• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap-Tahap dakwah Tuan Guru Dalam Proses Transformasi

BAB IV TUAN GURU DAN PROSES TRANSFORMASI SOSIAL DALAM

C. Tahap-Tahap dakwah Tuan Guru Dalam Proses Transformasi

Tahapan dakwah dalam interaksi sosial tuan guru di Lombok, menurut pengamatan penulis terbagi menjadi beberapa tahapan sebagai berikut:

Pertama, Adanya mukhâtabah (berbincang-bincang) dan muwâjahah (tatap muka) dengan mad‟u secara dekat dan intens. Hal ini mempermudah terbukanya berbagai macam permasalahan dan problem yang tidak mungkin dilakukan ketika menghadapi orang banyak.

Di antara konsep keberhasilan dakwah para tuan guru di Lombok dalam pengembangan keagamaaan, dan pemberdayaan adalah penguasaan medan dakwah dan karakter komunikan atau jamaah pengajian. Hal ini menjadi titik tolak tuan guru untuk memberikan materi atau isi pesan pengajian yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kecenderungan masyarakat sebagai objek pengajian.

314 Lihat buku-buku berikut ini dan bandingkan, Munzir Suparta dan Harjani Hefni (editor), Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2003), cet.1.h.50, tentang Metode Persuasive dalam dakwah, dan dalam buku ini mengupas tuntas tentang pengertian konsep, strategi, metode, sarana dakwah. Lihat juga buku, syekh Musthafa Masyhur, fiqh al-Dakwah,(Jakarta: al-I'tisam, 2000)ed.terj.

h.40. lihat juga, Sjuhudi Siradj, Ilmu Dakwah Suatu Tinjuan Metodologi, (Surabaya: Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel,1989), h.23-24..lihat juga, buku yang paling lengkap menurut hemat penulis yang memuat tentang konsep, strategi, metode dan prinsip-prinsip dakwah,(Syekh Muhammad Abu al-Fath al- Bayanuni, al-Madkhal Ila ILmi al-Dakwah, (Madinah: Muassasah al-Risalah,t.tp ) h. 12-dst.

315TGKH.M.Zainul Majdi, Strategi,h. 157. Wawancara pribadi dengan tokoh-tokoh tersebut pada tgl 2-6 April 2008.

Penulis melihat pendekatan seperti ini menjadi suatu yang lazim harus dilakukan oleh siapa pun yang akan memberikan pemahaman kepada masyarakat, terutama para tuan guru. Pengamatan penulis di berbagai tempat pengajian yang diselenggarakan oleh ketua Jama‟ah pengajian yang dihadiri oleh Tuan guru, seperti TGH. Mahmud Yasin, TGH. Hudatullah, TGH. LL. Anas Hasry, TGH. Badri, TGH.

M.Sibawaihi, TGH. Hazmi Hazmar, TGH. Yusuf Ma‟mun, TGH, Tajuddin Ahmad, TGH. Ruslan Zain, rata-rata memberikan kesan yang positif terhadap materi dan konten dari pengajian yang disampaikan. 316

Islam transformatif lahir sebagai gerakan pemikiran keislaman yang bertujuan untuk melibatkan agama dalam proses kehidupan sosial manusia, yang selama ini diabaikan oleh sebagian kelompok agama yang hanya mengedepankan ajaran Islam yang bersifat ritualistik-formalistik, sehingga hanya melahirkan kesalehan individual semata, namun kering dari kesalehan sosial. Dalam arti bahwa jika seorang hamba telah melakukan kewajiban ritual dalam bentuk ibadah wajib maupun sunat secara teologis-vertikal, maka seakan-akan hamba tersebut sudah melakukan kebaikan yang besar dan meras tidak memiliki kewajiban yang bersifat muamalah atau sosial horizontal.

Upaya ke arah tersebut, tuan guru dituntut untuk terus berinteraksi dengan masyarakat, bermukhâtabah/ bermuwâjahah dalam rangka pengembangan dan pemberdayaan masyarakat ke arah yang lebih baik. Tanpa ada kontak sosial (mukhâtabah/ muwâjahah), program sekecil apapun tidak akan bisa terrealisasikan dengan oftimal.

Kedua, Istimrâriyah yaitu terjaganya keberlanjutan dakwah, khususnya di saat-saat sulit dan dalam kesempitan. Dalam konteks ini dakwah tuan guru bersifat kontinuitas bukan hanya dakwah musiman, sebab dengan adanya dakwah istimrariyah, kesinambungan akan berorientasi kepada pendampingan, dan

316 Seperti penuturan salah seorang ketua jama‟ah pengajian, atas nama Ust. Sumairi Dahlan;

Kita di jamaah kecamatan Keruak, selalu mengundang tuan guru-tuan guru yang mengerti kondisi masyarakat, mengerti kemauan masyarakat. Sebab jika kita undang tuan guru yang kurang diminati oleh masyarakat, maka akibatnya kurang diperhatikan dalam hal penyampaian dakwahnya nanti. Maka hal pertama yang menjadi pedoman untuk mengundang tuan guru adalah mengenal medan dakwah yang menjadi sasaran pengajiannya dan rata-rata tuan guru tersebut mengenal audiennya(Sumairi Dahlan, SPd, ( 37 Tahun, Guru Madrasah Tsanawiyah NW Penendem, dan Guru SMP 1 Keruak, Pengurus Masjid Miftahussa‟adah Penendem Kec. Keruak Lombok Timur, Wawancara Pribadi, TGl 11 Januari 2009.)

pendampingan itu merupakan bagian dari cara pemberdayaan masyarakat yang paling tepat.

Ketiga, Berulang-ulang (tikrariyah) yaitu dapat dilakukan setiap saat tanpa menunggu momen tertentu.

Pendekatan yang dilakukan terhadap objek dakwah juga harus berbeda, ada kalanya da‟i juga harus menyesuaikan dengan bagaimana kedekatan atau seberapa kenal da‟i dengan mad‟u. Pada dasarnya da‟i tidak perlu mengubah cara berkomunikasi atau bersikap kepada mad‟u. Karena perubahan yang terjadi justru bisa kontraproduktif terhadap dakwah yang dilakukan. Jadilah diri sendiri, dan tentukan pola pendekatan yang paling tepat dengan tipikal diri sendiri. Seorang mad‟u selalu memiliki kekhasan tersendiri. Kadang kala da‟i bisa bertemu dengan seorang mad‟u yang gemar bertanya, bisa saja sesekali da‟i mengajak mad‟u untuk silahturahim ke tempat seorang ustadz untuk diskusi agama, atau menghadiri ta‟lim dengan tema pentingnya pembinaan dan lain sebagainya. Seseorang yang keras kepala harus dipatahkan dan dicairkan dengan pemahaman dan penjelasan yang logis dan realistis dari da‟i. Oleh karena itu, pemahaman Islam yang baik juga menjadi tuntutan seorang da‟i. Lain halnya dengan tipikal mad‟u yang melankolis-plegmatis, dimana pendekatan intrapersonal, rasa empatik, dan perhatian dari da‟i bisa menjadi metode yang tepat. Berbagai metode lain bisa berkembang tergantung mad‟u dan diri da‟i sendiri. Tujuan dari tahapan pendekatan ini yakni membentuk kepercayaan antara diri da‟i dan mad‟u, mengikatkan dan mendekatkan hati, dan menumbuhkan perasaan ingin mempelajari Islam secara mendalam dan konsisten, atau dengan bahasa lain, menimbulkan keinginan untuk mengubah diri sendiri.

Keempat, mempermudah dan mudah (taisîr) yaitu bisa dilakukan setiap orang.

Bisa terhindar dan tertutupi dari pandangan manusia, terutama musuh. Dapat menghasilkan asas-asas dan pilar-pilar amal; dapat membantu mengungkap potensi dan bakat terpendam. dapat menghasilkan tarabuth (keterikatan yang erat). Setelah mendapatkan kepercayaan dan kedekatan, tugas da‟i adalah mengajak mad‟u untuk mengikuti pembinaan Islam secara konsisten. Bagaimana cara dan waktu yang tepat, tergantung situasional yang ada. Bisa jadi perlu ada diskusi panjang hingga mad‟u bersedia ikut pembinaan, atau ada yang tipikal langsung “ditembak”, ini tipikal pada mad‟u yang sudah dekat secara personal kepada da‟i, atau untuk mad‟u yang agak sulit mengambil keputusan, bisa langsung diundang di agenda pembinaan yang ada.

Proses pengajakan ini bukanlah akhir dari proses meskipun mad‟u menolak untuk

mengikuti pembinaan. Proses interaksi sosial harus tetap jalan. Jika da‟i sudah merasa tidak ada prospektif di salah seorang mad‟u, maka mengganti calon mad‟u bisa menjadi pilihan yang tepat.

Terkadang proses follow up dari hasil interaksi sosial yang dilakukan tidak selalu di-handle oleh da‟i sendiri. Bisa jadi orang lain yang membina hasil interaksi sosial yang dilakukan da‟i sebelumnya. Oleh karena itu da‟i perlu tetap menjaga hubungan and never loose contact with him/her. Sesekali da‟i coba tanya bagaimana pembinaan yang didapat, apa kesannya, atau bisa diajak diskusi sesekali. Beda halnya jika da‟i yang membina langsung hasil interaksi sosial sebelumnya, proses penjagaan akan lebih mudah karena da‟i akan bertemu lebih rutin.317

Kelima, ta‟awun (bekerja sama). Tuan guru dapat menggali pengalaman dan pembiasaan dalam aktivitas dakwah dan itu merupakan hal yang mutlak dilakukan.

Bisa mendorong pelakunya untuk menambah bekal dan pengalaman, sehingga lebih mapan dalam aspek operasionalnya. Bisa mengarahkan tuan guru untuk selalu bermujahadah, karena adanya tuntutan untuk senantiasa menjadi uswah dan qudwah bagi sang mad‟u. Dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mad‟u untuk menanyakan segala sesuatu yang berkenaan dengan keIslaman dirinya. Ini tentunya apabila tarabuth dan takwîn (pembentukan) bisa terwujud dengan sempurna.318

Tuan guru berikut partisipasi masyarakat dalam pembangunan mutlak diperlukan, tanpa adanya partisipasi masyarakat pembangunan hanyalah menjadikan masyarakat sebagai objek semata. Salah satu kritik adalah masyarakat merasa “tidak memiliki” dan “acuh tak acuh” terhadap program pembangunan yang ada.

Penempatan masyarakat sebagai subjek pembangunan mutlak diperlukan sehingga masyarakat akan dapat berperan serta secara aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi pembangunan. Terlebih apabila kita akan melakukan pendekatan pembangunan dengan semangat lokalitas. Masyarakat lokal menjadi bagian yang paling memahami keadaan daerahnya tentu akan mampu memberikan masukan yang sangat berharga. Masyarakat lokal denga pengetahuan serta pengalamannya menjadi modal yang sangat besar dalam melaksanakan

317 http://ridwansyahyusuf.blogspot.com, (Diakses pada tanggal 25 April 2008)

318Tahapan ini merupakan elaborasi penulis dari berbagai sumber, termasuk dari pengalaman pribadi penulis dalam melihat tahapan-tahapan interaksi tuan guru di Lombok. Interaksi sosial seperti ini juga dijelaskan secara sepintas oleh Sayid Muhammad Nuh sebagai sa lah satu penyebab terjalinnya dakwah dan juga menjadi penyebab gagalnya dakwah jika tidak melakukan hal -hal seperti di atas., Penyebab Gagalnya Dakwah, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 47.

pembangunan. Masyarakat lokal-lah yang mengetahui apa permasalahan yang dihadapi serta juga potensi yang dimiliki oleh daerahnya. Bahkan pula mereka akan mempunyai “pengetahuan lokal” untuk mengatasi masalah yang dihadapinya tersebut.

Midgley menyatakan bahwa partisipasi bukan hanya sekedar salah satu tujuan dari pembangunan sosial tetapi merupakan bagian yang integral dalam proses pembangunan sosial. Partisipasi masyarakat berarti eksistensi manusia seutuhnya.

Tuntutan akan partisipasi masyarakat semakin menggejala seiring kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara. Kegagalan pembangunan berperspektif modernisasi yang mengabaikan partisipasi negara miskin (pemerintah dan masyarakat) menjadi momentum yang berharga dalam tuntutan peningkatan partisipasi negara miskin, tentu saja termasuk di dalamnya adalah masyarakat. Tuntutan ini semakin kuat seiring semakin kuatnya negara menekan kebebasan masyarakat. Post-modernisme dapat dikatakan sebagai bentuk perlawanan terhadap modernisme yang dianggap telah banyak memberikan dampak negatif daripada positif bagi pembangunan di banyak negara berkembang. Post-modernisme bukan hanya bentuk perlawanan melainkan memberikan jawaban atau alternatif model yang dirasa lebih tepat. Post-modernisme merupakan model pembangunan alternatif yang ditawarkan oleh kalangan ilmuan sosial dan LSM. Isu strategis yang diusung antara lain anti kapitalisme, ekologi, feminisme, demokratisasi dan lain sebagainya. Modernisme dianggap tidak mampu membawa isu-isu tersebut dalam proses pembangunan dan bahkan dianggap telah menghalangi perkembangan isu strategis itu sendiri. Post-modernisme dinyatakan sebagai model pembangunan alternatif karena memberikan penawaran konsep yang jauh berbeda dengan modernisme. Tekanan utama yang dibawa oleh post-modernisme terbagi dalam tiga aspek, yaitu agen pembangunan, metode dan tujuan pembangunan itu sendiri.319

D. KEPEMIMPINAN TUAN GURU DALAM MENCIPTAKAN