• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Penyakit dan Bentuk Penyembuhan dalam Islam

Dalam dokumen Kiai Tabib Khazanah Medical Islam Indonesia (Halaman 71-76)

9 ءالماب اهودربأف منهج

G. Sumber Penyakit dan Bentuk Penyembuhan dalam Islam

Secara komprehensif dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat memiliki sistem kesehatan dan penyembuhan sendiri. Oleh karena itu, Kleinmen menegaskan bahwa sistem penyembuhan merupakan suatu kumpulan ide, nilai serta praktik yang teratur dan berarti, terutama dalam konteks budaya tertentu dari mana sistem itu berkembang.

Dalam konteks budaya, sistem penyembuhan dapat dilihat pada dua kelompok: sistem modern yang diwakili budaya Barat dan sistem tradisional yang diwakili budaya yang bersifat personal.

Bentuk penyembuhan sistem tradisional tidak dapat lepas dari unsur upacara ritual, iringan musik, tari-tarian, mantera, ajimat, dan obat ramuan dari akar tumbuh-tumbuhan. Sedangkan pada sistem Modern Barat dilakukan secara komprehensif berbagai institusi seperti rumah sakit, labolatorium, tenaga medik dan lain sebagainya. Kedua sistem tersebut, menurut Foster dan Anderson, dapat diketahui pendekatan terhadap kategori utama dalam sistem penyembuhan yaitu sistem teori penyakit (desease theory system) dan sistem perawatan kesehatan (health care system).52

Teori penyakit menurut Foster mencakup kepercayaan terhadap kodrat kesehatan, sebab musabab penyakit, berbagai ragam obat dan teknik penyembuhan. Sebaliknya, sistem perawatan berkenaan dengan cara yang ditempuh oleh masyarakat untuk merawat orang sakit dan menggunakan ilmu pengetahuan mengenai penyakit untuk penyembuhannya.53

Secara sistematik Foster mengungkapkan beberapa fungsi teori penyakit. Pertama, menyediakan suatu dasar pikir penyembuhan yang rasional. Misalnya, apabila suatu penyakit disebabkan kemasukan agen (perantara roh halus), maka yang dilakukan oleh dokter dalam penyembuhannya ialah mengeluarkan agen tersebut secara baik-baik atau secara paksa. Logikanya, apabila suatu penyakit disebabkan oleh jenis bakteri, maka yang dilakukan oleh sang dokter ialah memberikan suntikan (obat) antibiotik agar bakteri tersebut dapat terbunuh atau tidak berbahaya.

Kedua, menerangkan mengapa seseorang harus terkena penyakit. Dalam sistem teori penyakit tradisional seorang tabib tidak hanya menerangkan apa yang telah terjadi, tetapi juga menjelaskan

52 T Sianipar , Dukun, Mantra dan kepercayaam Masyarakat (Jakarta: LIPI, 1998), 78

53 Ibid, 4.

mengapa hal itu terjadi pada diri seseorang pada waktu dan tempat tertentu, dan mengapa bukan orang lain yang sakit.

Ketiga, melakukan peran yang penting sebagai hukuman dan penguat nilai moral dan kultural. Dalam banyak kepercayaan, penyakit dapat dianggap sebagai dosa, hukuman bagi pelanggaran (taboo), dan berbagai bentuk perbuatan kutukan. Oleh karena itu, ketakutan terhadap penyakit tertentu dapat dianggap juga sebagai suatu kontrol sosial. Kepercayaan ini sangat kuat di kalangan masyarakat tradisional.

Keempat, memberikan dasar rasional untuk menghindari perbuatan yang berlebihan. Kepercayaan ini sangat kuat berakar pada masyarakat yang hidup dari hasil perburuan. Misalnya, membunuh binatang di luar batas keperluan atau menyakitinya akan menyebabkan orang yang melakukan itu terkena penyakit.

Lebih lanjut Foster selain mengungkap teori penyakit dengan pendekatan ekologi, juga meneliti sumber penyakit manusia pada fase tradisional maupun modern. Secara umum sumber penyakit Ia dibedakan menjadi dua kelompok yaitu pertama, penyakit karena faktor evolusi genetika. Munculnya penyakit karena mekanisme gen yang memberikan resistensi terhadap manusia, sebagai contoh penyakit anemia sel-sabit (sickle cell anemia) pada orang Amerika yang menulari orang-orang kulit hitam dibanding dengan kelompok ras lainnya.54 Penyakit tersebut ditandai oleh sel darah merah yang mengambil bentuk sabit (sickle), sebagian besar individu yang mengembangkan penyakit mati muda dan penyembuhannya belum diketahui. Lebih banyak lagi yang mati adalah orang kulit hitam yang menyimpan dirinya dalam ciri-ciri atau gen yang terpendam, yang mereka wariskan pada anak-anaknya tanpa menggangu kesehatannya. Kedua, penyakit karena faktor makanan (Physical agent). Terdapat beberapa bukti mengkonsumsi makanan tertentu menjadi sumber pemicu penyakit, sebagai contoh sebagian besar

54 Foster, Antropologi Kesehatan, 21

makanan yang diasap dikonsumsi oleh manusia, sehingga hal ini dianggap menjadi salah satu penyebab tingginya angka penderita kanker perut sebagaimana data yang diungkap oleh Dobos.55 Tidak dapat disangkal bahwa makan daging yang diasap adalah kenyataan sosial, jika upaya ditujukan untuk menghentikan produksi atau mengubah kebiasaan makan. Data lain tentang makanan menjadi sumber penyakit diungkap oleh Shinta, dokter bedah berkebangsaan Jepang yang tinggal di Amerika menyatakan bahwa mengkonsumsi susu secara kontinyu dalam jangka panjang menjadi penyebab penyakit diare dan penyakit pencernaan penduduk jepang dan Amerika56.

Dalam praktik penyembuhan Islam, banyak ragam bentuk dan klasifikasi penyembuhan berdasarkan kerangka epistemologi Islam:

aspek sumber referensi penyembuhan yang digunakan kiai tabib, cara dan teknik yang digunakan, hingga media yang dipakai dalam menjalankan praktik penyembuhan dan penyebab penyakit.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah membuat klasifikasi penyakit menjadi dua, berdasarkan penyebab penyakit yang disebutkan dalam al-Qur’ân.

Pertama, penyakit hati. Penyakit ini bersifat ruhaniyah yang menampakkan diri dalam bentuk keragu-raguan serta kecenderungan mengikuti syahwat yang berujung pada kesesatan, kedua penyakit tersebut disebutkan dalam al-Qur’ân surah al- Baqarah ayat 10.

ْاوُنَك اَمِب ُۢمِلَأ ٌباَذَع ۡمُهَلَو ۖا ٗضَرَم ُ َّللٱ ُمُهَداَزَف ٞضَرَّم مِهِبوُلُق ِف ١٠ َنوُبِذۡكَي

”Dalam hati manusia ada penyaki, lalu ditambah Allah penyakitnya.” 57

55 Fauzi Muzaham, Memperkenalkan Sosiologi, 223

56 Shinta, The Miracle of the Enzin,

57 al-Qur’ân, 2 (al-Baqarah): 10.

Juga surah al-Muddatstsir ayat 31:

ۚ ٗ

لَثَم اَذٰ َهِب ُ َّللٱ َداَر َ

أ ٓاَذاَم َنوُرِفٰ َك ۡلٱَو ٞضَرَّم مِهِبوُلُق ِف َنيِ َّلٱ َلوُقَِلَو

َّ لِإ َكِّبَر َدوُنُج ُم َلۡعَي اَمَو ُۚءٓاَشَي نَم يِدۡهَيَو ُءٓاَشَي نَم ُ َّللٱ ُّلِضُي َكِلَٰذَك ٣١ ِ َشَب ۡلِل ٰىَرۡكِذ َّلِإ َ ِه اَمَو َۚوُه

”Supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang- orang kafir (mengatakan) apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.” 58

Berkenanaan dengan orang-orang yang diajak untuk mengambil hukum dari Kitabullah dan Sunnah Rasul, mereka menolak dan berpaling. Allah berfirman dalam al-Qur’ân surah al- Nûr ayat 48-50:

٤٨ َنو ُضِرۡعُّم مُهۡنِّم ٞقيِر َف اَذِإ ۡمُهَنۡيَب َمُكۡحَ ِل ۦِ ِلوُسَرَو ِ َّللٱ َلِإ ْآوُعُد اَذوَإِ

ْآوُباَتۡرٱ ِمَأ ٌضَرَّم مِهِبوُلُق ِفَأ ٤٩ َينِنِعۡذُم ِهۡ َلِإ ْآوُتۡأَي ُّقَۡلٱ ُمُهَّل نُكَي نوَإِ

٥٠ َنوُمِلٰ َّظلٱ ُمُه َكِئٰٓ َلْوُأ ۡلَب ۚۥُ ُلوُسَرَو ۡمِهۡيَلَع ُ َّللٱ َفيِ َي نَأ َنوُفاَ َي ۡمَأ

”Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul mengadili di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (kedatangan mereka itu karena) dalam hati meraka ada penyakit, atau karena ragu- ragu atau karena takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka, sebenarnya itulah orang-orang yang zalim.” 59

Adapun penyakit syahwat, difirmankan oleh Allah dalam Al- Qur’ân surah al-Ahzab: 32.

ِلۡوَق ۡلٱِب َنۡعَضۡ َت َلَف َّۚ ُتۡيَقَّتٱ ِنِإ ِءٓاَسِّنلٱ َنِّم ٖدَحَأَك َّ ُتۡسَل ِّ ِبَّلٱ َءٓاَسِنَٰي ٣٢ اٗفوُرۡعَّم لۡوَق َنۡلُقَو ٞضَرَم ۦِهِبۡلَق ِف يِ َّلٱ َعَمۡطَيَف ٗ

58 al-Qur’ân, 74 (al-Muddaththir):31.

59 al-Qur’ân, 24 ( al-Nûr): 49-50.

”Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa, maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” 60

Kedua, penyakit jasmani.

Berkenaan dengan penyakit jasmani, Allah swt. berfirman dalam surah al-Nûr ayat 61:

ٞجَرَح ِضيِرَمۡلٱ َ َع َلَو ٞجَرَح ِجَرۡع َ ۡ لٱ َ َع َلَو ٞجَرَح ٰ َمۡعَ ۡلٱ َ َع َسۡيَّل

“Tidak ada halangan bagi buta, tidak pula bagi orang pincang tidak pula bagi orang sakit.” 61

Allah menyebutkan penyakit jasmani dalam haji, ketika perpuasa dan saat wudu, tentunya karena suatu rahasia tersembunyi yang amat menakjubkan yang menjelaskan kepada kita keagungan al-Qur’ân. Selain itu, formula penyakit jasmani yang disebabkan oleh unsur-unsur yang berbahaya dan mengeluarkan zat-zat berbahaya dari dalam tubuh. Allah swt. menjelaskan dalam firman-Nya:

Dalam dokumen Kiai Tabib Khazanah Medical Islam Indonesia (Halaman 71-76)