BAB II KONSEP IJA<RAH DALAM ISLAM
C. Syarat dan Rukun Ija>rah
atau batas waktu yang ditentukan ataupun tidak menunda nunda pemberian upahnya.33
b. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi:
َل َ ِ ْيََِ ْنَ
ِ َ ِْاا ِ َ َ ْنَ ِ ِل َ ُنْ ُ َ َا َلِ ُس : َل َ َْا .
َمَ َتْاَا :
ً َ ِيَ ُهْ ُْ َا ُهَمَ َا َمَ َس َو ِهْيَ َ ُها َ َص ِها ُلْ ُسَر ْنِ َِْْ َ ِ ُهَل َرَ َ َا .
ِ َ َ ِه ِجاَرَخ ْنِ ُهْ َ اْ ُ َضَ َْا ُهُ ْهَا َمَ ُ َو .
َل َ َو . ْمُتْْيَواَ َت َ َلَضْاَا ْنَا :
ْمُ ِااَوَ ِلَ ْ َا ْنِ َ ُه ْوَا ُ َ َ ِْاا ِهِ
Artinya : “Dari Humaid, ia berkata: “Anas bin Malik pernah ditanya tentang pekerjaan membekam, maka dia berkata: Rasulullah pernah berbekam, dan membekam beliau adalah Abu Thalhah. Beliau memerintahkan agar Abu Thalhah diberi dua sha‟makanan dan berbicara kepada keluarganya, maka mereka membebaskan pajaknya. Kemudian beliau bersabda:
Sebaik-baiknya obat yang kamu gunakan untuk berobat adalah berbekam atau berbekam adalah obat paling baik bagimu”.34
3. Landasan Ijma’
Semua ulama sepakat tidak ada ulama yang membatalkan kesepakatan ini, sekalipun ada beberapa orang diantara mereka yang berbeda pendapat, tetapi hal itu tidak dianggap.35
C. Syarat dan Rukun Ija>rah
Sebagaimana pada transaksi yang lain, dalam ija>rah terdapat syarat yang harus dipenuhi agar transaksi ija>rah menjadi sah yaitu:
a. Syarat aqid (orang yang melakuakan akad)
Menurut ulama’ Hanafiyah aqid (orang yang melakukan akad) disyaratkan harus berakal, sehat dan mumayiz (minimal tujuh tahun), serta tidak disaratkan balig. Akan tetapi, jika barang miliknya sendiri, akad ija>rah yang dilakukan anak yang baru munayiz di pandang sah bila diizinkan walinya.
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tamyiz adala syarat bagi orang yang melakuan ija>rah dan jual beli, sedangka balig adalah syarat menyerahkan, dengan demikian akad ija>rah yang dilakukan oleh anak yang baru munayiz adalah sah tetapi tergantung atas keridaan walinya.
Ulama Hanabilah dan Shafi’iyah menyaratkan orang yang berakad harus mukalaf, yaitu balig dan berakal, sedangkan anak yang mumayiz belum dapat dikatagorikan ahli akad.36
b. Syarat ma’qu>d ‘alaih
Ma’qu>d ‘alaih dalam objek transaksi, sesuatu dimana transaksi dilakukan di atasnya, sehingga akan terjadi implikasi hukum tertentu, atau sesuatu yang dijadikan perjanjian dalam ija>rah ini meliputi ongkos dan manfaat.
Menurut ulama Hanafiyah bahwa ongkos ada tiga macam yaitu: mata uang, berupa barang-barang yang ditukar, ditimbang dan
36 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, 175-198.
dihitung, dan berupa barang dagangan. Sedangkan manfaat yang dijelaskan masanya, menjelaskan pekerjaan, dan menunjukkan pada hal-hal tertentu.
Menurut ulama Malikiyah tentang onkos hendaknya disyaratkan berupa barang yang suci dan bisa diambil manfaatnya, dapat diserahkan dan dapat diketahui. Sedangkan untuk manfaat disyaratkan beberapa macam syarat yaitu: manfaat itu berharga, manfaat itu bisa diserahkan, dan manfaat itu bisa dipenuhi tanpa menghabiskan barang yang disewakan.
Menurut ulama Shafi’iyah tentang ongkos atau upah yang tidak tentu harus memenuhi kadarnya, jenisnya, macam dan sifatnya, jika upah ditentukan, maka disyaratkan bisa dilihat. Sedangkan manfaat itu harus disyaratkan: manfaat itu mempunyai harga, manfaat itu bukan benda yang menjadi tujuan perjanjian sewa dan pekerjaan, serta manfaat sama-sama diketahui.
Menurit ulama Hanabilah ongkos atau upah harus jelas, jadi tidak sah persewaan atau pemburuhan jika tidak dijelaskan mengenai upahnya. Seadangkan manfaat harus diketahui seperti halnya jual beli, manfaat tersebut dapat diketahui dengan dua hal yaitu: dengan adat kebiyasaan yang berlaku dan dengan mensifati manfaat.37
c. Syarat sighat (ijab kabul)
37 Ibid, 175-198.
Tentang syarat sighat atau ijab kabul maka sah dengan lafal apapun atau ucapan yang dengan ucapan itu tujuan orang yang melakukan perjanjian dapat dimengerti. Yang demikian itu umum dalam berakad, karena yang dijadikan dalam ijab kabul adalah yang dapat dipahami oleh dua orang yang melakukan akad sehingga tidak menimbulkan keraguan dan pertentangan.
Sementara itu syarat sah ija>rah menurut Sayid Sabiq adalah sebagai berikut:
1) Kerelaan kedua pihak yang melakukan akad.
2) Mengetahui manfaat dengan sempurna barang yang diakadkan, sehingga mencegah perselisihan.
3) Hendaknya barang yang menjadi objek transaksi dapat dimanfaatkan kegunaanya menurut shara’.
4) Dapat diserahkannya sesuatu yang disewakan berikut kegunaan (manfaat).
5) Bahwa manfaat adalah hal yang mubah, bukan yang dilarang,38
2. Rukun Ija>rah
Akad ija>rah memiliki beberapa rukun yang telah di tentukan oleh beberapa ulama. Guna menentukan sahnya akad tersebut yaitu:
a. Sighat yaitu ijab kabul
38 Ibid, 19-20
Yang dimaksud dengan sighat transaksi ija>rah adala sesuatu yang digunakan untuk mengungkapkan maksud muta’a>kidain, yaitu berupa lafal atau yang mewakilinya. Jika muta’a>kidain mengerti maksud lafal sighat maka ija>rah telah sah apa pun lafal yang di gunakan, karena syarak tidak membatasi lafal transaksi, tetapi hanya menyebut secara umum.
b. Muta‟a>kidain (dua orang yang melakukan transaksi)
Yaitu orang yang melakukan akad sewa menyewa atau upah mengupah. Mu‟jir adalah orang yang memberikan upah atau yang menyewakan, musta‟jir adalah orang yang menerima upah dan yang menyewa sesuatu. 39
c. Ma’qu>d ‘alaih (manfaat yang ditransaksikan)
Ma’qu>d ‘alaih adalah jasa atau barang yang menjadi objek akad ija>rah. Secara umum, batasan jasa atau manfaat yang mubah diakadi ija>rah adalah, setiap barang yang secara syarak legal dimanfaatkan, memiliki nilai ekonomis, tanpa mengurangi fisik barang.40
d. Upah
Upah adalah sesuatu yang wajib diberikan oleh penyewa sebagai konpensasi dari manfaat yang di dapat. Semua yang dapat
39 Abdullah bin Muhammad Ath-Thayar dkk, Ensiklopedia Fiqih Muamalah dalam Pandangan 4 Madzhab, Terj. Miftahul Khairi, 316-317.
40 Tim Laskar Pelangi, Metodologi Fiqih Muamalah (Kedir: Lirboyo Press, 2013), 279.
digunakan sebagai alat tukar dan jual beli boleh untuk pembayaran dalam ija>rah 41
Menurut ulama Hanafiyah, rukun yang dikemukakan oleh jumhur ulama diatas, bukan rukun tetapi syarat. Sebagai sebuah transaksi (akad) umum ija>rah baru dianggap sah setelah memenuhi rukun dan syaratnya.42
D. Macam-macam Ija>rah