BAB 2 METODOLOGI
3. Studi Pustaka
3.4. Gambaran Pencatatan dan Pelaporan Kematian Ibu
3.4.1. Surveilans Kematian Ibu dan AMP (Audit Maternal Perinatal)
Pencatatan dan pelaporan data kematian ibu termasuk dalam pelaksanaan surveilans kematian ibu, AMP, dan pelaksanaan PWS KIA.Surveilans kematian ibu berfokus pada “respon”, yang merupakan tindak lanjut dari rekomendasi yang dihasilkan saat pengkajian melalui proses AMP. Pencatatan dan pelaporan data rutin dalam surveilans kematian ibu (SKI) yang merupakan kegiatan pemantauan yang dilakukan secara terus menerus menghubungkan sistem informasi kesehatan dan proses peningkatan kualitas secara berjenjang dimulai dari tahap bawah hingga pusat. Surveilans/ Maternal Death Surveillance and Response (MDSR) dilaksanakan dalam menjawab under-reporting bila dilakukan secara komprehensif (AMP biasanya hanya mencakup kematian maternal langsung).
Karena kematian maternal adalah kejadian sentinel untuk menilai quality of care, maka semua kematian maternal harus diperhitungkan.Surveilans kematian ibu dapat dilakukan jika ada registrasi vital (kelahiran dan kematian). Dalam
pelaksanaan ini, dapat menggunakan dan mengoptimumkan sistem pelaporan rutin yang sudah ada, misalnya PWS-KIA, dan juga sistem pelaporan rutin lainnya yang ada di lingkungan Kemenkes misalnya RL 3 dan 4, maupun di lintas sektoral (BKKBN, DepDagri)
Gambar 3.4 Buku Pedoman SKI
Surveilanskematian ibu terdapat buku pedomas surveilans kematian ibu sebagai acuan dalam pelaksanaan.Tujuan pelaksanaan surveilans kematian ibu:
1. Menyediakan data dan informasi yang akurat dan secara tepat waktu yang dapat digunakan semua tingkatan pemerintahan.
2. Mendapatkan besaranya trend dari AKI, gambaran distribusi kematian maternal menurut orang, tempat, dan waktu, serta mengidentifikasi faktor risiko dan determinan maupun sebab kematian ibu
3. Mendeteksi adanya cluster dari kematian ibu 4. Memonitor perilaku dan praktek kesehatan ibu
5. Memfasilitasi perencanaan kesehatan ibu terutama untuk menanggulangi kematian ibu di daerah-daerah dengan angka kematian yang tinggi
6. Menerapkan pembahasan analitik mengenai kasus maternal secara teratur dan berkesinambungan dalam wilayah Kabupaten/Kota guna mengidentifikasi penyebab kematian dan mengkaji faktor-faktor penyebab kematian yang dapat dicegah
7. Menentukan rekomendasi,
intervensi,strategipembelajaran.danpembinaanbagimasing-masingpihakterkait dalam upaya mengatasi masalahyangditemukan dalam pembahasankasus.
8. Mengembangkan mekanisme pembelajaran,pembinaan,pelaporan, dan perencanaan yang terpadu antaradinaskesehatan Kabupaten/Kota, RS pemerintah danswasta,puskesmas, RB, BPS, organisasi profesi, danlintassektoral.
9. Mengembangkan mekanisme pemantuan, evaluasi,danpengembangan terhadap rekomendasi yangdisepakati.
10. Memperoleh kesepakatan pemecahan masalah yangpalingsesuaiditerapkandimasing-masingwilayahKabupaten/Kota atas penyebab timbulnya morbiditasataumortalitas maternal
Gambar 3.5 Langkah-Langkah kegiatan surveilans
Siklus MDSR/SKI meliputi kegiatan/program AMP yang telah lama berjalan di Indonesia, dengan menambahkan skrining terhadap kematian Wanita Usia Subur (15-49 tahun) untuk menangkap kematian ibu yang lolos dari kegiatan AMP (untuk mengatasi under-reporting) yang kemudian dilakukan skrining. Skrining dilakukan dengan mencatat semua kematian WUS yang ada di desa, baik yang meninggal di fasilitas kesehatan maupun di rumah dengan sebab apapun.Saat ini Kemenkes telah melakukan ujicoba MDSR di 2 kabupaten selama 2 tahun (Sampang dan Lombok Tengah) dimana ditambahkan kegiatan validasi dan rekapitulasi kematian. Pelaksanaan dilakukan berjenjang di tingkat provinsi, kabupaten, puskesmas, dan desa.
1. Pencatatan
Proses identifikasi dan notifikasi langkah awal dalam menghasilkan data yang valid dari sumber-sumber kematian. Pengumpulan data dengan melalui sistem pencatatan dan pelaporan seluruh kematian wanita usia 15-49 tahun yang
merupakan kematian ibu baik langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat/kader ke RT/RW/ Bidan di Desa, perawat atau petugas kesehatan lainnya), Petugas KB Lapangan (PLKB) bahkan oleh Kader Kesehatan dan Dukun. Jika ditemukan kasus kematian dengan kehamilan pada usia<15 tahun dan
>49 tetap dilakukan pengkajian seperti kelompok WUS. Kemudian dilakukan skrining dan dipastikan kematian tersebut merupakan kematian ibu atau bukan.
Apabila terjadi kematianWUS di tingkat masyarakat, maka masyarakat/
keluarga/kader melapor ke RT/RW dan bidan didesa dalam waktu 3x24 jam menggunakan Form Pelaporan Kematian WUS(harus tetap terisi) atau melalui SMSke bidan didesa/ keluarahan dan sesuai kesepakatan masyarakat setempat.
Setelah mendapatkan laporan kematian WUS, Bidan di Desa akanmembuat daftar kematian WUS dengan menggunakan Form Daftar Kematian WUS, kemudian melakukan skrining terhadap kematian WUS yang dicurigai sebagai kematian ibu. Pelaksanaan skrining dengan melakukan wawancara kepada keluarga WUS yang meninggal menggunakan Form MAMA- IN untuk memastikan apakah kematian WUS termasuk kematian ibu atau bukan.Apabila kematian WUS termasuk kematian ibu, bidan di desa segera melapor ke Puskesmas ( 3x24 jam) menggunakan Form Pemberitahuan Kematian (death notification). Untuk kasus kematian WUS yang dicurigai termasuk kematian ibu tetapi belum dapat dipastikan, dapat disiapkan datanyadan diajukan pada pengkajian kasus AMP untuk dipastikan statusnya. Hal ini dilakukan sebagai alat pencatatan dan pelaporan kegiatan MDSR, memonitor data potensi dan penyebabnya, perkembangan kegiatan dan hasil pelayanan program kesehatan ibu seluruh Indonesia.
Jika kematian terjadi di fasilitas kesehatan dalam
waktu3:x24jammelaporkePuskesmasmenggunakan Form
PemberitahuanKematian. Fasilitas kesehatan tersebut kemudian melaporkan kepada puskesmas penanggung jawab wilayah untuk kemudian dicatat,dilaporkandandilakukanotopsiverbaldenganmenggunakanformOVM kepadakeluarga(prosesAMP dimulai).
Gambar 3.6Flow/Alur Skrining Kematian Ibu di Komunitas
Gambar.3.7 Flow/Alur Skrining Kematian lbu di fasilitas pelayanan kesehatan Kematian WUS di seluruh Bangsal RS (penyakit dalam,
kebidanan, ruang observasi, ruang isolasi, ruang bedah, UGD, ICU, dll)
Tim AMP RS Skrining
Gambar 3.8Alur Skrining Kematian lbu di Rumah Sakit
Gambar Mekanisme Kerja AMP
Pengumpulan datakematianibuadalahbagiandarikegiatanAMP(Audit MaternalPerinatal)yangtelahdilaksanakan.Langkah-langkah pengumpulan data yaitu mengkaji/audit/review atau analisis kasus kematian maternal dan perinatal dan analisis data secara agregat dan interpretasi hasil.Respons/tindakan korektif dari analisis data kematian yaitu penyusunan laporan tahunan AMP (kajian kasus dan analisis data agregat); diseminasi hasil AMP di forum dengan audiens yang luas untuk pembelajaran dan mendapatkan rekomendasi guna memantapkan tindakan korektif/respons, Monitoring dan evaluasi terhadap input, proses, output
dan outcome upaya
AMP.Padadasarnyarekomendasiyangdibuatmelaluireviewharuslah ditindak- lanjutimenjadisuatutindakan(kegiatan).Pelaksanaan AMP berintegrasi dengan surveilans kematian ibu/MDSR (Maternal Death Surveilance and Response) bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan KIA di tingkat kabupaten/kota. AMPmelakukan kegiatan penelusuran sebab kematian
3x24 jam Form Pemberitahuan
Kematian
Kematian Ibu
Dinas Kesehatan Kab/Kota
Tiap Awal Bulan Form Daftar Kematian
Ibu
ataukesakitan ibu dilakukan secara berjenjang mulai dari Bidan desa (mengisi data registrasi kohort, mengidentifikasi kematian,skrinning kematian)→puskesmas (merekapitulasi kematian ibu berdasarkan data PWS KIA/Kohort ibu/berdasarkan kematian ibu, melakukan penyelidikan epidemiologi surveilans kematian ibu dnegan form OVM) / RS (identifikasi dan notifikasi kematian ibu dalam 24 jam, mengumpulkan data kematian ibu di RS, menskrinnning kematian WUS di RS, pengisian form RMM koordinasi dengan bidan coordinator)→kabupaten/kota (membentuk jejaring/sistem pelaporan kematian ibu di seluruh faskes, laporan bulanan kematian ibu, membentuk tim AMP petugas surveilans dan petugas data, membentuk tim pengkaji, malaksanakan review, membuat rekomendasi, membentuk komite ibu di tingkat kabupaten, laporan data kematian ibu berkala ke pusat dan provinsi 3 bulanan dan 6 bulanan ke provinsi hasil review AMP beserta rekomendasi dan tindak lanjut, mengirimkan berkas AMP ke provinsi)→provinsi (membentuk sistem pelaporan kematian ibu di provinsi, tim AMP provinsi, membentuk komite kematian ibu di tingkat provinsi, review AMP di tingkat provinsi dari kabupaten/kota, lapora data berkala , membuat bulletin KIA yang memuat pencapaian dan permasalahan provinsi)→Pusat (mengkompilasi data kematian ibu yang dikirim oleh seluruh provinsi di Indonesia, membentuk komite kematian ibu di Pusat, mendiseminasikan hasil ke pemangku kepentingan, mengembangkan instrument dan melakukan pemantauan dan evaluasi).
Pelaksanaan AMP yaitu mengumpulkan data kasus kematian maternal dan perinatal, mengkaji/audit/review atau analisis kasus kematian maternal termasuk didalamnya analisis data secara agregat, interpretasi hasil dan; dan rekomendasi dan respon (tindak lanjut hasil rekomendasi), emnentukan klasifikasi penyebab penyakit.Dalam pelaksanaan AMP yaitu semua ibu meninggal di audit yang Dalam AMP yang dilihat faktor yang tidak hanyak terkait faktor medis tetapi juga manajemen dan sosial budaya.Pembahasan kasus/audit klinik kematian pertama kali dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tempat kematian sesegera mungkin (dalam tiga hari setelah kejadian), sesuai dengan prosedur standar yang diterapkan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan.AMP tindak lanjut rekomendasi dilaksanakan selama 3 bulan/6 bulan.
Indikator yang dianalisis data agregatnya akan memberikan gambaran tentang besaran masalah kematian maternal, penyebab spesifik kematian (tingkat fatalitas (case fatality rate) menurut penyebab utama kematian (eklampsia, perdarahan postpartum, infeksi, dsb), proporsi kematian yang dapat dicegah. Ada beberapa jenis analisis yaitu analisis deskriptif, analisis penyebab medis kematian, faktor non-medis yang melatar-belakangi kematian dan kemungkinan kematian untuk dicegah; analisis kecenderungan (trend), analisis tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional untuk mengidentifikasi pola dan trend di suatu wilayah, yang dapat digunakan untuk advokasi tindakan/aksi spesifik di wilayah tertentu.
Aspek penting analisis data agregat sebagai bagian dari kegiatan surveilans adalah menerjemahkan data menjadi informasi penting untuk pengambilan keputusan. Hal ini akan memberikan arahan dalam melakukan aksi/intervensi spesifik yang efektif dalam mengatasi faktor penyebab kematian maternal. Monitoring dan evaluasi upaya AMP diperlukan untuk menilai laporan yang diterima, memastikan efektivitas upaya yang dilakukan.danperlu dilakukan kegiatan pemantauan secara teratur untuk menilai kondisi di berbagai tingkatan.
2. Pelaporan
Untuk menjamin semua kasus kesakitan dan kematian maternal terlaporkan, diharapkan semua bidan di desa mengisi format PWS KIA, formulir LB3 dan Register Kohort Ibu secara berkesinambungan. Laporan yang disampaikan oleh bidan di desa nantinya akan direkapitulasi di tingkat puskesmas. Di samping itu, kematian yang terjadi di RS Kabupaten/Kota, baik swasta maupun pemerintah, diharapkan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Gambar Mekanisme kerja kegiatan AMP: Alur pencatatan dan pelaporan
Gambar 3.9Alur Formulir dan Data Kematian Maternal
Gambar 3.10Alur Pelaksanaan Pengumpulan Data Kematian Maternal Keterangan:
Merupakan alur pengumpulan data menggunakan formulir RMM dan RMP, RMMP dan RMPP, serta OVM dan OVP.
Merupakan alur laporan kematian dan rekapitulasinya.
Merupakan alur penyampaian data yang sudah lengkap untuk dikaji.
Di tingkat provinsi, Tim AMP Provinsi melakukan kompilasi laporan bulanan dari Dinkes Kabupaten/Kota dan laporan kasus yang dikaji di tingkat kabupaten, mengumpulkan laporan yang sama dari RS di tingkat provinsi, dan melakukan pertemuan AMP. Kompilasi semua laporan kematian maternal dari tingkat kabupaten/kota dan (di kemudian hari) kematian di RS tingkat provinsi dikompilasi. Selanjutnya, setiap triwulan laporan dikirimkan ke Pusat: Direktorat Kesehatan Keluarga, Ditjen Kesehatan Masyarakat dan Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan , Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI.
3. Sistem Aplikasi
Surveilans kematian ibu pengaplikasiannya dengan memasukkan data dan pelaporan secara manual dan elektronik. Pengumpulan data secara manual yaitu menggunakan formulir-formulir yang harus diisi secara manual yaitu ormulir pelaporan (form kematian WUS, form daftar kematian WUS, form MAMA-IN, Informasi kematian, daftar kematian di fasilitas kesehatan, rekapitulasi kematian di Dinkes Kab/Kota), formulir data (Otopsi verbal, Rekam Medis kematian, Rekam medis kematian perantara), formulir analisis (pengkaji, ringkasan pengkaji).
Mekanisme pelaporan secara manual yaitu sebagai berikut.
Gambar 3.11Alur Pelaksanaan Pengumpulan Data Kematian Maternal secara Manual
Gambar 3.12Formulir Daftar Kematian, Rekapitulasi Kematian, Informasi Kematian Pelaporan kematian dimulai dengan Informasi Kematian (IK) yang dapat diperoleh dari berbagai pihak, antara lain: Kader Kesehatan, Bidan di Desa, Bidan praktik mandiri, Perawat di Puskesmas pembantu, Perawat/ Bidan di Puskesmas.
Laporan ke Fasyankes (Puskesmas/ Rumah Sakit) tentang suatu kematian ibu/
maternal maksimal 3 hari dari saat kematian.Di Fasyankes (Puskesmas/ RS) kumpulan IK tersebut dirangkum dalam Daftar Kematian (DK).DK dilaporkan ke Dinkes Kabupaten/Kota setiap bulan bersama laporan bulanan lainnya .di dinkes
Rekapitulasi Kematian
InformasiKematian
kabupaten/kota kumpulan dk tersebut dirangkum dalam rekapitulasi kematian (rk).
seharusnya rk tersebut dilaporkan ke dinkes propinsi setiap bulan bersama Laporan Bulanan lainnya, namun Dinkes Kabupaten/Kota tidak melaporkan ke Dinkes Propinsi secara teratur tiap bulan.
Pelaporan kematian secara manual ini memerlukan proses yang lama agar data sampai ke Kementerian Kesehatan, relatif mahal karena memerlukan pencetakan/ fotokopi formulir dan biaya kurir, informasi yang diperoleh bersifat terbatas, karena belum dilakukan pemilahan dan penyajian belum diurutkan.
Gambar 3.13Alur Pelaksanaan Pengumpulan Data Kematian Maternal Elektronik
Selain secara manual, pengumpulan data secara elektronik juga dilaksanakan yaitu petugas kesehatan memasukkan data kematian ibu dari formulir melalui aplikasi/ website yaitu komdat kesga dimana data secara real time langsung terlihat secara agregrate.Pengisian data melalalui komdat dilaksanakan oleh setiap jenjangnya, yang pada pusat dan provinsi akan diketahui rekapitulasi hasilnya.
Saat ini sedang dikembangkan usulan dari POGI (Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) yaitu proses Elektronik Digital dalam sebuah aplikasi pada awal tahun 2019 yaitu Maternal Death Notification (MDN) merupakan data individu secara realtimedimana data bisa diakses dimanapun, kapanpun oleh pihak yang mempunyai hak akses di berbagai tingkat secara realtime dan memanfaatkan teknologi informatika terkini (sms, internet/web, aplikasi smartphone, 3G/4G) sehingga mempermudah pelaporan dini dan akurasi data, serta mempermudah analisis dan pengambilan keputusan bersumber data. MDN merupakan aplikasi Aplikasi untuk pelaporan kematian maternal yang cepat (3 hari) dan terstruktur (kategorisasi & regionalisasi).Data ini up to date setiap 10 menit dan langsung masuk ke Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenkes, kemudian diregionalisasi, kategorisasi dan verifikasi.Laporan yang diterima oleh pelapor dalam satu kab/kota yaitu jumlah kematian, tanggal kematian, nama ibu, data kematian dan proses pelaporan.Terdapat 4 peran pengguna yaitu pelapor,
verifikator, penerima dan administrator.Jenis pengguna berpengaruh terhadap pilihan akses dan hak akses (Setyahadi, 2018).Verifikator dilakukan oleh Kabupaten/Kota dalam melaporkan dan memverifikasi data apakah data sudah terisi benat atau belum agar tidak terjadi missing data maupun double data, yang kemudian dibuat sebuah laporan kematian yg dikirim kembali melalui smartphone dan website berupa laporan di komdat lalu penerima menerima hasilnya.
Pihak yang mengisi MDN maupun komdat yaitu bidan koordinator, puskesmas, dan pihak RS sesuai kesepakatan di setiap pelayanan. MDN/ Maternal Death Notification baru disosialisasikan di 34 provinsi dimana nantinya dinas provinsi mensosialisasikan kembali petugas-petugas kesehatan yang terkait kematian maternal di Kab/Kota, RS, Klinik dalam pencatatan dan pelporan melalui MDN. Namun, untuk sementara ini masih menggunakan website komdat kesga yang nantinya data akan terintegrasi jadi data agregrate.
Kemenkes hanya bertugas melihat atau memeriksa rekapitulasi data agregrate yang masuk sudah lengkap dari provinsi.Analisis di pusat/kemenkes dilakukan di internal pusat untuk melihat provinsi yang mengalami kenaikan maupun penurun kematian ibu, sehingga dapat dibuat rekomendasi.Kemenkes/Pusat melakukan feedback dengan follow up/ telp provinsi melalui web/wa untuk melakukan pengisian data yang kosong dan minta keterangannya.Selain itu, provinsi melakukan feedback ke kab/kota dimana nanti ditindak lanjuti melalui rekomendasi.
Pencatatan dan pelaporan ini dilakukan sistem berjenjang maka ada tenggang waktu yg diberikan, namun dengan adanya MDN setiap hari terupdate datanya dan jika semua Indonesia sudah melaksanakan maka data akan lengkap dan individu tahu. Pelaporan dilakukan berjenjang dari puskesmas ke kabupaten pada tanggal 5 paling lambat data terlaporkan, dari Kabupaten/Kota ke provinsi dilakukan pada tanggal 10, dari provinsi ke pusat pada tanggal 15. Kematian ibu dilaporkan setiap 3 bulan dan kelengkapan datanya di triwulan 1 2 dan 3 masih belum lengkap, karena banyak provinsi yang baru memasukkan data untuk bulan ini dibulan selanjutnya, dan biasanya diakhir tahun data baru lengkap di trimester 4 tergantung geografis.
Pemberian feedback dari pelaporan biasanya dilakukan dari wa grup data yang khsuus data untuk menanyakan perihal ketidaklengkapan data atau meminta provinsi untuk mengecek data yang salah, melalui paparan dan laporan umpan balik yang diberikan ke provinsi. Dari hasil analisis, dibuatkan feedback yaitu profil kesehatan, membuat tren grafik setiap provinsi untuk melihat kematian ibu yang tertinggi dan terendah setiap provinsi.
Gambar 3.14 Template MDN
Maternal Death Notification
Maternal Death Notification MDN
Gambar 3.15Mekanisme MDN
Gambar 3.16Menu menerima laporan 4. Manajemen Data dan Pemanfaatan Data
Manajemen data dilakukan pengambilan data di komdat dalam bentuk excel, yang kemudian di cek kembali atau dilakukan proses cleaning yaitu mengecek data yang kosong maupun double data, atau ketidaksinkronan jumlah kematian dan jumlah penyebabnya. Setelah data sudah baik maka dilakukan
analisis sesuai tujuannya yang mana bisa diolah menjadi trend grafik/maps atau lainnya. Hasil dari analisis menjadi sebuah informasi yang bisa digunakan untuk paparan,advokasi, pelaksanaan program dari hasil. Namun terkadang proses manajemen belum bisa berjalan jika masih ada data yang kosong sehingga harus menunggu semua data lengkap.
Pemanfaatan data digunakan untuk analisis untuk dihasilkan suatu informasi yang bermanfaat untuk kegiatan advokasi, penyelenggaraan kegiatan/program, kebijakan, monev. Kementerian kesehatan memanfaatkan data yang dianalisis dalam pelaksanaan program, monev per provinsi dan per kab/kota, rekomendasi.
3.5. Gambaran Sistem Pencatatan dan Pelaporan Data Rutin Kematian Ibu di