• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap Transformasi Batik Cap Jawa Timur

Dalam dokumen BUKU REFERENSI PEMASARAN PRODUK BATIK (Halaman 123-127)

BATIK JAWA TIMUR

B. Proses Produksi Batik

6. Tahap Transformasi Batik Cap Jawa Timur

Batik Cap merupakan batik yang paling banyak dicari atau diminati oleh pembeli. Dari segi harga yang murah dibandingkan batik tulis atau batik campuran, batik cap dapat dilihat dari: Pertama dalam tema yang cukup lama, jika dilihat dari sisi tema yang dikontraskan dengan batik tulis, tema batik cap yang dibuat akan selamanya sama sehingga lebih mudah dalam melakukan pengecapan. Hal ini yang mengakibatkan batik cap terlihat menyatu dibandingkan dengan batik tulis yang lebih

110

beragam. Kedua, sejauh musim perakitan (proses penciptaan), batik capmenggunakan suatu alat sebagai (cap) dari batik. Keadaan ini dirasa sederhana, cepat dan lebih masuk akal tanpa harus membuang waktu cukup lama. Ketiga, dari sisi perakitan, batik cap dibuat dengan cara menyebarkan kain pada setting tempat dan membatik secara cepat menggunakan cap berbahan tembaga yang telah didesain dan diisi dengan lilin. Penciptaan batik cap bisa dibilang membuat komitmen positif. Selain finansial, bisa dipastikan sejak hadirnya batik cap, kreasi batik semakin berkembang. Batik juga semakin dikenal dan dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat.

Berikutnya adalah tahapan dalam siklus perubahan.

Proses transformasi memiliki beberapa tahapan diantaranya:

a. Tahap persiapan

Persiapan yang harus dilakukan adalah persiapan bahan baku, supaya proses pembuatan batik berjalan lancar. Langkah dasar yaitu bahan kain yang sudah disiapkan, dipotong sesuai dengan kebutuhan.

b. Proses Pengecapan.

Sistem pengecapan merupakan tahap awal dalam pembuatan batik cap menggunakan pelat logam tembaga yang dirancang. Menggunakan pelat logam sama tuanya dengan kemiringan, hanya saja penerapannya lebih mirip dengan menggunakan stempel berukuran 20x20 cm dengan mencelupkannya ke dalam lilin atau cairan lilin dan kemudian menempelkannya pada suatu bahan. Jadi tekstur yang memiliki tema serupa akan dihadirkan yang bertahan di setiap tekstur. Bahan yang digunakan adalah kain katun dan lilin. Waktu penggunaan alat perangko di usaha swasta Batik Jawa Timur, dalam kondisi bagus, bisa mencapai 5 sampai 10 tahun. Dalam prosesnya kain diletakkan di atas meja yang dilapisi dengan bahan halus. Malam sampai larut malam dan terus

111 dijaga agar suhu bagian cairan ini tersisa dalam keadaan kurang lebih 60° sampai 70° Celcius. Cap kemudian dicelupkan ke dalam cairan malam terakhir (beberapa cm dari tutup miring yang terendam di malam terakhir cairan). Tutup tersebut kemudian (diinjak) dengan regangan secukupnya pada kain yang telah diatur sebelumnya. Kontrol diselesaikan 2-3 kali oleh Kepala Cipta yang memeriksa langsung selama sistem pengecapan untuk menghindari ketidak konsistenan atau produk yang salah. Efek lanjutan dari sistem pengecapan ini adalah tema batik setengah jadi pada teksturnya.

c. Proses celup (pewarnaan).

Pewarnaan dimulai dari warna putih atau warna yang lebih muda. Kain putih yang polos dapat langsung di cap dengan malam ataupun diberi warna muda dulu baru kemudian di cap. Sistem pewarnaan umumnya selesai pada bagian pertama hari karena pewarnaan mengharapkan siang hari untuk menciptakan nada hijau dan merah muda. Macam- macam warna yang tergabung dalam naungan batik Warna naphtol, garam Diazo sebagai penghasil naungan, warna Remazol, Waterglass, dan bahan reseptif lainnya. Sistem pewarnaan ini diulang dengan banyak nada tergantung pada situasinya. Interaksi ini dilakukan oleh 3 orang perwakilan kantor (pewarnaan) demikian, karena dianggap sebagai siklus yang imperatif. Tatapan disampaikan selama sistem pewarnaan oleh Kepala Cipta. Konsekuensi dari sistem pewarnaan ini diperoleh dari nada dasar

d. Proses lorod.

Proses lorod merupakan cara membuka malam secara keseluruhan dengan cara menyematkan bahan batik rona tinggi dengan tujuan agar malam melunak dan terlepas dari kain. Sebelum menyelesaikan proses lorod, tunggu hingga tekstur berwarna shading

112

mengering. Proses tone drying pada tekstur membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam hingga benar- benar kering dan setelah itu dilakukan proses lorod.

Setelah membatik, batik menyerap air virus. Melihat tahap ini disampaikan oleh Kepala Ciptaan 1 kali selama proses lorod. Lorod diselesaikan oleh 2 pekerja lorod. Hasil akhir dari proses lorod ini adalah bahan batik cap tanpa lilin.

e. Proses pencucian (washing).

Sistem pencucian merupakan proses terakhir dari batik cap, khusus untuk mencuci kain batik nantinya pelorodan atau bahan pembuatan lilin sehingga sisa lilin atau senyawa sintetik lainnya hilang, bahan yang digunakan adalah air. Sistem pencucian ini menggunakan pembersih yang kemudian disiram 2 hingga beberapa kali, setelah dicuci kemudian dijemur hingga kering. Bagaimanapun, dengan asumsi ada sisa malam maka perjalanan pelorodan selesai. Melihat tahapan ini yang disampaikan oleh Kepala Cipta 1 kali, siklus tersebut dilengkapi dengan 2 tempat pencucian.

Hasil dari siklus lorod ini adalah kain batik cap yang sempurna dari sisa-sisa lilin atau bahan sintetis.

f. Proses pengeringan.

Cara pengeringan atau pengeringan yang paling umum adalah dengan cara menghilangkan kandungan air yang masih ada pada bahan batik.

Secara bersamaan, cukup diletakkan atau digantung di tempat yang berangin atau terang agar tidak langsung terpapar sinar matahari. Saat dihadirkan untuk mengkoordinasikan siang hari bisa membuat rona batik menjadi kusam. Melihat tahapan ini yang disampaikan oleh Kepala Cipta 1 kali, siklusnya dilakukan oleh 2 orang perwakilan. Efek samping dari sistem pengeringan ini adalah kain batik cap menjadi kering.

113 g. Proses penyortiran.

Sistem penyortiran adalah cara yang paling umum untuk memilih item tekstur batik yang memiliki kualitas bagus sesuai standar. Standar kualitas bahan batik cap yang layak adalah tidak cacat. Dalam produksi, cacat yang terjadi pada item, misalnya:

1) Kesalahan isen dan ketebalan lilin miring dalam sistem pengecapan.

2) Tidak rata dalam sistem pewarnaan dan tekstur tertusuk dalam interaksi pelorodan. Cacat karena shading miring terjadi karena pegawai yang tidak hati-hati dalam hal blending shading. Cacat karena teksturnya yang bocor akibat banyaknya sisa soda yang digunakan dalam pelorodan, sehingga suhu yang dibutuhkan untuk memanaskan udara ternyata terlalu tinggi.

h. Proses packing.

Sistem kemas/packing adalah cara yang dilakukan dengan membundel item agar keberadaan item lebih menarik. Nanti dengan sistem penjemuran, bahan batik di press dan dirembes untuk disiapkan di press dan dipajang. Dalam sistem pengepresan, tampilan yang disampaikan oleh pionir selama sistem pengepresan itu sendiri. Sistem pengepresan dibantu oleh 1 pekerja pamer dan 1 perwakilan area pajangan.

Efek lanjutan dari pengepresan ini adalah bahan batik loncatan menjadi bersih dan tertata dengan sempurna.

Dalam dokumen BUKU REFERENSI PEMASARAN PRODUK BATIK (Halaman 123-127)