakukan oleh dua pihak yaitu, pihak yang mengajukan pertanyaan (Interviewer) dan pihak yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang di ajukan (Interviewee).248

Peneliti menggunakan wawancara semiterstuktur dalam penelitian ini karena jenis wawancara ini masuk kategori in-depth interview, namun pelaksanaannya lebih bebas. Jenis wawancara ini dipilih untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka.249 Wawancara bebas (open ended interview),yakni “pengumpulan data dengan cara bertanya secara bebas dan mendalam kepada responden guna mendapatkan informasi”.250 cara ini digunakan untuk mengetahui proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai pembangun penguatan materi pendidikan agama Islam, wawancara dilakukan kepada kepala madasah dan guru serta tenaga kependidikan, wawancara ditujukan untuk mengetahui hal-hal yang terkait dengan tema disertasi ini. Data dikumpulkan berdasarkan atas fakta-fakta sesuai jenis data yang digunakan.

248 Moleong, Metodologi Penelitian, 186.

249 Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, 312.

250 Lexy J.Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2015), 135.

Untuk mengumpulkan data primer, digunakan teknik wawancara, dan observasi lapangan. Untuk data sekunder digunakan teknik telaah dokumentasi.

Teknik wawancara langsung digunakan untuk memperoleh sejumlah informasi dari pendapat dan pengalaman orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAI dalam penguatan materi agama Islam. Penggunaan teknik ini merujuk pertimbangan, bahwa: dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan motivasi manusia seperti terungkap dalam alasan bertindak mereka, perasaan dan sikap manusia dan sebagainya wawancara boleh jadi merupakan teknik yang efektif untuk ditujukan kepada guru PAI dan kepala madrasah. Data yang di peroleh dengan tehnik wawancara semiterstruktur adalah sebagai berikut:

a. Proses Model Penguatan Materi Pendidikan Agama Islam Berbasis Kurikulum Pesantren yang di laksanakan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Banyuwangi, data wawancara meliputi fasilitas asrama, sarana dan prasarana, profil, visi misi dan kurikulum yang di ajarkan dalam rangka penguatan agama Islam madrasah aliyah tersebut. (1)Keberadaan Ma’had di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi sangat membantu peserta didik dalam segi penguatan materi pendidikan agama Islam, antara Ma’had dan Madrasah yang ada di MAN 1 Banyuwangi terintegrasi baik dalam sistem dan menejamenya. (2) Dalam pengelolaan Ma’had, dalam segi akomodasi santri di kelola sendiri oleh ketua Pengurus Ma’had beserta jajaranya. (3) Antusias wali murid untuk memondokan anaknya di ma’had/pesantren sangat besar sekali, sehingga keberadaan asrama sudah tidak mampu menampung para santri.(4)

Aktifitasnya santri pulang dari sekolah jam 2.40, habis sholat berja’ah magrib madrasah diniyah, habis sholat isya’ kajian kitab klasikal seperti, fiqih wadek, kitab tankikhul qaul, arbain Nawawi, mustolah hadits, Bulugul Marom, Ta’lim muta’allim, jawahirul kalamiyah, jurumiyah, nurul yakin, fathul qorib, habis sholat shubuh berjama’ah membaca Alqur’an bersama-sama. (5) Para siswa yang tinggal di ma’had lebih berkualitas dalam pengetahuan dan pemahaman tentang agama Islam di bandingkan dengan para siswa yang tidak berma’had dan keunggulanya di atas rata-rata di kelas artinya banyak keunggulanya antara anak-anak yang berada di ma’had dan yang tidak di ma’had. (6) terintegrasinya Ma’had dengan Madrasah adalah untuk melengkapi dan menguatkan mata pelajaran PAI yang ada di formal, karena materi yang ada di formal tidak mencukupi dalam pendidikan pendidikan agama Islam, di ma’had adalah pengembangan dan penguatan materi PAI. (7) Metode pembelajaran di ma’had cara penyampaianya seperti metode yang ada di pondok pesantren pada umumnya yaitu dengan memakai metode , bandongan, sorogan dan wetonan. (8) model penguatan materi pendidikan agama Islam yang di implementasikan di dalam ma’had sangatlah efektif bagi para siswa yang menjadi santri di ma’had , karena bisa memahami agama Islam secara tajam dan mendalam. (9) Pendalaman pendidikan agama Islam yang ada di ma’had, adalah pedidikan yang sangat menunjang untuk memperdalam dan memperkuat pendidikan agama Islam, karena kajian kitab- kitab yang di ajarkan di Ma’had , seperti kitab kowaidus sorfi, kowaidul iklal,

kitab bidayatul bidayah, akklakul banat, nahwu sorof, kitab mabadi, dan kitab-kitab klasikal lainya.

b. Proses Model Penguatan Materi Pendidikan Agama Islam Berbasis Budaya Pesantren yang di laksanakan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Banyuwangi, data meliputi keberadaan madrasah yang ada di lingkungan pesantren dengan kurikulum yang berbeda.

(1)Model penguatan materi PAI berbasis budaya pesantren untuk menguatkan Agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi, sangat membawa dampak positif terhadap para siswa yang tidak berma’had dengan berbaurnya para siswa yang tidak berma’had dengan yang berma’had kelihatanya sama- sama baik semuanya. (2) Perbedaanya para siswa yang berma’had dengan para siswa yang berma’had pada pendalaman dan pengetahuan agama Islam secara mendalam lebih baik yang ada di ma’had. (3) Siswa yang nyantri di ma’had bisa memberi pengaruh yang positif kepada para siswa yang tidak berma’had contoh dalam kegiatan sholat dhuha di lanjutkan dengan kultum yang di laksanakan bersama-sama di masjid bisa memberi pengaruh kepada siswa yang tidak berma’had, demikian pula dalam pelaksanaan sholat dhuhur denga berjamaah para siswa dengan kesadaran diri juga ikut sholat dengan berjama’ah.(4) Model penguatan materi PAI berbasis Pesantren untuk menguatkan Agama Islam di Madrasah Aliyah sangat membawa dampak positif terhadap para siswa yang tidak berma’had dengan berbaurnya para siswa yang tidak berma’had dengan yang berma’had kelihatanya sama-sama baik semuanya, perbedaanya pada pendalaman dan pengetahuan agama Islam

secara mendalam lebih baik yang ada di ma’had. (5) Siswa yang nyantri di ma’had bisa memberi pengaruh yang positif kepada para siswa yang tidak berma’had contoh dalam kegiatan sholat dhuha di lanjutkan dengan kultum yang di laksanakan bersama-sama di masjid bisa memberi pengaruh kepada siswa yang tidak berma’had, demikian pula dalam pelaksanaan sholat dhuhur denga berjamaah para siswa dengan kesadaran diri juga ikut sholat dengan berjama’ah.

c. Proses Model penguatan materi PAI berbasis pengelolaan pesantren untuk menguatkan agama Islam yang di laksanakan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Banyuwangi, data meliputi nilai-nilai keberadaan madrasah dengan sistem nilai-nilai pesantren yang mengimpletasiakan kultur kepesantrenan. (1) Model Madrasah berbasis Pesantren untuk menguatkan matrei Pendidikan agama Islam di Madrasah Aliyah, yang sangat menonjol dalam kultur adalah sholat dhuha dengan berjamaah pada pagi hari dan di teruskan dengan kultum. (2) Demikian pula dengan sholat dhuhur dengan berjamaah para siswa sudah tidak di perintah sudah sadar dengan sendirinya untuk melaksanakan sholat berjamaah. (3) Sistem nilai madrasah berbasis pesantren yang ada di Madrasah Aliyah, yang sangat menonjol pada para siswa adalah akhlaknya, kenakalanya Cuma berada pada keterlambatan masuk sekolah, klau di suruh pak guru nurut, tawadhuk, semua siswa yang berma’had atau yang tidak berma’had akhlaknya baik semua. (4) Model penguatan materi PAI berbasis pengelolaan pesantren untuk menguatkan agama Islam di Madrasah Aliyah, yang sangat

menonjol yaitu masalah adab, terutama saat berhadapan dengan guru, dalam segi pakaian selalu menutup aurat, bertawadhuk, mau masuk sekolah bersalaman dengan para guru, bagi siswa putri bersalaman dengan para guru putri, bagi siswa putra bersalaman dengan para guru putra, budaya inilah yang di sebut sistem nilai madrasah pesantren. (5) Para santri yang berma’had, sudah persis seperti anak mondok di pesantren pada umumnya, nilai-nilai kepesantrenan di tanamkan di ma’had Alhidayah, cara berpakaian , adabnya kepada guru, pakainya ala santri melekat pada anak-anak santri, pakai sarung dan kopyah.

Pengumpulan data dengan cara bertanya secara bebas dan mendalam kepada responden guna mendapatkan informan, cara ini digunakan untuk mengetahui proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai pembangun penguatan materi pendidikan agama Islam bagi siswa di Madrasah Aliaya Negeri 1 Banyuwangi dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Kabupaten Banyuwangi, dengan menggunakan pedoman wawancara.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan (sejarah kehidupan, cerita, dan biografi), gambar, atau karya- karya monumental (patung dan film). Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen kualitatif.251 Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang model penguatan materi pendidikan agama Islam berbasis pesantren di Madrasah Aliayah Negeri 1

251 Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, 124

Banyuwangi dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Banyuwangi, dalam membentuk siswa yang religius, tanggung jawab dan peduli lingkungan.

Studi dokumentasi, yaitu mengumpulkan data yang berupa catatan melalui penelusuran catatan tertulis. Dokumen ini sebagai sumber data yang berfungsi untuk menguji dan menafsirkan pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai penguatan agama Islam dalam lembaga pendidikan yang menjadi obyek penelitian.252 Dokumen-dokumen yang diteliti meliputi :

a. Denah Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Srono Banyuwangi.

b. Dokumen tentang jadwal kegiatan Ta’lim ma’had Darul Muttakin MAN 1 Banyuwangi dan jadwal kegiatan ma’had Alhidayah MAN 3 Srono Banyuwangi.

c. Dokumen kegiatan santri ma’had Darul Muttakin MAN 1 Banyuwangi dan kegiatan satri ma’had Alhidayah MAN 3 Srono Banyuwangi.

d. Dokumen kegiatan belajar mengajar ma’had Darul Muttakin MAN 1 Banyuwangi dan ma’had Alhidayah MAN 3 Srono Banyuwangi.

e. Dokumentasi secara umum tentang lembaga yang di teliti seperti profil lembaga, visi, misi dan tujuan madrasah.

Data yang diperoleh dipahami dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, yaitu memahami arti peristiwa dan kaitannya dalam situasi tertentu.253 Muhajir memandang bahwa fenomena dipandang tidak sekedar

252 Moleong,Metode Penelitian Kualitatif,Op. Cit., 163.

253 Moleong,Metode Penelitian Kualitati., 9.

pengalaman tapi juga pengalaman yang mengimplisitkan penafsiran.254 Fenomenologi berusaha mencari bentuk manifestasi proses pembelajaran PAI sebagai penguatan agam Islam siswa. Pendekatan ini tidak hanya terlihat dalam mengidentifikasi serangkaian fenomena,tetapi juga membenarkan signifikansinya dengan melihat nilai pentingnya bagi kebermaknaan manusia.255