Bagian ini akan menguraikan mengenai tanggapan pihak konsultan Terhadap Kerangka Acuan Kerja terkait dengan pemahaman terhadap latar belakang kegiatan, maksud tujuan dan sasaran ruang lingkup kegiatan, dan lainnya
Berdasarkan kepada Kerangka Acuan Kerja kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang, pada prinsipnya konsultan telah memahami lingkup dari pekerjaan yang akan dilaksanakan. Dengan mendasarkan kepada pengalaman pekerjaan konsultan, diharapkan pekerjaan ini akan dapat terselesaikan dengan baik. Hal ini sangat ditentukan oleh kapabilitas dan konsolidasi internal yang kuat di dalam intern organisasi konsultan, serta didukung oleh koordinasi dengan pihak pemberi pekerjaan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Padang.
Sebelum melangkah ke dalam tahapan penyusunan langkah kerja, terlebih dahulu diperlukan pemahaman konsultan terhadap Kerangka Acuan Kerja yang ada. Hal ini dilakukan sebagai suatu upaya untuk memahami/menterjemahkan keinginan dari pihak pemberi pekerjaan akan substansi materi pekerjaan. Adapun pembahasan mengenai tanggapan dan saran terhadap Kerangka Acuan Kerja bukan saja terhadap hal-hal yang secara eksplisit tercantum di dalam Kerangka Acuan Kerja yaitu mulai dari latar belakang hingga menghasilkan keluaran pekerjaan dan pelaporan, melainkan juga pada hal-hal yang secara substansi memiliki kaitan dengan pekerjaan ini.
penataan ruang yang cukup signifikan, telah memberikan kewenangan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk melakukan peningkatan diri sesuai dengan potensi sumber daya, karakteristik dan budaya (kearifan lokal) masing - masing.
Undang-Undang ini mengamanatkan pentingnya penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan, pertimbangan untuk mitigasi bencana, persyaratan minimal ruang terbuka hijau 30% di kawasan perkotaan/kota, dan pengenaan sanksi yang tegas di bidang Penataan Ruang. Selain itu, Undang – Undang ini juga memerlukan dukungan pemerintah daerah dalam implementasi dan perundang-undangan di tingkat yang lebih rendah.
Didalam Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 3 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah No 4 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Padang Tahun 2010 – 2030 terdapat tiga aspek pokok yang sangat penting dalam arahan pengembangannya, yakni: (1) rencana pola ruang wilayah, (2) rencana struktur ruang wilayah, dan (3) penetapan kawasan strategis Kota Padang. Dalam penyusunan rencana detail tata ruang kota sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang adalah rencana rinci disusun sebagai perangkat operasional dari rencana umum tata ruang, dimana dalam melakukan penyusunan rencana detail tata ruang dijadikan dasar dalam penyusunan peraturan zonasi.
Dalam pelaksanaan penyusunan rencana detail tata ruang kota dapat dilakukan berdasarkan kawasan yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.
Demikian pula, dengan kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan strategis yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah dapat ditetapkan sebagai kawasan yang akan dilakukan perencanaan detailnya. Dari semua aspek tersebut juga bias dilakukan penyusunan rencana detail satu kota utuh agar rencana tata ruang yang disusun dapat lebih operasional dan dikendalikan sesuai dengan hasil perencanaan yang telah direncanakan.
4.1.1
Tanggapan Dan Saran Terhadap Latar Belakang
Dalam pekerjaan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang pihak
masyarakat. Dalam kedudukan ini maka RDTR Kota setidaknya memuat kebijakan teknis mengenai penetapan fungsi wilayah kota yang pada hakekatnya menjadi arahan lokasi dari kegiatan yang mempunyai kesamaan fungsi atau karakteristik tertentu. Kerangka pemahaman ini menempatkan RDTR Kota sebagai salah satu simpul penting di dalam hierarkhi konsep penataan ruang, yakni sebagai jembatan yang menghubungkan kebijakan RTRW Kota dengan rekayasa dan rancang bangun lingkungan binaan, maka menjadi penting dan mendesak bagi Pemerintah Kota Padang untuk menyusun Rencana Detail Tata Ruang Kota Padang. Sesuai dengan amanat PP No. 15 Tahun 2010 Pasal 59 ayat 3 dan Pasal 149, agar penataan ruang di kota lebih operasional dan mampu mengendalikan pemanfaatan ruang agar terwujudnya tata ruang sesuai dengan rencana tata ruang, maka RTRW Kota Padang tersebut perlu dijabarkan lagi dalam rencana yang lebih rinci yaitu RDTR Kota Padang.
Adapun yang melatar belakangi kegiatan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang, berkaitan dengan beberapa hal sebagai berikut:
Perkembangan kegiatan perkotaan yang relatif cepat seiring perkembangan Kota Padang sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Barat;
Berkembangnya system transportasi dalam bentuk prasarana dan sarana serta peningkatan fungsi dan intensitasnya sesuai dengan berkembangnya Kota Padang;
Kota Padang merupakan kota dengan memiliki daerah rawan bencana gempabumi, tsunami, longsor, liquifaksi dan banjir yang perlu mempertimbangkan potensi kerawanan terhadap bencana terhadap tata ruang yang dapat mengurangi resiko bencana;
Antisipasi peningkatan permasalahan terutama di bagian wilayah kota yang memiliki daya tarik tinggi. Demikian pula dengan upaya optimalisasi potensi dari daya tarik yang ada dimana jika tidak dikelola secara baik dapat menimbulkan menurunnya kualitas lingkungan baik ditinjau dari sudut pandang fisik-buatan, sosial, dan ekonomi
Peran dan fungsi rencana tata ruang sebagai perangkat pengendali pertumbuhan kota bernilai strategis akan mampu mengintervensi pengelolaan kota sehingga mampu mempertahankan dan meningkatkan eksistensi kota yang memiliki potensi ekonomis dan ekologis.
dan pengendalian pemanfaatan ruang di daerah sehingga pembangunan dan pengembangan Kota dapat berjalan dan berkembang sesuai dengan harapan.
Dengan merencanaan suatu kawasan perkotaan dengan RDTR memiliki Fungsi dalam penataan ruang yang lebih rinci diantaranya:
a. Kendali mutu pemanfaatan ruang wilayah kota berdasarkan RTRW;
b. Acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang wilayah kota yang lebih rinci dari kegiatan pemanfaatan ruang yang diamanatkan dalam RTRW;
c. Acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang;
d. Acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang;
e. Merupakan bagian dan acuan dalam bisnisplan kota; dan
f. Acuan dalam penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan serta rencana yang lebih rinci lainnya.
4.1.2
Tanggapan Dan Saran Terhadap Maksud Dan Tujuan
Berdasar pada tanggapan latar belakang yang telah dijelaskan diatas dan mengacu pada KAK yang diberikan, maksud utama dari penyusunan RDTR adalah sebagai upaya pengaturan penataan ruang melalui Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang, Peraturan Zonasi dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sebagai dasar acuan pengembangan wilayah yang mempertimbangkan aspek multi kebencanaan, orientasi pengembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur kawasan, serta sebagai instrument pengendalian pemanfaatan ruang.
Sedangkan tujuan yang diharapkan dalam studi ini adalah menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang, Peraturan Zonasi dan KLHS agar terciptanya keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi dan efisien sesuai dengan penetapan Kota Padang sebagai kota metropolitan yang berbasis mitigasi bencana dengan didukung oleh pengembangan sektor perdagangan dan jasa, industri serta pariwisata
Berdasarkan maksud dan tujuan tersebut tanggapan dan saran mengenai pekerjaan ini adalah sebagai upaya pelaksanaan dan pengendalian suatu ruang dalam kawasan kota perlu dilakukan perencanaan tata ruang yang dapat sebagai arahan bagi masyarakat dalam
keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara kawasan lindung dan kawasan budidaya, terutama antar lingkungan permukiman dalam kawasan serta mampu menciptakan keselarasan mitigasi bencana.
4.1.3
Tanggapan Dan Saran Terhadap Sasaran
Sasaran yang ingin di capai dengan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang ini adalah:
1. Tersajinya data dan informasi ruang kota yang akurat dan aktual;
2. Teridentifikasinya potensi dan permasalahan kota sebagai masukan dalam proses penentuan arah struktur dan pola ruang kawasan;
3. Terwujudnya keterpaduan program pembangunan antar pusat kawasan dalam satu wilayah;
4. Tersusunnya arahan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan;
5. Tersusunnya pedoman bagi pemerintah daerah dalam penyusunan peraturan zonasi, pemberian advice planning, pengaturan bangunan setempat dan lingkungannya (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan/RTBL) serta pemberian perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang;
6. Terciptanya keselarasan, keserasian, keseimbangan antar lingkungan dalam kawasan;
7. Terkendalinya pembangunan kawasan strategis dan fungsional kota, baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat/swasta;
8. Terciptanya manajemen bisnis dan investasi masyarakat/swasta di dalam kota;
9. Terkoordinasinya pembangunan kota antara pemerintah dan masyarakat/swasta.
Berdasarkan Sasaran tersebut tanggapan dan saran mengenai pekerjaan ini adalah Secara umum uraian sasaran sebagaimana tersirat di dalam Kerangka Acuan Kerja telah memuat hal-hal pokok yang ingin dicapai dari pekerjaan ini. Namun demikian konsultan berpendapat bahwa sasaran tersebut masih merupakan sasaran teknis dari substansi materi Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang yang akan disusun. Di lain pihak, sasaran normatif yang menegaskan hal apa yang akan dicapai melalui Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang belum tertuang di dalam Kerangka Acuan Kerja. Adapun sasaran lain yang konsultan rasa perlu ditambahkan antara
pembangunan fisik Kota Padang yang dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah daerah, swasta, dan/atau masyarakat.
3. Memacu peluang investasi dan manajemen bisnis yang searah dengan tujuan penataan ruang.
4.1.4
Tanggapan Terhadap Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang yang pada dasarnya mencangkup dua ruang lingkup yaitu ruang lingkup kegiatan dan ruang lingkup wilayah.
4.1.4.1 Lingkup Kegiatan
Lingkup pekerjaan yang tercakup dalam kerangka acuan ini adalah : a. Menentukan dan menetapkan wilayah perencanaan;
b. Pengumpulan dan pengolahan data:
c. Analisa kawasan perencanaan, meliputi:
d. Perumusan Konsep Rencana dan ketentuan teknis rencana detail:
e. Penyusunan produk rencana detail tata ruang:
f. Melakukan konsultasi dalam rangka:
g. Membuat model/animasi 3D penataan kawasan;
h. Melakukan pendampingan proses rekomendasi Gubernur dan Validasi KLHS.
i. Membuat laporan secara keseluruhan proses kegiatan dan produk yang dihasilkan meliputi laporan pendahuluan, antara, laporan akhir dan laporan persyaratan yang diminta.
4.1.4.2 Lingkup Lokasi
Lingkup wilayah pekerjaan ini adalah wilayah administrasi Kota Padang yang yang terdiri dari 11 kecamatan (Kecamatan Kota tangah, Pauh, Kuranji, Naggalo, Padang Utara, Padang Barat, Padang Timur, Padang Selatan, Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan dan Bungus Teluk Kabung).
b. Rencana struktur ruang c. Rencana pola ruang;
d. Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya;
e. Ketentuan pemanfaatan ruang;
f. Peraturan Zonasi;
Selain itu dalam hal melakukan penyusunan juga dilakukan proses legalisasi hingga diprovinsi dimana perlu melakukan validasi KLHS serta melakukan proses Rekomendasi Gubernur, dual hal ini akan sangat berbeda dalam proses penyusunan maupun proses legalisasi, akan tetapi dapat dilakukan secara bersamaan antara proses validasi KLHS dan proses Rekomendasi Gubernur.
4.1.5
Tanggapan Dan Saran Terhadap Jangka Waktu Pelaksanaan
Dalam era perencanaan yang partisipatif yang melibatkan sebanyak mungkin pelaku pembangunan (stakeholders) tentu membutuhkan waktu yang panjang untuk mencapai suatu kesepakatan, disini diperlukan kemampuan organisasi agar konsultasi dan asistensi dapat berjalan lancar, efektif dan efisien.
Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan ini adalah 7 (tujuh) bulan hari kalender secara konstruksi. Dengan keterbatasan waktu tersebut baik dalam penyusunan RDTR dan peraturan zonasi, KLHS dan proses legalisasi hingga di provinsi, sebenarnya waktu selama 7 (tujuh bulan) masih kurang memadai mengingat luasnya lokasi perencanaan yang mencapai seluruh Kota Padang, selain itu proses legalisasi hingga di provinsi juga akan memakan banyak waktu. Kami menyadari bahwa dalam penyelesaian suatu pekerjaan yang baik adalah dapat menghargai waktu dan dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditentukan dan berharap berjalan lancar tanpa suatu halangan baik teknis maupun non teknis. Dalam hal ini Konsultan memandang bahwa waktu yang disediakan akan sangat bergantung dari progres pekerjaan yang telah dilakukan. Mengingat waktu yang relatif
‘singkat’ ini, konsultan mengharapkan dukungan sepenuhnya dari pihak pemberi kerja dalam rangka lebih mengefektifkan pelaksanaan pekerjaan serta dalam rangka mencapai target yang telah ditetapkan dalam rencana kerja.
melakukan studi referensi sebanyak-banyaknya untuk memperoleh informasi dan data yang sekiranya relevan didalam mencapai tujuan dan sasaran dalam pekerjaan ini.
Untuk mengantisipasi padatnya waktu kegiatan, maka alokasi tenaga ahli dan proses di lapangan menjadi kunci penting. Alokasi tenaga ahli diatur sedemikian rupa sehingga proses transfer ilmu dan pengetahuan proses perencanaan penataan ruang melalui penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dalam penyusunan laporan sendiri dapat berjalan beriringan. Oleh karena itu, ketersediaan alat-alat pendukung juga menjadi faktor penentu keberhasilan proses pelaksanaan pekerjaan hingga batas waktu yang ditentukan.
4.1.6
Tanggapan Dan Saran Terhadap Keluran Dan Hasil
Keluaran utama (output) yang dihasilkan dari pekerjaan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang ini adalah berupa Dokumen RDTR yang siap digunakan sebagai dasar acuan dalam penyelenggaraan pembangunan Kota Padang, yang secara umum berupa laporan- laporan sebagai berikut :
Adapun out put dari pekerjaan ini adalah : 1. Dokumen Fakta dan Analisis;
2. Dokumen Rencana yang memuat:
a. Tujuan Pengembangan Kawasan;
b. Rencana Struktur Ruang;
c. Rencana Pola Ruang;
d. Rencana Sub BWP Yang Diprioritaskan Penanganannya;
e. Rencana Ketentuan Pemanfaatan Ruang;
f. Rencana Peraturan Zonasi.
3. Album Peta;
4. Raperda dan melakukan pembahasan raperda;
5. Dokumen Naskah Akademis;
6. Dokumen KLHS;
7. Model/animasi 3D penataan kawasan;
8. Surat Validasi KLHS;
disusun sehingga memudahkan proses lebih lanjut dikemudian hari. Proses yang harus dilalui dalam legalisasi RDTR adalah :
1. Peta sudah mendapatkan Rekomendasi dari BIG 2. Validasi KLHS di Dinas Lingkungan Provinsi 3. Rekomendasi Gubernur
4. Persetujuan substansi di Kementerian ATR/BPN
5. Dokumen pendukung lainnya yang diperlukan dalam proses legalisasi baik di provinsi maupun di pusat.
4.1.7
Tanggapan Terhadap Pelaporan
Sistem pelaporan pekerjaan pada prinsipnya terkait dengan skema serta progres pekerjaan yang telah dilakukan dan mencerminkan bobot penyerapan output yang telah dicapai pada setiap tahapan pelaporan. Kondisi tersebut menyiratkan bahwa setiap laporan merupakan milestone dari sebuah tahapan kegiatan yang telah dilewati yang selanjutnya dapat terukur dari muatan materi dari setiap laporan yang telah diserahkan.
Pada dasarnya hal-hal terkait pelaporan kegiatan sebagaimana tertuang di dalam kerangka acuan kerja sudah cukup jelas dan dapat dipahami. Adapun jenis pelaporan dalam pelaksanaan kegiatan ini meliputi ;
1. Buku Laporan Pendahuluan sebanyak 5 (lima) eksemplar;
2. Buku Laporan Antara sebanyak 5 (lima) eksemplar;
3. Buku Laporan Akhir sebanyak 10 (Sepuluh) eksemplar;
4. Buku Fakta dan Analisis sebanyak 15 (lima belas) eksemplar;
5. Buku Rencana sebanyak 15 (lima belas) eksemplar;
6. Buku Executive Summary sebanyak 15 (lima belas) eksemplar;
7. Album Peta ukuran A1 dan A3 sebanyak 2 (dua) eksemplar;
8. Buku Naskah Akademis sebanyak 15 (lima belas) eksemplar;
9. Rancangan Peraturan Daerah sebanyak 15 (lima belas) eksemplar;
10. Buku Laporan KLHS sebanyak 15 (lima belas) eksemplar; dan 11. Compact Disk (CD) sebanyak 10 (Sepuluh) keeping.
Tanggapan terhadap pelaporan kegiatan yang akan disampaikan adalah bahwa dalam
4.2 Tanggapan Dan Saran Terhadap Personil / Fasilitas Pendukung
4.2.1
Tanggapan Terhadap Tenaga Ahli
Tenaga ahli yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Padang ini dibutuhkan 10 (sepuluh) keahlian dengan 3 (tiga) orang asisten tenaga ahli yang memiliki kompetensi pada bidangnya.
Sesuai dengan substansi bahasan serta permasalahan yang akan ditangani, tenaga ahli yang terlibat dikelompokkan dalam dua kelompok sesuai dengan lingkup tugas serta permasalahan sektoral yang akan ditangani. Berdasarkan hal tersebut, tenaga ahli yang terlibat dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok :
Kelompok pertama merupakan tenaga ahli yang terlibat dalam penyusunan RDTR, yang terdiri dari ahli perencanaan kota, ahli infrastruktur, ahli arsitektur, ahli ekonomi dan ahli social, ahli geologi, ahli geodesi, ahli desain komunikasi visual dan didukung oleh asisten tenaga ahli.
Kelompok kedua merupakan tenaga ahli yang terlibat dalam penyusunan peraturan zonasi, terdiri dari tenaga ahli perencanaan kota, ahli GIS, ahli infrastruktur, ahli ekonomi, ahli geologi dan didukung oleh asisten tenaga ahli.
kelompok ketiga merupakan tenaga ahli yang terlibat dalam penyusunan KLHS, terdiri dari ahli lingkungan, perencanaan kota, ahli ekonomi, ahli social, ahli geologi, ahli geodesi dan didukung oleh asisten tenaga ahli.
Pengelompokan tenaga ahli tersebut selanjutnya akan menjadi dasar dari distribusi dan alokasi tugas tenaga ahli yang mempunyai korelasi positip dengan kapasitas dan keahliannya, dikaitkan dengan proses pelaksanaan pekerjaan, metoda, tahapan, dan targetan setiap tahapan. Hal ini pulalah yang mendasari konsultan dalam mendistribusikan jumlah MM (orang bulan) setiap tenaga ahli..
4.2.2
Tanggapan Peralatan Dan Fasilitas Pendukung
Meskipun tidak disebutkan didalam Kontrak, Konsultan bila diperlukan akan menggunakan barang atau fasilitasnya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut tanpa minta biaya tambahan.
Untuk melaksanakan pekerjaan ini, konsultan akan menyediakan ruang untuk kantor yang dimiliki konsultan, lokasi di Bandung.
Ruang kantor ini akan dipergunakan untuk pengolahan data dan perencanaan, fasilitas pendukung yang Konsultan sediakan adalah sebagai berikut :
1. Kantor Kerja
2. Peralatan dan perlengkapan Kantor (Komputer, ATK dan Perlengkapan Gambar) 3. Telekomunikasi
4. Alat Transportasi 5. Akomodasi
A. Peralatan/Perlengkapan Kantor
Perlengkapan dan peralatan kantor yang akan dipergunakan dalam penyelesaian pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Meja + Kursi 2. Meja Sekretaris 3. Meja komputer 4. Filling Cabinet 5. Komputer & Printer 6. Kalkulator
B. Telekomunikasi
Alat komunikasi yang akan dipergunakan oleh Konsultan di kantor pusat antara lain pesawat telepon, facsimile dan internet, masing-masing satu unit yang akan dipergunakan untuk manajemen proyek dan koordinasi dengan pemberi kerja.
C. Transportasi
Sarana transportasi yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan layanan jasa konsultansi ini adalah kendaraan roda 4 (mobil) baik di kantor/studio di Bandung maupun
Alat bantu peraga; peta dan bahan produk tata ruang lainnya
Alat pemapar dalam bentuk media audio visual; notebook, infocus dan layar pemapar
Alat perekam atau pendokumentasi; handycam
Alat ukur; meteran ukur, GPS dan drone E. Fasilitas Pendukung Kantor (Stationary)
Digunakan untuk mendukung operasionalisasi tim tenaga ahli maupun staf pendukung., berupa:
Fasilitas produksi, disiapkan untuk kebutuhan produksi sebanyak 6 set komputer dan 4 unit printer.
Fasilitas komunikasi, diperlukan untuk mendukung organisasi dan koordinasi tim kerja dan dengan tim teknis